
Aku masih berdiri di depan gerbang sampai jejak-jejak Radea menghilang dari jalanan. Ia telah pulang ke rumahnya setelah mengantarku pulang, setelah membuatku kesal dan berpikir banyak. Kejadian-kejadian barusan bersama Radea membekas diingatan.
Ada rasa tidak percaya terhadap apa saja yang baru didengarkan telingaku dari mulut Radea. Rasanya tidak mungkin Radea ingin mengenalku lebih jauh seperti yang dikatakannya. Rasanya tidak mungkin Radea ingin melindungiku. Radea bukanlah orang kampung yang baru saja bergaul dan hidup di kota yang sesak manusia.
Orang sepertiku mungkin sudah sering ditemuinya di suatu tempat. Mana mungkin ia tertarik denganku yang hanya orang kampung yang tidak menarik sama sekali bagi orang-orang metropolitan sepertinya.
Lalu kalau bukan karena ingin melindungiku dan kenal lebih dekat, apa kira-kira tujuan Radea sering menganggu ketenanganku semenjak ia mendapatkan nomorku. Ah Radea pasti punya tujuan lain. Aku harus hati-hati padanya.
Aku melangkah masuk, menyiapkan diri dan kekuatan untuk menghadapi sepupuku tersayang yang mungkin akan menyambut kedatanganku dengan tidak senang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Kak Maiza datang." Nurul ceria menjawab salamku.
Aku masuk dan kutemui ia duduk dengan buku-buku berserakan di sekitarnya. Ia sedang menyelesaikan tugas seorang diri.
"Tante sudah pulang, Dik?"
Nurul menggeleng, "Belum."
Ia menatapku dan memicingkan mata. "Kakak kok baru pulang?" selidiknya
"Tadi ada kegiatan tambahan di sekolah, Sayang."
Ia menganga menatapku, matanya melotot sempurna, "Haaa ... kegiatannya sampai malam?"
"Nggak kok, sampai sore saja."
"Lho ini sudah malam."
"Kakak tadi singgah di rumah teman, Sayang."
"Oo, aku kira Kakak di sekolah sampai malam begini."
"Emang kenapa?"
"Bahaya Kak, banyak gendeuwo." Jawaban polos anak kecil yang masih percaya kalau ditakut-takuti..
"Lagi kerja tugas ya?"
"Iya nih, Kak." Ia meraup pensil warnanya yang berserakan. "Kak, bantu Nurul kerja tugas yah!" Ia mendongak dan tersenyum, tangannya memegang pensil warna dan diangkatnya di depan dada, sebagai bentuk permohonannya.
"Kakak ganti baju dulu ya." Aku melangkah membelakanginya.
__ADS_1
"Jangan lupa mandi biar kelihatan segar, Kak."
"Oke Boss."
"Terus abis itu makan dulu biar pintar." Bagi Nurul makan banyak adalah syarat untuk menjadi pintar sebagaimana yang sering diulang-ulang Tante Yusnita di telinganya tiap kali ia malas makan.
"Siap." Kuangkat tangan seperti orang hormat.
Aku clingak clinguk mencari keberadaan Afni. Rumah sangat sepi, dari lantai dua juga tidak ada suara apa-apa, biasanya malam begini Afni sudah putar musik dengan volume akhir.
Aku melangkah meninggalkan Nurul, baru saja selangkah kakiku berada di anak tangga paling bawah iseng-iseng aku tanyakan Afni ke Nurul. Kalau Afni belum pulang maka aku akan menikmati kebebasan di rumah bersama Nurul.
"Kak Afni belum pulang?"
Afni ternyata sudah datang dan sedari tadi berdiri di ambang tangga memperhatikan aku dan Nurul. "Ngapain cari-cari aku?" tukas Afni kasar, raut wajahnya sudah tidak enak dipandang.
Aku dan Nurul mendongak nyaris bersamaan. Perasaanku langsung tidak enak. Menyesal aku menanyakannya.
"Tuh, kakak Afni." Jawab Nurul santai karena tidak tahu prahara yang terjadi antara aku dengan Kakak kandungnya.
"Tidak Af, aku kira kamu belum pulang." Aku berusaha cengir di depannya. Bukannya membuat hatinya senang malah dia semakin terbakar.
"Ngapain cengir kayak monyet salah tingkah begitu?"
