Liebe Zu Maiza

Liebe Zu Maiza
Rasa yang Tabu


__ADS_3

Aku sudah mulai jatuh cinta. Tidak bisa disembunyikan lagi. Kemana pun aku melihat di sana ada dirinya, sang malaikat penolong, Faruq.


Jantungku bergetar hebat setiap kali mengingat dia. Aku mengalami semua ciri-ciri jatuh cinta yang tadi dibeberkan Daniza dan Ayu di sekolah. Benar kata Ayu dan Daniza aku jatuh cinta. Hanya rasanya tabu sekali kalau harus mengakui aku telah jatuh cinta.


Dulu di kampung aku selalu menertawakan sikap teman-temanku yang mulai jatuh cinta. mereka kelihatan aneh dan kadang tidak waras. Sulit dinasihati, sulit diajak kompromi, kerasa hati, keras kepala dan pembangkang. Dan sekarang aku merasakannya. Mungkin ini karma.


"Malam, Niz. Kamu lagi ngapain?" pesanku pada Daniza terkirim.


"Malam, selesaikan tugas bahasa Indonesia?"


"Kamu belum selesai?"


"Iya, novel yang kuulas ternyata berat, banyak idiom di dalamnya."


"Niz," Aku harus berbagi dengan Daniza.


"Hmmm ... ada apa?"


"Aku mau cerita,"


"Ya udah cerita aja. Nggak perlu pakai izin segala, dari pertama chat juga aku sudah tahu kok kamu ada sesuatu,"


"Ihhh, sok tau," Daniza memang kadang-kadang nyebelin tapi dia teman yang perhatian. Dia pendengar yang baik dan selalu ada solusi.


"Pasti masih soal tadi pagi kan?"


"Yang mana coba?"


"Yang tadi saat kamu terlambat, lima menit dibawa rinai hujan kan?"


"Sok tau, jadi malas bicara sama kamu,"


"Ya udah kalau malas,"

__ADS_1


Daniza bikin aku tambah kesal. Argggg ... aku mengerang jengkel.


"Malam Yu, lagi ngapain?"


Beberapa menit berlalu tidak ada balasan dari Ayu.


"Yu, aku mau curhat nih,"


beberapa menit sejak pesan itu terkirim, Ayu belum juga membalas.


Daniza lagi muncul ngeselinnya. Ayu juga, dua pesan tidak dibalas. Hape kumainkan, menunggu balasan dari kedua sahabatku. Aku butuh pendengar saat ini.


Aku menjatuhkan badan di kasur, tak tahu apa yang harus kuperbuat. Rasanya malas ngapa-ngapain. Aku bangkit kembali duduk melihat ke luar jendela. Tak ada apa-apa di luar, hanya lampu jalan yang kesepian menyinari jalan.


Aku kembali baring, perasaan tak nyaman muncul di sekitar perut. Seperti mules tapi bukan, seperti perut melilit tapi juga bukan, rasanya nyaris sama dengan menahan mencret tapi bukan juga. Argggg ... rasa apa ini. Mungkin cupid sialan sedang menari-nari di sana. Jantungku bergetar tak karuan. Semisterius inikah rasanya jatuh cinta.


Aku bangun lagi, mendekati cermin. Wajahku, ya Tuhan ada apa dengan wajah ini. Aku berusaha tersenyum manis, semanis mungkin. Aku ingin memperlihatkan pada Faruq senyuman terbaik yang kumiliki. Wajah berbintik inikah yang membuat Faruq selalu ada saat aku butuh bantuan? Ah tidak mungkin.


Aku tertawa di depan cermin, melihat diri sendiri malah tertawa. Kenapa aku seperti orang gila. Tidak, aku tidak gila.


Bayangan peristiwa tadi pagi muncul lagi. Aku harus berterima kasih pada kekejaman Afni tadi pagi. Karena keinginnya yang tak mau turun di tempat yang sama denganku, aku akhirnya ketemu Faruq.


Indah sekali peristiwa tadi pagi itu saat pertama kali Faruq bicara, mengajakku menenrobos hujan denga payung motif bunga-bunga miliknya. Kenapa aku tidak bicara saat dia mengajakku menerobos hujan, mengapa tidak menanyakan nama saat jalan beriringan dengannya. Kenapa tadi aku jadi kaku dan bibir kelu.


Aku baru menyadari banyak hal setelah dia tidak ada di dekatku, dan karena peristiwa itu, wajah Faruq muncul terus-terus dimanapun aku menghadapkan pandangan.


