Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
62. Suami waspada.


__ADS_3

Ayu gelisah tidak bisa tidur, perutnya terasa nyeri dan ngilu. Tak lama ia merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman di bawah perutnya tapi sama sekali tidak berani membangunkan Bang Huda yang sedang tidur. Ia yang sudah mengijinkan Bang Huda untuk menyentuhnya dan kini dirinya pula yang harus bertanggung jawab dengan tindakannya.


Teringat pesan dokter Alamsyah saat dirinya datang terakhir kali kemarin, tepat saat Bang Huda marah padanya.


Kehamilanmu ini kembar, sebenarnya tidak apa-apa kalau Huda meminta jatah, tapi s****a untuk kandungan dan keadaanmu yang pernah memiliki 'masalah' tentu akan lebih beresiko dari kehamilan pada umumnya. Saya harap kamu bisa memahami.


"Ayu janji, tidak akan ada apa-apa Bang, Ayu akan mengontrol kesehatan Ayu sendiri" gumam Ayu kemudian mengambil obat di laci dan menelannya.


Terdengar suara kecil dari kamar, Bang Huda terbangun. "Cari apa dek?" tanya Bang Huda dengan suara khas orang baru bangun tidur.


"Vitamin Bang..!!" jawab Ayu.


Bang Huda kembali tidur.


***


Bang Arnold merokok di samping Syarin. "Dek, bagaimana do'a sholat subuh? Kamu tata cara dan syariat beribadah dengan benar atau tidak?" tanya Bang Arnold yang memang berbeda keyakinan dengan Syarin.


"Kenapa Om mau tau?"


"Penasaran saja." jawab Bang Arnold.


"Penasaran saja terus. Keyakinan Syarin tidak untuk main-main"


"Saya nggak ada niat main-main. Toleransi dan saling belajar khan tidak salah" kata Bang Arnold beralasan.


Karena terlalu lama, Bang Arnold membuka aplikasi pencari berita kemudian membacanya.


"Om.. Syarin minta rokoknya donk..!!" pinta Syarin.


"Nggak boleh. Buat apa?" Bang Arnold menjauhkan rokoknya dari Syarin.


"Syarin pernah dengar, Mbak Ayu pintar merokok dan mabuk. Syarin rasa merokok dan mabuk bisa menghilangkan masalah."


"Itu bukan prestasi dek. Tingkat emosional setiap pribadi manusia itu berbeda-beda. Kamu tergolong gadis yang masih mudah mengikuti alur sedangkan Ayu.. sebenarnya dia adalah sosok yang sangat mandiri dan dewasa. Sikap manjanya ya hanya sebagai selingan karena dia anak ke tiga, anak bontot" jawab Bang Arnold.

__ADS_1


"Syarin juga anak ke tiga"


"Juga yang paling bodoh dan labil di antara semuanya" kata Bang Arnold. "Buat apa kamu mempersulit dirimu dengan ulahmu itu??"


"Papa Mama sibuk dengan kegiatan karena karir Papa meningkat pesat begitu juga dengan Abang. Bang Huda dan Bang Saka malah sudah menikah, tidak ada lagi yang mengingat Syarin"


"Abangmu sayang sama kamu. Kalau kamu kerja, Bang Saka dan Bang Huda selalu menanyakan kamu" Bang Arnold mencoba memberi pengertian.


"Benarkah Om?? Syarin juga ingin curhat sama Papa, Bang Saka dan Bang Huda.. tapi ternyata.. Mama dan semua kakak ipar Syarin malah sering merintih karena di sakiti Abang. Sekarang siapa yang harus Syarin percaya??"


Bang Arnold mengusap wajahnya, tak tau lagi harus bagaimana berhadapan dengan Syarin yang ternyata juga cukup merepotkan sama seperti saat pertama dirinya mengenal Ayu.


"Hmm.. Om pernah kenal Mbak Ayu ya?" tanya Syarin.


"Nggak juga" jawab Bang Arnold biasa saja. Kini hatinya sudah tidak sesakit beberapa waktu yang lalu saat dia begitu merasa kehilangan Ayu.


"Oohh.. Syarin kira Abang kenal"


"Memangnya kalau kenal kenapa? Lingkup tentara hanya itu-itu saja dan rata-rata anggota keluarganya mudah di kenali" alasan Bang Arnold.


"Cepat kamu tidur, saya mau kembali ke Mess"


Syarin mengangguk kemudian masuk ke rumah Bang Huda. Beberapa langkah berjalan, Syarin berbalik badan. "Selamat tidur Om...!!"


Bang Arnold tersenyum tipis. "Selamat tidur juga dek..!!"


//


Bang Arnold gelisah sampai matanya sulit terpejam. "Ya Tuhan, kenapa aku selalu terbayang wajahnya. Bolehkah hatimu bergetar dengan dia yang tidak 'sepaham' dengan diriku?" gumam Bang Arnold meraba dadanya sendiri.


Hatinya kembali bergetar mendengar adzan subuh hingga merasuk ke dalam hatinya. "Sebenarnya apa yang aku cari 'dia' atau 'Dia', tolong beri aku ketetapan hati..!!"


Bang Arnold beranjak dari ranjang, ia membersihkan diri.


~

__ADS_1


Bang Arnold berlutut menyatukan kedua tangan dan menunduk khidmat di hadapan Zat Yang ia percaya. Tak tau mengapa ia sampai menitikan air mata, berguncang memikirkan 'perbedaan yang sama' dalam dirinya.


"Beri aku ketetapan untuk hatiku Tuhan..!!"


...


"Siap, masih aman Bang"


"Saya benar-benar titip Syarin, kalau saja Ayu sehat.. pasti akan saya jaga sendiri..!!" kata Bang Huda.


"Aman Bang, semua masih bisa saya handle" jawab Bang Arnold.


Bang Huda mengangguk kemudian duduk. Sorot matanya seperti menyimpan beban dalam hati.


"Abang ada masalah?" tanya Bang Arnold.


"Kenapa ya perasaan saya tidak enak. Saya takut Ayu menyimpan sesuatu dari saya tentang kehamilannya. Kemarin saya sempat melihat Ayu sangat kesakitan tapi malamnya........"


"Masih bisa menyenangkan Abang??" Bang Arnold seakan mengerti perasaan seniornya yang tenga galau.


"Yaaaa.. begitulah kira-kira" ucapnya seakan begitu percaya pada Bang Arnold.


"Ehmm.. apa mungkin bawaan bayi ya Bang, kata orang.. bumil itu memang rajin buat perkara karena ngidamnya"


"Kamu benar Ar.. mungkin saja Ayu ngidam" jawab Bang Huda meskipun perasaannya sendiri tidak pasti.


...


Bang Huda melepas seragam luarnya kemudian berjalan mencari Ayu di ruangannya. Baru saja Bang Huda membuka pintu ruangan Ayu ia melihat Ayu mengatur nafas sebisanya kemudian melanjutkan lagi pekerjaannya.


"Ada apa dek?? Kamu sakit?" tanya Bang Huda cemas.


"Nggak Bang, pegal saja terlalu lama duduk" jawab Ayu.


"Jangan bohong kamu..!! Bilang nggak..!! Atau mau Abang bongkar disini sekarang juga??" ancam Bang Huda.

__ADS_1


__ADS_2