Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
61. Menguraikan rasa.


__ADS_3

"Kamu jangan buat Abang jadi serba salah ya dek..!!"


"Ayu memang nggak apa-apa Bang"


"Kamu itu hamil, kondisi ibu hamil berbeda dengan perempuan lainnya. Nggak perlu berkecil hati kalau kondisi mu tidak setangguh sebelum kehamilan. Apalagi kamu mengandung dua calon bayi kita"


Mendengar perhatian dari Bang Huda, hati Ayu pun luluh mendengarnya. "Ayu hanya capek saja Bang, lebih ingin banyak tidur, selalu lapar dan suka kamar wangi maskulin yang strong."


Bang Huda lumayan ternganga mendengarnya, ketika Ayu mengatakan menginginkan aroma maskulin, dirinya malah menginginkan wangi kamar yang lebih fresh dan feminim. Ia selalu terbayang Ayu dengan penampilan yang cantik dan seksi.


"Jangan-jangan anak Abang yang satu suka buat onar dan yang satu lagi lebih kalem" kata Bang Huda.


"Mungkin Bang, kata dokter anak kita laki-laki."


"Yang penting selalu sehat, kalau mereka buat ulah.. biar papanya yang tangani..!!" tangan Bang Huda mengusap perut Ayu yang memang sedikit lebih besar dari kehamilan normal pada umumnya karena ada bayi kembar di dalamnya. "Sekarang tidurlah.. biar Abang kerjakan tugasmu..!!"


"Tapi ini tugas Ayu Bang"


"Apa tugas perempuan tidak bisa di kerjakan laki-laki?" Bang Huda mengajak Ayu pindah ke sofa. Bang Huda melepas pakaian luarnya agar bisa menjadi alas kepala saat Ayu tidur.


Baru saja Ayu merebahkan diri, dalam hitungan detik mata istri Bang Huda itu mulai sayu dan akhirnya tertidur, suara nafas pun terdengar stabil.


Bang Huda menahan geli melihatnya. "Begini khan cantik, daripada niatnya mau kabur saja" gumam Bang Huda. "Andalan ngambek kok minggat.. nakal kamu dek..!!" Bang Huda meletakan jemarinya yang ia tempelkan di kening Ayu lalu menyentil jemari kekarnya dengan kuat. "Di momong kok angel tenan to ndhuk, manut ya sayang..!!" dengan sayang satu kecupan mendarat di kening kemudian bibir Ayu.


cckkllkk..


Bu Zafir kaget sekali karena melihat Danki sedang mencium mesra bibir sang istri.


"Oohh.. mohon maaf bapak, saya pikir hanya ada ibu saja karena tadi ibu meminta saya untuk datang kesini membawa laporan..!!"


Bang Huda ikut tersenyum sedikit menahan diri. "Nggak apa-apa Bu Zafir, mana laporannya.. biar saya terima. Biar istri saya istirahat sebentar Bu, kelihatannya capek sekali. Saya nggak tega lihatnya"


"Baik Pak, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Bu Zafir.


"Terima kasih Bu, masih bisa saya handle..!!"


...


Bang Huda merenggangkan otot tubuhnya. Dua jam dirinya mengerjakan tugas Ayu yang mungkin saja bisa lebih lama selesai jika Ayu yang mengerjakan. Pandangannya mengarah pada Ayu yang tidur dengan gaya paling santai di bumi.

__ADS_1


Tak mengapa dirinya harus duduk di samping istrinya meskipun hanya mendapat space yang bahkan mungkin tidak bisa menadah p****tnya. Bisa saja Bang Huda duduk di kursi kerja milik Ayu tapi ia cemas Ayu terjatuh sofa karena tingkah polah Ayu saat tidur lebih mirip ulat bulu yang bisa merayap hingga tepi ranjang. "Dasar kebo, tidur pulas banget"


Tak lama Ayu bangun dan menggeliat, matanya terbuka dan melihat Bang Huda sedang menatapnya. "Astagfirullah hal adzim.. Tugas Ayu Bang..!!" saking tergesa-gesa nya Ayu, ia sampai merasakan perutnya yang kram. "Eghmm" Ayu memercing kuat sembari menarik nafas dalam-dalam.


"Duuhh.. makanya kalau bangun pelan-pelan dek..!!"


"Ayu nggak apa-apa Bang, mana tugas Ayu..!!" Ayu mengambil tumpukan buku di hadapan Bang Huda.


"Mau apa?" Bang Huda memegang tangan Ayu. "Tugasnya sudah Abang selesaikan. Semua hanya butuh tanda tanganmu saja Bu Danki..!!"


Ayu beralih duduk perlahan kemudian melihat satu persatu tumpukan tugas yang harus ia kerjakan dan ternyata memang sudah selesai dengan baik dan rapi. "Alhamdulillah.. Terima kasih ya Pa" Ayu memeluk Bang Huda yang sedari tadi setia duduk di sampingnya.


