
Suara selawat terdengar syahdu dari masjid di depan rumah. Dari arah dapur terdengar suara kompor baru saja dinyalakan. Biasanya sebelum salat subuh tante Yusnita membereskan satu pekerjaan entah menanak nasi, menyeduh teh ataupun menggiling pakaian kotor.
Janda dua anak itu memang cekatan dan lincah, tak jauh beda dengan Mama. Selain lincah dia juga sangat perhatian kepada anak-anaknya, tak terkecuali aku kemanakannya. Meskipun hanya kemanakan tapi tante Yusnita tak pernah memberikan perlakuan yang berbeda padaku. Tante Yusnita menganggap aku seperti anaknya sendiri.
Pagi begini biasanya Nurul sudah menemani tante Yusnita di dapur, kadang-kadang akupun ikut menemani, membantu apa saja yang bisa kukerjakan, itu jika tak ada PR yang tertunda. Tapi kali ini aku tak membantu, juga tidak mengerjakan PR karena aku sedang mengumpulkan tenaga. Istirahat 7 jam tidak memulihkan tenagaku sepenuhnya.
Tubuhku masih terbungkus dengan selimut. Aku membenamkan kepala dibawah bantal agar lebih nyaman. Badanku terasa kaku dan sulit bergerak. Nyeri terasa hampir diseluruh sendi, tulang-tulangku rasanya mau lepas. Kucoba menggerakkan kaki dan ya ampun rasanya berat seperti sebuah gulungan kasur menekannya. Kugerak-gerakkan jari-jari tangan dan kaki yang rasanya mau rontok.
Pelan-pelan aku bangun dan rasanya tulang belakangku hendak patah. Aku berdiri ambil posisi kuda-kuda dan kuhentakkan badan ke kiri dan ke kanan, tulang belakang krepitasi, tandanya kurang olahraga dan kurang istirahat.
Kudengar tante Yusnita membuka pintu. Tandanya ia sedang bergegas menuju masjid. Nurul pun ikut, pembawaannya yang ramai dan kepo membuat keseharian tante Yusnita jadi berwarna.
"Mama, kalau Nurul tidak salat subuh pasti di sekolah diejekin sama teman, dan sekarang Nurul salat subuhnya tepat waktu, di masjid lagi, nanti di sekolah pasti dapat pujian dari Ibu Guru," serunya.
"Makanya harus rajin supaya tidak diejekin lagi supaya dapat pahala dan pujian."
"Oh ya, Ma, Kak Afni kok tidak pernah salat subuh di Masjid, pasti Kak Afni setiap hari diejekin sama teman," simpulnya dengan polos.
"Kak Afni mungkin lelah sayang,"
"Hmm ... jadi kalau aku juga lelah boleh dong tidak masjid?" celotenya tiada henti.
"Kak Afni itu banyak kegiatan ekstra di sekolah jadi wajar kalau lelah, nah kalau Nurul kan tak banyak kegiatan, apa yang bikin lelah coba?"
"Aku kadang capek main, Ma."
Pikiran anak-anak. Dia baru saja naik kelas tiga Sekolah Dasar tapi jiwa keponya sangat tinggi. Semangatnya selalu membara untuk tahu banyak hal. Jika tak ada tugas, maka dia akan masuk kamarku dan melakukan wawancara eksklusif mulai dari hal yang remeh-temeh sampai sesuatu yang serius.
Tantu aku harus memberi jawaban yang masuk akal bagi seorang bocah sepertinya, sebab jawaban yang diterimanya tentu banyak sedikitnya akan mempengaruhi pola pikirnya.
***
Seorang perempuan menatap wajahku dengan lekat. Setiap detail diwajah ini tidak lepas dari selisiknya. Mulai dari wajah yang lebih kini gelap dari sebelumnya, rambut yang lepek karena setiap hari tertutup hijab, mata panda yang menyeramkan dan yang paling mengerikan adalah jerawat yang hampir tak kebagian tempat.
Perempuan yang menatap wajahku itu adalah perempuan yang sama, yang berdiri di depan cermin. Siapa lagi kalau bukan aku sendiri yang menatap diri di dalam cermin seperti melihat orang lain.
Banyak yang berubah dari diri ini sejak tinggal di kota. Baru sebulan di sini tapi perubahan itu sudah mulai kelihatan. Perubahan yang baru saja kutelisik. Kulit yang dulunya cerah kini semakin gelap dan menampung banyak minyak. Mata panda semakin jelas. Badan yang semakin kurus digerogoti rindu pada Mama dan Kak Anaya, dan jerawat entah bagaimana caranya sampai mereka menemukan titik kumpul diwajahku.
