Liebe Zu Maiza

Liebe Zu Maiza
Penawaran


__ADS_3

"A-pa Af, pu-lang kampung?" terbata aku mengulang kalimat yang baru saja didengar telinga ini, dengan harapan ada yang salah. Aku harap telinga ini sedang bermasalah semisal lagi congek atau apalah, atau Afni yang salah ucap dan menarik kembali kata-katanya.


"Masih kurang jelas ya?" tatap matanya tajam dengan suara pelan tapi penuh penekanan. Ada palu godam yang ia sertakan pada kalimat-kalimat itu yang bisa membuatku terpukul dan terpelanting.


"Pu-lang Af?" tanyaku sekali lagi, berharap ada penawaran lain.


"Iya pulang kampung. Kembali ke tempat asalmi, tempat di mana kamu lahir."


"Tapi Af, a-ku-"


"Kamu mau kan hubungan kita seperti dulu, ya udah kemasi barang-barang kamu dan pulang ke kampung sana! Hidupku yang indah menjadi tidak menyenangkan sejak ada kamu. Kalau kamu tetap di sini hubungan kita tidak akan baik dan aku akan melakukan apa saja agar kamu tidak betah." Ia menyodongkan kepala dan mendekatkan mulutnya di telingaku berkata setengah berbisik tapi aku rasa ia sedang mengancam, kedua tangannya dilipat di depan dada.


"A-pa tidak ada cara lain Af, atau semacam penawaran yang-"


"Banyak cara lain, tidak usah pulang kampung, tapi tinggalkan rumah ini dan cari sekolah yang lain," sergahnya dengan cepat. Rupanya sebuah rencana telah tersusun rapi di kepala Afni.


"Cari sekolah lain Af, bagai-"


"Pilihan ada ditanganmu," lagi lagi ia menyergah.


"Afni,"


"Eits ... jangan menyetuhku." Afni menghindar saat aku mencoba memegang tangannya.


"Ei, ei, ei ... kamu nangis ya, ce, ce, ce, ..


cengeng sekali, kasihan anak kampung yang dikirim Emaknya ke mari karena kekurangan biaya, sekarang sedang bersandiwara di depan tuan rumah. Jangan menangis anak manis, nanti kalau Mama tahu kan kamu sendiri yang repot!" matanya licik melihatku.


"Oh iya, silakan pikir-pikir penawaranku!" Ia kemudian kembali masuk kamar.


Tadinya Afni hanya meminta tak membocorkan hubungan keluarga dengannya dan sebisa mungkin tidak saling dekat saat di sekolah tapi tiba-tiba ia mengusirku dengan sarkas.


Bagaimana kalau aku pulang, apa kata Mama dan Kak Anaya. Bagaimana cara bilang pada tante Yusnita agar tidak curiga. Tuhan aku harus bagaimana?

__ADS_1


Aku menekuk badan memandang kosong ke dinding yang bisu, suatu kenyataan pahit harus aku terima, ketika suatu harapan dijungkirbalikkan keadaan. Kalau tahu seperti ini aku tidak pernah mau ke sini.


***


Makanan enak dihidangkan tante Yusnita di meja untuk sarapan. Apapun yang dimasak tante Yusnita selalu menggugah selera dan mengundang nafsu makan. Tapi aku benar-benar tidak ada selera. Nafsu makanku entah raib ke mana. Mungkin tertelan oleh ancama Afni yang terus terngiang.


Jika aku tetap di sini, ia akan terus berusaha mengusik ketenanganku. Aku tidak boleh ketahuan sama siapapun soal tempat tinggal dan hubunganku dengan Afni. Mana mungkin aku dan Afni tidak ketemu di sekolah yang luasnya cuma 2 hektar yang hanya mempunya satu gerbang, sangat memungkinkan aku dan dia bertemu dalam satu hari.


Atau penawaran lain cara yang paling mudah, aku pulang kampung. Iya pulang kampung, itu keinginan yang tanpa Afni minta pun aku sangat ingin tapi apa jadinya kalau aku pulang kampung. Apa tanggapan Mama dan kak Anaya. Bagaimana perasaan tante Yusnita. Hubungan Mama dan tante Yusnita bisa jadi keruh.


[Aarrgggg ... ] aku mengerang sekeras-keranya dalam hati. Galau aku dibuatnya. Kepala ini pening nyaris mau pecah memikirkannya.


