
Air hujan yang jatuh tinggal setitik-titik. Langit mulai menampakkan warna terang, sisa-sisa hujan tergenang di lantai peping yang bolong. siswa yang menuju kantin jalan berjinjit-jinjit menghindari genangan air.
Di saat Daniza dan Ayu memberiku nasihat atas perasaan tabu yang sulit untuk kuakui, malaikat penolong itu, orang yang sedari tadi diintai oleh pasangan bola mataku datang ke kantin. Mata ini sekilas menangkap tatapannya yang melihat ke arahku, setelahnya aku mengalihkan pandangan pada nasi yang rasanya hambar, ada rasa malu luar biasa karena mata ini sempat beradu pandang sesaat. Ia datang bersama tiga orang temannya.
Entah apa yang terjadi dengan muka ini saat aku melihatnya sehingga Daniza yang punya bakat detektif terpendam memperhatikan tingkahku. Dia yang membelakangi pintu masuk langsung putar badan lalu kembali melihat kepadaku, wajahnya dihiasi senyum kemenangan.
"Wajahmu merah karena habis lihat dia kan? Jangan menyanggah lagi." suaranya setengah berbisik.
"Eh, Fa pesan kopi hitam atau mocca?" tanya seorang teman yang datang bersamanya.
"Kopi hitam saja."
Mereka duduk satu meja dari tempatku. Malaikatku mengambil posisi duduk yang menyamping dari padanganku. Pembawaannya santai dan memang kelihatan cuek. Ia menyeruput kopi hitam pesanannya sambil mendengar teman-temannya berkelakar. Tangannya memainkan cangkir putih yang baru dua tiga kali diseruputnya.
Sesekali ia menambahkan membuat eman-temannya tertawa terbahak, seisi kantin kadang dipenuhi suara mereka, mengalahkan suara radio yang sedang berdendang.
Aku menikmati ini, mencuri pandang wajahnya, sang malaikat penolong.
Fa, begitu temannya menyapa. Namanya Fa, tapi Fa apa? Fa, terlalu banyak kemungkinannya, seragamnya juga tidak dilenkapi dengan papan nama. Fa, Fafa kah, Arfa kah, Faizal, Fairuz, Fariz, ah terlalu banyak kemungkinan. Fa, membuat perasaan ini semakin tidak jelas arahnya, campur aduk dan sulit dimengerti. Benarkah ini cinta?
***
Bel berbunyi tanda pergantian jam. Daniza dan Ayu mengajakku ke perpustakaan untuk menyelsaikan proyek Bahasa Indonesia untuk menganalisis novel populer.
"Kalian duluan saja, aku kebelet," kataku pada mereka sebelum kutinggalkan kelas. Aku berlari kecil menuruni tangga, perasaan kebelet tak mau minta kompensasi waktu.
Nasib baik tidak berpihak padaku. Toilet rupanya sumpek. Habis hujan begini membuat intensitas pipis semakin meningkat. Aku harus antri.
Aku mendekati cermin, wajahku yang merah karen jerawat malah tampak lebih jadi menarik, mungkin karena perasaan yang bahagia.
"Eh lihat tuh, siapa yang sedang ngaca," seru Azmi kepada kedua temannya, Afni dan Rima. Tetiba saja wajah mereka muncul pada cermin yang ada di depanku. Aku tak hirau dengan mereka. Biarkan saja mereka berpikir dan bicara semau-maunya.
__ADS_1
Kutinggalkan cermin dan kembali masuk ke antreank semula. Rupanya mereka memang tidak senag tanpa menganggu orang lain. Siswa lain yang juga antre diusik, namun tak hirau dengan sikap mereka yang main seenaknya menerobos antrean. Mungkin karena semua sudah tahu kelakuan trio nggak jelas itu. Yang waras lebih baik ngalah.
"Eh, Afni tau tidak, tadi pagi ada kejadian tidak menyenangkan di pos," kata Azmi sambil memainkan bola matanya kesana kemari. Aku tahu, mereka berusaha membuatku geram, mereka ingin menjebak agar aku buat kesalahan dan ujung-ujungnya masuk ruang BK.
"Oh ya, kok kamu tidak cerita dari tadi." Afni penasaran. Ia tidak mau melewatkan sedikit pun kabar tentang aku di sekolah. Bukan karena peduli tapi ia sedang melindungi posisinya.
