
Keesokan harinya bang Huda dan Bang Leo baru bertemu kembali.
"Semua memang salahku. Aku menduakan Ayu, karena sebenarnya aku juga naksir Geya. Kau tau lah, kita pasti punya kriteria dan selera. Aku suka gadis pendiam, sedangkan Ayu terlalu tegas bagiku, dia tidak bisa manja, lembut dan manis seperti yang kuinginkan, intinya terlalu kaku dan jaim lah. Maaf ya"
Bang Huda tersenyum kemudian menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.
"Apa kamu tahan dengan sifat kakunya Ayu?" tanya Bang Leo.
"Tahan, kembali lagi seperti ucapanmu.. semua sesuai selera. Tapi menurutku Ayu tidak begitu dan apa tuntutan mu itu tidak berat?"
"Maksudmu??" Bang Leo tidak mengerti arah ucapan Bang Huda.
"Biasakan istrimu menjadi diri sendiri. Jangan kau atur selalu manis. Biarkan dia ungkapkan marahnya, senangnya, sedihnya, cemburunya di hadapanmu. Untuk apa kau jadi suaminya kalau tuntutan mu seperti itu. Luar dalam sudah kamu lihat penuh. Istri juga sudah tau busuknya kita. Di dunia ini tidak ada yang sempurna termasuk.. kita sendiri. Kamu, aku, Langsang, Khaja, Saka.. kurang bejat bagaimana, tapi masih dapat istri-istri yang memahami kita apa adanya. Bagaimana kalau istrimu seperti Nadia.. jangankan buka mata, nafas aja rasanya nggak sanggup" jawab Bang Huda.
Bang Leo terdiam sejenak. "Iya, aku belum pernah lihat Geya marah."
"Jangan sampai dia memendam perasaan sampai akhirnya meluap. Ayu yang ku biasakan terbuka saja masih seperti itu, apalagi Geya yang punya sifat tertutup. Habis lah kau.. kalau tidak pusing, paling kau kejang" Bang Huda mencoba memberikan pemikirannya pada Bang Leo.
"Gitu ya bro. Oke, nanti ku ikuti caramu..!!"
...
Ayu memijat pelipisnya, pekerjaannya lumayan menumpuk sampai ia bingung harus memulai dari bagian mana. Setelah Ayu memeriksa ulang seluruh berkas lama ternyata Ibu Danki C yang sebelumnya tidak mengerjakan tugasnya dan membiarkan semua menumpuk di meja kerja Ayu.
Ada banyak keuangan yang tidak jelas alur keluar masuknya uang, ia pun segera menghubungi Bu Zafir dan memintanya untuk datang ke ruangan.
:
"Sungguh saya tidak tau Bu"
"Saya tidak menuduh Bu, tapi ada tanda tangan ibu disini sebagai seksi bendahara ranting" jawab Ayu.
Ayu pun akhirnya mengangguk memahami, ini adalah masalah pribadi atasan yang tidak mungkin bisa terbongkar. "Baiklah Bu, nanti saya rundingan dulu dengan suami. Setelah itu kita bicarakan lagi semua..!!"
:
Bang Huda melepas seragam luarnya usai kegiatan menembak. "Kenapa sayang? Kangen ya?" ledek Bang Huda padahal tau wajah istrinya sudah sedikit memucat.
"Bukan, Ayu mau bicara..!!"
"Ada apa?" tanya Bang Huda melihat wajah serius Ayu.
"Uang pengurus ranting minus sepuluh juta Bang, dan kegiatan yang ada sangat rancu" jawab Ayu.
"Kamu tanyakan saja dulu sama istri Bang Jay. Nanti kalau ada apa-apa, Abang yang tanggung jawab"
"Ayu sudah menghubunginya. Tapi istri Danyon lama marah besar dan memblokir nomer telepon Ayu. Sebentar lagi ada kunjungan.. Bagaimana ini?" tak seperti biasanya Ayu cemas menghadapi masalah.
__ADS_1
"Sini Abang lihat laporannya..!!"
Ayu menyerahkan pada Bang Huda lalu suami ayu itu duduk di kursinya lalu menarik Ayu agar duduk di pahanya. Sambil membaca, Bang Huda mempelajari alur keluar masuk keuangan ranting.
"Ini jelas ada main dari istri Bang Jay, wajarlah beliau marah" kata Bang Huda. "Nanti Abang bereskan..!! Kamu jangan banyak pikiran.
...
Ayu pusing memikirkan bagaimana cara mengganti uang yang hilang. Saking tegangnya Ayu sampai mual.
~
"Hhkk.." berkali-kali Bang Huda harus menguras isi lambungnya. Tidak ada angin tidak ada hujan tapi tiba-tiba saja perutnya terasa teraduk sampai muntah.
