Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
49. Ungkapan cinta terdalam.


__ADS_3

"Tante.. Abang bagaimana??" Ayu menggoyang lengan Tante Avi.


"Suamimu baik-baik saja. Baru saja sadar" jawab Tante Avi.


Ayu terisak memeluk Tante Avi. "Ayu mau lihat Abang..!! Ayu nggak akan pura-pura sakit lagi..!! Ayu nggak mau Abang sakiiitt..!!!!!"


~


"Jangan nangis lah, Abang nggak apa-apa" Bang Huda membelai pipi lembut Ayu. Agaknya suami Ayu itu masih sangat lemah hingga menyentuhnya pun seakan tak memiliki tenaga.


"Kenapa Abang nggak bilang kalau sakit?" tanya Ayu lalu memeluk erat Bang Huda. Baru kali ini Ayu terbuka tentang perasaan dan ketakutannya kehilangan Bang Huda.


"Abang nggak sakit, hanya sedikit capek saja" jawab Bang Huda.


"Makanya jangan colok arus terus. korslet khan..!!" ledek Bang Leo.


Bang Huda tersenyum kecil. "B******n, sudah buat aku hampir mati, masih berani kau bicara ya"


"Itu nggak sengaja, perawatnya saja yang salah atur kabel dan selang oksigen mu" jawab Bang Leo.


"Kau ini memang minta di pelintir" sambar Bang Saka.


Om Gazha berniat menarik Ayu karena memeluk Bang Huda terlalu kencang tapi Bang Huda melarangnya.


"Kamu istri tentara, bagaimana kalau Abang tiba-tiba hanya pulang tinggal nama?" tanya Bang Huda menguji Ayu.


"Nggak.. nggak boleh. Abang harus pulang utuh buat Ayu" tak di sangka Ayu malah semakin histeris dan memeluk Bang Huda tanpa ingin melepasnya. Ayu gemetar sampai membuat Bang Huda takut sendiri.


Sekuat-kuatnya Bang Huda bangkit dari posisinya dan memeluk Ayu. Lemasnya mendadak hilang. "Uusshh.. Abang nggak akan kemana-mana. Itu pertanyaan yang wajar karena kamu istri abdi negara. Kuat tidak kuat, sanggup tidak sanggup kamu akan di paksa untuk menerima keadaan itu." Bang Huda mengusap punggung Ayu.


"Jika Ayu yang pergi meninggalkan Abang dengan dua buah hatimu ini.. apa Abang sanggup?" balas Ayu.


Kini Bang Huda yang berganti memeluk Ayu dengan erat. Bibirnya terkunci rapat, hatinya kian tersiksa.


Om Gazha menutup tirai, ia dan yang lainnya menjauh untuk memberi ruang pada Bang Huda dan Ayu.


"Kamu sudah tau jawabannya.. Abang nggak sanggup berpisah sama kamu"


"Lalu kenapa Abang memaksakan kesanggupan Ayu????? Abang jahaaat..!!!!!!!" Ayu menampar dan memukuli dada Bang Huda meluapkan seluruh kesalnya sampai akhirnya Bang Huda memeluknya erat.


"Karena Abang adalah imam bagimu, Abang takut kamu memiliki cinta yang dalam untuk Abang sampai kamu tak sanggup menerima perpisahan. Bukannya Abang tak ingin di cintai, hidup Abang sudah Abang pasrahkan untuk mati sejak Abang memilih menjadi seorang abdi negara, maka dari itu lebih baik Abang yang terlalu dalam mencintai kamu.. karena tangismu tamparan keras untuk Abang dan Abang lemah dengan perasaan Abang terhadapmu" jawab Bang Huda.


"Bisakah kita tidak bicarakan hal ini?? Ayu nggak mau dengar, Ayu takut..!!!"


Bang Huda membungkam bibir Ayu dengan bibirnya, keduanya saling mencurahkan perasaan melalui sentuhan hangat. Tangan Bang Huda mengusap perut Ayu. Tetes tangis meleleh dari keduanya. Keduanya saling menyadari cinta di antara mereka.

__ADS_1


Karena mengerti situasi sedang tidak tepat, Bang Huda menyudahi pagutannya. "Sudah paham perasaan Abang??" tanya Bang Huda.


"Ayu paham, dan Ayu tidak akan menerka perasaan Abang lagi" jawab Ayu.


"Itu syok terapy untuk istri Abang yang nakal. Berapa kali kamu bohongi Abang soal sakitmu??" tegur Bang Huda.


Ayu mengusap air matanya dan ingin menghindar.


"Jawab, atau Abang kejang nih..!!" ancam Bang Huda.


"Sering" jawab jujur Ayu.


"Bagus ya, suami cemas setengah mati mikir anak istri, kamu malah ngerjain Abang..!!!!"


