Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
21. Acara kacau.


__ADS_3

Pintu ruangan Ayu terbuka. "Ijin Ibu, kami siap membantu.." kata Bu Dahlan.


Ayu pun menyambut mereka berdua dengan senyum. "Silakan Bu, terima kasih banyak" jawab Ayu.


"Lebih baik Ibu makan siang dulu. Jangan sampai Danki cemas memikirkan Ibu" Bu Zafir mengingatkan.


"Bu Zafir dan Bu Dahlan sudah makan?" tanya Ayu.


"Siap sudah ibu. Jangan khawatir. Ibu makan saja dengan tenang..!!"


...


Hingga sore hari akhirnya beberapa pekerjaan mereka beres juga.


"Alhamdulillah.. besok kita ikut acara gabungan saja dan Minggu depan baru acara peninjauan disini Bu. Ijin arahan..!!"


"Kita sekarang pulang Bu. Ini tadi saya sudah belikan ibu makanan untuk bapak dan anak-anak di rumah. Mohon maaf karena saya.. Bu Zafir dan Bu Dahlan jadi tidak bisa mengurus keluarga. Besok pagi kita datang ke Batalyon untuk acara gabungan"


"Ya Allah Bu, tidak usah repot-repot. Kami ikhlas membantu ibu"


"Iya Bu, saya tau.. saya juga ikhlas dan tidak merasa di repotkan" Jawab Ayu.


...


Hari ini pun Ayu sudah tidur pulas di atas sajadah. Bang Huda menghampiri Ayu kemudian mengangkatnya ke atas ranjang.


"Kenapa setiap hari kamu seperti ini dek. Ngantuk atau capek?" gumam Bang Huda kemudian melepas mukena Ayu dan melipatnya. Ia pun melepas pakaiannya. Ayu bergeser memiringkan tubuhnya memeluk guling. Bang Huda duduk memijat punggung Ayu padahal pakaiannya belum seluruhnya terlepas.


Mata Bang Huda menatap, menyisir tubuh Ayu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Putih, bersih dan mulus. Tangan Bang Huda merangkak turun semakin ke bawah dan membuat Ayu telentang. Bang Huda terdiam sejenak memijat pangkal hidungnya, tak lama ia melepas pakaiannya.


"Dedek kangen papa nggak? Main sebentar yuk..!!" bisiknya pelan.


:


Bang Huda bekerja keras menyelesaikan misi nya sendirian karena Ayu benar-benar tak menyadari apa yang terjadi. "Ya ampun.. tidur apa pingsan kamu dek? Abang goyang seperti apa nggak bangun juga" gerutu Bang Huda. Beberapa detik kemudian, Bang Huda hanyut dalam perasaan, melepaskan rasa rindu itu sendirian.


***


Ayu melirik Bang Huda dari jauh. Bang Huda hanya bisa menangkupkan kedua tangannya meminta maaf penuh penyesalan karena sudah mengajak main si dedek sendirian.

__ADS_1


Bang Huda mengirimkan pesan singkat untuk Ayu.


Pulang kegiatan kita jalan-jalan ke kota.


Ayu hanya membacanya saja dan terus melirik Bang Huda.


Abang dapat bonus nih. Nanti sekalian ambil bonusnya 😘


Bang Huda terus membujuk sampai Ayu tidak marah lagi.


Bang Huda pun berlalu melanjutkan pekerjaannya.


"Dek, bantu Mbak angkat panci sop ayam ya. Ibu pengurus ranting di Batalyon sudah kena plot kegiatan" pinta Mbak Nadia menegur Ayu.


"Oohh iya mbak" jawab Ayu.


Ayu segera menuju dapur umum di belakang tandon Batalyon. Ia melihat panci yang sangat besar dan tidak mungkin baginya mengangkat panci itu sendirian. Ayu mengedarkan pandangan ke sekitar, tak ada seorang pun disana tapi sop sudah mulai mendidih.


Tak lama ada Om Kardi dan Om Madya lewat di samping tenda.


"Om.. bisa minta tolong..!!" sapa Ayu.


"Saya minta tolong angkat panci ini ke dekat meja disana ya. Saya nggak kuat. Sop nya mau saya pindah ke meja hidang" kata Ayu. Memang sejak usai subuh tadi dirinya sudah berada di Batalyon. Kakinya sudah lelah, apalagi punggungnya sudah tak karuan, wajahnya pun memucat.