"Abang nggak apa-apa?" tanya Bang Arial.
"Tolong ambilkan obat lambung. Sepertinya saya masuk angin..!!" jawab Bang Huda.
"Mau saya kerokin Bang?"
"Nanti biar istri saya saja." tolak Bang Huda.
"Tapi Abang muntah terus, ibu-ibu sedang sibuk kegiatan. Abang tahan nunggu sampai sore?"
Bang Huda berpikir sejenak. Tubuhnya memang semakin lemas. "Ya sudah lah, Kamu kerokin setengah bagian.. yang setengah biar Ayu lanjutkan"
:
tok.. tok.. tok..
"Huda.. buka pintunya..!!" teriak seseorang dari luar dan Bang Huda sangat mengenal suara terkutuk itu.
"Nggak ada orang" jawab Bang Huda dari dalam ruangan.
"Terus siapa yang jawab???" tanpa perintah, Bang Leo membuka pintu. "Astaganagaaaaa.. kenapa kamu berduaan sama Arial di ruangan???" pekik Bang Leo.
"Heeh monyong. Jaga itu mulut..!!" Bang Huda terpaksa bangun dan secepatnya memakai celana lorengnya karena ia hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada sama seperti Bang Arial yang baru saja lari pagi.
"Sebentar, aku abadikan dan kusebar di group letting" Bang Leo seakan mencari perkara.
"Awas saja kalau kau berani berulah..!!" Bang Huda secepatnya memakai celana sampai resletingnya tersangkut celana pendek karena terburu-buru. "Aahh sial..!!"
Refleks tanpa sadar Bang Arial ikut berjongkok membantu dan keusilan Bang Leo berjalan lancar tanpa hambatan.
"Tanpa bersusah payah aku sudah dapatkan bukti valid"
"Hapus atau kubanting ponselmu..!!" bentak Bang Huda sambil menepis tangan Bang Arial.
__ADS_1
"Tidak bisa, kau harus di sadarkan dan dapat pencerahan" kata Bang Leo.
Tanpa di duga Ayu berdiri di belakang Bang Leo dan melihat foto 'tak senonoh' tersebut. Celakanya celana Bang Huda juga masih belum beres.
"Abang tau khan Ayu sudah berkali-kali memberi toleransi sama Abang, tapi kenapa Abang terus menyiksa perasaan Ayu"
"Allahu Akbar.. ini salah paham dek. Tadi Abang masuk angin. Arial bantu kerokin Abang disini, tiba-tiba Leo datang dan buat keributan"
"Kalau cuma kerokin Abang kenapa Bang Arial juga telanjang dada???????"
Bang Huda pun menyesali rasa tidak pekanya. Ia tidak memikirkan hal kecil karena mereka usai olahraga dan sekarang Bang Arial malah melongo berjongkok di hadapannya.
Ayu mengusap air matanya kemudian meninggalkan ruangan.
"Astagfirullah.." Bang Huda menyusul Ayu tapi ia masih sempat melirik Bang Leo. "Wedhus.. marai padu wae..!!" ucapnya gemas melihat Bang Leo.
"Sorry kang, nggak sengaja" kata Bang Leo.
~
"Sayang.. masa kamu percaya sama Leo?" Bang Huda berusaha membujuk Ayu.
"Foto itu sebagai buktinya. Abang tuh terpaksa nikah sama Ayu untuk menghilangkan jejak khan?" tuduh Ayu.
"Jejak yang mana?? Abang masih normal, kamu saja sampai hamil" kata Bang Huda.
"Ini hanya formalitas saja. Buktinya Abang nggak pernah bergairah lihat Ayu" Ayu mulai pusing dengan pikirannya.
Bang Huda yang tadinya tidak enak badan kini langsung sembuh karena tertimpa masalah.
"Ngawur.. kamu pikir khilaf terindah nggak pakai nafsu?? Ngomong nggak di ayak. Abang ini jaga kamu sama si dedek baik-baik, Kalau Abang nggak punya kontrol.. sanggup kamu semalam nggak tidur untuk ngeladenin Abang?? Enak saja nuduh Abang. Sekali kena tombak saja nangis kok mau nantang" mulut Bang Huda nggedumel sendiri merasa begitu kesal.
"Yang mau marah itu Ayu, bukan Abang..!!" Ayu memukuli Bang Huda yang pasrah menerimanya sampai akhirnya Bang Huda bisa memeluknya.
"Kalau kangen itu bilang, jangan marah. Masa kamu nggak bisa ngerasain sayangnya Abang sama kamu"
"Ayu geli bayangin Abang 'begitu' "
"Ya jangan di bayangkan. Langsung cek saja..!!" jawab Bang Huda.
.
.
.
.
__ADS_1