
"Ijin Dan, Bang Giras nggak ada" bisik Om Edwin yang kini sudah berpangkat Pratu.
"Laahh.. kok bisa??? Kemana dia??" Bang Huda ikut berbisik karena takut Ayu akan mendengarnya. "Cepat cari.. kalau istri saya tau, Batalyon ini bisa meledak"
"Siap Dan, tapi saya mau mengajukan nikah, tolong di loloskan ya Dan..!!" pinta Om Edwin.
"Cari dulu Win..!!!!!!!"
"Tapi Dan..!!!"
"Cariiiii..!!" pekik Bang Huda dengan kepala mau meledak rasanya karena ada tamu penting bertandang ke Batalyon.
:
Sampai satu jam mencari Giras tapi para anggota tetap tidak bisa menemukan putra dari Wadanyon.
Para anggota sangat takut saat melihat potongan biskuit tercecer dan berhenti disekitar bendungan buatan yang lumayan dalam di belakang Batalyon.
"Astaga.. m****s kita kalau anak Wadan hanyut di bendungan." kata seorang anggota.
"Turun..!!" perintah seorang Serma ikut panik.
...
"Ma.. bawakan ini" pinta Giras dengan santainya.
"Hwaaaa.. Ya Tuhan.." secepatnya Ayu melempar ular belang ke udara hingga rombongan istri anggota penilik berlarian dan ikut kocar-kacir. "Dadaku sakit sekali" Ayu sangat kaget, denyut jantungnya pun berdegup tak karuan. Sekuatnya Ayu bertahan tapi memang dirinya tak kuat lagi.
"Astagfirullah hal adzim.." Bang Huda secepatnya berlari menghampiri Ayu dan istrinya itu tumbang dengan sempurna. "Dek.. sayang.. bangun dek..!!" Bang Huda berusaha menyadarkan Ayu tapi Ayu tak kunjung sadar, wajahnya memucat.
...
Wajah Bang Huda sudah tegang dan panik sampai akhirnya jemari Ayu bergerak pelan.
"Alhamdulillah.." ibu pengawas ikut lega saat Ayu membuka matanya. "Nanti jangan di marahi ya Om anaknya, dia itu anak pintar"
Bang Saka mengalihkan keponakannya agar tidak tersambar amarah sang Papa. "Diam, menurut dan berdiri di belakang Ayah..!!"
"Sini kamu..!!!" perintah Bang Huda melihat Giras. Suaranya datar dan tidak banyak tenaga tapi penuh dengan aura magis.
"Sudah Bang, Giras sudah takut" kata Bang Saka akhirnya menggendong dan melindungi keponakannya.
"Ayu sedang hamil lima bulan, dengan seenaknya Giras titip ular. Kalau ada apa-apa sama adiknya gimana???? Aku nggak sanggup bayangin Ka" ucap Bang Huda penuh emosi.
"Apa ada gunanya Abang marah sama bocah umur lima tahun. Ular yang bahaya saja dia tidak paham" jawab Bang Huda.
__ADS_1
"Dengar kamu Giras???? Kemarin diam-diam kamu lempar petasan di barak om bujangan. Hari ini kamu buat lima belas om-om basah kuyup masuk ke bendungan karena menyangka kamu tenggelam dan akhirnya kamu datang buat Mama kaget karena mau titip ular. Besok apalagi Giraaasss??????" bentak Bang Huda.
"Ampun Pa" wajah Giras terlihat sangat polos penuh dengan penyesalan.
kreeeekk.
"Aaaww" komandan terpekik saat berdiri dari posisi duduknya tapi celana lorengnya harus sobek karena menempel di kursi.
Bang Huda menepuk dahinya. "Astagfirullah.. tamat lah aku"
"Wadan mana????" tanya komandan.
"Siap salah Dan..!!!" Bang Huda segera berlari menghampiri komandan karena harus bertanggung jawab atas ulah putranya.
~
"Hahahaha.. nggak apa-apa. Anak saya juga nakal. Pasti dulu papanya juga begini" ledek komandan tertawa menanggapi ulah usil putra Wadanyon.
"Siap.."
