Liebe Zu Maiza

Liebe Zu Maiza
Jalan Kenanga II No. 3


__ADS_3

Afni terlihat tenang mendengar alamat yang baru saja kusebut, senyum samar ia tampakkan diwajahnya. Reputasinya tetap aman asalkan teman-temannya tidak kepo mencocokkan alamat yang kusebut barusan dengan alamat yang tertera di formulir pendaftaran.


"Bisa diulang alamatnya?" Azmi punya hak untuk bertanya kepada anggota baru tentang apapun asal tidak mengandung SARA. Nampak keraguan diraut wajahnya mendengar alamat yang kusebut.


"Jalan Kenanga II No.3." Tegasku.


"Apa tidak salah kamu tinggal di sana?" Azmi menatapku dengan curiga.


Aku harus meyakinkannya, "Tidak salah, aku tinggal di jalan Kenanga II No. 3, apa ada yang salah kalau aku tinggal di sana?"


Keberanianku muncul bertanya kembali kepada Azmi meskipun aku dihantui rasa takut luar bisa. Jangan sampai alamat rumah yang kusebut adalah alamat tetangganya atau bahkan alamat rumahnya sendiri. Tapi tidak mungkin. Semoga itu bukan alamat rumah Azmi. Di rumah itu aku tidak menemukan siapa-siapa selain Pak Anwar dan para pembantunya.


"Tidak ada yang salah, aku hanya ingin memastikan," senyumnya skeptis menatapku. Aku mengusap dada.


Aku bisa membaca pikiran Azmi, kalau bukan karena kehadiran Bu Mirah dan Pak Arman, pasti dia sudah mencaciku lagi 'Mana mungkin kamu tinggal di rumah itu, dari tampangmu saja sangat tidak mungkin. Mungkin saja sih kalau kamu jadi pembantu di sana.' Bagitu kira-kira kalimat yang akan disemprotkannya padaku.


Semua mata lekat kepadaku. Termasuk anak musik. Itu karena pertanyaan Azmi tentang alamatku. Memang tidak seharusnya aku menyebut alamat Pak Anwar sebagai alamatku tapi harus bagaimana lagi, hanya itu alamat yang kutahu pasti letaknya.


Kulihat Faruq melirikku sejenak, setelah itu dia menatap kosong ke depan. Lelaki itu, entah apa yang ada dipikirannya sejak memulai pertemuan, dia cuek secuek-cueknya hanya sekali saja ia fokus, saat memperkenalkan diri.


"Za, kamu benar tinggal di Jalan Kenanga II Nomor 3?" Ayu pun ragu dengan alamatku. Mungkin alamat yang ku sebut bukan alamat sembarang orang. Kalau memang demikian, matilah aku, kebohongan itu akan terbongkar. Kalau kebohongan itu terbongkar, maka aku akan jadi cibiran di.mana-mana. Disangkanya aku mengaku orang kaya. Getir aku memikirkan diri sendiri jika akhirnya ada orang lain yang tahu selain Afni.

__ADS_1


"Kamu juga ndak percaya Yu?" lirih suaraku, ada sesuatu yang tertahan di dalam dada.


"Nggak, maksudku, a-ku hanya memperjelas saja." Ayu berusaha menutupi keraguan diwajahnya dengan senyuman yang terkesan dipaksakan.


***


Sekretaris organisasi vokal yang tak lain adalah Rima membagikan draf jadwal latihan rutin. Kasar ia menyerahkan draf itu padaku dengan wajah tidak enak dipandang.


Setelahnya ketua organisasi menjelaskan juklak jadwal rutin itu. Anggota yang mempunyai usul, tanggapan maupun sanggahan. Meleleh hati ini melihat sang ketua bicara. Sesekali ia menjilat bibirnya disela-sela pembicaraan. Atau menebar senyum samar kepada peserta yang bertanya.


Aku ada di sini, di depannya tapi sekali saja ia tidak pernah melihatku. Apa memang dia lupa pernah menolongku beberapa kali. Atau memang begitulah karakternya. Aku penasaran dibuatnya. Tanpa rasa berdosa ia berdiri di depanku. Bukankah karena dia aku sulit tidur, malas makan dan jatung berdentum tidak karuan, perut entah mules atau rasa tidak nyaman yang tidak bisa dibahasakan.


