
Bang Huda menyantap dengan lahap nasi, tahu goreng dan kecap pesanannya sedangkan Ayu makan nasi pepes ikan dan kedua ajudan Bang Huda menyantap nasi sop ikan.
"Abang mau Ayu suapin pepes?" tanya Ayu.
"Nggak, kamu habiskan saja..!! Abang nggak selera yang lain selain tahu ini" tolak Bang Huda.
"Ijin.. Danki sakit atau tidak suka ikan?" tanya Om Madya.
"Saya suka. Nggak ada dalam kamus saya nolak makanan tapi sejak istri saya hamil.. saya suka mual. Mungkin anak saya dendam sama saya. Dapatnya anak saya ini khan penuh cerita" jawab Bang Huda.
"Siap..!!"
"Ijin Dan.. rencana saya mau pengajuan nikah" kata Om Edwin tiba-tiba menyambar melontarkan niat.
"Kamu bukannya masih Prada Win??" tanya Bang Huda lumayan kaget.
"Siap..!!"
"Belum boleh Win. Tunggu Pratu minimal satu tahun lah, kecuali urgent dan butuh penanganan khusus."
"Ijin.. masih saya rencanakan Dan karena pasangan juga belum ada" jawab Om Edwin.
"Kamu ini semprul tenan.. Prada minta nikah itu kemungkinan nya ada dua. Kalau nggak MBA pasti kamu mimpi"
"Ijin.. MBA itu apa Dan?"
"Kamu nggak tau istilah lama?? Marriage By Accident. Paham nggak??"
"Siap tidak"
"Astagfirullah.. Tanam saham dulu, meteng dhisik le..!!!!" suara Bang Huda mulai meninggi.
"Oohh.. Siap.. seperti Danki?" tanya Om Edwin.
"Matamu.. Istri saya ini hamil sudah saya nikahi. Asal saja kamu bicara. Kamu pikir saya laki macam apa Win??" lama-lama Bang Huda emosi juga menanggapi Om Edwin yang menurutnya sangat menyebalkan.
"Siap salah Danki..!!!!"
...
Malam itu juga Bang Huda tiba di asrama. Tubuhnya lumayan lelah tapi dirinya harus menyiapkan seragam dan perlengkapan untuk kegiatan gladi besok begitu pula dengan Ayu.
"Besok kamu nggak usah hadir gladi. Lusa saja..!!" kata Bang Huda.
"Nggak enak lah Bang, lebih baik Ayu hadir disana meskipun Ayu nggak ikut bnyak kegiatan."
"Nggak mungkin dek. Sekali hadir kamu pasti langsung ikut kegiatan. Acaranya padat sekali" Bang Huda begitu mencemaskan keadaan Ayu.
"Ayu janji hanya sebentar saja" jawab Ayu.
Bang Huda diam tak menanggapi ucapan Ayu lagi. Dirinya tidak ingin terpancing emosi dengan segala apapun ucap dan sikap Ayu. "Cepat tidur.. si kecil sudah terlalu capek..!!"
***
__ADS_1
"Abang berangkat ya.. baik-baik kamu tidur di rumah. Jaga putri dan pangeran Abang..!!" pamit Bang Huda sebelum adzan subuh tiba.
Resiko seorang perwira terkadang harus berangkat lebih awal atau pulang paling akhir karena menyiapkan seluruh anggota.
"Nanti Ayu nyusul ya Bang..!!"
Bang Huda hanya membuang nafas panjang karena mencemaskan Ayu.
...
Para ibu pengurus ranting dan para istri yang lain sudah melaksanakan gladi kotor untuk menyambut ibu Panglima.
Pandangan mata Bang Huda tak bisa lepas dari Ayu begitu saja. Tubuhnya saja masih terasa lelah, apalagi Ayu seorang wanita dan sedang mengandung buah hatinya.
"Geya dan Ayu ikut kegiatan. Mereka tahan capek nggak?" tanya Bang Leo.
"Ya aku juga berpikir begitu. Kau tau namanya bulan madu tidak mungkin hanya saling lirik, aku menggempur Ayu habis-habisan" jawab Bang Huda.
"Ya sama, tapi aku masih jaga kelakuan karena Geya gampang capek. Daripada aku tanggung resiko..!!" Bang Leo tak kalah mencemaskan Geya.
"Bismillah saja, mudah-mudahan si kecil aman dalam kandungan Mamanya."
...
Pukul satu siang.
Ayu dan Geya sudah duduk bersandar di ruang ibu pengurus ranting, tidak ada yang berani menegur dua bumil yang sedang mengistirahatkan tubuh terutama Mbak Nadia yang juga tengah hamil dan akhirnya ikut duduk bersama mereka.
"Badanku capek sekali" kata Mbak Nadia.
"Ngomong-ngomong mana Syahila?" tanya Mbak Nadia.
