
Saat kamu punya kesempatan untuk membela diri tapi kamu tidak melakukannya karena banyak hal yang jadi pertimbangan, saat itu kesabaranmu sesang diuji.
-------
Aku melangkah masuk ke halaman rumah. Di depan pintu ada Afni, ketika melihatku ia langsung berdiri dan melipat kedua tangannya di depan dada. Ada amarah yang menguasai dirinya, terlihat jelas dari caranya menatapku.
Aku terus jalan mendekat, setelah kulihat ekspresinya tadi aku langsung mengalihkan pandangan ke rumput. Jika terus melihatnya maka itu akan membuat amaranya semakin terbakar. Langkahku semakin mendekat ke teras rumah yang artinya juga mendekat padanya.
"Assalamualaikum,"
Afni tidak menjawab salamku, hanya tatapan nanar yang dilemparkannya padaku.
"Ini dia nih yang bikin Mama khawatir sampai-sampai untuk makan malam saja Mama tidak selera, Mama pakai acara nangis lagi untuk orang yang tidak tau diri ini," ucapannya cepat dan langsung nancap di hati.
"Afni, maaf tadi hapeku lowbath dan-"
"Allaaaa, alasan melulu kamu,"
"Serius, aku juga tadi sempat menelpon ke kamu tapi-"
"Gak ada tuh panggilan kamu yang masuk, bilang aja kamu abis keluyuran," bentaknya.
"Afni, maaf aku lelah, aku butuh istirahat,"
"Hei, Maiza aku belum selesai bicara, ... "
Kutinggalkan Afni tanpa menghiraukan lagi tuduhannya yang keluar bertubi-tubi. Aku langsung masuk.
Di ruang tengah kudapati tante Yusnita duduk menyandarkan kepala di sandaran sofa seperti kurang tenanga, Nurul menemaninya, mata keduanya sembab. Nurul melihat ke arahku, senyuman manis langsung terukir diwajahnya begitu melihatku.
"Itu Kak Maiza sudah pulang."
__ADS_1
Tante Yusnita menegakkan kepala, pandangan diarahkan kepadaku. Wajah yang sembab berganti dengan bahagia. Tante Yusnita bangkit dan menuju kearahku, akupun menuju ke arahnya. Aku menubrukkan badan pada tante Yusnita. Perasaan lega, bahagia dan haru bercampur.
Akhirnya aku kembali ke rumah. Aku tahu perasaan tante Yusnita yang sangat khawatir padaku mengingat aku baru di sini. Di kota besar ini kejahatan bukan lagi hal baru. Banyak nyawa yang melayang sia-sia di kota ini.
Tante Yusnita sangat baik padaku. Aku bukan anak kandungnya tapi kasih sayangnya padaku sangat terasa, tak ada bedanya ia dengan Mama. Aku benar-benar dianggapnya seperti anak sendiri, meskipun aku tidak memulai kehidupan di rahimnya.
"Syukurlah kamu pulang, Nak." sambil melepaskan pelukannya.
"Iya Tante, tadinya aku mau kabarin ke Tante tapi hapeku lowbath. Maafkan Maiza Tante telah membuat semuanya khawatir."
"Tidak apa-apa sayang yang penting kamu sudah kembali."
Ternyata Afni melihat semua yang baru saja terjadi. Ia pun ikut masuk ketika kutinggalkan tadi di luar dan melihat tante Yusnita bahagia atas kepulanganku. Mungkin ia tidak senang atas perlakuan tante Yusnita yang tak memarahiku.
"Mama percaya dengan omongannya? Mama mau-maunya dibohongi," nadanya meninggi.
"Sudah Afni sayang," tegur tante Yusnita lembut. "Yang penting sekarang Maiza sudah pulang dalam keadaan baik-baik saja," lanjutnya lagi.
Jika aku bicara dan mengatakan yang sebenarnya maka akan bertambah panjang dan runyam masalah ini, dan buntutnya aku akan jadi sasaran bulan-bulannya di sekolah bersama Azmi dan temannya pemilik senyum tak simetris itu.
Nurul yang melihat peristiwa ini bingung. Tak tahu harus berbuat apa agar keadaan menjadi tenang atau setidaknya ikut bicara agar tak ada kemarahan dalam diri Afni. Jika diminta membela satu diantara kami, maka bocah kepo itu dilema tidak tahu harus membela yang mana.
