
"Kurang ajar kamu Ayuuu..!!!" Nadia melayangkan tangannya hendak menampar Ayu. Bang Huda sigap tapi ternyata Ayu menepis dan menampar lebih dulu pipi Nadia dengan keras.
"Jangan berharap bisa memiliki atau menjajal suamiku lagi..!!!!!"
Nadia keluar dari ruangan membawa tangisnya.
Selepas Nadia keluar, kaki Ayu gemetar. Ayu menyambar kunci mobil di meja kerja Bang Huda dan berlari keluar menuju parkiran.
"Ayuu..!!" Bang Huda panik dan secepatnya berlari mengejar Ayu.
Ayu masuk kedalam mobil dan dengan cepat melesat meninggalkan parkiran.
"Dek.. jangan sayang..!! Kita bicara baik-baik" Bang Huda membujuk, mengetuk mobil Ayu. Bang Huda khawatir karena ia tau Ayu tidak begitu pandai mengendarai mobil.
"Madya.. dimana motormu..???" Bang Huda kacau, pikirannya berantakan.
Om Madya segera menyerahkan kunci motornya. "Ini Dan..!!"
"Tolong beberapa anggota ikuti saya..!!!" perintah Bang Huda.
Bang Arial yang ada disana pun mengikuti Bang Huda dari belakang.
:
"J****k.. motor opo iki????" Bang Huda semakin jengkel karena motor om Madya sulit berlari kencang. Motor tahun 70 yang belum di service si empunya motor.
Tikungan demi tikungan sudah terlewati, hingga sampai sebuah tikungan tertajam. Mata kepala Bang Huda melihat mobilnya melesat kencang terjun bebas ke lautan lepas.
"Ayuuuuuuu...!!!!!!" jantung Bang Huda terasa lepas dari raga melihat Ayu tak terlihat lagi. Bang Huda turun dari motor, ia sudah bersiap melompat tapi Bang Arial menahannya.
"Jangan Bang, ombak besar..!!"
"Matamu.. anak istriku di sana..!!" jawab Bang Huda memberontak.
"Tapi Bang..!!!!!"
buuugghhh..
Bang Huda menghantam Bang Arial hingga terjungkal. Bang Huda pun melompat masuk ke dalam laut di sisi tebing.
"Panggil team SAR..!!" perintah Bang Arial.
__ADS_1
~
Bang Huda mengarungi derasnya ombak laut, hatinya ketakutan.. tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada Ayu dan calon bayinya. Hingga sekian lama.. nafasnya sesak dan tak kunjung melihat Ayu padahal mobil itu sudah tenggelam hingga ke dasar.
Tak lama Bang Huda melihat sesuatu yang mengambang kurang lebih empat meter darinya. Ia segera mendekatinya. Benar saja, sosok yang dilihatnya adalah Ayu istrinya.
~
Bang Huda membawa Ayu ke pinggir pantai, ia segera memberikan pertolongan darurat.
"Kenapa kamu senekat ini. Abang tidak mengkhianati kamu.. demi Allah tidak pernah mengkhianati kamu..!!!" Bang Huda menekan dada Ayu tapi istrinya itu tak bergeming. Bang Huda panik dan histeris. "Bangun sayang.. tolong..!!" ucapnya terus berusaha menyadarkan Ayu.
Petugas SAR pun tiba.. mereka ikut menangani Ayu. Bang Huda sudah lemas memegangi tangan Ayu. "Ijin Dan.. denyut jantung ibu sudah tidak ada lagi"
"Jangan kurang ajar kalian. Coba cek sekali lagi...!!" Bang Huda sudah hampir gila rasanya, ia berteriak sekuatnya meluapkan perasaan.
"Tapi Dan..!!!"
"Jangan sentuh istri saya..!!" Bang Huda memeluk Ayu, tangisnya sesenggukan sampai akhirnya ia merasakan gerak nafas di dada Ayu.
"Uhhuukk..!!!" air menyembur dari mulut Ayu. "A_bang.. terlalu kencang" ucapnya pelan.
"Untuk apa? melihat Abang bermesraan dengan perempuan lain? Si seksi Nadia? Ayu ingin sekali menghajarmu Bang" kata Ayu.
