Liebe Zu Maiza

Liebe Zu Maiza
Di Bawah Rinai Hujan


__ADS_3

Kurasa cinta itu mulai tumbuh saat hujan turun lebat dan kau tawarkan payung untuk melindungiku dari basah.


-------


Pagi semakin redup, awan-awan gelap yang tadinya bergelantungan di langit sana mulai lelah menanggung berat dan berjatuhan satu persatu menjadi titik-titik air yang halus, makin lama makin ramai.


Akhinya sampai juga di depan sekolah. Mobil berhenti artinya aku dan Afni sudah saatnya turun. Tak ada yang bergerak, aku gelisah antara harus turun atau diam di tempat, sementara Afni menunggu keputusan apa yang telah kupilih atas peringatannya tadi 'turun di tempat lain atau di mana saja asal tidak bersamaan denganku'.


"Ada payung di bagasi sayang," ucap tante Yusnita, karena gerimis pagi telah berganti hujan.


Afni meraih payung itu dan bersiap untuk turun, tangannya sudah memegang pintu mobil. Sedangkan matanya tajam kearahku yang masih kebingungan.


"Duluan saja, Kak," kataku pada Afni. Setitik curiga timbul diwajahnya.


"Kamu tidak turun, Sayang?" Tanya tante Yusnita.


"Aku turun di depan lagi tante, di depan toko ATK, aku mau beli perlengkapan gambar dan menggandakan materi pembelajaran," jelasku pada tante Yusnita.


Mendengar penuturanku Afni langsung buka pintu dan membentangkan payungnya. Kulirik dia, ada ceria yang ia pamerkan pada dunia saat keluar dari mobil.


Tante Yusnita kembali mengemudi mobil dan berhenti di depan toko ATK yang kumaksud. Tante Yusnita berhenti, ia menolah ke arahku.


"Sayang, di luar hujan lebat, payung cuma satu, kamu pakai jaket saja ya untuk berlindung."


"Tidak apa-apa Tante, aku bisa berlari masuk kok, lagi pula jarak toko tidak jauh, kalaupun basah tidak terlalu palingan cuma lembab."


"Atau bagaimana kalau-"

__ADS_1


"Tidak apa-apa Tante, aku turun dulu, Tante hati-hati di jalan!" Kujabat tangannya lalu membuka pintu mobil. Puiiissss ... air hujan memerciki wajahku. Hujan cukup deras mengguyur bumi pagi ini setelah sebulan lamanya panas merajai hari.


Aku langsung berlari masuk ke depan toko ATK untuk berteduh. Aku tinggal sebentar sebelum masuk, kulambaikan tangan pada tante Yusnita yang membunyikan klakson untukku.


Di samping kiriku beberapa payung diletakkan dalam keadaan terbuka, titik-titik air menetes di sudut-sudutnya, kuintip ke dalam, beberapa siswa juga belanja di sini. Aku masuk dan melihat-lihat barang-barang lucu, mataku tidak bisa diam melihat barang lucu, aku harus membeli sesuatu untuk memuaskan hati.


Kucari-cari barang yang tidak ada dalam tas atau meja belajar di rumah. Karena membeli perlengkapan gambar dan menggandakan materi hanya alasan saja agar tidak turun dengan Afni di tempat yang sama.


Perlengkapan ATK di toko ini lucu-lucu. Lumayan untuk cuci mata sambil menunggu hujan sedikit reda, meskipun tak ada tanda-tanda hujan akan reda secepat yang dipikiranku. Mataku tertuju pada buku catatan harian berwarna jingga muda, manis sekali kelihatannya, dilengkapi dengan gembok dan kunci. Hati ini berontak untuk memilikinya.


"Kak, aku mau buku diary yang di pojok," kataku kepada perempuan muda penjaga toko.


Ia mengambilkan buku yang kumaksud dan langsung kubayar pada kasir. Setelahnya aku langsung keluar menunggu di depan toko.


Siswa yang tadi belanja, sudah pergi semua, padahal aku baru mau minta tumpangan payung dari salah satu diantara mereka. Payung yang tadinya disimpan di depan toko sudah dibawa pergi oleh tuannya.


