
Ayu masih memasang wajah datar saat berada di kamar rawat Bang Huda. Ia tetap melayani Bang Huda tapi wajah kecewanya tidak bisa hilang begitu saja dari dirinya.
Aduuhh bagaimana ini, Ayu masih marah sama aku. Aku harus bagaimana?.
"Sudah makan dek?" tanya Bang Huda melembutkan suaranya.
"Sudah" jawab Ayu singkat saja.
"Om dan Tante sudah lajur kembali ke Jakarta ya?"
"Iya" jawab itu masih tetap singkat.
Ayu menarik kursi dan berniat duduk tapi tak sengaja gamisnya terinjak kakinya sendiri hingga ujung sandalnya menghantam kaki meja. "Aaaww.." refleks bibirnya terpekik.
"Kenapa dek?? Terbentur meja?? Ada yang sakit???" sebenarnya Bang Huda juga refleks terlonjak kaget, tapi hal itu membuat Ayu sangat bahagia.
Entah kenapa rasanya begitu nyaman melihat panik Bang Huda yang terasa bagai perhatian untuknya. "Aaahh.. perut Ayu nyeri..!!"
Bang Huda turun dari ranjang dan membantu Ayu untuk duduk. "Pelan-pelan duduknya.. apa Abang panggilkan Alam??" tanyanya cemas.
"Nggak mau, di usap Abang aja" tak hanya ucap manja, kali ini Ayu belaga mual di hadapan Bang Huda.
Bang Huda berjongkok di depan Ayu kemudian mengusap perut istrinya itu. "Lain kali di larang pakai gamis, long tunik saja cukup..!!!"
"Abang nggak suka modelnya?" tanya Ayu.
"Bukan nggak suka, perutmu sudah mulai besar.. kain baju gamis itu lebar. Kamu jalan saja sudah nggak kelihatan. Amit-amit jabang bayi.. Kalau kamu terpeleset, jatuh.. Abang juga yang ambyar morat marit dek" jawab Bang Huda kemudian mengatur selang infus di tangannya lalu menggendong Ayu dan merebahkan di atas ranjang pasien.
"Kenapa jadi Ayu yang tidur???"
"Kamu bawa dua keinginan Abang, banyaklah istirahat..!!" Bang Huda duduk bersandar.
Tak lama seorang dokter datang. "Lhoo.. pasiennya ganti ya?"
Ayu bergerak bangkit tapi Bang Huda mencegahnya dan menarik selimut untuk menutupi paha Ayu.
"Siap Bang, pasien khusus" jawab Bang Huda tersenyum menanggapi dokter.
"Coba saya periksa kondisimu. Kalau sudah stabil, besok pagi boleh pulang" kata dokter kemudian memeriksa Bang Huda.
"Siang ini saja Bang. Saya sudah sehat" Bang Huda mencoba melakukan tawar menawar dengan dokter.
"Belum boleh Hudaa.. kalau kamu tiba-tiba kambuh bagaimana??"
"Saya punya istri hamil Bang. Ikut tidur disini kasihan, kalau di rumah sendirian. Saya nggak mungkin minta ajudan jaga di rumah" jawab Bang Huda masih terus mengusap perut Ayu.
"Duuhh bagaimana ya, infus ini paling cepat harus di lepas besok pagi" kata Dokter.
__ADS_1
"Obat saja Bang..!!"
"Kamu paham nggak resikonya sangat berbahaya kalau obat terhenti tiba-tiba?"
"Paham Bang, saya hanya tidak bisa mengambil resiko yang lebih besar. Saya ini menopang badan sendiri, tapi ada tiga nyawa yang membutuhkan saya" jawab Bang Huda.
"Ya sudah lah, lepas saja infusnya.. jangan berdebat lagi..!!" pinta dokter pada seorang perawat pria.
"Jangan di lepas dok, biar saya tunggu sampai besok pagi" kata Ayu menengahi.
Bang Huda mencegah Ayu untuk bangun. "Cabut Bang..!!" pintanya pada dokter.
-_-_-_-_-
Sesampainya di rumah Bang Huda langsung mandi dan merapikan diri seperti biasa. Memang aura rumah membuatnya jauh lebih segar, sisa pening dan sakitnya seakan lenyap apalagi di rumah.. dirinya bebas melihat Ayu dengan penampilan apa adanya sang istri. Hujan deras menambah rasa tentram dalam hati Bang Huda, tiada tempat senyaman rumah dan belaian hangat istri tercinta.