Tadi saat aku memperkenalkan diri dia hanya melirik, dan satu lirikan itu membuat hati ini mengembang. Oh Muhammad Al Faruq Zaahirulhaq, kau telah membuat gadis kampung ini setengah gila tapi kamu merasa tak bersalah.


Dewi Fortuna berpihak padaku. Aku satu tim dengan Ayu, syukur karena tidak tercecer dengan kelompok yang lain, meskipun aku telan liur melihat nama pendampingku, Azmi Zakia dan Muhammad Al Faruq Zaahiruhaq dari organisasi vokal. Radea Al Fatih dan Dewi Ariana dari organisasi musik.


Meskipun merupaka ketua organisasi, Faruq tetap punya jadwal latihan, sebab dalam pedoman organisasi tidak ada hak istimewa bagi ketua dalam hal latihan rutin.


Pendamping dari organisasi sendiri ada Azmi, untung saja ia partner dengan Faruq. Peri Penjahat dan Dewa penolong.


Sedangkan dari organisasi musik ada Radea Al Fatih dan Dewi Ariana. Radea Al Fatih apakah sama dengan Radea yang pernah menawariku bantuan saat ditinggal Afni dulu ya? Radea yang semalam mengirimiku pesan singkat atau ada Radea yang lain? Rasa penasaran pun muncul, ingin secepatnya aku melihat pengurus organisasi musik memperkenalkan diri agar rasa penasaran itu pergi jauh-jauh.

__ADS_1


Asmi, Afni dan Rima, tiga sekawan yang rasuki iblis comberan itu mendekatiku saat istirahat sebelum organisasi musik mendapat giliran memperkenalkan pengurus-pengurusnya.


"Hei, Curut, aku sudah bilang kan ke kamu agar mengundurkan diri dari organisasi ini? Kenapa kamu masih muncul? Mau ngelawan ya kamu? Masuk dalam timku lagi, bisa ambur adul nantinya kalau ada kamu." Azmi memulai pidato kotornya.


"Punya keberanian juga ya kamu? Kamu lupa ya dengan ancaman yang kemarin-kemarin?" Afni tak mau ketinggaalan, ia pun ambil bagian.


"Tau nih, manusia wajah bintik yang super pede, jangan kira karena suara kamu bagus lantas bisa menghirup nafas lega ya di organisasi." Peringatan tegas dari Rima, si pemilik senyum tak simetris. Senyum andalannya itu baru saja ia berikan padaku.


"Kalian mengancam aku ya? Lakukan saja sesuka hati kalian. Aku tidak takut sama kalian, aku punya Tuhan yang dapat membalasnya. Lagipula kita masih sama-sama manusia yang memulai kehidupan dari segumpal darah kan? Dari sari-sari tanah. Kalau kalian bisa mengancam, mengapa aku tidak?" ucapanku telak membuat ketiganya bungkam. Aku meninggalkan mereka yang tidak penting.


***


Tiba saatnya kelompok organisasi musik memperkenalkan diri yang dimulai dari jajaran pengurus. Ketua organisasi adalah Dewi Ariana, perempuan berkulit sawo matang berparas manis, bola mata berwarna cokelat yang ditesuhi alis tebal melengkung dan bulu mata lentik. Aku saja jatuh cinta dibuatnya apalagi kalau laki-laki. Keturunan Ambon dengan rambut ikal berurai sampai tengah punggung.


Sekretaria organisasi memperkenalkan diri dan aku nyaris tidak percaya dibuatnya. Mulutku setengah menganga mendengar sang Sekretaris memperkenalkan dirinya.


Radea Al Fatih orang yang sama dengan yang menawariku boncengan waktu itu. Ternyata dia tidak berbohong. Namanya memang Radea, tepatnya Radea Al Fatih dari organisasi musik yang mengiringi waktu seleksi dulu.


Dan lihatlah apa yang dilakukannya, dia sering-sering melihatku. Ah aku jadi tidak enak rasa dibuatnya. Mungkin dia mengingat penolakanku kemarin, dikiranya aku orang yang angkuh. Atau dia ingin membuatku salah tingkah karena selama ini aku membalas pesannya dengan ogah-ogahan, asal balas saja. Itu mungkin perasaan ini saja harapku.


"Aku menjabat sebagai sekretaris organisasi musik." Ia membungkukkan badan hendak kembali duduk lalu menegakkan kembali, "Oh iya hampir lupa, aku tinggal di Jalan Kenanga II Nomor 3."

__ADS_1


"What?" 😲


__ADS_2