"Lho kenapa wajahmu tiba-tiba berjerawat, Nak?" tanya tante Yusnita suatu ketika saat mulai menyadari perubahan diwajaku.
__ADS_1
"Tidak tahu Tante mungkin karena pengaruh udara yang berbeda atau mungkin karena polusi," jawabku menerka-nerka.
"Atau jangan-jangan kamu punya riwayat alergi dengan makanan?"
"Tidak Tante, aku tidak pernah masalah dengan makanan, mungkin pengaruh hawa saja, di kampung dan di kota kan berbeda Tante."
"Iya nih, Kak Maiza tambah hitam. Dan wajahnya banyak bekas gigitan nyamuk!" tambah Nurul.
[Ya ampun, ni bocah, jerawat dibilang bekas gigitan nyamuk,] aku cekikikan dalam hati.
"Wajah Kak Maiza juga seperti abis kecipratan minyak goreng, mengkilat glowing-glowing gitu seperti artis Korea."
"Atau mungkin kamu salah pakai krim wajah, Nak?" tanya tante Yusnita lagi.
"Tidak tante, masih pakai yang dulu."
"Kak Maiza jatuh cinta ya?" selidiknya, ia mununjukku sembari memicingkan mata.
"Nurul, husss tidak baik ngomong seperti itu."
"Bener Ma, kata temanku kalau orang punya banyak bekas gigitan nyamuk di wajahnya itu tandanya dia sedang jatuh cinta."
"Ada apa sih, kendengarannya ramai?" Tanyanya cuek.
"Itu lho wajah Maiza tiba-tiba berjerawat begitu, Mama sampai stres melihatnya. Wajah mulus Maiza berubah jadi begitu," tante Yusnita saja stres apalagi aku.
"Oh, masalah itu. Biasa ajalah Ma, namanya juga gadis kampung kena angin kota!" Ketus Afni sambil berlalu.
Aku bisa depresi ringan jika memberikan perhatian lebih untuk memikirkan semua itu. Sudahlah mungkin sudah nasib menjadikan cantik mulus sebagai masa lalu. Dan mengkilatnya wajah di ramainya jerawat membuatku hilang rasa percaya diri.
Kubasuh wajah dengan air wudhu lalu menghadap kepada Tuhan dengan dua rakaat. Tak lupa kusempurnakan dengan sunnah sebagai pengantarnya, juga dua rakaat.
Sebait doa baru saja kubisikkan pada Tuhan, sebelum matahari membuka jubah malam. Tak lupa kupinta padanya semoga nasib baik masih berpihak padaku.
Ting Tong
Sebuah pesan masuk.
Ayu : "Assalamualaikum ๐, gimana Za, dapat
__ADS_1
bukunya?
Aku : "Waalaikumsalam, gak dapat Yu ๐ฉ."
Ayu : "Maaf ya Za, aku tidak bisa bantu๐."
Aku : "Gak apa-apa Yu, santai ajalah, insyaa
Allah semuanya akan baik-baik saja
kok!" balasku menguatkan diri sendiri.
***
Pagi ini, tante Yusnita telah menyiapkan nasi goreng untuk sarapan. Nasi goreng buatan tante Yunita memang enak, tidak kalah dengan restoran bintang lima. Nurul yang sudah siap juga ikut bergabung.
"Afni, sarapan sayang!" teriak tante Yusnita.
"Kak Afni, sarapan," Nurul tak mau ketinggalan.
"Kak Afni, sarapan," teriakku juga.
"Apa perlu kusamperin Tante?" tawarku.
"Tidak perlu sayang, kamu makan, kalau sudah siap dia pasti turun."
Hampir setiap pagi situasinya seperti ini, Afni jarang sarapan. Sejak di sini bisa dihitung jari aku ketemu dia di meja makan. Afni lebih sering makan di luar.
Biasanya tak lama setelah kami selesai sarapan dan meja telah beres, dia akan turun, tanpa pikir-pikir ia akan protes, "Sudah selesainya sarapannya, kok gak panggil-panggil!"
Tante Yusnita akan menjawab dengan lembut, " Tadi Mama sudah teriak sayang, Nurul juga, Maiza juga tapi kamunya yang tidak dengar. Kamu sekarang sarapan, Mama mau panaskan mobil dulu, nanti berangkat sama-sama."
"Malas!" ketusnya. "Aku sarapan di sekolah aja."
"Kalau begitu, kalian tunggu di depan," minta tante Yusnita.
"Kalian duluan aja, aku ada janji sama teman," cuek bebek ia membalas seruan mamanya.
Kulihat raut wajahnya, pikiranku jadi aneh. Aku yakin dia sedang merencanakan hal buruk padaku.
__ADS_1
***