
Benar saja, kecemasan Syarin terjadi. Malam hari Bang Huda dan Bang Saka sudah menerima berita buruk tersebut.
"Kenapa sampai ada berita begini?" tanya Bang Huda geram namun sedikit merendahkan suaranya karena Ayu sudah tidur.
"Masa saya harus biarkan pria lain memegang dada Syarin??" jawab Bang Arnold tak kalah geram.
"Apaaa???" Mata Bang Huda dan Bang Saka melotot menatap adiknya.
"Adik Abang ini malah memaki saya seenak jidat sampai mengundang wartawan kampungan" Bang Arnold langsung duduk meskipun belum ada yang menyuruhnya.
"Buatkan Abang kopi...!! Kepala Abang sakit mikir kamu Syarin..!!!" gigi Bang Huda sampai bergemeretak melihat Syarin.
Syarin segera pergi ke dapur membuatkan Abangnya kopi.
:
Perbincangan masih terjadi antara Bang Huda, Bang Saka dan Bang Arnold.
"Kalau satu atau dua malam saja saya bisa jaga Syarin bergantian sama Saka. Masalahnya ini setiap hari dia terima job. Saya juga bukan bujangan lagi.. istri sedang hamil. Takut juga kalau di rumah ada apa-apa" kata Bang Huda.
"Alaah Bang, malah pening kalau begini ini. Berapa sih Syarin dapat honornya??" tanya Bang Saka.
"Ya dia khan masih artis papan penggilasan, lima puluh juta untuk satu bulan kerja. Jam kerja mulai jam sembilan pagi sampai jam satu dini hari" jawab Bang Huda. "Nggak habis pikir sama kelakuan Syarin, dia ambil keputusan tanpa ijin dulu sama kita"
"Innalilahi.. berarti Syarin sudah terima uangnya donk..!!"
"Ya sudah lah."
"Kita kembalikan saja Bang, sekalian pinalti dan lain-lain" saran Bang Saka.
"Mungkin lebih baik begitu. Jadi totalnya sekitar delapan puluh tujuh juta rupiah" jawab Bang Huda. "Nanti kubayar semua..!!"
"Syarin nggak mau Bang, sanksi sosialnya terlalu besar kalau Syarin memilih mengembalikan uang dengan cara seperti itu" Syarin pun mulai membuka suara.
"Sanksi apa? Kamu khan kembalikan uangnya lunas, plus biaya pinalti sekalian" nada suara Bang Huda sampai terdengar keras karena pembicaraan mereka.
"Sosial media tidak bisa di prediksi Bang" kata Bang Arnold ikut angkat bicara.
"Dia juga akan menyebar foto Syarin yang tidak pantas." ucap jujur Syarin.
"Apa itu??"
Syarin terdiam karena terlalu takut melihat tampang Bang Huda yang garang.
Tangan Syarin yang gemetar memberikan ponselnya pada Bang Huda.
~
"Astagfirullah hal adzim Syariiiiinn..!!!"
plaaakk..
Refleks Bang Arnold memeluk Syarin dan Bang Saka memegangi Bang Huda agar tidak menampar wajah Syarin lagi.
"Mau jadi apa kamu Syarin?? Apa Abang tidak mengajarimu menjaga diri??? Kamu belum paham juga.. Abang, Bang Saka dan Papa harus menanggung kelakuanmu. Aurat itu harga dirimu, kesucianmu.. Syarin..!!!"
"Ada apa Bang?? Aaaaarhh.. Abaaang..!!!" Ayu berteriak dari dalam kamar, mungkin istrinya kaget mendengar suara ribut.
__ADS_1
Peka dengan suara Ayu, Bang Huda terkejut dan segera berjalan cepat menuju kamar"
~
"Nggak ada apa-apa dek. Sungguh..!!"
"Kenapa Abang tega pukul perempuan??" Ayu sangat takut mendengar suara keras tadi. Ia memeluk Syarin dengan erat membuat ketiga pria di hadapannya resah dan takut.
"Iya, Abang salah. Abang minta maaf..!!" Bang Huda ingin menyentuh tangan Ayu tapi Ayu menolaknya.
"Suatu saat kalau Ayu melakukan kesalahan fatal, apa Abang juga akan memukul Ayu.. bagaimana reaksi Abang kalau ternyata Ayu dulu adalah DJ"
Tubuh Bang Huda rasanya terbanting karena terduduk kasar di sofa. Ia tak tau lagi cobaan apa yang ia hadapi saat ini, perasaannya kacau. "Berapa banyak rahasia dalam hidupmu? Berapa lama Abang harus jadi kambing congek karena tidak tau apa-apa tentangmu?? Sampai kapan kamu buat Abang seperti ini????????" kali ini Bang Huda tak lagi bisa mengendalikan emosinya padahal dirinya selalu berusaha keras untuk itu.
Bang Huda berganti menatap mata Bang Arnold.
"Demi Tuhan saya Bang, saya nggak tau banyak tentang masa lalu Ayu" jawab Bang Arnold.
"Siapa yang bisa kupercaya di dunia ini?? Istri ku pun tidak jujur"
"Apa Abang tidak punya masa lalu yang gelap??" tanya Ayu.
"Abang hanya kecewa kamu banyak tidak berterus terang sama Abang. Abang butuh tau tentang kamu"
"Ayu juga banyak melupakan masa lalu Abang. Kenapa tiba-tiba Abang jadi begini??"
Bang Huda menghindari pertengkaran dengan Ayu dan memilih merokok di teras belakang.
"Kalian semua ikut Abang biar Ayu bisa bicara berdua dengan Huda..!!" ajak Bang Saka.
