
Kelas yang tadinya punya kesan berpenghuni tapi sepi kini naik level jadi mencekam, suasana yang tadinya tenang tapi mengerikan sekarang jadi merisaukan.
Mata Pak Arman masih memperhatikan Daniza. Sedang Daniza duduk kaku dengan wajah yang seperti kehabisan darah. Bukan aku yang diperlakukan demikian oleh Pak Arman tapi rasanya aku yang akan kehilangan nyawa lantara jantung ini berdetak tak karuan.
"Daniza," katanya sekali lagi.
"I-iya, Pak" jawab Daniza terbata.
"Daniza, kamu nyaman dengan tempat dudukmu?" nada Pak Arman mulai turun satu tingkat.
"Nya-man Pak," Daniza masih terbata. Pandangan Pak Arman membuat siapapun yang melihatnya merasa tidak nyaman, termasuk Daniza.
"Buat senyaman mungkin ya Daniza, kalau menurutmu kursi itu kekecilan boleh lapor kepada wali kelas, nanti wali kelas yang menyampaikan kepada bagian sarana, jangan sampai kamu kesulitan bergerak apa lagi kesulitan bernafas," aku cekikikan dalam hati mendengar penuturan Pak Arman, menurutku lucu tapi seisi kelas tak ada yang berani tertawa.
"Iya, Pak."
Tenyata pak Arman yang kelihatan tak ramah punya tenggang hati terhadap rasa tidak nyaman Daniza. Kalau diperhatikan lebih jauh, memang Daniza tidak cocok dengan kursi ukuran standar yang didudukinya itu karena ukuran pantatnya tidak muat. Ketika duduk, pantat Daniza lebih lebar dari pada bantalan kursi.
Pak Arman lalu lanjut pada materi pembelajaran dan kembali menjelaskan panjang lebar soal-soal yang telah kuselesaikan. Nada suaranya lebih tinggi dari biasanya karena berusaha mengalahkan kerasnya suara hujan yang deras menerpa atap gedung.
Teman-teman menunjukkan wajah serius memperhatikan penjelasan itu dengan sesekali menaggut-manggut seolah paham benar dengan penjelasan Pak Arman, padahal penjelasan itu hanya numpang di lubang telinga dan berakhir mengerikan menjadi tahi telinga. Otak teman-temanku keriting dengan pelajaran hitung-menghitung.
Bukan tanpa alasan aku mengatakan demikian, beberapa kali teman-teman mengeluh sebelum guru matematika masuk, karena menurut mereka bermain dengan sesuatu yang pasti tidak menyenangkan, imajinasi dibatasi, mengkhayal diharamkan. Belum lagi kalau mengerjakan soal dengan jawaban akhir yang benar tapi penjabaran yang salah atau penjabaran yang benar tapi hasil akhir yang salah, kan menjengkelkan.
Apalagi kalau kami diminta untuk menyelesaikan soal satu persatu di papan tulis, Pak Arman menunjuk siswa seenak hatinya untuk maju ke depan tanpa bertanya selesai atau belum, kalau jawaban salah maka silakan berdiri sampai bel berdering panjang. Mendengar nama disebut rasanya sama saja menerima eksekusi kurungan seumur hidup atas putusan hakim.
Wajah serius dan manggut-manggut itu hanya sebentuk bahasa tubuh untuk membesarkan hati dan menyemangati guru matematika yang sebentar lagi pensiun.
"Maiza!" panggilan Pak Arman cukup keras membuatku bergidik, mungkin ia menemukan kesalahan.
__ADS_1
"Kerja yang bangus," katanya masih dengan wajah datar, padahal kalimat itu biasa diucapkan dengan hati berbunga-bunga. Meski begitu, kalimat itu menimbulkan kesan luar biasa dalam hati ini. Aku merasa dihargai.
"Bapak harap kalian belajar dengan lebih baik lagi seperti Maiza. Oh iya, satu lagi, kalian boleh terlambat kalau punya otak menghampiri Einstein seperti Maiza," tutup Pak Arman sebelum meninggalkan kelas. Ucapan itu membuat aku mendapatkan tempat dan perhatian lebih di kelas.
Selepas Pak Arman meninggalkan kelas Daniza dengan cepat menarik kursinya dan duduk tepat di depanku.
"Hebat kamu ya Za, tiga puluh butir soal lho," kata Daniza sambil mengangkat tiga jari dengan mata melotot, "kamu selesaikan dalam waktu yang sebentar saja, ce ce ce aku sampai tidak percaya kamu bisa melakukannya."
