
"Kamu yang kendarai mobilnya, saya temani Danki mu..!!" perintah Bang Leo.
Bang Huda sampai harus di papah Bang Leo dan Om Edwin saking syoknya mendengar kabar kecelakaan yang menimpa Ayu.
:
"Alam.. bagaimana keadaan istriku???" Bang Huda langsung menanyai dokter Alamsyah saat baru keluar dari ruang tindakan.
"Benturan cukup keras, Ayu pendarahan. jawab Bang Alamsyah tanpa ekspresi.
"Bagaimana kedua anak ku??"
"Sedang dalam observasi, kamu tau.. benturan pasti sangat berbahaya. Indikasi keguguran." kata dokter Alam.
Bang Huda sangat syok bahkan untuk berdiri pun sangat membutuhkan kesadaran.
Tak lama brankar Ayu keluar, Bang Huda menghambur memeluk Ayu, tangisnya pecah. Sungguh ia merasa sangat bersalah, batinnya tertekan tak sanggup merasakan jika terjadi sesuatu pada kandungan istrinya.
"Sebenarnya ada apa sih sampai Ayu begini??" tanya Bang Leo ikut prihatin tapi sesaat kemudian rasa cemasnya sirna saat Ayu membuka mata dan menjulurkan lidah padanya. Om Edwin pun melihatnya tapi ia berpura-pura buta saja jika berurusan dengan Danki.
"Aku yang salah.. aku yang buat masalah ini terjadi" air mata Bang Huda tak berhenti mengalir.
Bang Leo menoleh melihat dokter Alam yang menahan senyumnya. "Sepertinya aku butuh bicara denganmu dokter Alamsyah" kata Bang Leo.
"Iya nanti, sekarang pasienku masih gawat."
...
Bang Huda begitu hancur, tubuhnya kembali drop. Air matanya tak bisa berhenti.
"Ayu mau pulang ke Papa. Silakan Abang pergi sama perempuan itu" ucap Ayu lemah.
"Sumpah demi Allah, Abang nggak kemana-mana. Abang hanya nongkrong di pos main catur. Perempuan mana yang kamu maksud?"
"Yang tadi Abang bonceng. Abang tau.. Ayu sama sekali nggak pernah naik motor itu, kenapa Abang berani membonceng wanita lain???" kata Ayu semakin melemahkan suaranya.
"Ya Allah, itu khan Syahila istrinya Saka. Tadi mau menemui kamu tapi Abang larang, Abang antar dia pulang lagi"
"Tetap itu perempuan lain" jawab Ayu.
Ayu kembali memercing seakan menahan sakit membuat Bang Huda panik. "Ayu mau minum_ Bang..!!" ucapnya terbata.
Bang Huda menuang air mineral di gelas tapi sesaat kemudian Ayu menjerit dan Bang Huda melihat tumpahan darah di ranjang.
__ADS_1
"Astagfirullah hal adzim.." Bang Huda syok memejamkan matanya, ia menggigit bibirnya dengan kuat, tangannya gemetar sampai, jantungnya berdenyut kencang, gelas di tangannya jatuh dan pecah. "Ya Allah Ya Rabbi.." Bang Huda menangis kencang memeluk Ayu.
"Ayu keguguran Bang" Ayu ikut menangis kencang.
Gemuruh di dada Bang Huda berdenyut kencang. "Aku mohon ampun Ya Allah, tolong kembalikan anak-anakku" Bang Huda berteriak histeris. Begitu hebatnya tekanan batin yang di terimanya, Bang Huda sampai terduduk lemas di kursi. "Tolong Alam.. aku mau anakku, aku nggak kuat Laam...!!" Bang Huda merosot antara sadar dan tidak di kursinya.
~
"Yu, apa kamu nggak keterlaluan memberi pelajaran sama Huda?" tanya Bang Leo.
"Iya Yu, lihat Huda sampai stress berat mikir kamu" kata dokter Alamsyah.
"Cuma gara-gara penyu buluk lagi lapar saja.. Bang Huda mau cari siput yang lain. Apa Bang Huda nggak sadar sudah bikin cangkang satu ini rusak gara-gara ulahnya, baru satu kali ini Ayu nolak karena benar-benar capek. Seenaknya saja Bang Huda mau cari siput yang lain. Baru di bohongi keguguran saja sudah lemas begitu, bagaimana kalau anaknya benar-benar hilang..!!!" kata Ayu.
