
"Hhgghhhhh.. aaahh.." Bang Huda begitu lepas dan lega merasakan hasratnya terpuaskan. Ia menciumi wajah Ayu. "Sakit nggak dek?" tanya Bang Huda cemas.
"Nggak Bang" jawab Ayu berbohong. Mau bagaimana pun juga dirinya tetap bertanggung jawab atas kejadian malam ini karena telah membuat Bang Huda lepas kendali.
"Beneran dek??? Wajahmu pucat sekali"
"Iya Bang, Ayu nggak apa-apa. Hanya butuh tidur aja" jawab Ayu.
"Kalau ada apa-apa bilang, jangan di simpan sendiri..!!" kata Bang Huda sambil bergeser dari tubuh Ayu.
Rasa lelah sungguh luar biasa hingga keduanya akhirnya tertidur.
***
Lewat tengah malam Bang Farid mengabarkan bahwa akan ada kunjungan Panglima beserta ibu di Batalyon jadi mau tidak mau, perwira yang sedang tidak ada di tempat di haruskan pulang untuk gladi pelaksanaan acara di mulai esok hari.
"Aduuhh.. harus kembali secepat ini ya? Aku belum mengajak Ayu jalan-jalan sampai puas. Kira-kira Ayu marah nggak ya kalau aku ajak pulang siang nanti?" gumam Bang Huda.
Bang Huda menjawab pesan jalur pribadi dari kakak iparnya. 'Siap.. monitor Bang. Laksanakan sesuai perintah'
...
Usai sholat subuh, Ayu mencium punggung tangan Bang Huda. Tak lupa Bang Huda mengecup kening istri tercinta.
"Dek, kamu sudah puas liburan atau belum?" tanya Bang Huda.
"Kenapa Bang? Kita harus kembali ke kompi?" tanya Ayu.
"Iya dek, panglima mau datang bersama ibu. Kita harus gladi penyambutan" jawab Bang Huda penuh sesal.
"Ya sudah.. ayo kita persiapan pulang. Ayu nggak apa-apa kok Bang"
Bang Huda tersenyum mendengar kerelaan sang istri. Ada rasa bersalah berkecamuk dalam diri tidak bisa memberikan masa liburan yang indah, entah kapan lagi bisa menyenangkan sang istri saat bayinya sudah lahir nanti. "Terima kasih banyak sayang.. Insya Allah Abang akan menggantinya di lain waktu" janji Bang Huda.
-_-_-_-_-
Bang Huda mematikan sambungan teleponnya setelah mendapat kabar ternyata Bang Leo baru saja mendarat di Tarakan. Sahabatnya itu mengambil penerbangan lebih awal.
Siang saat menunggu pesawat, Ayu lebih banyak tertidur dan Bang Huda tidak ingin mengganggu istrinya itu sebab ia tau selama liburan sudah membuat Ayu sangat lelah.
...
"Ayu mual Bang..!! Perut Ayu sakiiitt"
Bang Huda sigap bangun. Perasaannya ketar-ketir dan cemas melihat Ayu mual di atas pesawat. "Abang antar ke toilet ya..!!"
Ayu mengangguk, tapi senyum jahilnya tersinggung manis. Sebenarnya dirinya memang benar merasa pusing tapi tidak sampai mual apalagi sakit perut parah seperti aktingnya tadi. Ayu melakukannya karena tau Ella kembali dalam satu penerbangan dengannya.
Bang Huda menuntun langkah Ayu pelan sampai ke toilet. "Abang tunggu di luar. Toiletnya sempit, jangan di kunci ya..!!" kata Bang Huda.
Tau di belakang punggung Bang Huda ada Ella, Ayu kembali lemas dan hampir terjatuh. "Ya ampuuunn.. bagaimana ini?? Ayo masuk sama Abang saja..!! Kalau ada apa-apa sama si Unyil, Abang ambyaar tenan dek" Bang Huda pun tak berani meninggalkan Ayu sendiri. Terpaksa mereka berdua masuk di dalam toilet pesawat yang sempit.
~
__ADS_1
Ella melihat Bang Huda dengan senyum segar merekah sedangkan Ayu tersipu malu memegang erat tangan Bang Huda yang menggenggamnya. Rambut Bang Huda sedikit basah dan semakin menunjukan aura tampannya.
"Sudah nggak apa-apa khan?" tanya Bang Huda berbisik di telinga Ayu yang sudah duduk lebih dulu.
"Iya Bang, sudah enakan juga" jawab Ayu.
"Anaknya atau Mamanya nih yang rewel?" Bang Huda mencubit pelan hidung mancung Ayu.
"Anaknya donk Pa" Ayu memeluk lengan Bang Huda dan masih bersikap manja.