"Iya Za, tadi aku sampai deg deg kan lho saat Pak Arman minta kamu naik untuk kerjakan tiga puluh soal." tambah Ayu.
"Apalagi saat Pak Arman menyebut namaku, tahu tidak, aku nyaris sesak nafas dibuatnya," kata Daniza sambil geleng kepala mengingat kembali kesialan yang hampir saja membuntutinya.
"Tenyata kamu hebat Matematika ya Za, sebuah bakat luar biasa!" puji Daniza.
"Ah, biasa aja," bukannya sombong, tapi menurutku itu memang hal biasa, tidak ada istimewanya sama sekali. Apa susahnya mengerjakan soal matematika yang dari zaman purba sampai sekarang itu-itu saja, satu tambah satu sama dengan dua, tidak pernah berubah, statis dan monoton.
Sejak Pak Arman meninggalkan kelas, kurasa beberapa teman kelas mulai memperhatikanku. Ada yang geleng-geleng setengah percaya. Ada yang tidak menyangka aku bisa menjawab tiga puluh butir soal tanpa satupun kesalahan. Seketika anak kampung ini menjadi pusat perhatian.
"Aku minta maaf ya Za soal kemarin, saat kamu butuh bantuan malah aku tidak bisa diandalkan, kemarin aku lagi di kamar mandi dan tidak sempat lagi periksa hape setelah mandi. Aku kelelahan."
"Aku juga Za, sumpah aku sangat lelah, sampai di rumah aku langsung lempar badan ke tempat tidur bahkan tidak sempat ganti seragam."
Rasa bersalah terdengar dari nada tutur kedua temanku. Rasa bersalah yang mereka sesalkan adalah pengabaian yang kusyukuri.
"Tidak apa-apa, justru karena kalian tidak bisa membantu akhirnya Tuhan mempertemukanku dengan Pak Anwar Baddu."
"Pak Anwar Baddu, siapa dia?" Alis Daniza berkerut.
"Kayaknya aku pernah deh dengar nama itu, tapi di mana ya?" Ayu mencoba mengingat-ingat, menemukan daftar nama yang terekam dalam memorinya.
__ADS_1
"Eh, ceritain dong apa saja terjadi denganmu semalam sampai ketemu dengan Pak Anwar Baddu itu," Daniza mulai menginterogasi.
Kuceritakam semua yang kualami mulai dari ancaman Azmi, lewat dari Halte Sudirman sampai Halte Sutomo, ditolong oleh Pak Anwar Baddu sang konglomerat baik hati, diantar pulang oleh Supri dengan mobil mewah dan tuduhan Afni.
"Wah enak dong ya ketemu dengan konglomerat. Eh siapa tahu dia punya anak laki-laki," Daniza malah fokus saja ke enaknya ketemu Pak Anwar, dia tidak tahu bagaimana susah payahnya aku di halte.
"Terus apa yang yang terjadi barusan? Kamu kelihatannya sangat bahagia? Atau jangan-jangan ada kaitannya dengan Pak Anwar," pertanyaan Ayu inilah yang kutunggu-tunggu sedari tadi. Aku memang sudah tidak sabar menceritakan peritiwa yang baru saja terjadi, lima menit yang paling indah dalam hidupku.
"Iya Za, kamu kelihatannya sangat bahagia, ada apa sih?"
"Aku menujukkan wajah bahagia karena hati ini sedang berbunga-bunga."
"Ha, berbunga-bunga? Emang siapa yang baru saja menanam bunga di dalam sana?" timpal Daniza.
"Za, cerita dong!" desak Ayu.
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana,"
Daniza setengah emosi mendengarkan kalimat itu. "Ya ampun, ya mulai aja sejak kamu bangun tidur, pokoknya kami harus tahu apa yang membuatmu sedemikian bahagaianya."
"Aku sedang memikirkan seseorang," jawabku santai.
"Terus, hubungannya dengan kamu bahagia apa, Zaaa?" gereget Daniza.
"Zaa, cerita dong, awalnya kamu memikirkan seseorang karena apa, kan ada penyebabnya," nada Ayu setengah memelas.
"Pokoknya ceritanya panjang, dan mungkin aku mulai suka dengan seseorang,"
"Kamu jatuh cinta?" Tanya keduanya nyaris bersamaan.
__ADS_1