
"Jujur, meskipun sakit..!!"
Bang Huda mengusap kening Ayu. "Dulu iya, karena Abang sudah 'melihat' dia. Bukankah Abang harus bertanggung jawab karena sudah melihat aurat wanita. Maaf sayang" ucapnya merasa sangat bersalah.
"Ayu juga pernah seperti itu dengan Bang Anggara" jawab Ayu.
Hati Bang Huda seketika tertusuk nyeri. "Oya??" tanya Bang Huda datar.
Ayu mengangguk. "Iya, Ayu dan Bang Anggara sudah sering saling lihat dan pergi bersama"
Bang Huda membuang nafas kesal. "Kalau nggak sayang.. kamu sudah Abang pithes." gumam Bang Huda. "Terus perginya kemana?' tanya Bang Huda.
"Ke bukit cinta Bang" jawab Ayu menyebut nama sebuah bukit yang indah di kotanya dulu.
"Mau apa? disana sepi." tanya Bang Huda lagi
"Ayu sama Bang Anggara......"
"Oohh.. oke, jangan di bahas..!!" nampaknya Bang Huda sudah tau jawabannya tapi tetap ada sebersit kelegaan karena ia tau siapa yang pertama 'mendapatkan' Ayu. "Kita bukan orang suci. Ahli agama sekalipun tetap bisa berbuat salah" kata Bang Huda berusaha mengikhlaskan apapun yang terjadi. Saat ini pikirannya terfokus pada keluarga dan meninggalkan masa lalunya yang kelam.
#
Bang Anggara duduk menemani Nadia. Istrinya itu lemas tanpa daya.
"Sudah puas dengan semua tingkahmu??"
"Aku minta maaf Bang"
"Kalau tau kamu akan begini.. Abang tidak akan pernah menuruti orang tua untuk menikahimu. Lebih baik Abang menikahi Ayu yang kau anggap kekanakan tapi dia lebih dewasa daripada usiamu yang lebih tua tapi kelakuanmu kekanakan" jawab Bang Anggara.
Nadia menangis sejadi-jadinya takut menghadapi kenyataan Bang Anggara akan membuangnya.
"Bacalah.. Abang mandul. Abang yang tidak bisa membuahi kamu." Bang Anggara menyerahkan selembar surat dari Dokter. "Ambil anakmu dari panti asuhan dan besarkan anak itu..!! Abang yang akan membiayai dia"
"Jangan ceraikan aku Bang..!!"
"Percuma kita pertahankan pernikahan kita, kamu tidak bisa di bimbing.. Abang tidak sempurna jadi laki-laki. Carilah bahagiamu sendiri..!!" kata Bang Anggara.
"Aku nggak mau Bang, ampuuunn..!!!" Nadia menangis ketakutan mendengarnya.
__ADS_1
Tak lama ada Danyon dan seorang pemuka agama datang menemui Bang Anggara. Danyon membawa Seorang Kyai beserta istrinya yang biasa di panggil ibu Nyai. "Pak Kyai.. Ibu Nyai.. saya mohon pendampingan untuk masalah kedua anggota saya.. yang pertama adalah Mayor Anggara, yang kedua adalah Kapten Huda. Mereka memiliki sedikit permasalahan pribadi....."
:
"Jika ibu Nadia menyayangi Pak Anggara, mengapa ibu melakukan hal terlarang?"
"Saya tidak ada alasan lain Nyai, saya memang salah, saya khilaf" kata Nadia.
"Taukah ibu.. ibu juga menghancurkan perasaan Pak Huda. Beliau memiliki istri yang sedang hamil. Ibu juga seorang wanita.. apa ibu tidak bisa merasakan hal seperti itu?"
Nadia menangis.
~
"Saya mencoba mencari salah saya setiap waktu, sampai akhirnya saya menyadari kekurangan diri saya sebagai laki-laki. Saya merasa gagal Kyai. Saya tidak bisa punya anak, tidak bisa membahagiakan istri rasanya dunia saya runtuh." kata Bang Anggara.
