Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
52. Yang terpendam lama.


__ADS_3

Sepanjang jalan Ayu tak berhenti mengunyah makanan. Ia sedang kokoh dalam pendirian tak ingin sedikit pun mendapat gangguan dari Bang Huda tapi ia tidak menolak saat Bang Huda mengusap perut buncitnya.


"Yank.. cantik.. perutnya masih sakit nggak??" sapa Bang Huda, sebab permasalahan ini.. dirinya terpaksa menghubungi Bang Langsang untuk meminta saran meskipun awalnya harus mendapatkan makian telak dari kakak iparnya itu.


Kau harus tau sesuatu yang di sukai wanita. Rayu dia, tawarkan segala keindahan yang memancing dia untuk menurut sama kamu, tapi pastikan.. segalanya saling berimbang. Makanya lain kali mikir dulu. Kalau istri sudah buat satu perkara, mau nafas saja kamu pikir ulang.


Tak segera mendapat balasan dari Ayu, Bang Huda semakin sedih. Ia menyerusuk ke sela leher Ayu. "Maa.. Papa lagi sakit nih, masa nggak di manja?"


Om Edwin tak berani bersuara duduk bersama Bang Arial di bangku bagian depan. Danki mereka yang galak dan terkenal begitu menakutkan berubah drastis menjadi anak kucing.


"Maa.." rengek Bang Huda lagi.


"Minta sana sama siputmu..!!"


"Huusshh.. Kok bilangnya begitu, ada Arial sama Edwin nih dek"


"Ijin, kami nggak dengar siput komandan" kata Om Edwin.


Bang Arial sampai menepuk bahu Om Edwin karena dirinya saja tidak berani menanggapi seniornya.


"Apa kau bilang??? Berani kamu meledek saya???" bentak Bang Huda.


"Siap salah Danki.. saya tidak bermaksud untuk meledek Danki. Saya tau Danki sangat setia" jawab Om Edwin.


"Kalau kalian melihat ada sesuatu yang salah dari saya, jangan di contoh..!! Manusia tempatnya salah dan khilaf tidak terkecuali saya."


"Siap Dan"


"Siap Bang"


Bang Huda duduk dengan posisi sempurna dan tidak mengganggu Ayu lagi. Ia memejamkan matanya. Perasaannya kembali badmood tak tentu arah.


***


Seorang pria memegang tangan Ayu dan membawa Ayu ke samping gedung pertemuan kompi. "Ayu..?? kamu benar-benar Ayu????"


Ayu menatap pria tersebut sekilas kemudian mengibaskan tangan pria tersebut tapi Bang Arnold tidak melepas cengkeraman tangannya. "Lepas Bang.. sakiit..!!"


"Sama siapa kamu disini?? Bang Farid????" tanya Bang Arnold. Tapi kemudian matanya memicing melihat perut Ayu. "Kamu hamil??? Kamu sudah menikah?????" bentak Bang Arnold.


"Bukan urusan Abang..!!"


"Kamu benar-benar menyakiti Abang.. Ayu..!!! siapa suamimu?? tamtama atau Bintara?? Apa jangan-jangan nggak ada bapaknya???" bentak Bang Arnold lagi.


"Kita sudah selesai Bang"


"Sudah selesai darimana?? Kita masih ada komunikasi, yang Abang tau.. kamu masih sama Dan Ranggi. Kenapa kamu mengkhianati cinta Abang???"


"Abang bilang cinta?? Abang bertemu wanita lain di tempat tugas"


"Dan kamu juga selingkuh sama Bang Leo. Oohh.. apa kamu jadi wanita simpanan Bang Leo??? Apa salah Abang sama kamu?? Kamu keterlaluan Ayu.. akan kusebar semua foto kita termasuk ke Danyon, seluruh perwira Batalyon dan semua Abangmu..!!" ancam Bang Arnold kemudian meninggalkan Ayu seorang diri.


:

__ADS_1


Ayu berusaha menyelesaikan tugas kantor dengan baik meskipun pikirannya berantakan.


tok..tok..tok..


"Masuk..!!" jawab Ayu.


"Ijin Ibu, ini ada kiriman makan siang dari bapak" kata Bu Zafir.


"Ooh iya Bu, terima kasih banyak" Ayu tersenyum menerima kiriman makan siang dari Bang Huda meskipun hatinya sedang gundah gulana.


~


Selera makan Ayu hilang, kepalanya terasa sakit, perutnya nyeri setiap kali dirinya mengalami tekanan. Air matanya mengalir.


"Aku harus bagaimana? Bang Arnold selalu mengancam, apa kali ini ancamannya tidak main-main?" gumam Ayu.


//


"Selamat bekerja. Semoga betah disini" Bang Huda tetap menyambut datangnya junior secara profesional dan tak ingin mencampur adukkan masalah pribadi. Sejak kemarin Bang Huda baru bisa bertemu dengan Bang Arnold karena kesibukan kantor yang langsung padat.


"Siap Bang, terima kasih. Ijin Abang, istri Abang yang mana? tadi saya bertemu perwira lain beserta pendamping.. tapi saya nggak lihat istri Abang." tanya Bang Arnold.