Om Kardi dan Om Madya saling pandang. "Biar nanti kami saja yang urus ke meja hidang Bu. Ibu duduk saja" kata Om Kardi.


Akhirnya Ayu pun duduk sekedar melepas lelah sejenak.


"Lho.. kenapa Om Kardi dan Om Madya yang angkat. Seharusnya ini pekerjaan perempuan. Pekerjaan Bu Danki C." tegur Ibu Anggara tiba-tiba muncul di belakang mereka.


"Ijin Ibu, Ibu Huda tidak mungkin kuat. Panci ini terlalu besar dan lagi kuah sop nya sangat panas. Kamu khawatir malah mencelakai Ibu Huda" kata Om Madya.


"Ya ampun Om. Ini hanya masalah kecil, jangan di besar-besarkan." ucap Bu Anggara santai.


"Dan untuk Ibu Danki C yang baru. Kalau memang nggak mau angkat ya bilang saja. Jangan membuat seakan-akan saya ini jahat dan nggak berperasaan. Jangan menggunakan kehamilan sebagai alat ya Bu Huda, kita ini istri prajurit.. ibu hanya hamil, bukan sakit parah" Ibu Anggara berucap lembut tapi tepat menusuk.


Ayu yang sebenarnya tak ingin ribut jadi terpancing emosi. Ia berdiri di hadapan Nadia. "Ijin Ibu Anggara. Ibu mau main mental dengan saya?"


Bersamaan dengan itu, Bang Huda, Bang Anggara, Bang Saka dan beberapa perwira lain tengah melintas. Melihat ada kerumunan, mereka semua menghampiri. Betapa terkejutnya Bang Huda dan Bang Anggara melihat para istri mereka saling berhadapan.

__ADS_1


"Lah.. Bojomu Bang" kata Bang Saka.


"Biar saja, selama Nadia tidak menyentuh Ayu. Biar Ayu selesaikan masalahnya dulu" jawab Bang Huda.


"Kamu mau menantang saya?" tanya Mbak Nadia.


"Nantang sih nggak ya, Ibu saja yang merasa punya saingan yang menantang. Mohon ijin Ibu.. Saya memang tidak sanggup mengangkat panci panas ini karena saya sedang hamil, Danki C senang sekali lho dengar saya hamil, saya di manjakan. Ibu nggak pernah di manjakan ya. Oohh maaf ibu.. saya lupa. Ibu khan nggak tau ya rasanya hamil" jawab Ayu sok polos.


"Ayu.. jangan kurang ajar kamu..!!!!" bentak Nadia.


"Dan kamu nggak perlu menggunakan cara licik untuk mempengaruhi semua orang karena sifat burukmu itu...!! Apa kamu pikir saya nggak tau caramu mempengaruhi seluruh anggota saya agar tidak mau bekerja sama dengan saya, buka telingamu Nadia. Saya juga tidak pernah menggunakan tubuh saya untuk menggoda pria kecuali suami saya..!!!!" Ayu tak kalah membentak.


Wajah Nadia merah padam merasa di permalukan.


Bang Huda kemudian mendekap Ayu sekedar menenangkan sang istri. Ia sungguh tak tau istrinya menyimpan beban seberat ini. "Istighfar dek.." Bang Huda mengusap punggung Ayu padahal amarah nya pun kini memuncak. "Cerita pelan-pelan sama Abang, ada apa sebenarnya?" Bang Huda meminta ayu untuk duduk.


"Kamu bilang apa saja dek?? Kenapa sikapmu seperti itu?" tegur Bang Anggara ikut malu atas tindakan istrinya yang tidak terpuji.


"Ini semua karena Abang..!!" Nadia pun berjalan menjauh dari keramaian.


"Nadiaaa..!!!!!" Bang Anggara malu setengah mati dengan sikap Nadia.


Ayu ambruk bersandar di sisi pinggang Bang Huda. "Ayu minta maaf sudah buat Abang malu. Maaf Bang..!!"


"Iya.. nggak apa-apa" jawab Bang Huda.


Bu Dahlan yang tadi berada disana segera mengangsurkan air minum untuk Ayu, Bang Huda pun membantunya. Baru seteguk Ayu meminumnya.. istri Danki C benar-benar ambruk sempurna.


"Usai acara. Seluruh anggota kumpul di lapangan kompi.. tanpa kecuali..!!!!" perintah tegas Bang Huda. Matanya sudah berkilat merah penuh amarah.


"Siap Danki..!!" jawab beberapa orang anggota kompi yang berada disana.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2