
"Radea, apa yang kamu lakukan?" tanyaku panik.
"Aku tidak melakukan apa-apa Maiza, aku hanya menutup pintu d-"
"Dan menguncinya!" Aku garang dan siap memberontak jika satu langkah lagi Radea berani mendekatiku.
"Tenang Maiza, aku hanya bercanda." Sesaat hening, aku bersikap siaga, "Hmmm ... dasar cewek penakut, baru gitu aja sudah panik luar biasa." Radea memutar kembali kunci pintu ke arah kanan. Jantungku bergetar hebat dibuatnya. Aku tak mampu bicara lagi.
"Ya sudah, mandi dan bersihkan dirimu. Pakaian perempuan banyak di lemari, silakan pilih yang mau kamu pakai!" ia memberiku senyum kemenangan, berhasil membuatku dalam keadaan tak karuan. Aku tidak mengerti dengan maksud Radea melakukan ini semua padaku.
"Aku tidak mau mandi, aku mau pulang." aku mulai berani berkata lebih tegas lagi.
"Setelah itu aku mengantarmu pulang atau ke tempat mana pun yang kamu inginkan." Radea melangkahkan kaki hendak meninggalkan kamar dan membelakangiku.
"Aku tidak mau, antar aku pulang sekarang." suaraku yang agak keras menghentikan langkah Radea. Ia diam dan menoleh kembali padaku, ia menatap tajam, aku was-was dibuatnya.
"Kamu takut dapat marah ya dari mama atau papa kamu? Tenang saja aku akan bertanggung jawab. Sekarang kamu bersih-bersih. Aku tidak akan mengantarmu pulang kalau masih kucel seperti ini. Ya sudah aku tinggal dulu, kalau ada kebutuhan, pencet saja tombol di dekat tempat tidur nanti Bibi akan datang." katanya lagi sambil menunjukkan tombol yang terdapat di samping tempat tidur.
Radea lalu keluar dari kamar dan menutupnya dari luar. Kali ini Radea membuatku benar-benar hilang nyali. Tingkahnya sangat natural seperti tanpa sandiwara atau memang Radea punya keinginan terselubung setelah ini, entahlah.
Aku mendekati sofa berbulu berwarna ungu muda yang ada di depan tempat tidur lalu membuka tirai jendela. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat suasana kota malam ini dengan ribuan cahaya lampu warna-warni di bawah sana. Rumah Pak Anwar yang mungkin juga rumah Radea ini terletak di tempat yang agak tinggi sehingga pemandangan kota sangat mudah dinikmati.
Banyak pakaian perempuan di dalam lemari kata Radea tadi. Memangnya kamar ini milik siapa, apakah Radea punya saudara perempuan dan kamar yang indah ini adalah kamarnya? Atau kamar ini milik Radea sendiri, tapi mengapa banyak pakaian perempuan? Kamar ini cocoknya memang untuk perempuan, hiasan dindingnya yang manis-manis, karpet bulu dan sofa bulu di tambah pernak-pernik khas perempuan. Ah, terlalu banyak teka-teki tentang Radea dan Pak Anwar. Setelah ini entah apalagi yang akan dilakukan Radea padaku. Manusia berwajah maskulin itu nyaris membuat jantung ini berhenti bekerja.
Enak sekali hidup Radea, ia tinggal di rumah mewah dengan para pembantu yang siap melayani kebutuhannya. Andai saja aku masih di kampung pasti aku juga menikmati hidup seperti Radea di pelukan Mama dan Kak Anaya. Memang aku tidak kaya seperti Radea karena nyaman itu tidak dapat disandingkan dengan uang, tapi setidaknya aku tidak perlu main petak umpet dengan salah satu penghuni rumah, seperti yang kualami sekarang bersama Afni.
Entah berapa lama aku berkutat dengan pikiran sendiri sampai akhirnya pintu di ketuk dari luar.
"Boleh aku masuk Non?" suara perempuan. Aku bergegas membuka pintu.
"Non, sudah ditunggu sama Tuan Radea di bawah!" kata perempuan paruh baya di depanku sambil menunggu. Senyum samar ia berikan padaku.
"Di mana Bi?"
__ADS_1
Di bawah Non, di ruang makan. Mari Non kita turun!" ajaknya padaku. Aku mengikuti jejaknya menuruni tangga. Aku baru memperhatikan dengan baik isi ruangan demi ruangan yang terlewati, di antara semua hiasan dinding yang berupa lukisan dan kaligrafi, ada satu foto keluarga yang tidak utuh, di foto itu Radea dan Pak Anwar duduk di sebuah taman dengan senyum lepas. Ke mana perginya mama Radea? Tak ada satu pun foto perempuan yang kutemukan.
