
Papa Juan terdiam sejenak usai bang Arnold menunjukan kesungguhan dirinya. "Arnold.. jika memang niatmu baik, menikahlah dengan Syarin. Saya ikhlas..!!"
"Nggak Pa, jangan dulu. Syarin masih kecil. Menikah itu tidak semudah ucapan kita" Bang Huda menentang keras perkataan sang Papa.
"Tapi Huda....."
"Aku menentang bukan tanpa alasan Pa. Lihatlah Ayu, tekanan menjadi istri seorang perwira sangatlah luar biasa. Aku menikahi dia di belakang layar, alhasil menikah tanpa membawa surat resmi itu sangatlah besar resikonya. Sudah cukup aku saja yang merasakannya. Lihat Ayu sampai seperti itu, perasaanku sebagai suami jelas sangat sakit Pa. Abangnya sudah salah, jangan sampai adiknya mengulang hal yang sama"
"Kurasa Abang ada benarnya Pa, apalagi jika orang tersebut sangat penakut seperti Syahila. Dapat gunjingan sedikit saja sudah langsung bersembunyi di dalam kamar dan menangis sendirian" imbuh Bang Saka.
"Tunda beberapa bulan saja, nggak lama. Nanti Abang sendiri yang siapkan berkas pengajuan nikahmu dan Abang serahkan ke Bang Farid..!!"
Syahila hanya bisa menunduk tanpa jawaban.
...
Tadinya Bang Arnold ingin membawa Syarin keluar untuk sekedar ngopi dan membahas hal ini, tapi cuaca sedang tidak mendukung. Setelah beberapa saat terdiam di kamar Mess nya. Bang Arnold pun membuka suara.
"Abang tinggal sebentar nggak apa-apa khan dek? Hanya tiga bulan saja, setelah itu kita menikah" kata Bang Arnold mengusap wajah Syarin. "Sebenarnya kamu ada rasa khan sama Abang?"
"Biasa aja" jawab Syarin sambil mengulum permen lollipop.
"Jangan ada main sama laki-laki lain selama Abang tinggal..!!"
"Nggak ada jaminan untuk tetap setia, Syarin juga tidak tau apakah Abang bisa setia dalam penantian" jawab Syarin masih sibuk dengan permen nya.
"Baiklah kalau kamu maunya begitu" Bang Arnold mengambil permen di mulut Syarin. "Abang akan membuatmu cinta sama Abang dan tidak akan membiarkanmu lari dari Abang..!!" Bang Arnold mendekatkan wajahnya kemudian menggantikan permen itu dengan bibirnya.
...
Bang Arial mendengar suara yang membuat jantungnya berdesir nyeri.
Kamu sedang apa di dalam sana dek? Apa kamu bisa menjaga dirimu? Kenapa hati Abang selalu sakit melihatmu berdua dengan Arnold?
Bang Arial memilih menjauh dari kamar Arnold dan mengambil air wudhu agar perasaannya jauh lebih tenang.
***
Bang Huda melihat jam tangannya sambil menggendong Galar. Sudah jam 01.15 dini hari tapi Syarin belum juga pulang ke rumah. "Kemana anak itu? B*****t betul Arnold nggak pulangin anak gadis orang..!!!"
Terdengar suara Ghania merengek tanda gadis kecilnya pun ingin belai hangat sang Papa.
__ADS_1
"Uusshh.. Abang tidur dulu ya, gantian demplon minta gendong..!!" tanpa susah payah Bang Huda menidurkan Galar di ranjang khusus kemudian mengambil baby Ghania dan menggendongnya. "Cantiknya Papa sudah kangen ya. Lapar ya sayang??" Bang Huda segera mengambil botol susu berwarna pink milik Ghania.
Tak lama Syarin pulang dengan di antar Bang Arnold.
"Darimana saja kalian????" bentak Bang Huda. Si kecil Ghania pun menangis. "Oohh.. maaf, suara Papa terlalu kencang ya?" Bang Huda pun merendahkan nada suaranya. "Darimana kalian?" tanya Bang Huda lagi.
"Hanya ngopi di warung Bang?" jawab Bang Arnold.
"Masuk kamu Syarin..!!!!"
"Duduk kamu disana..!!" perintahnya pada Bang Arnold.
Bang Arnold segera duduk di sofa yang di tunjuk Bang Huda. Suasana kian mencekam saat Bang Huda terus menatap mata Bang Arnold. "Ngopi atau bertukar kopi???"