"Lanjut di rumah ya, disini nggak nyaman sayang..!!" bisik Bang Huda lagi.
Ayu hanya tersenyum menunduk membuat Bang Huda kelojotan gemas di buatnya. "Duuuhh Gusti, matur nuwun berkah garwa ingkang sae. Ayune tenan Gustiii" gumamnya pelan.
"Kenapa lihat Ayu sampai begitu Bang, Ayu malu"
"Buat apa malu, setiap jengkal badanmu Abang sudah tau" goda Bang Huda sambil menutup tirai di sampingnya, ia kembali mendekatkan wajahnya mengincar bibir manis Ayu. Ia sendiri tak tau mengapa rasa rindu dalam dirinya tak pernah surut.
...
Sore hari tiba, pesawat sudah mendarat di kota tujuan. Mereka menunggu Om Madya dan Om Edwin.. Prada baru yang menjadi ajudan Bang Huda.
"Ya Tuhan.. sejak kapan terbuka?" tangan Bang Huda masih sempat membenahi kancing baju Ayu yang terbuka lalu menutupnya dengan jilbab. "Untung saja tertutup jilbab, di cek dulu sebelum turun. Banyak berang-berang dek..!!!" kata Bang Huda mengingatkan dengan jengkel.
"Iya Bang..!!" Ayu berdiri menghadap Bang Huda dan membenahi lagi kancing bajunya yang terbuka.
Mata Bang Huda sempat sedikit melirik tapi kemudian ia mengalihkan pandangannya.
"Sudah apa belum dek?" tanya Bang Huda.
"Sudah Bang"
"Selamat sore Danki..!!" sapa Om Madya dan Om Edwin.
"Selamat Sore. Kalian nggak ada cara khan?"
"Siap tidak..!!" jawab kedua ajudannya.
"Mas Edwin ya. Eehh.. maaf maksud saya.. Om Edwin. Om Edwin ini kelas saya di Malang khan?" tanya Ayu.
"Siap benar ibu"
Ayu tersenyum mengerti, tapi senyum itu agaknya membuat Pak Danki tidak begitu suka.
:
"Innalilahi.. Pak Joko dan Pak Komar sudah meninggal Om????"
"Siap ibu, sudah tahun lalu" jawab Om Edwin.
:
"Hahahaha.. masa sih Om??"
__ADS_1
"Dia Bu benar, Silvi tidak tau kalau guru sudah di belakangnya"
Tawa mereka berdua mengisi satu mobil dan akhirnya Om Madya menyenggol lengan Om Edwin karena raut wajah Danki sudah masam.
"Ke pom bensin lalu ke rumah makan ya..!!" perintah Bang Huda.
"Siap Dan, ijin Danki mau makan apa biar nanti langsung saya pesankan..??" tanya Om Madya.
"Apa saja, manut ibu negara. Yang jelas ada es teh satu ember, saya lagi gerah" sindir Bang Huda.
Ayu melirik wajah Bang Huda yang menatap pemandangan di sisi kanan.
"Aaawwhh.. perut Ayu sakit Bang" Ayu bersandar di lengan Bang Huda mencari alasan.
"Duuhh.. kambuh lagi sakitnya????" tanya Bang Huda.
Ayu mengangguk pelan. "Sepertinya dedek nggak suka kalau Papanya ngomel" Ayu memeluk dan bermanja di pelukan Bang Huda.
"Iya.. iyaa.. Papa nggak marah kok. Jangan ngambek ya anak-anak Papa, jangan buat Mama sakit..!!" Bang Huda mengusap perut Ayu, suaranya lembut tak berani meninggi.
Om Edwin sampai melongo melihat perhatian Danki untuk istrinya dan Om Madya hanya tersenyum karena sudah tau garang sang Kapten akan musnah jika berhadapan dengan istri tercinta.
:
"Makan disini saja..!! Kenapa menjauh?? Kamu bukan bakteri..!!!" tegur Bang Huda karena Om Madya dan Om Edwin memilih meja yang berbeda.
"Siap..!!"
"Apa-apaan kalian itu. Biasa saja, kita ini mau makan" kata Bang Huda. "Pesan makan terserah kalian..!!"
"Siap..!!!"
"Abang mau makan sop ikan?" tanya Ayu.
"Jangan dek, amis. Abang masih mual"
"Kalau ayam bakar??"
"Nggak" tolak Bang Huda.
"Terus mau makan apa Bang?"
"Tahu goreng, nasi sama kecap saja dek"
"Haaahh.." Ayu, Om Madya dan Om Edwin sampai ternganga mendengarnya.
.
.
.
.
__ADS_1