Radea sudah menunggu di kursi dengan hidangan menu-menu lezat di hadapannya. Seorang pembantu menuangkan air minum pada gelas yang ada di depannya. Ia menyambut kedatangaku dengan wajah tak ramah.
"Kamu tidak ganti pakaian?" tanyanya setengah mengiterogasi.
Aku tidak menjawabnya. Aku hanya tunduk di depannya.
"Ya sudah, mari duduk dan makan bersamaku!"
Aku masih berdiri di tempat tadi, tak sepatah kata pun keluar dari mulut ini.
"Ayolah Maiza, mari makan. Setelah ini aku akan mengantarmu pulang. Aku janji, tidak ada lagi kejadian tidak menyenangkan seperti tadi." Radea tersenyum padaku.
Aku mendekati meja makan dan duduk di depannya. Radea mengisi piring makanku dengan nasi, "Mau lauk apa?"
"Apa saja." Jawabku datar, aku sama sekali tidak selera makan dalam keadaan hati yang kacau dengan pikiran ke mana-mana.
Radea mengisi piringku dengan makanan yang banyak, ditambahkannya ikan bakar dan sambal tomat dalam piring yang lain lalu di letakkan di hadapanku.
Radea mulai makan dengan lahap. Sesekali ia melihatku dan tersenyum. Akupun menyendok makanan yang ada di piringku. Tak ada suara selain bunyi sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring dan suara mulut mengunyah makanan.
"Radea ... ."
"Emmm ... kenapa Maiza, makanannya tidak enak ya?" Radea tidak melihatku, matanya tetap fokus pada makanan yang dimakannya.
"Bukan, makanannya enak. Emmm ... setelah ini kamu serius kan akan mengantarku pulang?" Tanyaku dengan ragu karena takut ia tidak berselera makan.
"Emmm ... iya makanlah," Radea terus saja mengunyah makanannya.
"Habiskan makanannya Maiza." Dan makanan piring Radea sudah bersih dalam waktu sekejap.
"Piringku terlalu penuh dan-"
__ADS_1
"Tidak boleh mubazzir Maiza." Ucapan Radea membuat selera makanku meronta karena tetiba saja aku mengingat anak-anak jalanan sudut-sudut jalan kota ini yang meringis, menengadahkan kaleng bekas pada setiap kendaraan yang kejebak lampu merah.
***
Akhirnya Radea mengantarku pulang. Aku duduk manis di sampingnya. Sikap baik Radea kepada orang-orang di rumahnya mengembalikan keyakinanku bahwa Radea memang orang baik. Aku diantarnya pulang tanpa terjadi hal-hal aneh di rumahnya seperti yang ada dipikiranku tadi. Rasa takut itu sudah mulai menghilang.
"Oh ya Maiza, kamu anak mana sebenarnya?" belum sempat aku menjawab Radea menyambung kembali pertanyaannya, "Kamu bukan anak sini kan?" Radea tidak bertanya, ia hanya meminta dukungan atas pendapatnya itu.
"Aku orang kampung Radea, aku baru di kota ini." jawabku sekenanya.
"Sudah kutebak dari awal. Makanya tadi aku sengaja menakut-nakuti kamu ha ... ha ... ha ... jadi kamu di sini dengan siapa? Maksud aku kamu ikut dan tinggal sama siapa?"
"Kamu jahat banget. Emmm ... aku ikut Tante, adik Mama." Suasana mulai mencair, dan keteganganku sudah menghilang beriring dengan hilangnya keanehan dari diri Radea yang tadi membuatku kacau.
"Oh, kamu baru kan diperlakukan kayak tadi?"
"Sumpah jantungku nyaris berhenti, niat banget ya bikin aku parno kayak tadi." Aku sudah berani menghadap Radea.
"Kamu lucu aja, aku senang melihatnya." Radea menikmati lakonnya yang ironi rupanya.
"Eh, ngomong-ngomong tahu alamat Jalan Kenanga II nomor 3 dari mana? Kamu sudah sering keliling kota ya?"
"Aku sudah pernah ke sana sebelumnya."
"Maksud kamu?" Radea menoleh padaku dan menautkan alisnya.
"Iya aku pernah ke rumah Pak Anwar Baddu sebelumnya, dia Papa kamu kan?"
"Kok bisa?" Radea penasaran akan hubunganku dengan Papanya yang ia akui sibuk dan tidak sempat mengurusi urusan orang kecil sepertiku.
"Ceritanya panjang." Aku menceritakan semuanya pada Radea tanpa sedikit pun yang tersisa, dan beban dalam kepalaku rasanya mulai berkurang.
"Berarti kamu serumah dong dengan Afni?"
__ADS_1
[Astaga ... aku membocorkan sebuah rahasia.]