Liebe Zu Maiza

Liebe Zu Maiza
Isi Hati


__ADS_3

Aku tidak menjawab pertanyaan Radea karena kelagapan. Rahasia besar itu akhirnya bocor tanpa kusadari. Kukira beban di kepalaku telah hilang setelah menceritakan semua keluhku pada Radea tapi malah sebuah rahasia besar terbongkar oleh kecerobohan sendiri.


"Jadi kamu serumah dengan Afni?" tanya Radea sekali lagi.


"Emmm ... tidak, a-ku dan Afni cuma-" aku berusaha mencari alasan yang tepat.


"Cuma tetangga? Kamu mau bohong kan Maiza?" Radea menatapku tajam.


Aku tidak tahu harus bilang apa lagi. Radea tahu kalau aku sedang berusaha menyembunyikan kebenarannya.


"Radea sebenarnya kamu tidak boleh tahu tentang ini," Aku harap Radea mau mengerti keadaanku tanpa perlu kuceritakan lagi.


"Kenapa Maiza? Ada yang salah kalau aku tahu?" Radea memiringkan badan padaku.


"Kamu tidak tahu apa-apa Radea, aku mohon kamu jangan bilang pada siapa pun tentang semua ini!" Sekarang kutatap tajam Radea.


"Tentang yang mana Maiza?" Radea pura-pura bertanya membuatku mulai kesal.


"Tentang semua ini," ia mencadaiku dan seolah tidak tahu yang kumaksud.


"Semua ini yang mana?"


"Tentang aku yang kamu antar pulang malam ini."


"Tentang itu atau tentang kamu yang serumah dengan Afni?" Tatapan Radea tajam padaku.


Aku spechles, Radea dapat membaca isi kepala ini.


"Tentang itu juga," jawabku lirih.


Radea melambatkan laju mobil dan kembali melihat ke arahku.


"Hei Maiza, kenapa kamu takut kalau aku tahu kebenarannya?" tanya Radea setengah berbisik.


"Radea, kamu tidak tahu rasanya jadi aku. Aku melakukan semua ini agar semuanya menjadi lebih baik," jawabku.


"Hubunganmu dengan Afni tidak baik, begitu maksudmu?" Radea kepo dengan masalahku. Manusia yang satu ini memang keras kepala.


Aku mengangguk pelan.


"Ada apa sebenarnya? Mengapa Afni tidak mau jika ada orang yang tahu kalau kalian seatap?" Dia menautkan kedua alisnya seolah tidam terima sikap buruk Afni padaku


"Ceritanya panjang Radea." Aku menghela nafas.


"Kamu mau kan cerita sama aku?" bujuknya.


"Radea kamu tidak paham, jadi tolong cukup kamu tahu saja aku dan Afni serumah, selebihnya kamu tidak usah tahu." Aku juga berharap Radea tidak membahasnya lagi.


"Baiklah kalau kamu tidak mau cerita." Radea menepikan mobilnya lalu mematikan mesin.


"Radea kok kita berhenti di sini?"


"Kita akan di sini terus sampai kamu mau cerita." ancam Radea.

__ADS_1


"Argggg ... keselin banget sih kamu." Sikap Radea membuat darahku memanas. Aku memukulnya dengan tas sekolah yang sedari tadi kuletakkan di pangkuan.


"Biarin." Radea menjulurkan lidahnya seolah dia menang.


"Radea ayo jalan. Ini sudah kemalaman." Aku mengesekkan kedua kaki, merengek seperti anak kecil pada manusia keras kepala yang duduk di sampingku.


"Kalau kamu tidak cerita kita di sini sampai pagi." Radea benar-benar menyebalkan.


"Ya udah aku akan cerita. Tapi kita jalan dulu."


Radea kembali menyalakan mobilnya dan melaju dengan pelan. Ia melihatku lekat, menagih janji yang baru saja kuucapkan.


Akhirnya mau tidak mau aku menceritakan semuanya kepada Radea tentang awal keretakan hubunganku dengan Afni. Radea malah terkekeh mendengar ceritaku, entah apa yang menurutnya lucu.


"Ha ... ha ... ha ... dasar perempuan, ada-ada saja hal sepele yang membuatnya saling marahan."


"Tolong jangan bilang ke siapapun ya, plissss." Aku melipat mempertemukan kedua telapak tangan di depan dagu.


"Kalau aku mau jadi gentong bocor gimana?"


"Maksud kamu?" Aku mengalihkan pandangan secepat mungkin kepadanya dan kurasa bola mataku nyaria keluar, kedua pangkal alisku hampir bersentuhan.


"Aku mau ceritain ke siapapun."


"Radea tolong jangan bilang kepada siapapun, aku mohon." Aku harus menahan Radea melakukan keinginan bejatnya itu.


"Ada syaratnya," sebuah penawaran yang selalu menguntungkan dirinya sendiri.


"Apa syaratnya?"


"Apa?" Aku tidak mau bergabung dengan Radea. Mana mungkin aku mau meninggalkan grup yang menyatukanku dengan Malaikat Penolongku. Syarat Radea terlalu berat, ia meminta syarat yang mustahil kulakukan. "Aku tidak mau. Titik."