"Kak Maiza diet ya, kok cuma makan sepotong roti, susunya juga tidak habis?"


Aku teesenyum sekenanya, mata tante Yusnita melirikku. "Diet ya, Sayang."


Diet? Badan sekerempeng ini masih diet. "Nggak kok tante, aku ... ." aku mencari-cari alasan agar tante Yusnita tidak curiga, "a-ku lagi datang bulan tante, mood jadi berantakan."


"Afni sarapan, Sayang!" ritual yang tidak boleh ketinggalan setiap pagi.


Aku tidak melakukan hal yang sama. Bibirku masih kelu untuk menyebut nama Afni dengan ceria seperti biasa. Peristiwa tadi pagi membuat bibir ini beku untuk melafazkan namanya.


Tidak ada jawaban dari Afni. selalu seperti itu.


"Mama datang bulan itu apa sih, Ma? Aku mau dong datang bulan juga, biar bisa ketemu Peri Bulan dan Peri Bintang." Tiba-tiba maiza kepo soal datang bulan. Sebuah alasan untuk menutupi suasana hati yang poranda, penyebab nafsu makan ini tunggang langgang.


"Datang bulan itu Sayang sesuatu yang indah, pasti akan dirasakan setiap perempuan, tapi untuk Nurul belum, tunggu remaja dulu."


"Kenapa, Ma?"


"Supaya kalau bulannya datang dia tidak bisa menculik Nurul karena sudah besar, berat dibawa. Kalau Bulannya datang sekarang Nurul bisa diculik karena masih kecil."


"Nurul mau dong Ma diculik sama bulan agar Nurul bisa cerita ke teman-teman bahwa Nurul abis diculik sama Peri Bulan,"

__ADS_1


Tepok jidak aku menghadapi Nurul. Bagaimana ya menjelaskan ke anak kecil kayak Nurul tentang datang bulan. Hmmm ... datang bulan saja susah dijelaskan ke dia apalagi kalau soal jatuh cinta.


"Kalau Nurul diculik bagaimana dong dengan Mama dan Kak Afni sama Kak Maiza? Tidak mungkin kan kami menyusul juga minta diculik karena sudah besar, apa Nurul mau sendiri di Bulan?"


Nurul menghentikan kunyaan makanan dimulut. berusaha mencerna semua kalimat penjelasan tante Yusnita. Mata melirik ke sana ke mari karena sedang berpikir.


"Iya juga sih Ma, iya udah deh nanti saja kalau sudah besar baru datang bulan." Leher dilenggokkan, membuat kepang rambutnya bergoyang.


***


Nurul sudah menunggu di teras bersamaku. Ia menggoyang-goyangkan kakinya yang tidak sampai ke lantai. Tante Yusnita mengeluarkan mobil dari garasi.


"Kak Afni mana sih, kok belum turun," Nurul mencebik.


"Mungkin sbentar lagi,"


"Ayo," ajak Nurul saat mobil sudah berada di halaman mengahadap gerbang.


"Lho Afni mana?" tanya tante Yusnita saat aku dan Nurul masuk ke mobil.


"Kurang tau tante. Tadi Nurul sempat panggil tapi tidak ada jawaban."


Tante Yusnita turun dari mobil lalu masuk ke dalam menemui Afni. Beberapa saat kemudian tante Yusnita keluar tanpa Afni.


"Afni mana tante?"


"Katanya tidak enak badan."


"Lho, apa tidak sebaiknya dibawa ke klinik dulu tante?" Tawaranku, mengingat Afni butuh penanganan yang serius. Depresi ringan mulai menjangkitinya.


"Nanti saja, Sayang. Kalian aku antar dulu, nanti baru urus Afni lagi. Sepertinya Afni butuh istirahat karena kelelahan dari acara semalam yang unfaedah," gerutu tante Yusnita.


Mobil mulai melaju dengan rute rutin seperti biasa. Aku berusaha menata suasana hati, sebisa mungkin tidak mengingat peristiwa semalam dan tadi subuh.

__ADS_1


Tapi entah kenapa, fokus ini tertuju pada kalimat Afni yang memintaku pulang kampung.


Mungkin sebaiknya aku pertimbangkan dan segera ambil keputusan agar semuanya menjadi baik.


__ADS_2