
Matahari mulai meredup dan malam telah membayang. Mobil melaju pelan membelah jalan yang padat merayap.
Aku melempar pandangan keluar kaca mobil. Yang terlihat lampu-lampu jalanan yang mulai temara. Perasaan ini tak karuan, untuk pertama kali aku berada di dekat Radea, orang yang masih asing. Pandangan Radea fokus ke depan menyetir mobil menuju ke Jalan Kenangan II Nomor 3.
Ada sesal tak berkesudahan atas kesalahan memilih alamat Pak Anwar Baddu sebagai alamat rumahku, dan Radea menggunakan kesempatan itu. Aku sama sekali tidak mengenal Radea dengan baik, aku dan Radea hanya beberapa kali ngobrol lewat pesan singkat. Jika ia berniat jahat padaku, maka malam ini menjadi miliknya.
Aku diam dalam kecemasan luar biasa. Kali ini aku lebih cemas ketimbang waktu melewati halte Sudirman dan sampai halte Sutomo dulu. Pikiranku bercabang-cabang, ada yang ke kampung, ada yang ke Tante Yusnita, Ada yang ke Afni. Semua ini karena hubunganku dengan Afni yang meruncing. Aku bahkan sangat khawatir dengan nyawaku. Radea bisa melakukan apa saja kepadaku saat ini di dalam mobil yang serba terturup. Radea sepertinya santai-santai saja, tak ada beban di wajahnya. Ia menikmati perjalanan sambil sesekali ikut menyanyikan lagu yang terputar di tape mobil.
Mobil semakin jauh meninggalkan depan sekolah. Aku ingin meminta Radea berhenti tapi bibir ini rasanya kelu.
"Kok diam saja, Maiza?" Radea memecah alunan musik dengan suaranya. Ia menoleh ke arahku dan memberi senyum simpul.
"K-kita mau ke mana, Radea?" Akhirnya kuberanikan diri bertanya.
"Ha ha ha ... kita mau pulang kan." Ekspresi Wajah Radea membuatku takut. Melihat tawa lepas Radea barusan membuatku ingat dengan pelaku-pelaku pelecehan yang sering dibeeitakan di tivi dan kebanyakan terjadi di kota besar.
"Pulang ke mana?" Aku masih belum mengubah gerakan sejak tadi masih duduk kaku di kursi depan.
"Ke rumah." Tukas Radea santai, matanya tetap menatap ke depan.
"Rumah?" Rumah mana yang Radea maksud, apakah rumah Tante Yusnita atau rumah Pak Anwar. Gelagat Radea membuatku parno.
"Iya rumah, di Jalan Kenangan II nomor 3. Alamat rumahmu di sana kan Miaza?" Radea menatapku, ia melambatkan laju mobilnya.
"Radea, a-aku." Aku tidak berani memandang Radea. Perasaan takut mencengkeram, takut kalau Radea melakukan hal yang tidak-tidak padaku.
"Kamu takut, Maiza?" Radea masih memandang perempuan bodoh yang menunduk kalah di depannya. Jangankan untuk menjawab, menatap wajah lawan bicaranya saja tidak berani.
__ADS_1
"Wajahmu merah." Radea malah menghentikan mobilnya.
"E he he ... kamu takut kan?" Radea terkekeh, kedua alis tebalnya terangkat, membuatku semakin kacau.
"Mengapa kamu takut denganku Maiza? Apa tampangku seperti penjahat? Apakah aku seperti brandal? Atau kamu melihatku seperti seorang psikopat?"
Pertanyaan Radea itu sungguh tidak punya jawaban yang tepat. Aku sama sekali tidak takut dengan Radea, tapi aku takut dengan keadaan dan situasi saat ini. Aku dan Radea dalam satu mobil tanpa ada siapa pun.
"Maiza ... Maiza ... !" Radea menarik pandangannya dariku lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Kedua tangannya masih memegang stir mobil, tatapannya jauh ke depan.
"Radea, bisa minta tolong untuk mengantarku pulang?" Aku mengucapkannya dengan banyak pertimbangan. Sebisa mungkin kuhilangkan rasa takut yang telah dibaca Radea lewat mata ini.