"Sudah Afni sayang, yang penting Maiza sudah pulang."
" Tapi Ma,"
"Afni sayang,"
"Mama mulai berubah sejak Maiza ada di sini. Mama sulit membedakan yang benar dan yang salah." Selepas ucapannya Afni berlari naik, dari atas terdengar suara pintu yang dibanting.
Mendengar itu tante Yusnita menghela nafas. Tante Yusnita tentu bingung dan dilema harus mendengat dan membela yang mana. Afni anak kandungnya atau aku kemanakan yang menumpang hidup di rumahnya dan menyandarkan harapan padanya.
__ADS_1
saat ini tante Yusnita menanggung beban yang berat. Aku di sini dan ikut dengannya, apapun yang terjadi padaku adalah tanggung jawabnya. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan padaku, tante Yusnita bukan hanya memikirkan aku saja tapi juga Mama yang telah memberi amanah dan kepercayaan.
"Tante, mungkin sebaiknya Afni dibujuk atau-"
"Afni akan baik nanti sayang, kamu tidak usah membebani diri dengan memikirkannya."
"Tapi tante-"
"Sudahlah sayang, oh iya kamu pasti lapar, sana ganti baju dulu, bersihkan badan lalu kita makan sama-sama, tante juga belum makan. Nanti setelah makan kamu ceritakan apa yang terjadi sampai pulang larut begini."
[What, tante Yusnita belum makan?] rasa bersalah menjalar di rongga dadaku. Benar kata Afni, tante Yusnita tidak makan karena memikirkanku.
Sebenarnya perut ini sudah terisi penuh karena makan lahap di rumah Pak Anwar, tapi tidak mungkin mengecewakan tante Yusnita. Dia rela tidak makan demi menungguku pulang.
"Baik tante."
Setelah membereskan meja makan, Nurul menuruti perintah tante Yusnita agar segera masuk kamar dan tidur karena malam mulai larut, pukul 09 lebih, sudah dianggap larut untuk anak seperti Nurul.
Kupijit badan Tante Yusnita di ruang tengah. Kontes dangdut andalannya sedang tayang. Sambil menonton ia menanyakan penjalananku hari ini. Kuceritakan semua yang kualami di sekolah. Sesekali tante Yusnita terkekeh ketika kuceritakan seleksi soal anggota vokal.
Kronologis lewatnya aku sampai di Halte Sutomo juga kuceritakan. Tapi penyebabnya bukan karena memikirkan perlakuan Afni dan teman-temannya. Tante Yunita tidak boleh tahu soal itu, cukup tante Yusnita tahu sikap Afni padaku saat di rumah, soal yang di sekolah tante Yusnita tidak boleh tahu.
Aku membohongi tante Yusnita, kukatakan aku mengingat kembali kehebohan yang dilakukan Daniza dan rasa gugupku yang luar biasa karena baru pertama kali menyanyi di depan orang banyak sampai lewat dari Halte Sudirman.
Tante Yusnita pun menceritakan kegiatannya di kantor yang cukup padat, membuat badannya pegal. Saat kuhubungi sore tadi ternyata hapenya juga lowbath dan ia sedang di jalan pulang dan lupa membawa kabel USB. Sesampai di rumah ia baru menghubungiku karena panggilan tak terjawab dariku langsung masuk setelah hapenya aktif kembali.
Tante Yusnita menanyakanku pada Afni, tapi Afni bilang tidak tahu. Katanya aku meninggalkannya saat seleksi selesai. Afni menungguiku di gerbang tapi aku malah meninggalkannya tanpa bilang ke dia lebih Awal.
Hmmm ... kejam sekali bukan? Padahal berkali-kali kubungi tapi malah ditolak dan telepon dijawab dengan kasar. Tapi biarlah, mungkin begitu cara Afni memberiku perhatian.
Kontes dangdut telah selesai, tante Yusnita menyusul Nurul ke kamar. Aku membereskan ruang tengah, agar bukan tante Yusnita lagi yang membereskannya besok pagi. Kuingat lagi kejadian barusan dengan Afni. Entah esok apa lagi yang terjadi padaku di sekolah.
__ADS_1