"Siap salah"
"Jangan macam-macam kamu Arnold..!!!!!"
"Siap.. tidak berani Bang..!!" jawab Bang Arnold menunduk.
"Kurang ajar kamu, berani sekali kamu memulangkan anak gadis orang lewat tengah malam. Mau cari mati kamu?? Kembali ke Mess..!!!"
"Abangmu ini meskipun tidak berharga tapi di tuakan di kompi ini. Apa pantas seorang perempuan pulang dini hari?? Abang sudah memberimu toleransi karena pekerjaanmu, tapi tidak untuk kali ini. Kamu tau nggak, sempat Abang menamparmu itu buat hati Abang sakit, Abang ribut sama Mbak mu juga karena ulahmu. Kamu juga masih tanggung jawab Abang Syarin.. mengertilah sedikit, pahami apa yang pantas dan yang tidak di lakukan seorang perempuan" kata Bang Huda.
Ayu mengusap dada Bang Huda agar amarah suaminya itu mereda. "Syarin.. sekarang tidurlah, biar mbak yang bujuk Abangmu..!!"
:
"Lihat Ayu donk Bang..!! Masa Ayu ikut kena omel?" Ayu mengarahkan wajah Bang Huda agar menatap dirinya yang sedang duduk di pangkuan Bang Huda.
"Duuhh.. jangan begini lah sayang, kalau bujukannya begini jelas Abang kalah. Kamu tau khan Abang sedang mati-matian berjuang menjagamu? Abang mengulang berjuang setelah kamu melahirkan dan ini baru hari ke dua puluh satu"
"Abang menghitung hari??" tanya Ayu.
"Iyaa.. dan itu amat sangat berat sekali sayangku" tanpa sadar Bang Huda menyerusuk sela leher Ayu dan Ayu merasakan ketegangan tingkat tinggi dari suaminya itu.
"Ayu tau Bang, tapi apa nggak boleh juga kalau Ayu rindu sama Abang? Ayu juga pengen di sayang" kata Ayu.
"Boleh, asalkan rindunya nggak memancing gairah Abang dulu"
"Lalu sekarang bagaimana?" rasanya Ayu paham apa yang sedang Bang Huda rasakan, ia pun beralih posisi tapi Bang Huda menariknya kembali.
__ADS_1
Ada keraguan dalam raut wajah Bang Huda tapi pikiran dan logikanya sedang berperang hebat. Tak lama ia pun menyandarkan kening di bahu Ayu. "Piye iki dek??" ia memercing merasakan tidak nyaman pada tubuhnya kemudian beralih menatap mata Ayu.
Tak tau siapa yang memulai lebih dulu, kedua bibir itu saling memagut mengurai rasa. D***han kecil terlepas dari bibir keduanya. Bang Huda merebahkan Ayu perlahan.
-_-_-_-_-
"Sebenarnya obat nyeri apa yang kamu butuhkan? Memangnya Ayu nyeri kenapa?" tanya dokter Alamsyah bingung.
"Masa aku harus menjelaskan yang seperti apa, nyeri ya nyeri" jawab Bang Huda.
"Maksudku itu, sakit gigi.. luka bekas operasi atau jatuh mungkin"
"Hmm.. luka lecet, sampai nyeri dan kram lah intinya" jawab Bang Huda mengurangi intonasi suaranya.
Dokter Alamsyah terdiam sejenak. "Nanti anggotaku antar ke rumahmu. Makanya, kau hati-hati lah sedikit"
"Thanks bro, kamu memang paling pengertian"
:
"Kenapa semalam kamu bawa perempuan ke Mess??" tegur Bang Arial.
"Siap tidak ada Bang" jawab Bang Arnold.
"Saya tidak tuli Arnold. Kamu bawa adiknya Danki ke Mess?? Kamu tau disini perwira bujang hanya ada kamu dan saya tapi itu bukan berarti kamu bisa bertindak seenaknya. Ada aturan yang berlaku disini dan ada nama baik Danki yang harus kamu jaga..!!"
"Siap salah"
"Danki tau nggak kalau semalam kamu bawa adiknya ke Mess?" tanya Bang Arial.
"Siap tidak"
"Berguling kamu dari sini sampai tepi lapangan..!!" perintah Bang Arial memberikan tindakan pada juniornya.
.
.
.
.
__ADS_1