
Nara punya batas waktu hingga bulan depan untuk sampai ke sebelah. Untuk kelanjutan cerita yang beruntun namun beda versi ala Nara. Tidak menjiplak khan jika Nara mengembangkan karya Nara sendiri 🤭. Semoga disana banyak komentar baik, juga tidak ada lagi yang namanya kembar cerita. 😊🙏
🌹🌹🌹
"Bagus sekali Bang" Ayu senang sekali melihat pemandangan di sekitar danau meskipun tidak terlihat apapun karena hari memang sudah malam.
"Sambil makan..!!" Bang Huda menyuapi Ayu makan ikan bakar khas masakan di sekitar danau.
Warga sekitar menyebutnya danau meskipun sebenarnya genangan air itu hanyalah anak sungai yang lumayan lebar dan sudah menjadi tempat pariwisata kecil di daerah sekitar.
Ayu berceloteh ngalor ngidul entah membicarakan apa, Bang Huda hanya menanggapi seniatnya saja karena hatinya terfokus pada kesehatan Ayu saja.
Cepat lahir anak Papa, sehat, kuat kamu dan Mama. Hati Papa hanya untuk kalian.. Bang Galar, Mbak Ghania, si kecil dalam perut dan kamu Ma.. bidadari kesayanganku.
"Iya khan Bang??" tanya Ayu membuat Bang Huda terperanjat.
"Apa dek??"
"Iihh.. Abang nggak dengarkan Ayu bicara ya?"
"Dengar dek, tapi......"
"Alaah.. Abang nggak dengar khan Ayu bahas sandal kuning" kata Ayu cemberut memasang wajah kesal.
"Dengar sayangkuuu, kamu bahas sandal kuning khan?" jawab Bang Huda mengikuti kata-kata Ayu yang terkadang lupa dengan ucapannya sendiri.
"Oohh.. ya sudah kalau dengar. Jadi bagaimana??" tanya Ayu.
Bang Huda kembali bingung karena sebenarnya dirinya tidak mengerti apa yang sedang di bicarakan Ayu karena terlalu fokus dengan pikirannya sendiri.
"Yaa.. sudah beli saja sandal warna kuning" jawab Bang Huda mencoba netral memikirkan apa saja kebiasaan wanita jika sudah menyangkut barang-barang.
"Kalau kacamata kuning tadi Bang?"
"Oke beli saja. pulang dari sini kita baru beli..!!" ucap Ayu memutuskan sepihak tanpa Bang Huda tau duduk perkaranya.
"Habiskan dulu makannya nanti kita beli..!!" bujuk Bang Huda kemudian menyetujui.
...
"Astagfirullah hal adzim.. Lailaha Illallah.. Kamu minta Abang pakai sandal kuning ngejreng ini??? Warna Abang jadi mirip lampu neon dek" protes Bang Huda.
"Kata Abang mau pakai ini??????" Ayu tak kalah memprotes Bang Huda.
"Duuuhh alaaahh.. apa kata orang-orang??? Abang nggak mau jadi bahan ledekan Edwin lagi. Kurang ajar betul dia."
Wajah Ayu mendung karena merasa Bang Huda berubah pikiran.
"Hiiiiiiihh.." Bang Huda mengacak-acak rambutnya. "Yo wes mana. Kamu jangan ilfil ya lihat Abang keren..!!!!" ancam Bang Huda.
***
__ADS_1
Bang Huda berjalan menuju ke lapangan tembak sembari menenteng sepatu PDL karena sedang memakai sandal bulu berwarna kuning bermotif 3D burung tweety. Tak hanya itu, kacamata pun berwarna sama dengan motif bulat bersayap.
"Ijin Abang.. kita mau apel dulu?" tanya Bang Fatih melihat penampilan Bang Huda yang menurutnya sedikit tanda kutip.
"Iyalah. Masa nggak apel"
"Siap Abang.. Ijin.. bukannya hari ini Abang yang mau ambil apel? atau Bang Arial saja?" tanya Bang Fatih.
"Kamu ini kenapa sih??" sebenarnya Bang Huda tau akar permasalahan pertanyaan Bang Fatih. Penampilan Bang Huda memang jauh dari kata jantan.
"Wiiiihh.. mantap Bang" Bang Arial mengacungkan dua jempol menilai penampilan Bang Huda yang pastinya apalagi kalau bukan karena permintaan sang istri.
"Mantap lah, jangan coba bicara macam-macam kalau belum pernah merasakan jadi Kapten Huda." jawab Bang Huda mendesah pasrah karena Ayu ingin sekali melihat Bang Huda memakai kacamata dan sandal bulu berwarna kuning.
"Lanjuuut Bang, sampai ada yang tertawa.. nanti saja jungkir balik di lapangan" Bang Arial tetap memberikan dukungan pada seniornya yang sedang kesusahan.
Bang Fatih terkikik menahan tawa sampai Bang Arial terpaksa mencubit pinggang juniornya itu
:
"Maaf kalau penampilan saya kali ini terkesan sangat elegan dan ganteng. Ini salah satu permintaan Mayor Ayu. Sebagai suami yang baik, selama saya mampu, saya akan penuhi apapun permintaan istri karena saya harus bertanggung jawab penuh atas hasil perang ilmu kebatinan yang sudah saya lakukan" kata Bang Huda membuka arahan kegiatan pagi ini.
Para anggota setengah menunduk menahan tawa. "Siaaapp..!!!"
"Danki imuuuut..!!!!" ledek Om Edwin.
"Dan kamu salah satu alergi yang harus di sisihkan.. Push up kamu Edwin..!!!!!!!!" perintah tegas Bang Huda.
...
"Abang keren deh" kata Ayu.