"Ya sudah kalau tidak mau, rahasiamu ada di tanganku."


"Ihhh ... keselin banget sih jadi senior. Kenapa sih kamu selalu sibuk dengan urusanku, menjengkelkan." Gerutuku sejadi-jadinya membuat Radea terbahak. "Aku heran dengan kamu, kenapa selalu saja mau terlibat dalam urusanku?"


"Hei ... Maiza, kamu merasa tidak kalau ada orang yang mulai memperhatikan kamu." Suara Radea pelan.


"Iya aku merasakannya, kamu kan orangnya. Aku tidak butuh diperhatikan sama kamu kalau hanya bisa membuatku jengkel." Aku mengambil muka darinya dan memandang ke luar, ke pinggir jalan yang di penuhi warteg. Sikap Redea betul-betul membuatku muak.


"Maiza."


Aku tidak menjawab Radea, pandanganku masih fokus pada pinggir jalan yang terlewati. Aku berharap agar cepat sampai di rumah dan istirahat. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih.


"Ehmm ... kamu mau tahu kan hubunganku dengan Pak Anwar Baddu dan kenapa aku sibuk mengurusi urusanmu?"


Aku masih diam, pasti itu hanya akal-akalannya saja agar aku mau menoleh padanya.


"Pak Anwar Baddu, orang yang menolongmu tempo hari adalah ayahku."


"Kamu serius?"


"Memangnya tampangku ini tampang pembohong? Lagi pula kalau aku bukan anaknya ngapain aku di rumahnya."

__ADS_1


"Aku cuma heran saja, orang sebaik Pak Anwar Baddu masa punya anak semenjengkelkan kamu," balasku ketus.


"Ya ampun, aku ini adalah orang paling menyenangkan swjagad raya Maiza, percayalah." Ia melihatku sambil memainkan alisnya.


"Nggak lucu. Emmm ... aku boleh tanya sesuatu tidak?"


"Boleh, silakan!"


"Mama kamu sudah meninggal ya?"


"Iya, kata Ayah, Ibuku meninggal saat aku lahir."


"Oh, maaf aku turut prihatin, aku tidak bermaksud-"


"Tidak apa-apa, santai saja."


"Terus ngapain kamu sibuk mengurusi urusanku?" Ini yang paling penting aku tahu dari Radea.


"Serius kamu mau tahu?"


"Iyap."


"Di kota ini sulit untuk menemukan orang yang apa adanya. Hampir semua perempuan yang aku temui, menggunakan topeng untuk menutupi kekuranganya. Hanya tinggal hitungan jari perempuan yang benar-benar natural dengan sikapnya, tidak ada kepura-puraan tau sandiwara."


"Terus hubungannya dengan aku?" Aku tidak mengerti sama sekali dengan maksud Radea.


"Sejak pertama melihatmu di kegiatan MOS, aku sudah tertarik untuk kenal denganmu lebih dekat karena kamu berbeda dengan yang lain, bagiku kamu istimewa, kamu polos dan tidak pernah cari-cari perhatian dengan senior. Sejak saat itu aku sering memperhatikanmu. Kamu satu-satunya perempuan yang masih memelihara kodrat perempuan yang sebenar-benarnya. Tak ada lagi perempuan di sekolah kita yang jalannya menunduk seperti kamu Maiza."


"Terus?"


"Aku berusaha mencari kontakmu sayangnya aku tidak mengenal teman dekatmu dengan baik. Pucuk dicinta ulam tiba dan ternyata kamu mendaftar sebagai calon anggota baru dalam organisasi vokal. Kamu tahu Maiza, aku bahagia akan hal ini, dari formulir yang kamu kembalikan itulah aku menemukan nomor kontakmu beserta tahu alamat rumahmu, jadi tidak ada gunanya kamu bohong soal alamat padaku. Mendengar suaramu luar biasa, bahkan kamu pantas bersanding dengan penyanyi asli lagu My All membuatku semakin yakin untuk mengenalmu lebih jauh lagi."


Penuturan Radea membuatku diam seribu bahasa. Aku berusaha mencerna dengan baik kalimat-kalimat yang baru saja di dengar telangaku. Dan aku kehilangan kata-kata untuk bicara.


"Radea, a-"


"Aku tahu kamu tidak tahu harus bilang apa kan? Aku harap kita menjadi lebih dekat setelah ini."


Aku masih diam dan menunduk, tak tahu maksud dari kalimat Radea yang terakhir.


"Maiza, maaf telah membuatmu kesal." Radea diam akupun demikian. "Maiza izinkan aku melindungimu."


Radea, aku tidak tahu harus bilang apa atas semuanya.


"Oh iya, kamu sudah sampai." Aku menoleh ke kiri dan benar, rumah Tante Yusnita di depan mataku.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang." Aku membuka pintu mobil dan turun.


"Sama-sama." Seberkas senyum menyertai kalimatnya.


"Terima kasih untuk malam ini Maiza."


Senyum samar menjadi jawaban ucapan Radea.

__ADS_1


"Hati-hati." Selepas ucapan itu, aku melangkah masuk ke halaman rumah dan Radea pun meutar haluan mobilnya. Suara klakson mobilnya mengakhiri pertemuan malam ini.


__ADS_2