"Tadinya aku sudah lupa, tapi begitu melihat si biang kerok, perempuan jerawatan itu tuh, aku langsung ingat." Azmi melihat ke arahku dengan sikap remeh. Perempuan jerawatan yang tidak ada apa-apanya sama sekali jika dibandingkan dengannya yang punya keindahan hakiki untuk ukuran perempuan cantik pada umumnya.
Siapa yang bisa menolak jika ada yang mengatakan Azmi cantik. Dia memang cantik, wajah yang oreintal dan kulit putih bersih, rambut hitam lurus sebahu dengan tinggi badan seratus enam puluh lima centimeter.
Afni melirikku, wajahnya terlihat santai berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa aku dan dia saling kenal. "Oh, perempuan yang memakai hijab itu?" tunjuknya padaku dengan mencebik. "Emanganya dia bikin apa di pos?"
"Dia tuh datang paling lambat, terus langsung menyelesaikan hukuman tanpa berbagi ke kita," kemenangan kembali kurasakan. Ternyata mereka tadi butuh bantuan.
Afni mengatupkan alisnya.
"Kamu tahu tidak dia datang sama siapa?"
"Datang sama Faruq."
"Apa?" Nada Afni meninggi.
"Iyya sama Faruq, teman kelas kita, ketua organisasi musik, sok-sok romantis lagi satu payung diduain, datangnya barengan, masuknya barengan, eh keluarnya juga barengan."
Namanya Faruq, malaikat penolong yang bermata sayu. Ternyata dia ketua organisasi musik. Pantas saja waktu itu dia langsung tepuk tangan.
[Aku harus lolos organisasi vokal, agar bisa sering-sering bersama Faruq.]
"Oh begitu," Afni berusaha menyembunyikan kekesalannya. Tadi pagi kemenangan berada ditangannya, aku dipaksanya turun di tempat lain tanpa peduli hujan deras. Berharap aku ****** diguyur hujan dan kebasahan.
"Mungkin dia mengira dapat dengan mudah mendapatkan perhatian Faruq," Rima meremehkankanku. "Azmi aja yang cantik tanpa cela mentah-mentah dicuekin apalagi dia yang kucel."
__ADS_1
"Tau nih, kucel tapi percaya diri tak ketulungan," sementara itu Afni hanya diam membiarkan teman-temannya menghinaku sesukanya. Tak sedikitpun rasa kasihannya padaku.
"Aku penasaran deh dengan kamu," kini Azmi mendekat padaku, "masih ada ya stok perempuan norak kayak kamu di kota ini, tinggal di mana sih kamu?" kulirik Afni, tatapan mata itu kembali menyiratkan ancaman.
"Kita pergi yuk, malas di sini terus dengan dia. Lagian antreannya masih panjang. Pindah ke toilet sebelah saja," ia menarik kedua temannya meninggalkan toilet. Pandangan orang-orang yang antre membuatku tidak nyaman, karena hinaan Azmi, aku jadi pusat perhatian mereka.
***
Bel berdering panjang, Aku bergegas, "Aku duluan ya," kutinggalkan Daniza dan Ayu.
Takutnya Bang Salim sudah menunggu di bawah. Telat sedikit bisa ditinggalkan apalagi kalau Afni yang menunggu duluan, mana peduli dia dengan aku.
Aku berlari kecil menuruni tangga. Berusaha mencari celah, karena di tangga pun sudah banyak yang berdesakan turun.
Sampai di gerbang dalam aku melambatkan langkah, mesti saling mengalah, bisa gaduh kalau main terobos saja.
Akhirnya sampai di depan gerbang utama. Aku menunggu Bang Salim di tempat biasa. Dari ke jauhan kulihat mobil merah milik tante Yusnita berjalan ke arahku. Aku melempar senyum ke arah bang Salim, ia pasti melihatku.
Mobil berhenti beberapa meter sebelum sampai di samping gerbang utama tempat dimana aku berdiri menunggu.
"Ayo kita jalan," ajak Afni pada kedua temannya naik ke mobil.
"Jalan Bang," perintahnya pada Bang Salim.
"Tapi Dik Ibu bilang-"
"Jalan aja, tidak usah tapi-tapian," potongnya, sebelum Bang Salim menyampaikan pesan tante Yusnita.
Mereka berlalu di depanku, Afni menoleh ke arahku dengan tatapan penuh kemenangan.
______
__ADS_1