Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
43. Perhatian.


__ADS_3

Dengan di antar beberapa warga, Bang Huda segera membawa Ayu ke rumah sakit, tak lupa ia menghubungi Bang Leo.


"Orang tadi memang pemabuk Pak, sering ada di jalan itu"


"Itu bahaya sekali Pak, tiba-tiba menyerang orang. Besok saya perkarakan dia, istri saya sedang hamil. Saya rasa laki-laki itu juga nggak wajar Bang, seperti minum obat" jawab Bang Huda tak sanggup menyembunyikan perasaan.


"Benar Pak, biar ada efek jera"


...


Bang Huda berdiri di depan pintu ruang tindakan. Tak lama Bang Leo menghampiri dan memeluk littingnya itu, ia tau jika Huda sedang marah pasti emosinya itu akan sulit di kendalikan.


"Tenang dulu, Ayu pasti baik-baik saja."


"Maaf aku mengganggu acaramu" suara Bang Huda sudah terdengar parau.


"Apa sih kamu ini. Nggak apa-apa. Besok aku urus keributan ini di kantor polisi." jawab Bang Leo.


Tak lama seorang dokter wanita keluar dari ruang tindakan. "Suami ibu Ayu..!!"


"Saya suaminya dok..!! Bagaimana keadaan istri saya????"


"Kita bicara di ruangan saya..!!" ajak dokter tersebut.


~


"Alhamdulillah.." rasa lemas Bang huda sedikit terobati meskipun ada rasa jengkel luar biasa menghadapi ulah usil sang istri.


"Jangan di bawa emosi pak. Semua ini memang musibah tak terduga di balik insiden kecil dari istri bapak" kata dokter tersebut. "Lain kali mungkin sedikit di kurangi aktivitas ranjangnya ya Pak, kelihatannya si baby sudah sedikit lelah"


Bang Huda tersenyum tipis mendengarnya. "Baik dok.. terima kasih banyak"


"Sama-sama Pak" jawab dokter tersebut.


~


Bang Huda masuk ke dalam ruang observasi. Sudah ada Bang Leo dan Geya menemani Ayu di sana. Wajah Bang Huda terlihat datar namun kemudian ia berlari menubruk memeluk Ayu dengan erat.


"Sehari saja, tolong sehari saja kamu jangan buat Abang jantungan. Abang nggak selalu kuat menerima tingkahmu itu dek" Bang Huda sampai menangis sesenggukan memikirkan Ayu.


Bang Leo menarik kursi di samping ranjang Ayu agar littingnya itu bisa duduk.


"Sudah jangan nangis lagi.. memangnya Ayu kenapa?" tanya Bang Leo.

__ADS_1


Ayu pun tak bisa menyembunyikan wajah bersalahnya. Akhirnya ia pun mengakui. "Ayu membeli kecap di campur iodine lalu menyimpannya di tengah paha. Waktu ada insiden tadi, kecapnya tidak sengaja tergencet.. padahal belum waktunya eksekusi"


"Luar biasa.. kamu benar-benar pengen lihat Abang mati berdiri????" suara Bang Huda sampai meninggi. "Kamu itu bisa nggak sih di sayang?? Jangan main-main soal anak..!!!!! Abang bukannya hampir mati lihat berdarah-darah.. Abang memang mau mati deekk..!!"


"Abang jangan marah, Ayu khan hanya bercanda"


"Bercanda apa seperti itu??? Kamu nggak mikir perasaan Abang.. Abang merasa nggak berguna jadi suamimu Ayuuu...!!" bentakan Bang Huda begitu keras.


Ayu pun katakutan setengah mati. "Aaghhh.." Ayu meremas perutnya kuat dan lagi-lagi Bang Huda kembali panik. "Nggak kuat sakitnya Bang. Dedek nggak suka ada suara bentakan..!!" Ayu mengerang meremas tangan Bang Huda.


Refleks Bang Huda memeluk Ayu. "Maaf.. maaf sayang, Abang nggak akan marah lagi. Maaf ya..!!" tak menuruti emosinya, Bang Huda pun mengalah. Ia mengusap perut Ayu, air matanya kembali menetes. "Maaf ya sayang, Papa jahat ya..!!"


tok.. tok.. tok..


"Permisi Pak" seorang perawat masuk ruang rawat Ayu.


