
"Jangan tarik tanganku.. aku hanya ingin menyadarkanmu..!!" kata Nadia sembari memutar pergelangan tangannya untuk lepas dari Bang Huda. Suami Ayu itu melayangkan tangannya ke wajah Nadia tapi Bang Anggara menahannya hingga tamparan yang amat sangat keras itu mendarat di wajahnya.
Plaaakk..
Agaknya saat ini Bang Huda sudah tak sanggup membendung amarah nya pada Nadia. Bang Huda pun tak peduli tamparannya sudah menghantam seniornya. "Kau bawa istrimu pergi atau aku akan menindak dengan cara yang lebih kejam..!!"
"Aku kesini untuk meminta maaf atas perbuatan istriku pada Ayu"
"Simpan saja Bang, lebih baik Abang ajari Nadia cara agar tidak menggangu rumah tangga orang lain. Saya sudah menikah dengan Ayu. Saya dulu memang memiliki hubungan yang spesial dengan Nadia, serius dan ada niatan menuju jenjang pernikahan hingga saya akhirnya harus berangkat dinas luar.. Nadia menjalin kasih dengan pria lain dan mengandung usia lima bulan saat saya datang." jawab Bang Huda.
"Jadi anak itu benar bukan anakmu?" tanya Bang Anggara.
"Saya sudah jelaskan berkali-kali.. terus terang saya ini bejat Bang, tapi saya nggak pernah melakukannya dengan wanita manapun kecuali Ayu istri saya" bentak Bang Huda.
Nadia menangis dan kesal seakan tidak terima dengan ucapan Bang Huda yang terdengar tidak membelanya sama sekali padahal ia berharap Bang Huda akan membelanya dan punya niat untuk merebutnya kembali dari Bang Anggara.
"Ijin Bang, saya harap tidak terjadi hal seperti ini lagi..!! Ada banyak nyawa yang menjadi korban" kata Bang Khaja setenang mungkin meskipun dalam hatinya luar biasa geram. Tangannya tak lepas menahan langkah Bang Langsang yang pastinya akan ikut emosi jika tidak di tahan.
"Aku minta cerai.. aku nggak mau jadi istrimu lagi..!!" teriak Nadia meluapkan kesalnya.
"Lalu apa yang kamu mau?? Jadi istri Huda????" entah sudah keberapa kalinya Bang Anggara malu karena kelakuan Nadia.
"Aku mau menikah denganmu karena kupikir kamu akan membuatku bahagia, tapi apa yang kudapat?? Kamu hanya menuntut anak dariku?? Apa anak terlalu penting bagimu??? Kamu tidak akan merasakan sakitnya, tapi aku yang menanggung semuanya. Setelah melahirkan badanku akan lebar, kau tau berapa banyak biaya untuk memperbaiki tubuhku?? Aku tidak mau badanku rusak hanya karena anak" ucap Nadia.
"Aku laki-laki yang waras Nadia, ucapanmu itu sama sekali tidak ada dalam pikiranku..!!!!" bentak Bang Anggara.
"Iya, karena dalam pikiranmu hanya ada Ayu. Bocah ingusan yang sama sekali tidak bisa di bandingkan dengan diriku..!!"
Mendengar nama istrinya di sebut, Bang Huda kembali terbakar amarah. "Jangan kamu samakan istriku dengan kelakuan bejatmu Nadiaaa..!!!!!"
Bang Anggara sudah pusing dengan sikap Nadia, ia pun bereaksi. "Kau ingin kuceraikan??"
Nadia cukup terkejut, pasalnya selama ini Bang Anggara selalu mempertahankan dirinya apapun yang terjadi.
__ADS_1
"Kalau kamu mang ingin kuceraikan.. saat ini juga kamu kuceraikan Nadia..!!!!!"
Kepala Nadia rasanya berputar-putar. Laju nafasnya seakan terhenti. "Abang benar akan menceraikan ku??"
"Kamu sulit di arahkan Nadia. Aku juga butuh keturunan, usiaku tidak muda lagi." kata Bang Anggara.
