
pagi masih beku, aroma basah sisa embun masih terasa menusuk pangkal hidung. Suasana pagi yang masih bening, tapi ini tak berlangsung lama, beberapa saat kemudian, setelah penghuni kota terjaga, mereka akan berlomba menuju tempat pengharapan mencari nafkah, maka kota kembali muram dengan asap kendaraan.
Matahari tak bersinar cerah seperti hari-hari sebelumnya. Langit terbungkus awan-awan gelap. Burung-burung gereja bertebangan ke sana ke mari mulai mencari tempat teduh.
Tante Yusnita sedang memanaskan mobil. Rutinitasnya setiap pagi, sebelum berangkat ke kantor, dia akan mengurus tiga anaknya, menyiapkan sarapan lalu mengantarnya ke sekolah.
Nurul duduk menunggu di teras, kedua tangannya memegang buku gambar yang tidak muat masuk ke dalam tasnya.
Aku pun bersiap, kulihat wajahku di cermin. Senyum manis kulemparkan kepada manusia yang terlihat di pantulan cermin.
'Apapun yang terjadi padamu, sedalam apapun kesedihanmu, tetaplah tersenyum, karena dunia tidak pernah peduli dengan masalah seseorang, dunia akan tetap berputar meski kau meratapi sedih' kata-kata Mama padaku sebelum aku meninggalkan rumah ke tempat ini.
Ya Tuhan, wajah ini semakin tak layak dikagumi, bintik-bintik merah yang memalukan. Jerawat bertimbulan tiada henti. Baru pagi begini, minyak sudah membuat kilap ujung hidung.
Aku menghela nafas, biarlah seperti ini. Kalau wajahku kembali seperti semula, maka gangguan akan semakin banyak. Kalau wajahku begini, tidak banyak orang yang mau berurusan denganku. Bukankah hanya orang-orang cantik yang hidupnya penuh dengan gangguan setiap saat?
Kubuka pintu kamar, keberadaan Afni di depan pintu mengagetkanku. Ia mengangkat tangan kanannya hendak mengetuk pintu kamar. Wajahnya kesal, senyumnya sudah mulai mahal untukku. Ia memperhatikanku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Senyum tak simetris tampak di wajahnya.
"Lama sekali kamu, bikin orang menunggu saja!"
Tiada jawaban untuk ucapannya itu dariku, biarkan saja dia mengeluarkan kekesalannya padaku hari ini di rumah agar keadaan di sekolah aman terkendali.
__ADS_1
Ia kemudian menbelakangiku dan berjalan menuruni tangga. Aku mengikutinya dari belakang. Kamarku dan kamar Afni berdekatan di lantai dua, sedangkan kamar tante Yusnita dan Nurul berada di lantai satu.
Baru beberapa anak tangga yang terlewati, Afni berhenti dan memutar badan menghadapku. Sesaat ia diam menatapku, kubalas tatapannya itu.
"Oh iyya hampir lupa, kali ini kita berangkat ke sekolah sama-sama diantar Mama. Aku tidak mau Azmi atau Rima melihatku satu mobil denganmu, jadi aku mau kamu turun di tempat lain atau di mana saja, asal tidak bersamaan denganku, paham?" suaranya pelan tapi penekanannya penuh ancaman. Sebuah peringatan yang mesti aku pegang, Azmi tak mau dilihat oleh teman-temannya bersamaku.
Ternyata namanya Rima, temannya yang satu itu, pemilik senyum tak simetris yang selalu memainkan rambut keritingnya.
"Tapi Afni, bagaimana caranya, aku harus turun di mana, kamu tahu sendiri kan, aku baru di sini dan-" Aku memelas berharap Afni berubah pikiran dan mau menarik kembali kata-katanya.
"Aku tidak mau tahu, pikir aja sendiri, yang jelas kita tidak turun dari mobil bersamaan, titik." sergahnya. Tanpa peduli ia langsung membelakangiku dan lanjut menuruni tangga.
Seperti biasa, jalanan masih lumayan sepi menuju sekolah Nurul. Sepanjang jalan, Nurul berceloteh, bercerita tentang gambar rumah yang semalam dibuatnya. Di depan rumah, ia menggambar pula penghuni rumah yang di gambarnya itu. Dia memperlihatkan gambarnya kepada aku dan Afni.
