
Ayu sudah semakin sehat. Pagi ini Ayu sudah boleh pulang.
"Jangan lupa obatnya Ayu dan harus check up tiga hari lagi..!!" kata dokter Alamsyah.
"Siap Bang, akan saya laksanakan sesuai aturan"
:
"Siap.. Ijin.. Tiga puluh lima juta Dan, turun mesin dan lain-lain" jawab Om Madya.
"Wajar lah, terendam air laut"
"Ijin Dan, ini mau di bayar atau di ambil saja mobilnya dari bengkel?" tanya Om Madya.
"Bayar saja, tambahi jaminan satu perempuan bikin susah ini karena dia yang buat tenggelam" ucap Bang Huda sambil mendekap bahu Ayu.
Ayu melirik kesal melihat Bang Huda memasang wajah santai. "Ayu sudah minta maaf Bang"
"Abang maafkan, tapi Abang tetap harus bayar hasil kerjamu" jawab Bang Huda.
"Ayu mau kerja, biar bisa ganti mobil Abang"
"Seandainya beli juga Abang masih mampu meskipun besok kita makan bekatul. Cuma masalahnya Abang sayang sama mobil itu" kata Bang Huda.
"Ayu kerja ya Bang?" tanya Ayu.
"Kerja sama Abang..!! Jadi istri yang baik, jaga kandungan baik-baik, jaga nama dan kehormatan Abang" pesan Bang Huda.
"Tapi gimana Ayu ganti mobilnya Abang?"
"Memangnya Abang minta ganti?"
Ayu terdiam sejenak terus menatap wajah Bang Huda.
"Barang hilang bisa di ganti. Kalau Ayu yang hilang Abang hancur setengah mati" jawab Bang Huda.
Ayu tersipu mendengar ucap Bang Huda.
"Nanti siang mantanmu Leo mau datang. Kamu mau sambut dia?" tanya Bang Huda berganti menatap wajah Ayu.
"Leo??.. Bang Maleo??" Ayu hampir tak percaya pendengarannya. "Darimana Abang tau kalau Bang Leo mantannya Ayu????"
"Jangankan mantanmu. Kamu ribut sama Leo saja Abang tau" jawab Bang Huda.
"Bang Leo memilih perempuan bernama Geya. Ayu nggak ribut kok Bang, kalau Ayu tidak di pilih.. berarti Ayu bukan tujuan hidupnya" Ayu sedikit bergeser ingin duduk menjauh dari Bang Huda tapi pria itu menariknya kembali.
"Sekarang kamu sudah ada pemiliknya dan jelas kamu yang terbaik di mata dan hati Abang"
Ayu memeluk Bang Huda, ia menangis kencang.
"Kamu nggak takut Abang cemburu, kenapa kamu menangisi pria lain????" tegur Bang Huda.
"Ayu bukan menangisi karena tidak jadi dengan Bang Leo, tapi kenapa harus menikah dengan sahabat Ayu walaupun Ayu tau awalnya"
__ADS_1
"Boleh Abang tau?"
"Geya itu satu tempat pendidikan sama Ayu di sekolah pengamanan negara. Tadinya memang Ayu dan Geya selalu bersama. Setiap pulang pendidikan.. Geya selalu kerja untuk mencukupi dirinya karena dia harus menghidupi dirinya sendiri. Saat pulang, Ayu di jemput ajudan Papa.. Bang Leo mengantar Geya pulang. Dari situ awal salah Ayu"
"Oke.. Abang paham. Yang sudah terjadi jangan di sesali. Jodoh ada di tangan Tuhan bagaimanapun caranya.. kecuali kamu menyesal menikah sama Abang"
Air mata Ayu kembali meleleh. "Satu hal yang tidak pernah Ayu sesali adalah.. menikah sama Abang" jawab Ayu.
Bang Huda tersenyum. "Kalau begini khan manis istri Bang Huda" ia mencubit dagu Ayu. "Bang Huda sayang sama Ayu."
"Gombal lagi"
"Khan kamu yang maunya di gombalin setiap hari" ledek Bang Huda.
Ayu kembali memeluk Bang Huda. Agaknya sekarang rayuan si raja gombal sudah merasuki dirinya.
"Soal Leo biar Abang tangani." Bang Huda mengusap dada Ayu. "Istri Kapten Huda tidak boleh lemah, jika kamu bahagia hidup bersama Abang.. tunjukan padanya"
...
Sore hari Bang Leo datang bersama Geya istrinya yang tengah hamil dua bulan. Geya terlihat kalem dan tenang.
Bang Huda pun ikut menyambut kehadiran lettingnya itu.
"Kok sendirian. Mana nyonya?" tanya Bang Leo.
