Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
60. Ingin terlihat tangguh.


__ADS_3

"Sudah jadi makan atau belum?' tanya Bang Huda.


"Belum, baru juga datang.. kaki Ayu tersangkut"


"Abang pesan nasi goreng dulu ya, di bungkus saja ya" kata Bang Huda.


Ayu mengangguk, Bang Huda segera memesan nasi goreng dua porsi hanya untuk Ayu karena pasti saat ini istrinya butuh porsi yang lebih besar dari biasanya.


"Mbak Ayu sudah nggak apa-apa Pak?"


Bang Huda tersenyum geli mendengar sapaan untuknya. Untuk menyapa Ayu, rata-rata orang akan memanggil dengan sebutan 'mbak' tapi untuk dirinya akan memanggil 'bapak'.


"Sudah baikan Pakde. Saya mohon maaf tadi sempat membuat keributan dan repotnya banyak orang" kata Bang Huda.


"Nggak apa-apa Pak, namanya musibah tidak ada yang tau. Saya hanya cemas dengan kandungan mbak Ayu. Sepertinya tadi terlihat kesakitan"


"Oya??" Bang Huda cukup kaget karena Ayu tidak menggunakan kehamilan untuk membuatnya resah.


"Benar Pak"


~


Benar saja, saat Bang Huda mengintip.. ternyata Ayu sedang menarik nafas dan membuangnya pelan. Beberapa saat lamanya, jelas sekali Ayu berusaha mengatur dirinya.


"Dek..!!" Bang Huda sengaja menyapa Ayu sebelum masuk ruangan.


Ayu tersenyum seolah tidak terjadi apapun disana. "Sudah Bang?" tanya Ayu.


"Sudah nih? Mau jalan apa di gendong?" goda Bang Huda.


"Jalan aja" jawab Ayu menutupi sakitnya.


"Gendong aja lah. Nanti kesandung lagi, Abang juga yang repot." alasan Bang Huda padahal hatinya juga mencemaskan keadaan Ayu.


Ayu tak menolak saat Bang Huda mengangkatnya, ia melingkarkan kedua tangan di belakang leher Bang Huda. Matanya terus memperhatikan paras tampan Bang Huda.


"Baru tau kalau Abang ini ganteng?" tegur Bang Huda karena tau Ayu memperhatikan dirinya.

__ADS_1


"Ge_er" jawab Ayu.


"Masa gantengnya begini kamu nggak mau, rugii..!!" kata Bang Huda.


"Yang rugi tuh Abang. Nangis betul khan Abang kalau Ayu hilang?"


Bang Huda tidak berani banyak berkilah karena memang pada kenyataannya hanya Ayu saja yang bisa membuatnya sampai seperti ini. "Kalau sudah tau kelemahan Abang tuh ya sudah.. jangan di bahas lagi..!!"


"Jadi benar khan Bang, Abang nangis kalau Ayu hilang???" wajah Ayu terlihat sumringah dan itu membuat Bang Huda semakin gemas.


"Hmm.. puas kamu???"


"Puas donk..!!"


Bang Huda tersenyum nakal sambil mendudukkan Ayu di atas motornya. "Oohh.. kalau kurang puas.. Abang bisa tambahi kok"


Ayu melirik Bang Huda. Rasanya ada aura negatif dari paras wajah Bang Huda. "Tambah apa nih maksudnya?"


"Tambah mencintai kamu" semakin Ayu memasang wajah jengkel, semakin Bang Huda ingin terus menggoda Ayu. Jujur saat ini dirinya sedang di landa rindu berat tapi menyadari Ayu sedang tidak begitu sehat, ia pun mengurungkan niatnya.


***


"Kenapa aku bisa mencintai gadis sepertimu. Aku rela banting tulang demi membahagiakan kamu, rela menangis karena takut kehilangan kamu." gumam Bang Huda tersenyum gemas melihat bibir pink muda milik istrinya. "Andaikan kamu baik-baik saja, pasti kamu sudah Abang sikat habis. Abang tau kamu tidak berani lagi pura-pura sakit karena takut Abang marah, tapi ternyata.. Abang rindu tingkah konyolmu"


Jam terus berdetak, Bang Huda mencium jemari Ayu sampai akhirnya ikut tertidur pulas bersama Ayu.


...


Bang Huda menyantap sarapan paginya dengan porsi kecil jika pagi, di tambah dengan satu telur setengah matang dan susu.


"Kalau capek ijin saja, kakimu juga masih sakit" kata Bang Huda sembari menyuap sepotong dada ayam untuk Ayu.


"Ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal Bang" jawab Ayu tapi tetap menerima suapan dari Bang Huda.


"Nanti Abang nyusul ya"


"Iya Bang."

__ADS_1


...


"Yang mau mengambil uang arisan bulan ini ya di keluarkan saja namanya. Ibu-ibu yang meminta uang arisannya pasti ada kebutuhan" kata Ayu.


"Ijin ibu, bagaimana kalau sampai ada nama double?" tanya seorang bendahara pemenang kas kompi.


"Pertama yang sudah mengambil arisan pasti sudah ada tanda tangan yang bersangkutan. Jika memang sampai terjadi hal seperti itu, tinggal potong gaji saja dan di tambahkan bunga pinjaman seperti normalnya alur kebendahaharaan kita" jawab Ayu.


"Siap ibu, mungkin ada baiknya begitu"


"Iya, agar alur simpan pinjam dan perkoperasian kita bisa jalan.


Ayu melihat ada beberapa wajah anggota yang tidak sependapat dengan dirinya. "Bunga ini untuk kepentingan perputaran perekonomian kita, bukan untuk kepentingan pribadi saya" kata Ayu berusaha tenang menjelaskan. "Jika di antara ibu-ibu yang punya bakat memasak, keterampilan dan lain sebagainya.. bisa langsung saja di titipkan di koperasi. Kita nggak ambil untung banyak, seribu perak persatu barang. Saya sedang mengusahakan perekonomian kita naik" ucap tegas Ayu.


:


Ayu bersandar di kursinya. Pikirannya menerawang.


Abang sudah mengganti uang ekonomi sebanyak sepuluh juga dan dari hasil yang aku usahakan baru dapat satu juta lima ratus. Ya Allah.. kenapa tenagaku sama sekali tidak mau di ajak kerjasama, rasa lelahku sudah sampai tahap ini. Aku ingin tidur nyenyak, tanpa berpikir masalah kantor.


Tak lama Bang Huda membuka pintu ruangan Ayu. "Kenapa nggak jawab panggilan telepon Abang?" tanya Bang Huda.


"Memangnya Abang telepon?" Ayu mengambil ponselnya dan benar saja Bang Huda menghubunginya.


"Kamu ini terlalu lelah atau sakit? Kenapa nggak fokus?" Bang Huda menghampiri Ayu dan mendekapnya tapi ia merasa suhu tubuh Ayu sedikit meninggi. "Kamu demam ya dek?"


"Demam ya, Ayu kira AC nya yang terlalu kencang" jawab Ayu sedikit menggigil.


"Ayo kita pulang saja.." ajak Bang Huda.


"Demam apa sih Bang, Ayu nggak apa-apa. Ayu sehat" tolak Ayu, ia tak ingin menunjukkan kelemahannya pada Bang Huda. Ia tau sejak mengandung.. kondisinya kurang stabil.


"Kamu jangan main-main dek. Abang serius..!!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2