"Tadi di toilet sama Bang Saka. Syahila masih mabuk" jawab Ayu.
"Duuuhh.. Bang Leo mana ya?" Geya mengedarkan pandangan.
"Kenapa Gey??"
"Geya pengen makan telur gulung" jawab Geya.
Mbak Nadia tertawa. "Iya ya, sudah jam makan siang sudah tiba.. kita belum makan. Anak kita pasti lapar"
Tak lama Bang Anggara datang. "Lho.. makan siangnya belum sampai kesini ya? Mana juga nih bapak-bapak??" Bang Anggara tidak melihat box makan siang sampai ke ruang istri pengurus ranting, beliau segera mengambil ponselnya.
"Edwin.. kenapa makan siang untuk ibu-ibu pengurus ranting belum datang??" tegur Bang Anggara.
"Ijin WaDan.. untuk ibu perwira nya di pesankan juga??" tanya Om Edwin.
"Astaga Edwin.. Kamu nggak dengar perintah Danki mu tadi?? Uang dukungan operasional makan siang istri pengurus ranting di alokasikan saja semua untuk anggota. Kamu tau khan Danki mu tidak suka ada hal yang tidak transparan dan perbedaan."
"Siap Dan"
"Danki C menyokong uang pribadinya untuk makan siang pengurus, terutama yang hamil. Naah itu uangnya kemana sampai kamu nggak beli makan siang???" tanya Bang Anggara jengkel. "Jangan sampai Danki mu tau istrinya belum makan, bisa habis di gulung kamu Win..!!!!"
__ADS_1
"Siap salah, uangnya masuk kas kompi karena saya pikir sisa Dan" jawab jujur Om Edwin.
"Lahdalaah Edwiiin.. cepat kamu ambil uangnya dan berangkat beli makan siang..!!!" perintah Bang Anggara.
"Siap Dan, ijin.. tadi jumlah sisa uangnya berapa Dan?"
"Mana saya tau Edwin..!! kamu yang pegang uangnya" teriak Bang Anggara kemudian mematikan panggilan teleponnya.
"Apa lebih baik kita semua ke kantin saja Pa?" tanya Mbak Nadia.
"Jangan Ma, Huda masih sibuk di sekitar sini. Kalau dia lihat ada ibu-ibu di kantin.. Huda bisa curiga kalau ibu-ibu ini belum makan" jawab Bang Anggara.
Mbak Nadia terdiam tak lagi menjawab, ia sudah kapok berurusan dengan Bang Huda. Jika Danki C sudah marah, maka hancurlah segalanya.
"Sudah nggak apa-apa Bang, kita tunggu Om Edwin saja. Pasti nggak akan lama lagi datang. Abang nggak akan marah lama." kata Ayu.
:
Bang Huda melepas topi rimba dan mengusap wajahnya menuju ruangan ibu pengurus ranting di Batalyon. Satu persatu di lihatnya para istri tak banyak bergerak.
"Kenapa nih?? Apa belum pada makan??" tanya Bang Huda.
Tak ada yang berani menjawab kecuali Ayu istri Danki C.
"Mungkin macet Bang, belum datang" jawab Ayu.
"Mana ada macet disini. Pasti Edwin nggak dengar perintah"
Tak lama Om Edwin datang dengan mobil dan tergesa-gesa menurunkan berkantong-kantong makan siang untuk ibu pengurus ranting.
"Wassalam kau Win" gumam Bang Anggara yang masih berdiri di ruangan ibu pengurus ranting.
"Dari mana saja kamu. Seluruh anggota dan para istri sudah makan, kenapa makan siang ibu pengurus baru datang???" tegur Bang Huda membuat para istri ngeri.
"Siap salah Danki" Om Edwin berdiri menghadap Bang Huda usai menurunkan makan siang.
"Push up kamu.. 20 kali..!! Jam 14.08 makanan baru datang. Ini kalau yang hamil pada pingsan bagaimana?? Kamu mau tanggung jawab???"
Om Edwin segera mengambil posisi dan melaksanakan perintah Bang Huda.
"Setelah apel kamu ke ruangan saya..!!" bentak Bang Huda.
"Abaaang.. jangan urus yang itu, perut Ayu kram Bang"
Seketika Bang Huda menoleh, wajah garangnya berubah menjadi kalem. "Aduuhh maaf ya sayang" Bang Huda menghampiri Ayu dan mencium perut istrinya itu. Ia paham Ayu tidak bisa mendengar suaranya yang keras. "Maaf dek, sakit ya? Abang nggak teriak lagi"
Ayu mengangguk manja. "Mau di suapin Abang..!!"
"Iya, Abang suapin." Bang Huda langsung sigap membongkar kantong berisi box makan siang yang telat datang untuk menyuapi istrinya makan.
.
.
__ADS_1
.
.