"Lagi mabuk. Kamu pasti pingsan kalau lihat istriku" jawab Bang Huda.
"Cantik kah istrimu??" tanya Bang Leo.
"Seleraku tinggi broo.." ucap Bang Leo sesumbar.
"Iya aku percaya, tapi seleraku pasti membuatmu jantungan"
:
Ayu terpaksa ikut menyambut anggota perwira baru sebagai bentuk solidaritas terhadap rekan juga sebagai perkenalan awal 'pertemuan' mereka.
"Ijin Ibu, kalau masih tidak enak badan . ibu tunggu saja di ruangan.
"Nggak apa-apa Bu Dahlan. Kalau jauh dari Abang kepala saya suka pusing" jawab Ayu di ruang ibu pengurus ranting.
"Baiklah Bu, saya tinggal sebentar. Ibu Leo sudah datang" kata Bu Dahlan.
"Iya Bu" Ayu segera berdiri dan sedikit menata ruangan di Batalyon.
Tak lama Bu Leo datang.
"Silakan masuk ibu, ini ruang kerja kami" kata Bu Zafir.
"Terima kasih ya ibu-ibu" jawab Geya dengan senyumnya namun sesaat kemudian denyum itu hilang saat Ayu berada di ruangan itu. "Ayuuuu..!!" Geya sangat kaget sampai membuang bucket bunga sambutan dari para istri pengurus ranting.
Mendengar suara pekik itu, Bang Leo cukup kaget tapi tidak dengan Bang Huda. "Kenapa ya istriku?" Bang Leo cemas dan menghampiri sumber suara.
__ADS_1
Sesampainya di ruangan, Bang Leo melihat Geya memeluk kaki Ayu.
"Aku minta maaf Ayu, bukan maksudku sampai akhirnya seperti ini." Geya sampai menangis ketakukan. "Hingga saat ini aku masih terus merasa bersalah."
"Ayuu.. kamu disini dek??" tanya Bang Leo.
"Iya, memangnya kenapa?" jawab Ayu ketus.
"Kamu istri siapa?" tanya Bang Leo lagi. Terlihat sekali Bang Leo tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya.
"Istri dari Kapten Cakra Huda Mandala" jawab Bang Huda.
"Jangan main-main kamu Huda" Bang Leo tak percaya mendengarnya.
Bang Huda menghampiri Ayu, ia mendekapnya kemudian mengecup kelopak matanya. "Apa ini akan kulakukan pada istri orang?"
Bang Leo menarik tangan Geya agar berdiri di sampingnya."B*****t, kau selalu membuatku muak Huda"
"Kalau kamu punya niat buat Ayu nangis, ku hantam gigi mu itu sampai berantakan..!!" ancam Bang Huda.
"Ayolah bro, aku minta maaf. Sekarang aku tidak akan buat ulah lagi..!!" bujuk Bang Leo sambil mengelus perut Bang Huda.
"Singkirkan tanganmu itu, perutku bisa kena kudis"
"Iihh.. sekarang kok kamu galak, dulu khan kita selalu menghabiskan waktu bersama" ucapnya melupakan ada banyak orang terutama Geya dan Ayu.
Kedua wanita itu melepas dekapan mereka. Wajah Geya menyimpan kesedihan, begitu pula Ayu yang seketika memendam kekecewaan.
Refleks keduanya saling memeluk. "Ini karmaku Ayu, aku tidak tau Bang Leo menjalin hubungan sama kamu. Aku baru tau kalau Abang begitu"
"Aku juga nggak nyangka Bang Huda belok" jawab Ayu terbawa suasana.
Bang Huda menepis kasar tangan Bang Leo. "Astagfirullah.. sialnya aku bertemu denganmu" kata Bang Huda.
"Seharusnya aku yang bicara begitu. Kau ini lahir di adzani atau di pisuhi?????" jawab Bang Leo.
"Heeh.. jangan pernah kau minta kiriman film dari aku lagi"
Para anggota tidak ada yang berani bereaksi mendengar dua Danki berdebat.
Sesaat kemudian Bang Huda menyadari ucapannya. "Ehhm..!!" Bang Huda berdehem menepis rasa malunya. "Maksud saya, kamu jangan minta dokumenter film perang padaku lagi"
Bang Saka tertawa terbahak. "Dokumenter perang apa??? Coba kau ulang..!!" ledek Bang Saka. "Kalian semua memang b******n, laknat, punya film nggak bagi-bagi."
Para anggota akhirnya ikut tertawa karena meskipun terdengar abstrak namun jiwa kekeluargaan mereka tetap kokoh.
"Yang bujangan tutup telinga..!!" bentak Bang Huda bukan main kesalnya.
.
.
.
__ADS_1
.