"Aku akan mengantarmu pulang Maiza ... kita akan pulang sama-sama ke alamat yang sama." Radea kembali melihatku dengan seberkas senyum samarnya. Ia lalu menoleh ke depan dan menginjak gas pelan-pelan mencari celah di antara kenadaraan yang merayap.
"Radea a-aku tidak-"
Aku semakin takut dibuatnya, "Radea, aku mohon tolong antarkan aku pulang," aku sampai mengiba di hadapan lelaki asing yang membuatku semakin takut ini.
"Maiza, aku kan sudah bilang duduk tenang jangan banyak bicara. Aku akan mengantarmu pulang ke alamat rumahmu." seringai Radea padaku.
Keadaan ini membuat hatiku perih. Gini-gini amat hidup di kota. Kejahatan ada di mana-mana. Yang baik dan tenang ternyata bukan jaminan, contohnya Radea, lelaki yang pandai memainkan piano ini ternyata punya jiwa psikopat. Caranya menegurku barusan membuatku sadar, pesan singkat yang dikirim Radea kemarin-kemarin hanyalah umpan. Aku harus melakukan sesuatu.
"Hei Maiza, kamu mau menghubungi siapa?" Radea mendapatiku diam-diam mengirim pesan kepada seseorang untuk meminta pertolongan.
Radea merebut hape dari tanganku dengan kasar. Ia memeriksa pesan yang baru saja terkirim. Ia mencebik lalu tersenyum penuh kemenangan. Hape yang direbutnya dariku ia simpan di depannya dan aku sama sekali tak punya keberanian untuk mengambilnya kembali.
"Oww minta pertolongan ya rupanya? Kira-kira orang sesibuk Pak Anwar Baddu akan peduli dengan makhluk sekecil kamu Maiza?" Pertanyaan Radea semakin membuatku ngeri. Makhluk apa yang sedang membersamaiku di dalam mobil ini.
__ADS_1
"Radea, aku tahu kamu orang baik, tolong Radea antarkan aku pulang?" Aku sampai mengiba dengan harapan Radea mau mengantarku pulang ke rumah Tante Yusnita, bukan menuju alamat yang ada di kepalanya.
"Aku akan mengantarmu pulang Maiza." Radea kembali menegaskan, tapi ekspresinya membuatku ragu. Ada sesuatu yang disembunyikan Radea, ada niat jahat yang terselubung di hatinya. Firasatku kuat akan hal itu. Aku merasa Radea sedang merencanakan sesuatu untuk mencelakaiku.
"Tapi alamatku bukan di Jalan Kenanga II nomor 3, Radea." Aku berusaha bersikap lembut pada Radea agar niat jahatnya bisa berubah kasihan pada perempuan kampung ini.
"Aku tahu Maiza, kamu tidak mungkin tinggal di rumah itu ... Pak Anwar Baddu tidak mempunyai anak perempuan, juga tidak mempekerjakan anak sekolah sepertimu di rumahnya."
Radea banyak tahu tentang Pak Anwar Baddu, artinya Radea memang dekat dengan konglomerat baik hati itu.
[Baguslah kalau kamu tahu hal itu Radea.]
"Jadi ke mana aku harus membawamu Maiza? Ke alamat mana?" Radea ternyata tidak seburuk yang ada dalam pikiranku.
"Tolong antar aku ke Jalan Sudirman nomor 22." harapku.
"Jalan Sudirman nomor 22?" Radea menautkan Alisnya dan menatapku dengan sejuta tanya, "Kamu tinggal di sana?"
"I-ya Radea. Tolong bawa aku ke sana!" Aku mengangguk pelan.
"Tentu Maiza, aku akan membawamu pulang, tapi-" Radea lagi-lagi ingin mengeluarkan peesyaratan, apapun syaratnya akan ku sanggupi selama ia bersedia mengantarku pulang tanpa melakukan aksi apapun padaku.
"Tapi apa Radea?"
"Tapi kita harus ke rumahku dulu." Radea senyum tak simetris, sebuah pertanda buruk.
"A-pa Radea?" Aku memperbaiki posisi duduk dan menepi ke dekat pintu.
__ADS_1
"Tidak usah panik seperti itu Maiza. Aku tidak mau melakukan apa-apa kok. Aku hanya ingin mengajakmu bersenang-senang." Radea melirik, sebuah kemenangan besar kulihat disudut matanya.