Satu jam berlalu, Bang Huda masih duduk menghisap rokoknya. Sungguh dalam hatinya ketakutan jika Ayu harus kembali mengalami masalah, beban mental dan tekanan batin yang di alaminya benar-benar membuatnya tertekan.
"Astagfirullah hal adzim.. Apa Ayu akan salah mengerti maksudku?" Bang Huda membuang sisa puntung rokok lalu masuk ke dalam rumah untuk menemani Ayu.
~
"Ayuuu.. Ya Allah, kemana kamu dek??" Bang Huda mencari koper dan tas yang biasa Ayu bawa jika sedang ngambek dan teryata masih rapi di posisi nya. "Kemana nih bojo? Awas saja kalau ketemu, Abang gigit sampai kapok" Bang Huda kembali mencari Ayu ke setiap sudut rumah tapi tak ada istrinya di sana.
Bang Huda panik sampai berniat menghubungi piket ksatrian tapi tiba-tiba nama Ayu memanggil di ponselnya. Bang Huda segera mengangkatnya. "Kamu dimana dek??" tanyanya tanpa basa-basi.
"Abaaang.. Tolong..!!" teriak Ayu, terdengar kesakitan.
"Kamu kenapa?? Dimana sekarang?" Bang Huda mengobrak-abrik meja hias, mencari kunci yang sempat ia letakan sembarangan.
"Kaki Ayu tersangkut lubang pipa drainase"
"Kok bisa? Posisimu dimana dek???"
"Tersangkut Bang"
"Ya Allah Tuhan.. iya tersangkut.. Abang dengar, kamu tersangkut dimana??" nada Bang Huda mendadak meninggi.
"Di depan nasi goreng Pakde, depan Batalyon" jawab Ayu.
"Sabar.. tunggu sebentar..!! Abang kesana"
~
__ADS_1
"Maaf Pak, saya ikut panik waktu mbak Ayu jatuh, hampir masuk selokan. Untung saja ada Pak Arnold yang menahannya.
Memang saat dirinya datang, Bang Arnold sudah ada disana dan berusaha keras membantu Ayu. Tak ada sesuatu yang berlebihan kecuali murni sebuah pertolongan.
Saat ini rasa kesal pun harus Bang Huda tahan kuat, pasalnya Bang Arnold sudah menyelamatkan nyawa anak dan istrinya. Jika tidak.. mungkin Ayu sudah jatuh tertelungkup.
"Terima kasih banyak atas bantuanmu untuk istri saya ya Arnold..!!"
"Sama-sama Abang"
Bang Huda melihat Bang Arnold sedikit menghindar, ada sedikit kelegaan dalam hatinya.
~
"Aaaww sakiiitt..!!" Ayu memercing kesakitan saat Bang Huda mengurut kakinya.
"Kualat kamu, pergi nggak pamit sama Abang..!!" ekor mata Bang Huda menatap Ayu dengan tajam. "Setengah mati Abang mikir kamu, selalu ini yang terjadi.. Lama-lama Abang bisa ayan, kepala botak, darah tinggi.. stroke, di jemput sama malaikat" ucapnya mengomeli Ayu di belakang warung nasi goreng Pakde.
Ayu menangis sesenggukan. "Kenapa Ayu terus yang salah, sekarang Ayu sudah nggak begitu lagi. Apa Abang mau kalau Ayu menuduh Abang sudah pernah menikmati tubuh perempuan lain??" tanya Ayu kesal.
"Bukan itu..!!"
"Abang tau khan kalau Ayu ini anak-anak, banyak tingkah juga nakal"
"Sudah cukup. Abang juga nakal" kata Bang Huda menghentikan semuanya. "Satu yang Abang permasalahkan. Jangan menyimpan rahasia dari Abang. Suamimu ini punya harga diri. Abang wajib punya rasa cemburu untuk melindungi kamu."
"Hidup berumah tangga buat Ayu takut, Ayu seperti terkunci, segala hal jadi salah, Ayu takut punya masa lalu" Ayu mulai frustasi dengan keadaan dirinya.
Bang Huda menarik nafas panjang. Harus ia sadari, banyak tantangan dalam menikahi gadis yang usianya jauh lebih muda. Mulai bicara ngalor ngidul, mental yang belum benar-benar stabil, di tambah kehamilan pada usia muda dan kembar.. menambah lengkap permasalahan dalam rumah tangganya.
"Kamu itu kenapa? Setiap kali marah maunya pergi, cepat atau lambat pertengkaran dalam rumah tangga pasti ada.. itu memang bumbu dalam pernikahan. Abang bilang sekali lagi, Abang hanya ingin kejujuran.. tidak berniat mengekang mu, kalau kamu merasa Abang seperti itu.. Abang minta maaf. Menikah itu enak kok" Bang Huda mengarahkan wajah Ayu agar menatapnya.
"Apa enaknya? Ayu nggak nyaman hidup seperti ini? Ayu nggak suka nikah sama om-om"
Bang Huda kembali membuang nafasnya. "Benar nih?? Yakin nggak suka sama om-om??? Bukannya selama ini mantanmu om-om semua. Lah itu perutmu juga bengkak gara-gara om-om.. terus om-om kurang ajar mana yang berani buat kamu hamil??"
"Ya Om Huda. Ayu paling benci"
"Benar-benar cinta??" Bang Huda melirik Ayu dari bawah membuat pipi Ayu merah tersipu malu.
.
.
.
.
No complain masalah sifat, cerita belum selesai.
.
.
.
.
__ADS_1