Liebe Zu Maiza

Liebe Zu Maiza
Radea


__ADS_3

"Keterlaluan."


Kalau bukan karena kebaikan tante Yusnita, sumpah serapahku yang sadis lagi sudah melayang untuk mereka. Sesak, ada beban berat menggumpal di hati ini.


Afni melihatku tapi megganggapku seperti orang lain. Ia lebih memilih temannya. Kali ini aku terima, besok-besok ada kalanya dia yang butuh. Aku mengumpat sejadi-jadinya dalam hati, tidak terima diperlakukan seperti sampah oleh keluarga sendiri. Aku tahu itu salah tapi aku hanya manusia biasa, di hati ini juga ada sifat dendam yang bersemayam.


Beberapa mobil berhenti di depan sekolah, menunggu orang yang di jemputnya. Aku menoleh ke dalam, Ayu dan Daniza belum muncul. Lagi pula untuk apa menunggu Ayu dan Daniza, mereka punya jemputan dan rasanya tidak mungkin kalau aku minta diantar sama mereka, jalur kami tidak searah ditambah macet yang bikin malas.


Aku mengangkat sedikit rok lalu berjinjit-jinjit ke halte. Aku akan pulang naik bus.


Motor Harley Davidson berhenti di depanku yang dikendarai laki-laki tak kukenal. Ia membuka helm dan melihat kepadaku. Wajahnya menampakkan senyum. Aku pun tersenyum padanya.


"Hay, Maiza," sapanya.


"Hey," jawabku balik. Wajahnya tidak asing. Aku pernah melihatnya.


"Oh iyya, kenalin aku Radea," ia menjulurkan tangannya padaku. Perkenalan macam apa ini di pinggir jalan, saat orang sudah pulang sekolah. Aku berdiri dan dia yang duduk di motornya. Tidak etis.


"Maiza," kataku saat kesambut tangannya.


"Hmmm ... sudah mau pulang?"


"Iya," jawabku sekenanya sambil mencari-cari dia dalam memoriku. [Di mana aku pernah melihatnya ya?]


"Kalau tidak keberatan, mari aku antar,"


"Eh,"


"Maaf kalau aku lancang,"


"Tidak apa-apa."


"Kamu menunggu jemputan?"


Aku menggeleng.


"Bagaimana kalau aku antar pulang, itupun kalau kamu tidak keberatan."


"Hmmm ... aku ada janji dengan seseorang. Lagi pula kita baru kenal, maaf ya,"


"Tidak apa-apa, hati-hati. Aku duluan," ia kembali memasang helm lalu beranjak pergi dari hadapanku.

__ADS_1


"Radea," aku mencari-cari dia dalam ingatanku tapi tak ketemu. Aku pernah melihatnya entah dimana. Wajahnya tidak asing. Tapi di mana pernah melihat dia. Aku mengedikan bahu sekenanya. Bukan hal penting untuk dicari tahu.


Aku melanjutkan langkah menuju halte. beberapa siswa menunggu di sana. Aku duduk memperhatikan jari-jari yang kuletakkan di atas paha. Entah kenapa kristal bening jatuh dari bola mataku mengingat peristiwa tadi, saat Afni dan teman-temannya naik ke mobil.


Tatapan penuh kemenangan di mata Afni, memangnya aku ini musuhnya. Tetiba ingat Mama dan Kak Anaya. Aku rindu mereka, orang yang benci dengan air mataku.


Bus berhenti di depan halte, kubiarkan saja orang lain naik duluan, biarkan aku belakangan. Aku sedang menata hati. mencoba membuat suasana hati ini kembali baik, tak enak jika orang melihatku seperti ini. Mereka hanya akan melirik tanpa peduli.


Ternyata kursi-kursi sudah penuh. Terpaksa aku berdiri.


Bus mulai berjalan, pandangan kubuang ke luar jendela. Entah apa yang menjadi fokusku. Tadi pagi aku baru saja merasa bahagia, tapi sekarang suasana hati ini kembali berubah. Aku berusaha menahan air mata, jika sendiri mungkin aku sudah menangis sepuas-puanya. Ah, mengapa aku jadi cengeng seperti ini.


***


Afni belum sampai di rumah. Hanya ada Nurul yang mengerjakan tugas di depan tivi.