Afni sama sekali tidak tertarik dengan gambar Nurul. Kulihat ada lima orang penghuni rumah, seorang laki-laki berada di posisi paling tepi, itu pasti Om Haris, disusul perempuan rambut pendek yang tak lain tante Yusnita. Setelah itu ada gadis berambut lurus panjang, itu gambar Afni, disusul perempuan mengenakan hijab itu aku, terakhir ada anak kecil dengan rambut di kepang itu Nurul.
Aku berusaha tersenyum pada Nurul untuk memberikan apresiasi atas karyanya itu. Aku tidak boleh membunuh semangatnya. Satu senyuman untuknya bisa menjadi sesuatu yang berharga yang membuat hatinya tetap utuh. Sementara Afni melihat itu, bukannya memberi sedikit pujian untuk adiknya malah mencela.
"Biasa aja, gak ada bagus-bagusnya sama sekali," celanya.
"Mama, kak Afni jahat." Mendengar celaan Afni, keceriaannya wajah Nurul raib tertelan kalimat Afni yang menusuk perasaan anak kecil itu. Nurul langsung menutup buku gambarnya dan mengadukan kesedihannya.
__ADS_1
"Sayang kakak pasti bercanda, ya kan Afni?" tante Yusnita mencoba memperbaiki mood putri bungsunya akibat ulah dari putri sulungnya sendiri.
Celoteh Nurul harusnya membuatku bahagia. Nurul memasukkan aku dalam gambar keluarganya. Aku dianggap layaknya kakak kandung. Tapi jujur aku tidak terhibur, kata-kata Afni di tangga terngiang. Otakku sedang bekerja keras agar tidak turun bersamaan di depan sekolah. Semetara waktu terus berjalan, dan mobil ini terus melaju mendekati sekolah Nurul, dan setelahnya akan menuju sekolahku. Ide cemerlang belum ketemu.
Aku dan Afni duduk di jok yang sama juga sekolah di sekolah yang sama tapi rasanya ada dinding pemisah antara aku dengannya. Sepanjang jalan aku memikirkan apa yang harus kulakukan sesampai di depan sekolah, sementara Afni juga diam, wajahnya datar dan pandangannya di lemparkan pada kendaraan yang mulai memenuhi jalanan.
Sudah sampai di depan sekolah Nurul. Gadis mungil itu melakukan ritualnya sebelum masuk gerbang, saat mencium pipiku, kubisikkan sesuatu padanya.
"Gambarmu sangat cantik Nona Manis, tak ada satu pun pelukis yang punya ide cemerlang sepertimu."
Mendengar itu, wajah Nurul sumringah, ia melangkah masuk ke gerbang sekolah dengan hati berbunga-bunga.
Perjalanan dilanjutkan menuju ke sekolahku. Hening tercipta, semua bermain dengan pikiran masing-masing, aku yang sibuk mencari jalan keluar atas masalah yang diciptakan Afni untukku, mungkin Afni sedang membayangkan bagaimana susahnya aku memenuhi ancamannya tadi atau membayangkan bagaimana jadinya jika kedapatan turun dari mobil yang sama denganku. Tante Yusnita juga diam, ia fokus dengan kemudinya. Mungkin tante Yusnita berpikir bahwa aku dan Afni tenang karena sedang menikmati perjalanan, padahal api permusuhan baru saja dipercikkan putrinya.
"Oh iya, sebentar Mama ada acara kantor dan akan pulang Malam. Kalian akan dijemput oleh Salim." Salim adalah staf tante Yusnita di lantor. Salim sering datang ke rumah mengambil barang atau apa saja keperluan tante Yusnita di kantor atau barang-barang yang ketinggalan.
"Baik tante,"
Afni tidak menjawab. Diam baginya adalah iya jika tante Yusnita yang meminta persetujuannya. Jika tidak setuju ia akan protes. Kurasa Afni sedang menyusun ide barunya lagi untukku, ia akan mengerjaiku sepulang sekolah nanti.
Mobil terus melaju, tinggal beberapa puluh meter lagi akan sampai di sekolah. Afni melirikku, lirikannya penuh peringatan, semetara aku tidak tahu harus bagaimana.
__ADS_1