"Jangan di marahi. Kalau kamu marahi.. saya kasih kamu SP" ancam komandan lain.
Total ada tiga komandan besar yang celana lorengnya harus sobek karena ulah Giras.
"Siap.. terima kasih banyak Komandan. Sekali lagi saya pribadi memohon maaf atas keusilan anak ke tiga saya" ucap Bang Huda.
"Siap..!!"
...
Bang Huda sampai harus menyiapkan oleh-oleh khusus untuk ketiga komandan karena Giras sudah merusak baju loreng komandan karena sudah meratakan lem besi di kursi para petinggi.
"Sekali lagi kamu bertingkah seperti ini.. Papa kirim kamu ikut Opa Ranggi..!!!!" ancam Bang Huda memperingatkan putranya.
"Iya Pa" jawab Giras menunduk tapi menyimpan tawa usilnya karena Papanya tadi sangat panik saat bertemu ketiga komandan.
"Marahnya nanti dulu Bang, tolong pijat pinggang Ayu, ngilu sekali nih Bang" punya Ayu.
Tanpa berpikir panjang kali lebar, Bang Huda segera menghampiri Ayu dan memijat punggung istrinya.
"Kamu jangan buat ulah to le. Kasihan Papa, bagaimana kalau tadi Papa dimarahi komandan?" tegur Ayu.
Seketika wajah Giras mendung. Ia memeluk Mamanya. "Maaf Ma, Giras salah" ucapnya penuh sesal.
"Boleh Mama tau kenapa Giras nggak nurut sama Papa?" tanya Ayu dengan lembut sambil memeluk putranya juga.
__ADS_1
"Karena Papa jahat sekali sama Mama" jawab Giras.
"Kapan Papa jahat sama Mama???" Bang Huda sudah mulai emosi lagi tapi Ayu mencegahnya.
"Coba ceritakan sama Mama..!! Papa nggak pernah jahat sama Mama lho dek" kata Ayu.
"Malam-malam.. Mama sudah bilang sakit sama Papa tapi Papa nggak dengar kata Mama, Papa malah naik Mama sambil bilang 'sebentar lagi' " jawab Giras dengan lantang sampai mata Bang Huda melotot mendengarnya sampai melirik Ayu dengan tatapan cemas.
"Ehmm.. adek lihat apa aja" setenang mungkin Ayu menguak informasi dari putranya.
"Nggak lihat, kamar Mama Papa gelap.. hanya terlihat Papa naik Mama."
Bang Huda yang mendengarnya sampai menyangga badannya memegang sandaran sofa, hatinya tidak tenang karena takut Giras melihat hal yang tidak seharusnya di lihat.
"Ada lagi??"
"Giras nggak suka, malam-malam Papa suka ajak Mama keluar. Masa Giras nggak di ajak? Sebenarnya Papa sama Mama keluar kemana?" tanya Giras bernada jengkel khas bocah.
"Maksudnya????" Ayu sedikit janggal dengan penjelasan Giras putranya.
" 'Ayo Ma, keluar sama Papa..!!' Gitu kata Papa khan?"
"Lailaha Illallah.. kepalaku sakit dek" Bang Huda terduduk lemas memegang dadanya yang terasa nyeri, kepalanya seketika berdenyut pening memikirkan putranya.
"Paaaa.." Ayu sampai kaget karena Bang Huda lemas duduk di sofa.
"Sayang, kamu main sama Abang Galar ya..!! Papa sakit le" bujuk Ayu.
"Iya Ma" Giras pun keluar.
"Ini gara-gara suaramu yang keenakan dek, pasti mengundang Giras untuk ngintip" kata Bang Huda.
"Abang lah yang salah, kenapa nggak kunci pintu dulu??" tegur Ayu.
"Aduuhh Tuhan, dadaku sakit sekali. Mudah-mudahan dia nggak lihat apa-apa lagi"
"Makanya, lihat sekeliling dulu Bang. Jangan asal tancap gas aja" kata Ayu.
"Gimana nggak tancap gas, kamu saja goda Abang begitu.. mana sempat tutup pintu, anak buah sudah berontak minta di lepas"
.
.
.
__ADS_1
.