Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
24. Sisi seorang Ayu.


__ADS_3

Hari ini Bang Huda tidak masuk kerja, ia hanya berdiam diri di rumah, jika mengingat kejadian kemarin. Rasa marahnya masih memuncak.


Di dalam rumah sesekali Ayu masih menarik nafasnya dan Bang Huda sangat cemas melihat keadaan Ayu.


"Bagaimana kalau kita periksakan kandunganmu ke rumah sakit?"


"Nggak usah Bang, Ayu masih baik-baik saja" ucapnya berbanding terbalik dengan wajahnya yang menunjukan bahwa Ayu sedang kesakitan. "Abang berangkat kerja saja..!!"


"Abang nggak kerja, malas" jawab Bang Huda.


"Memangnya kenapa? Abang yang di tuakan di kompi ini. Tanpa arahan dari Abang, kompi ini tidak akan jalan" bujuk Ayu.


"Abang nggak bisa terima perlakuan mereka sama kamu, itu sama saja mereka mencoreng wajahku" kata Bang Huda.


Saat sedang berdebat, ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Samar Bang Huda melihat ada Arial di depan pintu.


"Selamat siang.. ijin Abang..!!"


"Masuk..!!"


~


"Kamu urus saja Kompi mu..!!"


"Jangan begitu Bang. Kompi ini butuh Abang" Bang Arial datang bersama Pak Zafir dan Pak Dahlan di temani dua orang perwakilan anggota kompi.


"Saya mohon maaf atas sikap istri kami. Kami benar-benar lalai mendidik istri kami" ucap sesal seorang anggota kompi.


"Saya maafkan, tapi saya sudah terlanjur kecewa. Istri saya sampai pingsan karena kelelahan, dia bawa nyawa anak saya" nada suara Bang Huda mulai meninggi.


"Siap salah Danki"


:


Para anggota bingung karena Bang Huda sangat sulit untuk di bujuk, lebih kaget lagi saat perwira itu meminta pengajuan pindah tugas yang sebenarnya mungkin sangat sulit untuk di kabulkan.


"Danki sangat marah pada kita, terutama ibu-ibu. Saya juga menyayangkan kenapa sikap ibu-ibu seperti anak kecil yang tidak bisa memilih baik dan buruknya." ucap sesal Pak Dahlan. "Untung saja istri Danki tidak keguguran karena kelelahan, kalau kemarin ada hal buruk terjadi. Kita satu kompi adalah pembunuh"


Para ibu-ibu yang ikut di ajak berunding ikut merasa bersalah.


"Pa, bukankah biasanya para suami akan mendengar apa kata istrinya. Saya lihat Pak Huda sayang sekali dengan ibu. Bagaimana kalau saya minta bantuan Bu Ayu untuk membujuk Pak Huda" kata Bu Zafir.


"Boleh itu ma, ini memang masalah pribadi.. tapi para ibu ikut ambil dalam perpecahan ini. Mungkin ada baiknya di coba begitu"


***


Bang Huda melarang Ayu datang ke kantor Kompi dan amarahnya kembali memuncak. "Siapapun anggota yang butuh bertemu kamu, biar dia yang datang kesini"

__ADS_1


"Tadi sudah datang, tapi Abang tolak. Abang bilang Ayu sedang tidur. Mereka minta bertemu di kompi pun juga Abang larang. Mereka sudah punya itikad baik lho Bang" Ayu merendahkan nada suaranya.


"Biar mereka tau rasanya di abaikan"


Ayu beralih duduk di kedua paha Bang Huda dan menatap matanya. Ia tau Bang Huda tak akan sanggup berkutik dalam posisi ini. "Ayu khan sudah baikan. Ayu sudah gagal kerja kantoran, nggak jadi tentara, masa Ayu hanya Abang suruh bawa si kuncung kemana-mana" bujuk Ayu, tangannya bermain-main di dada bidang Bang Huda dengan nakalnya.


"Bawa anak juga capek, itu lebih berharga dari apapun" jawab Bang Huda.


"Tapi Ayu nggak punya teman ngobrol"


"Abang bukan teman ngobrol?" tanya Bang Huda ketus. Sebenarnya ia tau Ayu sedang membujukku.


Ayu lelah membujuk, ia pun beranjak sampai Bang Huda menariknya kembali. "Kalau kamu sampai sakit lagi, Abang kirim granat untuk ledak kan kompi ini" ancam Bang Huda kemudian menyerusuk ke sela leher Ayu.


"Apa ini artinya boleh?" tanya Ayu memastikan.


"Tentunya dengan syarat dan ketentuan yang harus kamu taati"


"Okeey beib"


Mata Bang Huda tak lepas menatap sesuatu.


"Awas biji matanya lepas..!!" tegur Ayu, Bang Huda tersenyum penuh arti dan merebahkan Ayu perlahan.


***


"Siap ibu.. mengerti"


"Terima kasih atas kerjasamanya" ucap tegas Ayu.