"Kak Maiza sudah pulang?" ceria wajahnya ia tunjukkan padaku membuat gigi ompongnya kelihatan. Sambutan hangat Nurul membuat hatiku lebih baik.


"Iyap, Kak Afni sudah belum pulang ya?"


"Lho kok tanya ke aku kak? Bukannya kalian di jemput bareng sama Bang Salim?" Afni ke mana ya?


"Oo, pasti Kakak capek. Sana gih ganti baju, ada makanan enak lho, tadi Mama kirim dari kantor,"


"Oh, ya?"


"Iya, makanya Kakak ganti baju sana, abis itu Kakak makan."


"Nurul sudah makan?"


"Sudah,"


***


Aku merebahkan tubuh di kasur, seragam masih melekat di badan, tas kuletakkan begitu saja di sampingku. Kepala kubenanmkan di bantal. Lelah, aku sangat lelah.


Aku menoleh, kuambil polpen dan buku harian dari dalam tas yang baru saja kubeli tadi. Aku memperbaiki posisi baring.


"Hai Dear"


Hujan lebat mengguyur bumi ketika mentari masih duduk di ufuk timur. Aku menunggu hujan reda tapi hujan semakin garang menjatuhkan diri. Di depan toko, saat aku mulai melangkah, memyerahkan diri pada titik-titik hujan, kamu datang entah dari mana, tersenyum padaku. Melindungiku dari percikan hujan. Lalu kita melangkah, menerobos hujan di bawah payung yang sama. Aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku. Sebentuk rasa yang sulit kujelaskan. Di dekatmu ada bahagia yang sulit kupahami. Rasa yang baru pertama kali aku rasakan selama hidup. Mungkin cintaku pun telah jatuh saat hujan menjatuhi bumi. Sebanyak apa cinta yang jatuh untukmu, aku tidma bisa menghitungnya, yang jelas sebanyak hujan yang turun pagi tadi.

__ADS_1


Namanya Faruq, dengan pemilik nama itu, aku pernah melewati waktu lima menit yang sangat berharga.


Aku kembali berbaring sempurna. Peristiwa pagi tadi kembali terbayang memenuhi seluruh arah pandangku. Indah sekali peristiwa itu, sampai sekarang aku masih bahagia jika mengingatnya. Perasaan ini membuncah, ingin rasanya mengulang kembali peristiwa itu.


"Assalamualaikum," sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.


"Waalaikumsalam." balasku.


"Maaf menganggu. Aku hanya ingin minta maaf atas peristiwa tadi."


" Persitiwa yang mana?"


"Tadi saat aku menawarkan untuk mengantarmu pulang."


"Oh Radea ya? tidak apa-apa, aku tidak masalah kok."


"Syukurlah. Maaf ya, aku lancang ambil nomormu tanpa izin."


"Kamu ambil di mana?" Penasaran, dimana anak ini mendapatkan nomorku.


"Aku ambil di formulir seleksi vokal."


"Kamu juga anak vokal?"


"Bukan, aku anak musik?"


"Aku yang mengiringi saat seleksi kemarin,"


Jadi dia yang mengiringi seleksi kemarin, namanya Radea, pantas saja wajahnya tidak asing.


"Oh, anak musik."


"Suara kamu bagus, makanya aku ambil nomormu."


"Terima masih, aku juga baru belajar. Salam kenal."


Aku mengakhiri pesan pada Radea. Belum tentu itu Radea yang sama dengan yang menemuiku di jalan tadi. Lagipula mengingat gaya dan potongannya rasanya tidak mungkin dia mau berkenalan dengan 'perempuan norak' seperti julukan Azmi padaku.


Pikiranku melayang, terbayang-bayang kembali peristiwa tadi pagi. Wajah Faruq menari-nari di mana pun aku melayangkan pandangan. Meski kututup mata ini, wajahnya masih terlihat. Ia tersenyum padaku. Ya Tuhan jantungku kembali berdebar-debar. Rasa tidak nyaman di perut muncul lagi.


Mungkin aku benar-benar telah jatuh cinta, seperti tuduhan Ayu dan Daniza. Sulit sekali mengakui rasa yang tabu itu.

__ADS_1


__ADS_2