"Oohh begitu.. memang penyu buluk kurang ajar, celamitan" kata Bang Leo.
Bang Huda masih menangis memegangi tangan Ayu. Jarum infus kembali menancap di punggung tangannya.
"Ngomong-ngomong.. itu infus apa Yu?" tanya Bang Leo.
"Vitamin saja Bang, sepertinya Ayu kecapekan."
"Kalau darah tadi??"
***
Sampai tengah malam Ayu masih mendiamkan Bang Huda. Tak ada kata dan sapa darinya.
"Dek.. kepala Abang pusing"
"Yank.. tangan Abang di gigit nyamuk" kata Bang Huda mencoba membuat komunikasi dengan Ayu.
"Sa_yang.. si kecil nendang lagi nggak?"
Ayu memiringkan badannya memunggungi Bang Huda.
Bang Huda menghela nafas lalu merebahkan kepalanya di ranjang. Tidak mendengar suara Ayu juga merupakan hal pahit dalam hidupnya, ia berusaha memejamkan mata hingga tertidur.
...
Tanpa di duga pagi ini Papa Juan datang bagian wilayah Ambon untuk menjenguk menantunya. Kabar Ayu terpeleset sudah terdengar hingga telinga beliau karena salah ucap dari Om Edwin.
Semalam saat Papa Juan menghubungi Bang Huda, Om Edwin lah yang menjawab panggilan telepon tersebut.
__ADS_1
"Bisa-bisanya kamu mencari kesenangan dengan perempuan lain sedangkan istrimu sedang hamil. Dimana akal pikirmu Hudaaaa?????"
Entah berapa kali sabuk Papa Juan melayang dan mendarat di punggung Bang Huda. Kali ini Bang Huda benar merasakan remuk yang sesungguhnya tapi semua itu ia terima dengan lapang dada karena ia memang menyadari salahnya.
"Papa.. Ayu mau jelaskan..!!"
~
"Tetap kamu salah Huda..!! Andai saja mental Ayu tidak kuat, atau hanya setingkat Mama Sasti.. kamu pasti sudah benar-benar kehilangan anakmu, bahkan Ayu juga bisa ikut hilang..!! Benar-benar bodoh kamu Huda..!!!! Hanya karena memikirkan hal 'itu' saja sudah buat kamu sinting" tegar keras Papa Juan.
"Apa selama ini Abang kasar sama kamu ndhuk?" tanya Mama Sasti.
"Nggak ma"
"Kalau kasar mungkin nggak Ma, Papa juga nggak pernah ajarkan anak-anak Papa untuk kurang ajar sama perempuan. Papa tau masalahnya Huda, namanya laki-laki kadang ya begitu itu lah kalau masalah ranjang, kurang kontrol aja dia Ma" kata Papa Juan mengerti perasaan putranya.
"Makanya Huda, kencangkan ibadahmu itu.. Jangan hanya sel*******an aja yang ada di kepalamu." tegur keras Papa Juan. Begini ini kalau Papa Ranggi mu tau, atau Abang-abangnya Ayu dengar, habislah kamu"
"Papa.. please Pa, aku sudah nggak kuat mikir..!!" ucap jujur Bang Huda. "Aku memang salah, sebagai seorang suami sudah berucap hal tidak pantas. Ayu mendiamkanku dan menghukumku seperti ini benar-benar buat hatiku sakit Pa"
"Ayu mau baikan sama Abang?" Mama Sasti membelai rambut Ayu sembari memeluk menantunya itu.
"Nggak mau, Abang jahat"
"Ya sudah kalau nggak mau maafin Abang, nggak apa-apa kok. Memang Abang salah. Mama minta maaf ya, anak Mama mengecewakan" pelan-pelan Mama Sasti membujuk Ayu dengan caranya. "Tapi Ayu tau khan kalau Abang sayang sekali sama Ayu?"
"Tau ma."
"Hudaa.. Sepulangnya dari sini. Kamu harus bisa menyelesaikan masalah dengan 'kepala dingin' "
"Ya Pa" jawab Bang Huda paham maksud Papanya.
Bang Huda mencoba mendekati Ayu. "Pulang sama Abang ya dek..!!" ajak Bang Huda.
"Nggak" tolak Ayu.
"Kapok, rasakan..!! Kalau sudah begini kamu sendiri yang repot" Papa Juan ikut pusing memikirkan Bang Huda.
.
.
.
__ADS_1
.