~


Bang Huda tersenyum lega. Ayu bisa menempatkan diri dan membawa namanya dengan baik dalam kesatuan.


"Pantas saja Bang Anggara tidak bisa melupakan Ayu. Bang Anggara bertengkar hebat dengan Nadia"


"Bukan urusanku." kata Bang Huda.


...


Siang itu tiba-tiba pintu ruangan Bang Huda kedatangan tamu.


"Aku mau bicara..!!"


"Keluar..!! Tidak ada yang perlu kita bicarakan"


"Hamili aku..!!" pinta Nadia menghampiri Bang Huda.

__ADS_1


"Apaa?? Kamu semakin tidak waras Nadia"


"Kalau semua pendapat orang bahwa hamil akan membuatku bahagia.. sekarang cepat hamili aku..!! Apa kau tau, aku tidak bahagia dengan kehamilan ku dulu" pekik Nadia.


"Itu pilihan hidupmu. Kamu memilih pria kaya b******k itu" jawab Bang Huda.


"Tapi kita sudah sering bersama. Kamu juga sudah tau bagaimana 'aku'. Kenapa hanya karena masalah sepele kamu nggak mau menikahimu. Sedangkal itukah cintamu??"


"Sedangkal itu juga kah kesetiaan mu padaku??? Aku mati-matian kerja untuk mencari pengikat halal di jari manismu tapi kamu asyik memadu cinta dengan pria lain. Aku juga punya perasaan Nadiaaa..!!!" bentak Bang Huda.


"Aku khilaf Bang, saat itu aku benar-benar rindu kamu"


"Jangan kamu bahas semua dengan mulut manismu. Sekarang kamu istri Bang Anggara.. seharusnya kamu katakan padanya dan mintalah dia menghamili kamu.. bukan aku..!!" Bang Huda beranjak pergi karena Nadia tak keluar juga dari ruangannya.


Nadia menahannya hingga tak sengaja kakinya terjegal. Bang Huda tak seimbang dan jatuh menindih Nadia. Nadia benar-benar kesetanan, ia menarik Bang Huda agar menindihnya lebih dalam. Tepat saat itu Ayu membuka pintu ruangan Bang Huda.


Dari arah penglihatan Ayu seakan Bang Huda memeluk dan bercumbu mesra dengan Bang Huda. Sebenarnya hati Ayu sakit, terasa remuk dan terbelah.


Melihat Ayu datang, Bang Huda terkejut.. ia resah, takut Ayu akan berpikir macam-macam. Tapi ternyata Ayu dengan tenang menutup pintu kemudian duduk di sofa. Bang Huda semakin cemas sebab Ayu tidak pernah frontal di awal untuk menunjukkan perasaannya. Ayu mengambil ponsel dan bersandar tanpa ekspresi.


"Lanjutkan saja, saya tunggu. Kangen ya sama Bang Huda. Mungkin Abang capek karena kemarin sudah saya ladeni" Ayu sedikit membenahi kerudungnya agar Nadia bisa melihat betapa 'rakusnya' Bang Huda saat menginginkan dirinya. "Atau mungkin Abang mau sama perempuan seharga anak celeng? Silakan Abang habiskan"


"Ini nggak seperti yang kamu lihat dek" kata Bang Huda sampai keringat dingin, perasaannya tak enak. Masalah omongan saja Ayu sampai merokok dan mabuk. Ia sungguh berharap tak akan ada hal buruk lagi yang akan terjadi.


"Kau tau, sejak dulu suamimu ini sudah menginginkan aku"


Ayu mengangguk. "Iya Mbak benar. Dulu khan?" Mata Ayu beralih menatap Bang Huda.


Bukannya Bang Huda tidak berani untuk bersuara, tapi dirinya meminimalkan resiko jika dirinya salah bicara.


"Saya orangnya anti berebut Mbak. Kalau memang Abang memilih mbak Nadia.. saya mundur. Tapi kalau Abang memilih saya.. berarti mbak harus berhadapan dengan saya..!!" ancam Ayu. Mata itu menatap Bang Huda tapi penekanan itu mengarah pada Mbak Nadia.


"Abang pilih kamu dek" jawab Bang Huda tanpa basa-basi.


Ayu beranjak kemudian berdiri tepat di hadapan Mbak Nadia. Tangan Ayu melayang menampar pipi Mbak Nadia sekuatnya.


plaaakk..


"Pergi dan bersujud lah di kaki suamimu. Asal kau tau.. suamimu itu juga sangat menginginkan aku dulu. Jangan sampai aku melakukan hal yang sama dengan suamimu." bentak Ayu. "Oohh tapi maaf, aku ini wanita terhormat. Aku istri seorang abdi negara. Maharku sangat mahal, tidak semua pria bisa menyentuhku. Ibarat mobil.. aku ini a*****t bukannya bemo. Tidak semua pria bisa naik tubuhku, kecuali bemo.. sudah ringsek, di naiki banyak orang"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2