"Iya mbak"


"Saya mau mengantar foto hasil USG dari dokter. Janin kembar ya Pak" kata perawat tersebut.


Bang Huda terbengong menerima foto hasil USG tersebut.


"USG 4D, sudah terlihat ya Pak.. kembar janin laki-laki dan perempuan"


***


Malam itu juga Bang Huda dan Ayu kembali ke hotel. Rona bahagia terpancar dari wajah tampan Bang Huda. Ia terus mengarahkan tangannya ke belakang dan mengusap lembut perut Ayu. Di lajukan motornya amat sangat pelan.


Tadinya Bang Leo menawarkan mobil sewaan nya agar di pakai Bang Huda, tapi ia sendiri menyadari rasanya membawa bumil, jadi ia memutuskan untuk membawa motor pelan-pelan dan besok akan menggantinya dengan mobil.


"Lambat sekali Bang, Ayu pegal nih..!!" protes Ayu.


"Kalau terlalu kencang kasihan di dedek donk..!!"


"Tapi Ayu nggak sakit parah Bang"


"Ya memang nggak, tapi mulai Abang tau jadi ada dua Unyil di perutmu.. kamu dalam pengawasan Abang secara ketat dan tidak boleh ada tawar menawar. Segala hal.. mau sekecil apapun tidak boleh lagi memutuskan sendiri dan harus dalam persetujuan Abang kecuali Abang mengijinkan di awal. Mengerti kamu???" ucap tegas Bang Huda.


"Iya Bang, Ayu mengerti" jawab Ayu tak ingin lagi berdebat dengan suaminya yang tidak pernah bisa di bantah.


Tak lama sampailah mereka berdua di tempat persewaan motor, Bang Huda segera mengembalikan motor tersebut lalu menggandeng tangan Ayu kembali ke Hotel.


:

__ADS_1


Tangan cekatan Bang Huda segera menyiapkan air hangat untuk Ayu mandi. Kemudian terdengar menghubungi pihak restoran hotel.


Ayu melihat segala perhatian Bang Huda untuknya, ada rasa syukur dalam benaknya mendapatkan suami seperti Bang Huda meskipun terkadang ada sisi kasar dari sang suami.


"Ayu nggak mau mandi"


"Kalau nggak mandi badanmu lengket. Tidurmu nggak nyenyak. Mandi sebentar meskipun airnya hanya nyenggol badan" kata Bang Huda.


:


Benar saja, berendam di air hangat membuatnya sangat nyaman. Rasa lelah mulai berkurang dan hanya tersisa rasa kantuk tak tertahan. Ayu peduli apa yang di lakukan Bang Huda di ruang kamar, yang pasti dirinya sudah tenang.


***


Ayu memakai kimono handuk dan u***rw**r yang sudah di siapkan Bang Huda kemudian duduk di meja rias karena Bang Huda mengeringkan rambutnya.


Setelah selesai, Bang Huda menyuapi Ayu makan di pukul 00.23 WITA. Mata Ayu berkaca-kaca merasakan dirinya di perlakukan layaknya seorang ratu.


"Kenapa nangis?? Ayamnya pedas??" tanya Bang Huda.


Ayu menggeleng. "Nggak Bang"


"Terus kenapa? Perutnya sakit lagi??" Bang Huda meletakan piringnya karena panik, secepatnya ia berjongkok di depan Ayu dan memeriksa perutnya.


Seketika Ayu memeluk Bang Huda, perasaannya luluh, tangisnya pecah dan kencang.


Bang Huda semakin bingung dan panik takut Ayu kesakitan atau terjadi sesuatu. Naluri sigapnya muncul, ia sedikit mengangkat Ayu dan menata posisi tidur Ayu. "Kenapa ini?? Ke rumah sakit ya??"


Mata Ayu terus memandangi wajah Bang Huda.


Ya ampun, ternyata Abang ganteng banget sih.. Ayu bahagia sekali Abang perhatian sama Ayu tapi.. kalau sudah begini.. Ayu gemas.


"Maaf ya Bang, lain kali pasukan kecil Abang boleh khan bercanda sama Papanya?" tanya Ayu tak melepas pandangan dari Bang Huda.


"Ya boleh donk. Mau bercanda macam apa sih, sama Mamanya sekalian Papa ladeni" jawab Bang Huda.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2