"Ada di ruang kompi, hamil tujuh belas minggu.. mungkin ngadem di ruangan" jawab Bang Huda santai.


"Waahh.. beberapa bulan lagi mau ketemu debay ya Bang. Selamat Abang.."


"Terima kasih. Rokok dulu nih Nold" Bang Huda menyodorkan rokoknya pada Bang Arnold.


***


Ayu memegangi sisi meja. Badannya terasa semakin lemas bahkan rasanya untuk mengaduk teh saja rasanya tak sanggup. Lelah memikirkan Bang Huda dan beberapa teror dan ancaman membuat kondisinya sedikit menurun.


"Di rumah saja ya sayang, jangan ikut kegiatan..!!" kata Bang Huda yang sebenarnya sangat mencemaskan keadaan Ayu. Sudah tiga hari ini sejak kepulangan mereka dari rumah sakit, Ayu masih saja mendiamkan dirinya. Tatapan Ayu terlihat kosong dan penuh dengan tekanan. Ia hanya bisa mengecup dan mengusap dengan bebas perut Ayu saat istrinya tidur.


"Ayu mau ikut kegiatan" kata Ayu.


"Istirahat saja ya dek..!!" Bang Huda hendak mengecup kening Ayu tapi hingga hari ini Ayu tidak mau tersentuh olehnya. Ayu menghindar dan menjauhkan wajahnya.


"Kenapa? Mau ikut panggung prajurit sendirian?? Mau nyawer penyanyi??" kali ini Bang Huda baru mendengar suara Ayu meskipun harus dengan kuliah subuh penggetar jiwa.


"Ini masih siapkan panggung dek, belum acaranya. Ya sudah, berangkatlah.. tapi jangan jauh dari Abang..!! Nanti aja jemputan kantor khan?"


"Hmm.." jawab Ayu singkat.


...


Satu jam perjalanan menuju tempat persiapan acara. Bang Huda mengawasi Ayu dari jauh, cemas istrinya itu terlalu lelah dalam perjalanan apalagi sepanjang jalan banyak batu kerakal yang mungkin saja bisa mengguncang kandungan Ayu.


Ayu tau dari jauh Bang Huda terus memperhatikan dirinya. Sebenarnya Ayu tak ingin seperti ini tapi Ayu ingin Bang Huda sedikit bisa menahan diri sebagai seorang pria terutama seorang suami.


Abang akan bunuh suamimu kalau kamu tidak meninggalkan dia.


Kata-kata itu terngiang dalam ingatan Ayu. Ayu pun melangkah menjauh menuju tempat yang lebih sepi.

__ADS_1


Tak disangka ada sepasang mata mengawasinya juga.


"Apa yang kamu lakukan sampai Abang nggak bisa buka akun Abang?? Kamu sewa hacker untuk kuasai akun Abang????" tiba-tiba Bang Arnold menarik Ayu ke dalam dekapannya.


"Lepas Bang.. jangan begini.. banyak orang. Ayu nggak tau maksud Abang" Ayu memberontak dengan susah payah.


"Oohh kamu mau tempat yang sepi???" Bang Arnold memasang wajah mengancam. "Istri siapa kamu???"


Bang Arnold membelai pipi Ayu tapi Ayu menggigit tangan Bang Arnold dengan kuat.


"Aaawwhh.." refleks Bang Arnold mendorong Ayu. Ayu pun berlari menjauh.


~


bruugghh...


"Kamu darimana saja?? Abang cari kamu kemana-mana...!!" tanya Bang Huda cemas. "Kamu kenapa dek?" Bang Huda merasakan tubuh Ayu gemetar, Bang Huda segera memeluknya.


"Nggak apa-apa. Ayu pengen pulang." pinta Ayu.


"Sabar dek, satu jam lagi persiapan selesai"


"Ayu pulang sama Om Madya saja" jawab Ayu.


Melihat kondisi Ayu, akhirnya Bang Huda mengambil ponselnya. "Madya.. tolong antarkan istri saya pulang, pakai mobil saya..!!" Bang Huda mengijinkan Ayu pulang lebih dulu.


"Siap.. Ijin, Danki bagaimana?" tanya Om Madya.


"Saya naik truk saja..!!" jawab Bang Huda.


"Siap Dan"


...


Sekitar pukul lima sore, Bang Huda sampai rumah. Ia masuk rumah dan mencari Ayu. "Assalamu'alaikum dek..!!"


Tak ada salam yang ia dengar. Bang Huda pun masuk dan melihat Ayu duduk mengangkat kaki, tangan kiri memegang botol minuman sedangkan tangan kanan menghisap rokok.


"Ya Allah dek.. apa-apaan kamu ini????? Sadar dek.. lihat Abang..!!" Bang Huda menepuk pipi Ayu.


Ayu sudah mabuk berat tak bisa mengingat apapun.


"Kamu takut Arnold mau bunuh Abang??? Kamu tau.. nggak semudah itu menghabisi nyawa Huda..!!" Bang Huda begitu geram melihat keadaan Ayu. Ia mengambil ponsel di saku bajunya.


"Arnold.. cepat ke rumah saya sekarang..!!" perintah Bang Huda.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2