Liebe Zu Maiza

Liebe Zu Maiza
Pilihan Sulit


__ADS_3

"Hai Dear,"


Pernahkah kamu merindukan seseorang yang hanya sekali dua kali kamu temui? Pernahkan perasaanmu berantakan karenanya?


Aku pernah dan sedang merasakannya.


Jika setitik pertemuan berjeda jarak mampu menghadirkan rindu dan rindu paling mampu melambatkan waktu.


Maka aku harap diantara kata jeda itu ingatanmu tentang aku tidak terhapus masa. Dan diantara waktu yang melambat itu rasamu tetap utuh.


Rasa ini, akan selalu utuh. Karena cinta yang tumbuh untukmu selalu terjaga.


Untukmu malaikat tak bersayap, aku selalu menyimpan cinta untukmu.


Jika kelak tangan Tuhan menyatukan kita, akan aku ceritakan tentang cinta yang tersimpan diam-diam. Tapi jika Tuhan tak menyatukan kita, cinta yang tersimpan diam-diam tak akan kehilangan cerita.


***


Gusar menyelimuti seisi rongga dada ini. Sedari tadi mencoba istirahat. Badan yang lekat dengan kasur, kepala yang rapat di bantal, musik mengalun pelan dan syahdu, pendingin ruangan memberi kesegaran tapi rasa kantuk lenyap entah sembunyi di mana.


Otak dalam rongga tengkorak di kepala ini terus kerja keras. Mencari jalan keluar atas secuil masalah yang sedang mendera. Sedikit memang, hanya secuil tapi salah langkah bisa berakibat fatal.


Aku harus memutuskan memilih bertahan atau pergi. Kedua-duanya sulit, semua ada konsekuensinya.

__ADS_1


Aku akan bertahan untuk mencapai impian yang tertunda yang juga menjadi harapan Mama sejak dulu. Mama tak pernah ketinggalan jadi permirsa setia siaran langsung Upacara Tujuh Belasan di Istana Negara, 'Za, suatu saat kamu juga akan berdiri di situ' sambil menunjuk barisan Gita Bahana Nusantara.


Jika memilih pergi sama saja mengubur impian itu dan keadaan mungkin akan lebih baik. Hati ini dan harapan Mama bisa saja berujung kecewa atas harapan tak sampai itu tapi di satu sisi hati dan diri ini akan bebas dari tekanan siapa pun. Aku hanya perlu memercikkan kebahagiaan Mama dengan cara lain, bukan dengan cara menjadi bagaian dari Gita Bahana Nusantara.


Aku tidak pernah berharap berada di posisi ini, di mana aku sedang menuju impian itu dan orang-orang di sekeliling malah menjadi kerikil-kericil tajam yang menyadung. Aku mulai tergores, kaki sudah berdarah dan kesakitan tapi aku harus bertahan.


Jalan ini masih panjang. Impian itu ada di ujung jalan. Jika aku bisa tuli atas makian, cepat atau lambat akan sampai. Jika aku bisa buta atas perasaan, maka siapapun tak perlu kuperhitungkan untuk mencapai impian itu.


Tapi sayangnya aku tidak berada dikedua tipe itu. Aku tidak bisa pura-pura tuli atas bisikan hati juga tidak bisa pura-pura buta terhadap perasaan sendiri. Aku masih peduli dengan mereka, orang-orang yang ada di lingkaran kehidupan ini.


Kalau aku mengundurkan diri dari organisasi vokal, semuanya akan lebih mudah dalam kendaliku. Aku akan jadi siswa seperti pada umumnya, pergi pagi lalu pulang siang, di rumah kerja selesaikan pe er, dan begitu seterusnya sampai tamat dan pergi meninggalkan kota ini. Daniza pun akan mudah untuk kuajak baikan lagi, ngambeknya lekas melayang kalau tahu aku mengundurkan diri, seperti yang pernah kukatakan padanya. Paling-paling yang akan terganggu hanya Afni karena aku seatap dengannya.


Impianku menjadi wakil Gita Bahana Nusantata akan menjadi impian jamuran. Tak akan pernah terwujud lagi. Harapanku menjadi finalis FLSN tinggal harapan saja yang cukup diperdengarkan kepada tembok dan angin yang berlalu.


Jika aku memilih tetap bergabung dengan organisasi vokal, maka mereka yang perhatian padaku akan bertambah perhatiannya. Tentu masih dengan cara yang berbeda. Afni semakin murka dengan aku, setiap hari dia akan dihantui ketakutan akan temannya sendiri. ketakutan atas ancamannya sendiri yang tak ingin ketahuan aku dan dia seatap bahkan saudara sepupu. Perhatiannya akan bertambah-tambah padaku, caci dan makiannya akan menjadi sarapan dan pengantar tidur.


Azmi dan Rima juga akan semakin kebakaran jenggot. Setiap kegiatan vokal mereka akan melihatku, si gadis jerawatan penyebab mata mereka sakit. Mereka akan menidasku diam-diam karena kendali organisasi ada ditangan ketua dan penangung jawab Bu Mirah. Mereka akan berada di atas angin karena junior sepertiku akan jadi incaran senior macam mereka.


Seandainya aku tidak ke kota ini, mungki lain jadinya, Afni akan tetap menjadi sepupu yang murah hati. Seandainya aku tinggal saja di kampung dan lanjut sekolah di kampung, mungkin tak akan ada masalah serumit ini. Tak ada teman ngabekan, baperan, peka salah-salah kayak Daniza.


Tak ada senior berlagak ratu, sok di segala bidang dan tempat kayak Azmi dan Rima. Juga tak ada peritiwa lima menit paling indah di bawah rinai hujan.


Tapi kalau aku sekolah di kampung, maka selamanya aku akan jadi kampungan. Mall menjadi barang menakjubkan padahal bukan apa-apa bagi orang kota. Bus menjadi kendaraan yang istimewa padahal hanya menjadi penghalang kendaraan pribadi orang-orang kota. Hidup ini memang sulit dipahami.

__ADS_1


Arggg ... Kepalaku nyut-nyut mau pecah terus-menerus dihantam kata jika, maka, andai yang tiada habisnya. Situasi ini membuatku berada pada pilihan yang sulit.


***


Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, aku bangkit dan mengintip di balik gorden. Cahaya matahari masih ada jadi tak perlu takut untuk kedapatan lagi.


Afni turun dari mobil bersama Azmi dan Rima. Azmi dan Rima ke sini, artinya aku tidak boleh menampakkan wajah, tidak boleh keluar dari kamar. Harapku mereka tidak menghabiskan malam Ahad di rumah ini.


Mereka diantar oleh teman lelaki yang mengantar Afni malam itu, laki-laki brengsek yang tidak tahu malu. Kelihatannya ia laki-laki berkelas, pakaiannya tidak bisa membohongi jati dirinya, tapi sudah kelihatan tua seperti om om yang sering muncul di tivi. Bisa-bisanya mereka bergaul dengan om om.


Ini pasti ada apa-apanya.


Suara langkah kaki mulai terdengar menuju kamar Afni.


"Jadi tadi kamu diajak karaokean sama Om Indra?" Celetuk Afni.


"Iya tuh, padahal aku maunya di kafe aja, ngopi."


"Tapi kamu diajak belanja kan?" Selidik Rima.


"Itu kan perjanjiannya. Om Indra nyenangin aku, beliin aku apa aja yang aku mau dan satu lagi, misiku untuk jadi penyanyi terkenal sebentar lagi akan terwujud."


Mereka terkekeh lalu terdengar suara pintu yang ditutup.

__ADS_1


__ADS_2