Kalau aku tetap di sini menunggu hujan reda maka jelas akan terlambat, jarak antara sekolah dengan tokoh cukup jauh, butuh waktu sekira lima menit jika berjalan kaki. Tapi jika nekat menerobos hujan, siap-siap basah kuyup.


Aku kembali masuk ke dalam toko, daripada kehilangan waktu berharga hanya untuk menunggu, lebih baik aku cari solusi yang lain.


"Kak, ada payung?" Aku kembali masuk ke toko menanyakan payung.


"Payung kebetulan habis dek, baru saja ada orang yang beli," jawabnya.


[Ya ... harus cari cara lain] aku lemas mendengar jawaban pelayan toko.


Aku keluar ke depan toko, menunggu keajaiban yang akan terjadi. Entah hujan yang akan reda seketika, atau seseorang yang menawariku pertolongan.

__ADS_1


*Hap*eku berdering, kuambil dari dalam tas, di layarnya muncul nama Ayu.


"Halo-"


"Za, kami di mana sekarang, maaf kemarin aku ketiduran dan tidak mendengar pesan-pesanmu yang masuk. Kamu di mana sekarang? Bagaiman keadaanmu? Kamu baik-baik saja kan? Za, aku minta maaf ya?" belum sempat aku bicara Ayu sudah panjang lebar menyerbu dengan pertanyaan-pertanyaan. Suara Ayu terdengar khawatir dan ada Daniza bersamanya.


"Aku ada di depan toko ATK Sentosa. Aku terjebak hujan." Aku setengah berteriak untuk menyaingi suara air hujan yang turun dengan ramai.


"Syukurlah, semoga hujan segera reda, aku dan Daniza menunggu di kelas!" kalimat terakhir Ayu sebelum mengakhiri teleponnya.


Aku baru sempat melihat hape pagi ini. Banyak pesan yang masuk. Kubuka satu persatu. Dari Maiza, Ayu dan tante Yusnita. Isi pesan yang nyaris sama, menanyakan keadaan dan keberadaanku.


Ada setitik bahagia di hati kecil ini. Mereka orang-orang yang menanyakan kabarku adalah orang-orang yang peduli dan sayang.


Hujan masih deras, langit masih gelap, sementara waktu terus berjalan. Lebih baik menerobos hujan dan meskipun sudah terlambat daripada tidak masuk sekolah. Kuperbaiki barang-barang di dalam tas, termasuk hape kusimpan di posisi yang aman agar tidak kena hujan. Tas akan kupakai untuk melindungi kepala dari terpaan air hujan.


Aku melangkahkan kaki dan titik hujan mulai menyentuh seragamku. Tanganku yang menyanggah tas pun sudah kena percikan air. Tiba-tiba seseorang berdiri di samping kiri, entah dari mana datangnya ia langsung memayungiku.


Aku menoleh ke arahnya, dia pun menoleh kepadaku. Dua detik, mata ini beradu pandang.


"Ayo," katanya sambil memperlihatkan barisan gigi yang rapi. Sebuah lesung pipit di pipi sebelah kanan memperindah senyumannya. Bukan hanya itu, sebuah lesung pipit kecil di sudur bibir kiri menambah manis wajahnya. Kalau tersenyum seperti makanan yang ditambah sambal, bikin nagih.


Aku berjalan tanpa sepetah kata. Tak tahu harus bilang apa. Aku diam saja tapi jujur aku bahagia.


Setelanya ia kembali memandang ke depan sambil berjalan mengikuti langkahku yang lambat mengindari beberapa genangan air di jalan.


Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya, ia kemudian berjalan dengan raut wajah yang kembali datar.

__ADS_1


Senyum dan kata 'ayo' yang diucapkannya membuat hati ini bergetar. Jatung berdetak hebat seperti ketika gugup atau kaget, tapi aku tidak sedang gugup atau kaget, rasa dalam hati yang tidak kumengerti, baru kali ini aku merakan perasaan seperti ini. Dan getaran dalam hati ini dipengaruhi oleh ajakan dan senyumannya.


__ADS_2