Tiba-tiba kaki Nadia gemetar, pandangannya gelap. Nadia pingsan menghantam tanah.
"Nadiaa..!!" Bang Anggara terkejut melihat Nadia pingsan, sedangkan Bang Huda nampak malas meladeni. Ia memilih pergi menemui Ayu di kamar.
~
Bang Huda melihat Ayu kembali terpejam, ia mengecup kening Ayu kemudian perut datarnya, tak lupa membetulkan selang oksigen di hidung Ayu.
"Sudah urusi mantanmu?" tanya Ayu.
"Kenapa harus di bahas begitu sih, mantanmu malah sedang kerepotan, Nadia pingsan" jawab Bang Huda.
"Kalau cemas cepat tengok kesana, siapa tau kehadiranmu bisa jadi semangat hidupnya" kata Ayu ketus.
"Simpan gombalmu, Ayu tidak tertarik"
"Harus dengan cara apa Abang buktikan, Bang Huda sayang sama Ayu" kata Bang Huda lembut.
Hati Ayu berdesir, tapi dirinya cukup gengsi mengatakan perasaan pada suaminya yang berkali-kali membuatnya jengkel meskipun semua itu bukan sepenuhnya kesalahan Bang Huda. Satu hal lagi yang membuatnya bersikap ketus, ia sangat takut Bang Huda akan marah sebab mobil R****r R***r kesayangan suaminya sudah tenggelam ke dasar samudra.
"Pertama, jangan sebut mobil Abang yang sudah tenggelam"
Kini Bang Huda baru sadar ulah ketus istrinya hanya sebagai kamuflase menutupi kesalahannya.
"Apalagi?" tanya Bang Huda menyembunyikan rasa gelinya.
"Kedua.. Jangan masukin Ayu ke penjara karena Ayu hamil anak Abang" kata Ayu.
__ADS_1
"Lanjut..!!!!!"
"Abang harus bilang sayang sama Ayu setiap hari" ucapnya lagi.
Bang Huda duduk. Ia menyangga dagunya dan memandang wajah Ayu yang tidur di hadapannya. "Perintah siap di laksanakan..!! Tapi ingat dan dengarkan.. Abang beli mobil itu dari hasil jerih payah Abang kerja. Setelah kamu buat hanyut, kamu bisa kasih ganti apa buat Abang? Nggak mau di omelin, nggak mau juga di penjara. Minta di sayang pula. Mana ada tawanan maunya enak"
"Tapi Ayu hamil karena Abang" kata Ayu melemah.
"Apa itu sebuah alasan??"
"Abang nggak kasihan sama anak kita?" tanya Ayu.
"Baru sekarang kamu merengek? Kemarin kemana saja ndhuk? Nggak ada alasan.. kamu tetap Abang tahan..!!!!" jawab Bang Huda.
Ayu memalingkan wajahnya, ia menyembunyikan rasa sedih dan menyimpan air mata yang hendak tumpah.
"Seumur hidup kamu Abang tahan dalam hati, Abang penjarakan kamu supaya kamu mengerti arti sebuah janji suci" ucap Bang Huda membuat Ayu seketika menoleh dan menatap sepasang mata pria di sampingnya. "Jika saja dulu Tuhan pertemukan kita lebih dulu, Abang rela di hajar bapakmu demi kamu, rela di hantam Abangmu demi menghalalkan mu"
"Cckk.. malas nih Ayu, sudah berapa banyak wanita yang Abang gombalin?"
"Cuma Ayu aja. Sungguh..!!"
"Diamlah Bang, anak Abang nggak mau di goda bapaknya" pinta Ayu tak bisa menahan salah tingkahnya.
"Paite obat tambane lara ning dada, manise Ayu pucuk kangene Mas Huda."
"Abaaaaang.. iiihh.. dasar raja gombal" Ayu akhirnya tertawa mendengar ucap Bang Huda.
.
.
.
__ADS_1
.