Senyum bahagia Bang Huda merekah sampai bersiul nakal melihat Ayu yang seksi menggoda. "Fyuuuhh.. bohay sekali istri Abang"
"Apa sih Bang, Abang mau makan apa? Ayu masakin ya?"
"Nggak usah, nanti saja minta tolong Edwin beli di luar. Kamu temani Abang di kamar saja..!!" pinta Bang Huda sambil mendekap Ayu dari belakang.
"Iihh Abaaang.. cepat istirahat..!! Abang masih sakit" Ayu melepas dekapan Bang Huda dan melanjutkan acara berberes rumah.
"Kita ke kamar saja yuk..!!" Bang Huda menggandeng tangan Ayu tapi lagi-lagi Ayu melepasnya.
"Kamu kenapa sih? Nggak mau temani Abang?" tanya Bang Huda.
"Penting rumah atau Abang??" Bang Huda masih belum menyerah merayu sang istri.
"Abang banyak tamu, masa rumahnya kotor"
"Nanti Abang yang bersihkan. Sekarang ke kamar dulu..!!" Bang Huda menarik tangan Ayu tapi istrinya tetap tidak mau. "Kenapa kamu tolak Abang??"
"Ayu bukannya nolak, Ayu pengen Abang sembuh dulu" jawab Ayu.
"Aahh terserah lah" Bang Huda mengambil jaket dan kunci motornya.
"Abang mau kemana? Abang harus banyak istirahat" Ayu menarik tangan Bang Huda tapi Bang Huda menepisnya.
"Cari perempuan..!!"
"Bang, jangan bilang begitu.. ya sudah ayo kita ke kamar..!!" Ayu mengejar Bang Huda sampai teras depan.
"Abang nggak selera. Bayar perempuan di luar juga bisa" jawab Bang Huda tanpa berpikir panjang karena kesal sudah menekan puncak kepalanya.
Nafas Ayu seakan berhenti, jantungnya tak bekerja dengan baik, ia melepas pegangannya dari Bang Huda. Perutnya tiba-tiba terasa amat sangat sakit.
__ADS_1
"Nggak usah pura-pura, berberes rumah sana." Bang Huda menyalakan mesin motornya dan melaju meninggalkan rumah,
Ayu tetap memperhatikan Bang Huda sampai akhirnya suaminya itu berhenti di tikungan dan terlihat berbincang dengan seorang wanita sembari melebarkan senyumnya, tak lama wanita itu naik ke motor Bang Huda.
...
"Maju broo.. tumben nggak punya jalan" Bang Leo menggoda Bang Huda yang sedang main catur di pos depan kesatrian Batalyon, tepat di samping kantor kompi C.
"Tolong buatkan saya kopi donk Win.. pikiran buntu nih" tiba-tiba perasaan Bang Huda tidak enak, hatinya gelisah.
"Siap..!!" Om Edwin segera menyiapkan kopi untuk Bang Huda.
:
Setengah jam berlalu, Bang Huda sudah malas bermain catur, pikiran nya masih berputar tak bisa melepas bayangan Ayu.
Ada dua mobil keluar dari kesatrian kompinya bersama dengan empat buah motor mengiring di belakangnya.
Bang Huda mengambil ponselnya dan menghubungi anggota piket jaga di kesatrian kompinya tanpa melihat info apapun di dalamnya.
"Selamat sore Kompi senapan C, dengan Pratu Madya.. ada yang bisa di bantu?"
"Ini saya.. ada apa barusan, kenapa ada mobil ngebut keluar dari kesatrian??"
"Ijin Dan.. ibu di larikan ke rumah sakit"
"Ibu siapa maksudmu?????" tanya Bang Huda cemas.
"Ibu Ayu terpeleset di teras dan. Ijin arahan komandan dan posisi"
Hancur lebur, remuk redam hati Bang Huda mendengarnya.
"Kenapa nggak ada yang hubungi saya????" tegur Bang Huda.
"Siap salah Danki.. Kami sudah mencoba menghubungi Danki tapi tidak ada jawaban, sehingga kami berinisiatif membawa ibu langsung ke rumah sakit..!!"
"Bagaimana keadaan terakhir istri saya????" tanya Bang Huda cemas, ia menaiki motornya.
"Ijin Dan.. I_bu Ayu.. pendarahan..!!"
Seketika Bang Huda terhuyung lemas hingga motor besarnya menimpa tubuhnya.
"Hudaaa.. astagaaa.. kenapa kamu ini????" Bang Leo panik melihat lettingnya pucat pasi.
.
.
__ADS_1
.
.