"Hajar Abang sepuasmu.. asalkan kamu dan anak kita baik-baik saja..!!" Mata Bang Huda melihat lagi darah segar dari sela paha Ayu.
"Tolong antar saya ke rumah sakit sekarang..!!" pinta Ayu.
...
"Aku nggak bisa kerja kalau kamu seperti ini Hudaa..!!!!" tegur dokter Alamsyah. Litting Bang Huda di rumah sakit.
"Itu darah apa? Kenapa Ayu jadi tidak sadar lagi??? Tadi Ayu sudah sadar..!!"
"Paha Ayu yang berdarah." jawab Bang Alamsyah.
"Kamu harus bisa selamatkan Ayu dan anakku. Kalau sampai ada apa-apa dengan mereka, akan ku lepas jabatan doktermu..!!!" ancam Bang Huda.
"Ubi kecilmu masih aman Huda. Lihat itu, sudah ada detak jantungnya. Kakinya mulai bisa bergerak lincah" kata Om Alamsyah menunjukkan pada Bang Huda pergerakan bayinya. "Tapi jujur Ayu memang sedikit bermasalah. Paru-parunya banyak menyimpan air dan kami akan segera menangani untuk permasalahan ini"
Bang Huda duduk dengan kasar, matanya memerah. Rasanya tak kuat mendengar musibah ini. "Cepat tangani..!!" kata Bang Huda.
__ADS_1
"Alatnya kurang lengkap. Tapi masih bisa di tangani dengan alat seadanya.. kami pasti akan usahakan yang terbaik untuk istrimu"
"Apa ada pilihan terbaik salah ini?" tanya Bang Huda.
"Kalau kamu tanya pilihan itu, jelas kami akan memilih menyelamatkan Ayu, karena bayi mu beresiko terkena obat keras. Tapi kami juga punya perasaan. Aku juga baru menikah, istriku juga sedang hamil dan aku tau perasaanmu, jadi kami akan menyelamatkan anakmu juga." jawab Bang Alamsyah.
-_-_-_-
Malam tiba, lampu tindakan darurat penyelamatan Ayu masih menyala merah. Dua orang pria menghampiri Bang Huda.
buugghh.. bagghhh.. buugghh.. baagghhh..
Bang Langsang terbakar emosi. Ia menghajar Bang Huda habis-habisan.
"Langsang, tahan...!!" Bang Khaja memegangi adiknya yang lepas kontrol.
"Kau mau lihat adikmu di selingkuhi???? Ayu sampai masuk jurang karena melihat Huda bermesraan dengan Nadia di ruangannya.
"Tenang dulu Langsang..!! Kamu dan Huda itu memang sama-sama sumbu pendek, temperamen kalian sama edan nya..!!" Bang Khaja meninggikan badan suaranya.
"Kali ini aku sama sekali tidak menggunakan emosiku. Berita simpang siur tentangku semuanya tidak benar" Bang Huda menjawab seakan tak memiliki tenaga.
"Kalau tidak ada apa-apa.. kenapa Ayu sampai sekalut itu? Apa jangan-jangan anak yang di kandung Nadia dulu memang benar anakmu?" bentak Bang Langsang.
"Bisakah kau diam dulu?? Kepalaku sudah mau pecah rasanya memikirkan Ayu dan calon anakku. Jangan kamu tambahi lagi beban pikiranku. Aku nggak kuat Lang" Bang Huda pun tak kalah memanas.
Tak lama lampu tindakan mati. Perhatian Bang Huda beralih pada dokter Alamsyah. "Berisik sekali kalian..!!" tegur Bang Alamsyah. Wajahnya terlihat sangat lelah.
"Bagaimana istriku??" tanya Bang Huda.
"Maaf................."
"Aku sudah bilang selamatkan Ayu, selamatkan istriku..!!" Bang Huda terlihat begitu kacau dan berantakan sulit di tenangkan. Ia hampir menghajar Bang Alamsyah andai saja Bang Khaja dan Bang Langsang tak menahannya.
.
.
.
.
__ADS_1