"Iyalah.. suami siapa dulu" jawab Bang Huda sambil memainkan alisnya kemudian mengecup kening Ayu kemudian beralih menunduk mencium perut besar Ayu. "Sudah Papa turuti ya nak, jangan nakal.. jangan buat Mama sakit..!!"
"Iya Pa, adik nggak nakal" jawab Ayu. "Pa.. kapan mau live show?" tanya Ayu tiba-tiba setelah dirinya menggagalkan niat aksi spektakuler Danki C.
Untuk sejenak Bang Huda terbengong mendengar pertanyaan Ayu tapi kemudian senyum nakalnya mengembang. "Itu buka live show buat Abang sama dedek.. tapi live show khusus buat Mama" jawab Bang Huda.
"Live show apa sih Pa?" tanya Ayu lagi karena dalam bayangannya, Bang Huda akan menunjukan trik sulap dan sejenisnya.
"Ya sudah mana tunjukan Pa..!!" pinta Ayu.
"Nggak bisa donk Ma, masa mau disini. Di rumah saja nanti." Bang Huda mencolek gemas dagu Ayu. "Abang juga belum persiapan dek"
"Harus ya, nggak bisa langsung?"
"Nggak bisa lah" jawab Bang Huda dengan wajah bersemu nakal. "Pulang yuk, mau nggak?" alis Bang Huda naik turun menggoda Ayu.
Kening Ayu berkerut, agaknya sekarang dirinya mulai mencurigai sesuatu yang mungkin berhubungan dengan hal tersebut tapi dirinya tak tau pasti.. apa yang akan di lakukan Bang Huda padanya.
"Kamu pasti tau lah maksud Abang"
__ADS_1
"Ya sudah, Abang persiapan dulu..!! Kalau sudah selesai.. Ayu pulang"
"Kamu pulang saja sekarang, mandi, tunggu Abang di rumah dan... tunggu hadiahmu.. live show terdahsyat khusus untuk istri Abang tercinta" kata Bang Huda.
"Oke.. Ayu pulang sekarang..!!"
"Siiipp.. jangan lupa tidurkan anak-anak..!!"
...
"Naahh.. ini di jamin kuat Pak, kalau di minum sekarang efeknya tahan sampai besok pagi" kata seorang peracik jamu.
"Ya sudah saya minum" Bang Huda segera menegak jamu tersebut tanpa perhitungan.
gleeekk..
"Aaiiisshh.. panas, pedas, pahit sekali" Bang Huda memercing memukul meja kemudian memegangi kepalanya agar minuman tersebut segera tertelan dengan sempurna dan akhirnya dengan susah payah jamu tersebut masuk kerongkongan tanpa hambatan.
Ini kalau nggak saking sayangnya Abang sama kamu, nggak akan mungkin Abang berkorban sampai seperti ini.
...
Bang Huda membuka pintunya perlahan, dengan pakaian lengkap, gagah dan perkasa.. Bang Huda masuk ke dalam rumah membawa wangi maskulin. Ia melangkah masuk mencari Ayu.
Di dapur rumah, Ayu sedang mencuci botol susu milik Galar dan Ghania. Ayu menoleh saat mendengar Bang Huda masuk, suaminya itu bersandar, bertumpu lengan kanan sambil membuka kancing seragam lorengnya kemudian membuka kaosnya. Kini ia bertelanjang dada dan mengusap jambulnya yang sudah menjulang mirip milik Salsa dan Sanya.
Mata Ayu melotot dan bahkan semakin terbuka lebar saat Bang Huda membuka celana lorengnya. Ayu menelan ludah dengan kasar mengetahui tidak seperti biasanya Bang Huda tidak mengenakan celana pendeknya dan langsung memamerkan penutup perabot bermotif jaring laba-laba berwarna hitam tapi jelas menampakan apa yang sedang tersekap di dalam sana.
"Bang.. stop Bang.. jangan di lanjut lagi..!!" pinta Ayu semakin cemas.
"Ini khan kesukaanmu"
"Iyaaa.. tapi nanti di kamar saja" kata Ayu dengan wajah cemasnya dan Bang Huda semakin gemas merasakan kecemasan Ayu apalagi Bang Huda sudah menurunkan celana lorengnya. Nampak amat sangat jelas sekali senjata sniper sudah tegak siap menembak.
"Malam ini g****o mu ini siap menyenangkan mu sayang" ucap Bang Huda menggoda semakin nakal.
"Astagfirullah hal adzim.. mantu kurang ajar, beraninya kamu buka perkakas di depan mertua. Ada Mama Hana di luar..!!!!!" pekik Papa Ranggi saat baru masuk dari arah belakang rumah melihat koleksi hewan milik menantunya.
"Iyaa Pa, maaf... maaf Pa" dengan cepat Bang Huda memasang kembali celana lorengnya sampai resletingnya tersangkut dan terjepit di sana sini. Ia sungguh tak tau Papa Ranggi datang bertandang dan semua tanpa informasi.
"Tutup selang pancuranmu yang kerjanya mancur terus. Pancuran kok kerjanya hanya buat bocor drum saja..!!" bentak Papa Ranggi.
"B*****t.. pakai macet lagi..!!" gumam Bang Huda panik dan jengkel, tepat saat itu Mama Hana masuk.. Papa Ranggi menoleh kaget tak terkecuali Bang yang semakin panik karena Mama mertuanya masuk. "****..!!!!!!!!" Bang Huda mengumpat-geram kebingungan sendiri, langkahnya mundur teratur menghindari Mama mertua.
"Lho.. Huda mau kemana Pa?" tanya Mama Hana.
"Ngelemesin selang di depan" jawab Papa Ranggi enteng sedangkan Ayu duduk lemas memijat kening saking malunya.
.
.
__ADS_1
.
.