"Kata cerai sudah terucap Pak, tapi tanyakan pada hati kecil bapak.. apa yang bapak inginkan dalam hidup?"
Bang Anggara terdiam sejenak. "Jika di suruh memilih, sebenarnya saya tidak pernah ingin menceraikan Nadia. Saat saya menikahinya, saya sudah berjanji di hadapan kedua orang tuanya untuk menjaga dia, membimbing dia untuk menjadi pendamping hidup saya. Mungkin ini memang ujian rumah tangga saya Kyai" jawab Bang Anggara.
"Tapi bapak tau anak yang ada dalam kandungan Bu Nadia bukan darah daging bapak?"
"Pikirkan lagi sebelum mengambil keputusan..!!" kata Pak Kyai.
#
"Saya tidak menyalahkan masa lalu suami saya. Yang saya tau saat ini suami saya adalah suami yang baik, taat beribadah, tidak pernah menyakiti fisik saya tapi saya akui, saya masih sakit hati dengan mantan suami saya" ucap jujur Ayu pada Bu Nyai.
"Apa Bu Ayu bersedia memaafkan Bu Nadia secara kekeluargaan?" tanya Bu Nyai.
"Tidak, karena dia bukan keluarga saya"
Bu Nyai bingung menghadapi Ayu, begitu pula Bang Huda, Danyon dan Pak Kyai yang mendengar ucapan Ayu dari balik pintu.
"Apa Bu Ayu percaya dengan suami ibu?"
Ayu terdiam, kemudian ia menangis. "Saya pernah memberikan hati untuk seorang pria, tetapi dia meninggalkan saya demi perempuan lain. Sampai akhirnya saya menemui kedua Abang saya untuk mengalihkan pikiran saya, tapi malah harus menikah dengan Bang Huda"
"Apa itu Pak Anggara?" tanya Bu Nyai.
__ADS_1
"Bukan Nyai"
"Apa saya boleh tau?"
"Setelah lepas dari Bang Anggara, saya tidak sendiri. Saya bertemu dengan seorang pria" jawab Ayu.
Bang Huda sangat kaget karena Ayu masih menyimpan rahasia darinya.
"Letting Abang juga. Kapten Maleo Mahasura"
Mata Bang Huda terbuka lebar. "J****k.. kapan semua ini berakhir..!!!!" giginya gemeretak menyimpan rasa tak terlukiskan. Tangannya mengepal kuat. Dalam hatinya mengumpat tapi akhirnya terlontar juga.
"Kamu ada masalah sama Leo?" tanya Danyon.
"Saya, Langsang dan Leo tidak pernah akur Bang, dia diam-diam juga pacaran sama Nadia. Buaya betul si Leo"
"Tidak akurmu karena perempuan???"
Danyon menampar pipi Bang Huda sebagai seorang Abang. "Cukup Huda, kalian jangan ribut lagi..!! Besok dia datang ke sini menempati jabatan yang baru. Dia bawa istri hamil dua bulan. Kalian jangan buat istri jadi stress." ucap Danyon yang sebenarnya sudah stress di awal.
"Apa sekarang sudah ada hati untuk Kapten Huda?" tanya Nyai.
Akhirnya semua pria terdiam dan mendengarkan baik-baik.
"Terus terang sebelumnya tidak ada rasa. Tapi saat pertama saya menyadari 'sentuhan' Abang. Saya tidak bisa melupakan Abang dan selalu terbayang segala hal tentang Abang" jawab jujur Ayu membuat Bang Huda tersipu malu seakan amarahnya pada Kapten Leo sirna tak berjejak.
"Itulah jika Allah menghendaki pernikahan yang di niatkan dengan cara yang mulia. Suami Bu Ayu adalah pria yang hebat, dia menjaga kehormatan Bu Ayu dan menempatkan kesucian Bu Ayu di atas segalanya"
"Sebab itu saya mencintainya"
Senyum malu itu berubah menjadi senyum penuh cinta hanya untuk istri tercinta.
.
.
.
.
__ADS_1