
Beberapa orang anggota membantu dalam evakuasi penyelamatan ibu Danki.
"Hati-hati.. awas ada calon jenderal itu..!!" perintah Bang Huda. "Sini saya saja..!!"
"Jangan Bang, kalau Abang yang tebang, para petani bisa panen awal" kata Bang Arial.
"Ayu sudah kesakitan"
"Iya Bang, tapi kalau Abang emosi malah takut kena Ayu" Bang Arial mengingatkan.
Bang Huda melihat Ayu semakin lemas saja. "Sabar ya..!!" Bang Huda memeluk dan mengusap punggung Ayu. Perasaannya nyeri melihat Ayu menahan sakit karena perutnya terjepit.
Tak berapa lama tebu yang menghimpit Ayu sudah bisa terlepas. Nafasnya terasa berat dan tercekat.
"Alhamdulillah.. sakit nggak? Mana yang sakit?" tanya Bang Huda cemas.
"Ayu nggak bisa nafas Bang" jawab Ayu merosot tak sanggup menopang tubuhnya.
"Apa mau di antar ke rumah sakit?" DanPOM menawarkan bantuan pada Bang Huda.
"Mohon ijin, kalau bisa saya pinjam ruangan sebentar Bang..!!"
"Silakan, di ruangan saya bisa.. di ruangan istri saya juga bisa" kata DanPOM.
"Ijin Bang, di ruangan ibu saja kalau bisa"
"Iya boleh, ayo ikut saya..!!"
Bang Huda segera mengangkat Ayu menuju ruang komandan.
~
Bang Huda memijati tubuh Ayu. Resah sudah pasti ia rasakan, apalagi Ayu merasa tidak enak badan setelahnya.
"Dimana lagi yang sakit?" tanya Bang Huda.
"Perut bawah Bang, di bagian 'sini' " Ayu mengarahkan tangan Bang Huda pada perutnya.
Bang Huda mengurut pangkal hidungnya. "Cckk.. anak Abang ngambek itu dek."
"Sakitnya luar biasa ini Bang..!!" ucap jujur Ayu.
"Tiduran dan jangan bergerak, kalau nanti sudah baikan kita periksa saja. Sekalian check anak Abang"
...
Satu jam berlalu dan Ayu sudah mulai merasa baikan.
"Pulang saja Bang, kalau ke rumah sakit jauh"
__ADS_1
"Ke rumah sakit tentara saja. Hanya di sekitar kompleks" Bang Huda sungguh khawatir. Perasaannya tidak tenang.
:
Setelah berpamitan pada DanPOM.. Bang Huda membawa Ayu ke rumah sakit karena sudah membuat janji dengan dokter Alamsyah di RST.
"Sehat semua ibu dan bayinya, memang insiden tadi pasti menimbulkan rasa tapi tidak bahaya" jawab dokter Alamsyah.
Bang Huda duduk dan menarik nafas lega. "Alhamdulillah.. jadi sekarang sudah hampir dua bulan ya Lam?"
"Iya.. di jaga ya. Ini masih muda sekali" kata dokter Alamsyah.
\=\=\=\=
Satu bulan kemudian.
Surat resmi dari Batalyon sudah sah. Bang Saka tersenyum melihat lembaran surat itu.
"Alhamdulillah, sudah beres."
Ponsel Bang Saka berdering. Bang Saka mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum. Piye dek?"
"Apanya yang piye?? Abang kembali ke rumah..!!" pinta Syahila.
"Ada apa dek? Abang masih ada kegiatan. Nanti siang ya" kata Bang Saka sambil melihat jam tangannya yang sudah tanggung menunjukan jam sebelas siang.
"Haaaaaaahh..!!"
:
Bang Saka melihat testpack yang di berikan Syahila padanya. "Ini asli atau kamu coret sendiri dek?" tanya Bang Saka.
"Ya betul lah Bang, masa Syahila bohong. Abang nggak sadar kalau Abang sering minta??" jawab Syahila.
"Iyaa.. iyaaa.. Abang hanya kaget saja. Statusmu baru hari ini naik."
"Tapi kita sudah nikah Bang"
"Iya, tapi kita belum terima buku nikahnya.. hanya ada bukti sebatas kertas hitam di atas putih saja. Itu belum kuat" Bang Saka mulai cemas memikirkan Syahila dan calon buah hatinya. "Ya sudah lah nggak apa-apa. Nanti Abang yang tanggung semua dan kamu jangan banyak pikiran"
***
Keesokan harinya.
Bang Huda mengantar Ayu yang sudah mengandung usia kehamilan tiga bulan. Perutnya sudah terlihat.
"Masih mual Bang?" tanya Ayu.
__ADS_1
"Nggak, ini sudah makan permen mint" jawab Bang Huda.
Beberapa lama berselang, Bang Saka datang menggandeng Syahila.
"Lah.. ada perlu apa kamu disini?" tanya Bang Huda.
"Anak ku minta di akui, makanya aku perjelas disini" jawab Bang Saka santai.
"Anjriiiitt.. goal juga ternyata" Bang Huda tertawa nakal melihat wajah lesu Bang Saka. Ia tau kegelisahan Bang Saka bukan karena takut omongan orang, tapi lebih pada menjaga harga diri Syahila. "Ya sudah,. lapor Danyon sekalian kamu bawa surat perjanjian nikahmu.. disana ada tanggalnya, biar semua jelas" kata Bang Huda memberi saran.
"Iya, setelah dari sini aku ke Batalyon"
~
"Laki atau perempuan?"
"Belum terlihat.. bulan depan baru bisa" jawab dokter Alamsyah. "Tapi aku merasa calon bayimu ini perempuan, ibunya saja anteng"
"Anteng pala lu pitak. Anteng dari mananya??? Setiap hari Ayu ngajak ribut" jawab Bang Huda.
"Tapi Abang senang khan?" balas Ayu.
Bang Huda pun tersenyum nakal. "Jelas donk.. istri kesayangan siapa dulu..!!"
Dokter Alamsyah sampai ikut tertawa mendengar pasutri di hadapannya itu.
"Oiya.. ngomong-ngomong ada apa Saka disini?? Apa dia mau promil?" tanya dokter Alamsyah.
"Apanya?? Syahila sudah hamil??"
"Busyeet.. kalian berdua saingan??" tanya dokter Alamsyah.
"Kejar setoran broo.. yang penting punya istri muda" Bang Huda tertawa terbahak.
"Hooee.. lama sekali kalian??????" tegur Bang Saka dari luar.
"Aaahh.. dasar, mengganggu saja"
"Apa Leo sudah datang?" tanya dokter Alamsyah.
"Memangnya Leo mau kesini??"
"Iya, dia hubungi aku subuh tadi." jawab dokter Alamsyah.
"Aaahh.. malas sekali aku lihat dia" Bang Huda bersungut sebal.
.
.
__ADS_1
.
.