Aku merubah posisi baring, kutelungkupkan badan sambil menolak dagu. Kira-kira Faruq sekarang ngapain yah? Apa dia sedang makan atau lagi kerja tugas, atau lagi baca buku sambil menyeruput kopi hitam kesukaannya. Atau jangan-janhan dia juga mengingat peristiwa tadi pagi.


Tidak ... tidak ... aku mengelak secepat yang kubisa. Hanya aku yang memikirkannya, hanya aku punya perasaan ini. Buktinya dia cuek-cuek saja saat di kantin. Tak ada wajah bersemu saat melihatku.


Ah ... aku tidak peduli perasaan Faruq, karena aku yakin, dia punya sedikit sedikit perhatian padaku sejak di lift, saat mengganti novel Azmi, saat berbagi tempat untukku di bawah payungnya. Cukup dengan mengingat itu sudah luar biasa bagiku.


Suara mobil terdengar memasuki halaman rumah. Aku mengintipnya di balik jendela. Mobil merah milik tante Yusnita, kulirik jam sudah pukul 8 lewat tante Yusnita baru pulang.

__ADS_1


Tante Yusnita seharian di kantor. Sejak Om Haris meninggal tante Yusnita jadi tulang punggung keluarga. Tapi syukur, meskipun menjanda tante Yusnita tidak hidup kesusahan. Buktinya tante Yusnita juga yang menanggung seluruh biaya sekolahku. Mama terima beres, asal mau mengizinkanku ke sini.


Aku turun dan menyambut kedatangannya. Kelihatannya sangat lelah. Lingkar hitam dibawah mata mulai kelihatan, padahal tante Yusnita paling anti dengan mata panda. Tante Yusnita rutin melakukan perawatan, hampir setiap akhir pekan ia ke salon. Pekerjaan menuntutnya selalu tampil cantik maksimal.


"Tante baru pulang?" sambutku sambil mengambil semua barang bawaannya. Senyum yang berat jadi jawaban tanyaku.


"Sayang, Afni mana?"


"Afni belum pulang Tante,"


"Lho memangnya kalian tidak pulang bareng?" Tante Yusnita menautkan alisnya.


"Tidak Tante," suaraku lesu.


"Kenapa-"


"Aku tadi ada urusan tante jadi Kak Afni pulang duluan, tadi dijemput sama Bang Salim dan Kak Afni pulang bareng Kak Azmi dan Kak Rima," cepat kupotong ucapan Tante Yusnita agar sejuta pertanyaan tidak keluar dari bibirnya.


Tante Yusnita mengeluarkan hapenya untuk menghubungi Afni, tapi sayang nomor Afni tidak aktif.


"Afni kemana, tumben tidak bilang ke Mama akan pulang malam," wajah tante Yusnita mulai cemas.


Aku tidak tahu harus berbuat apa. Jujur saja ada perasaan tak enak hati atas kejadian ini. Mungkin karena kehadiranku di rumah ini yang membuat Afni berbuat demikian.


"Afni tidak boleh dibiarkan seperti ini, sejak naik kelas sebelas dia mulai banyak kegiatan malam. Organisasinya harus dikurangi. Aku jadi sulit mengontrolnya akhir-akhir ini." Gerutu tante Yusnita. Beberapa kali ia menghubungi kembali nomor Afni tapi tidak aktif.


Jarum jam sudah menunjuk angka 10 lewat. Afni belum juga pulang, nomornya pun sampai sekrang tidak aktif. Tante Yusnita semakin khawatir dengan anak sulungnya.


"Afniiiii ... ini anak ke mana sih?" Desis kesal keluar dari mulut tante Yusnita.


Aku berusaha menenangkannya. Kupijit badan tante Yusnita yang sandaran di sofa sambil menikmati hiburan kesayangannya, kontes dangdut. Kadang tante Yusnita ikut bernyanyi jika jagoannya yang tampil. Meski menikmati hiburan, mata tsnte Ysnita tak bisa bohong, ia sangat kelelahan, seharian bergelut dengan kerjaan yang menumpuk sampai harus lembur.


Aku pamit naik setelah melihat Tante Yusnita mulai enakan dan rebahan di sofa. Kasihan Tante Yusnita, seharian kerja, pulang ke rumah tidak bisa istirahat cukup karena anak gadisnya belum di rumah.

__ADS_1


Aku merebahkan badan di kasur, dan peristiwa tadi pagi kembali teringat. Ku rasa hal itu membuat wajahku bersemu.


__ADS_2