Aku tidak menjawab. Jujur saja hatiku sakit dikatai monyet salah tingkah. Jika kalian yang berada di posisiku mungkin sudah lama minggat dari istana neraka ini yang di dalamnya ada iblis laknat macam Afni.
"Tidak apa-apa juga. Aku cuma bertanya saja." Aku mencoba jawab santai. Tidak baik kalau Nurul tahu, nanti dia melapor ke Tante Yusnita dan ujung-ujungnya kau juga yang dapat batunya.
"Terus ngapain tanya-tanya?" seringai Afni kasar.
"Kak Afni kok kasar banget, cuma ditanyakan lho." Nurul menengahi.
"Diam kamu anak kecil."
"Kak Afni yang diam, sudah besar tapi kurang makan."
"Nurul tidak baik seperti itu, Sayang." Aku fokus pada Nurul mengalihkan perhatian dari Afni agar dia merasa tidak dianggap dan enyah dari puncak tangga.
"Awas ya kalian berdua." Afni menunjukiku, matanya menatap garang lalu ia balik badan dengan kasar meninggalkan puncak tangga. Penekanan kata awas pada Afni membuatku was-was naik, balasan apa lagi yang disiapkannya selepas aku naik nanti.
Nurul balik mengancam. "Kak Afni yang awas, nanti aku laporin ke Mama lho."
"Silakan saja, aku tidak takut," teriaknya sambil berlalu menuju kamar.
__ADS_1
Aku langsung naik untuk mandi dan ganti pakaian lalu menemani Nurul menyelesaikan tugasnya.
Mataku menyorot ke depan pintu kamar dan ternyata di depan pintu sudah berdiri Afni dan menatapku garang.
Aku beranikan diri terus berjalan menuju kamar, dan berusaha tidak peduli padanya.
Ia menhanku masuk kamar, bahuku ditahannya menggunakan telunjuk. "Hei ... " Ia mentapku dari ujung kaki sampai ujung rambut. "Siapa yang mengantarmu pulang barusan?"
Aku berusaha menghilangkan rasa kaget atas pertanyaan itu, "Bukan siapa-siapa."
"Pacar baru kamu ya?" ia senyum skeptis, "Ada ya orang mau sama kamu?"
Aku tidak menjawab. Rasanya aku ingin langsung menampol mulutnya.
"Ayo katakan pada siapa kamu menunjukkan alamat rumah ini?"
"Sudah kubilang bukan siapa-siapa."
"Kamu sudah berani ya menunjukkan tempat tinggalmu?" Ia menunjukiku dengan telunjuk yang diacungkan tepat di depan wajahku, "Awas kalau sampai temanku ada yang tahu kamu tinggal serumah denganku," ancamnya.
"Iya aku berani," Aku menatapnya juga dengan cara yang sama ia menatapku. Kalau aku tidak menggertak dari sekarang maka ia akan semakin semena-mena. "Lagi pula kalau ada yang tahu kita serumah kenapa?"
"Kamu sudah punya keberanian untuk melawanku?" Wajahnya memerah menahan amarah.
"Aku tidak pernah takut padamu, aku hanya segan pada Tante Yusnita."
"Kurang ajar kamu ya."
"Kamu yang kurang ajar." dan tangan kanannya berhasil mendarat di pipi kiriku.
"Kenapa sih Af, kamu terus-terusan memungkiri hubungan kita?"
"Aku malu punya sepupu kampungan seperti kamu."
"Kamu malu ya mengakui aku di depan dua orang temanmu yang kurang ajar itu."
"Tutup mulut kamu ja-lang." cercanya dengan keras.
"Kamu yang ja-lang," balasku dengan nada yang lebih tinggi.
Afni semakin emosi dan sekali lagi ingin mendaratkan tamparannya di pipiku. Aku tak mau lagi untuk kedua kalinya, sia-sia jadi anak karate terbaik di kampung kalau aku membiarkan diri dianaya tanpa salah.
"Kamu tidak bisa seenaknya padaku."
__ADS_1
"Kamu sudah lupa ya dengan siapa kamu bicara?"
"Tidak, aku ingat, aku sedang bicara dengan saudara sepupuku." Lalu kutinggalkan dia yang masih mendengus di ambang pintu. Aku menutup pintu dengan keras. Terserah apa yang akan dilakukannya lagi. Aku sudah tidak peduli.