Bang Huda tersenyum dengan pipi memerah. Jarang sekali Ayu menyapanya seperti itu sampai rasanya ia sendiri yang salah tingkah. "Hmm.. pulang yuk.. badan Abang pegal nih dek baru selesaikan tugasmu, belum lagi tadi pagi kerjaan Abang juga banyak" ajak Bang Huda.


"Abang mau Ayu pijatin?" tanya Ayu berkedip-kedip polos.


"Iya, tapi di rumah saja sayang. Abang pengen rebahan" jawab Bang Huda.


"Ini khan belum Ayu tanda tangani Bang" kata Ayu. "Laporan harus masuk nanti malam."


"Masih ada waktu pijatin Abang, sebentar aja Ma..!!" bujuk Bang Huda mencium pipi halus Ayu kemudian berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangan mengajak Ayu pulang.


Entah efek polos atau baru saja bangun tidur, Ayu mengangguk tanpa ekspresi menerima uluran tangan Bang Huda.


...


Ayu tak tega melihat ekspresi wajah Bang Huda yang menginginkan penyelesaian secara sempurna, ia menghargai usaha sang suami yang masih menjaga dan memikirkan kondisi tubuhnya meskipun pastinya Bang Huda sedang tinggi-tingginya berhasrat padanya.


"Iya Bang, boleh"


Tubuh Bang Huda yang sudah menegang kuat langsung menghujam semakin dalam, d***h panjang mengurai kelegaan melepas kerinduan yang sudah ia tahan berhari-hari lamanya.


"Terima kasih sayangku"


~


"Abang bohong khan, katanya mau pijat" Ayu bersungut kesal meskipun sebenarnya ia juga bahagia karena merindukan belai hangat seorang Kapten Huda.


"Tadinya sih nggak rencana, begitu sampai rumah.. eehh ternyata yang lain yang butuh di pijat" jawab Bang Huda enteng.

__ADS_1


"Alasan.. pasti Abang sudah rencanakan sejak awal"


"Nggak dek, mungkin tadi sensornya sudah menemukan sinyal paling kuat" kata Bang Huda dengan mata perlahan terpejam. Rasa lelah dan ngantuk akhirnya mengantar ke alam mimpi.


...


Bu Zafir mengetuk pintu rumah Ayu, tak ada jawaban dari sang pemilik rumah sampai akhirnya Syarin datang dan membuka pintu rumah bersama Bang Arnold.


"Bang.. Mbak Ayu..!!" sapa Syarin menyalakan seluruh lampu rumah, tapi tetap tak ada jawaban.


Syarin melangkah menuju kamar Abang dan kakak iparnya yang sedikit terbuka, ia pun memberanikan mengintip ke dalamnya dan ternyata Bang Huda sedang tidur memeluk Mbak Ayu dengan keadaan begitu romantis dan indah tertutup selembar selimut hangat sebatas perut tapi semua itu terasa berbeda di mata Syarin.


Mendengar suara dan gerak kecil, mata Bang Huda terbuka. Tangannya refleks menarik selimut dan menutupi Ayu hingga menutupi tubuh mereka. "Kenapa kamu disitu?? tunggu di luar..!!" ucap Bang Huda mendadak kesal adik perawannya berada disana dan melongo melihat keadaan dirinya.


Mendengar suara yang sedikit keras, Bang Arnold meletakan buku tugas kantor titipan Bu Zafir kemudian ikut menghampiri Syarin. Sekilas ia paham akan sesuatu dan menarik tangan Syarin.


~


"Kamu bodoh atau stupid?? Sudah tau ada bekas medan penjajahan.. kenapa kamu masih berdiri disana?" tegur Bang Arnold, tapi saat melihat tangan Syarin gemetar.. Bang Arnold mengurangi nada suaranya.


"Tolong beritau Bang Huda, jangan menyakiti Mbak Ayu lagi."


Kening Bang Arnold mengernyit. "Menyakiti apa?" tanya Bang Arnold bingung.


"Kenapa sih laki-laki hanya berbakat menyakiti perempuan??"


"Bicara yang jelas. Kapan Abang menyakiti istri sendiri??" tiba-tiba Bang Huda menyusul Syarin dan Bang Arnold di teras belakang rumah.


"Papa, Abang.. semua sama saja..!!" kata Syarin. "Syarin tau menikah itu pasti ada fase berdua, tapi kenapa.. perempuan selalu jadi pihak yang tersakiti setiap kalian berdua"


Bang Huda memijat pangkal hidungnya. "Kamu belum merasakan dunia pernikahan, yang kamu dengar belum tentu benar"


"Abang jangan melarikan diri dari tanggung jawab karena sudah KDRT" kata Ayu.


"Ya Tuhan, apa harus dua kali aku kena kasus KDRT???" gumam Bang Huda. "Arnold, tolong bawa Syarin keluar..!! Kepala saya sakit..!!" pinta Bang Huda.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2