Ayu mati kutu tak bisa berbuat apapun. Jika biasanya ia akan berpura-pura sakit maka kali ini hal itu tidak bisa ia lakukan sebagai alasan lagi.


"Maaf Bang..!!"


"Abang sakit begini karena kepikiran kamu..!!!" kata Bang Huda.


"Abang tau darimana kalau Ayu pura-pura??" tanya Ayu.


"Abang dengar sendiri waktu kamu bicara sama Tante Avi. Kamu khan mewek di ruangan sebelah" jawab Bang Huda.


"Iiihh Abaaang..!!!" Ayu jengkel sekali mendengarnya tapi ia kemudian terdiam dan menatap mata Bang Huda, secepatnya ia memeluk suaminya lagi. "Ayu sayang sama Abang"


Ayu pun melepas pelukannya, gengsi sekali rasanya mengungkapkan perasaan tapi hanya berbalas kata yang menjemukan.


Tau istrinya marah, Bang Huda menggengam tangan Ayu agar tidak lari darinya. "Lebih penting Abang ngegombal atau Abang sayang?"


"Dua-duanya" jawab Ayu.


"Jika kata bisa menenangkan, ku kirim syair cinta terindah wahai juwita pemilik hatiku. Jika tangan bisa menggapai, ku kirim diri penentram ragamu. Jika tinta pena bisa terpercik sendiri, hanya ada namamu dalam warnanya dan jika hati ini bisa kupahat, hanya dirimu mengisi jiwaku"


"Itu kata-kata buat siapa Bang? Kenapa nggak ada nama Ayu??" protes Ayu. "Ini ngegombal buat mantan Abang yang dulu ya???"


"Lailaha Illallah" Bang Huda mengurut pangkal hidungnya. Wajah Bang Huda terasa terbakar karena harus menahan malu. Om Gazha dan yang lainnya ada di sana dan pastinya mendengar seluruh ucapannya. "Kamu lihat Abang sudah sebegini lemas? Masih bisa kamu bilang Abang ngegombal untuk perempuan lain???" suara Bang Huda mulai meninggi tapi beberapa saat kemudian Bang Huda merendahkan emosinya sendiri, ia belajar dari keadaan untuk berusaha sabar.


Ayu memalingkan wajahnya, kesabaran Bang Huda pun teruji. Ia membuka kancing bajunya lalu menghadapkan wajah Ayu padanya.


"Abang mau apa?" tanya Ayu.


"Nyoohh.. di rogoh dewe, jantung Abang cuma satu. Nanti kamu lihat baik-baik, ada nama siapa disana..!!" Bang Huda membusungkan dadanya di depan Ayu.


"Sorry ya, Ayu nggak level.. nggak biasa main rogoh" jawab Ayu membuat Bang Huda terkikik geli.

__ADS_1


"Gayamuu.. kalau sudah kena nggak mau berhenti"


~


Om Gazha tersenyum menggaruk kepalanya, agaknya ini bukan masanya lagi untuk mendengarkan celotehan romantisme pasangan muda yang baru mengalami biduk rumah tangga.


...


Bang Huda merasakan nyawanya nyaris melayang. Kepala pusing berputar-putar, dada sesak, mual, muntah, badan lemas, tulang ngilu dan demam tinggi.


"Kalau malam kadang memang suka kambuh begini"


"Tapi saya rasa nggak separah ini dok" kata Bang Saka prihatin melihat saudara kembarnya.


Dokter menepuk bahu Bang Saka. "Ada hal-hal yang agak sulit di terima logika, dimana rata-rata para laki-laki yang istrinya sedang mengandung saja yang tau rasanya."


"Jadi pengaruh ya dok?"


"Yaa.. bisa di bilang begitu" jawab dokter.


"Alhamdulillah.. untung aku tidak merasakannya. Kena kutuk apa sampai Bang Huda harus menanggungnya" gumam Bang Saka.


:


"Hhkkkk.. hhkkk.." terdengar suara Bang Huda begitu tersiksa si kamar mandi.


Tak lama Bang Saka sudah memapah Bang Huda ke ranjang tapi mual kembali datang menyerang.


"Ampuuunn Tuhan..!! Sakaa.. Tolong carikan obat, aku tersiksa sekali" Bang Huda sampai merosot tak sanggup merasakan tubuhnya.


"Duuh Bang, intinya Abang harus makan. Kalau perut kosong.. asam lambung semakin naik"


"Intinya cuma satu le, mau percaya atau tidak.. itu terserah. Istrimu harus tenang, kamu pasti nggak akan mual" Om Gazha ikut prihatin melihat keadaan Bang Huda.


"Ayu di mana om?"


"Nangis di temani Tante Avi karena kamu tau rahasia Ayu hanya pura-pura"


"Ya Allah, tau begitu aku diam saja jadi kelinci percobaan" ucap sesal Bang Huda.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2