
"Nggak usah banyak bicara kamu Ayu, pintar sekali kamu menarik simpati Bang Huda dan suamiku. Jujur saja kalau itu memang anak Bang Anggara"
"Sayangnya saya tidak minat. Saya hanya minat dengan barang milik Kapten Huda" jawab Ayu.
Bang Huda terkesima dengan jawaban Ayu tapi juga merasa cemas setengah mati, istri kecilnya bisa menjawab hal seperti itu.
"Mana alamat panti asuhannya. Di ujung negeri ini pasti saya jemput. Bukankah dia anak Bang Huda"
Nadia sangat kesal, ia pun meninggalkan tempat tanpa pamit.
"Saya mohon maaf. Kalau memang itu anak Nadia.. biar saya yang merawatnya. Saya permisi dulu..!!" pamit Bang Anggara.
Selepas semuanya pergi, Ayu meremas perutnya sambil mengatur nafas yang tak karuan.
"Kamu kenapa dek? Sakit lagi?" tanya Bang Huda mencoba membantu Ayu.
"Pergilah Bang, Ayu ingin sendiri" pinta Ayu.
"Abang nggak akan pergi"
"Tolong Bang.. keluarlah..!! Ayu ingin sendiri" pekiknya mendorong Bang Huda.
Bang Huda pun mengerti. Saat ini Ayu pasti sangat syok dan terluka, tapi istrinya itu berusaha sekuatnya untuk menahan perasaan. Bang Huda menarik Ayu ke dalam pelukannya.
"Katakan kalau memang tidak kuat, tidak semua beban bisa kamu pikul sendirian" bujuk Bang Huda.
"Pergilah Bang, Ayu ingin tenang" Ayu semakin meremas perutnya yang terasa melilit.
"Abang nggak pernah melakukannya dengan Nadia. Abang memang bejat, rusak, tapi Abang nggak pernah melakukannya"
"Abang nggak harus cerita semuanya. Masa lalu tidak bisa di ubah Bang. Ayu juga punya masa lalu dengan Bang Asnan dan Bang Anggara. Ayu juga tidak sebaik yang Abang kira."
"Abang percaya sama kamu karena Abang yang merasakannya. Abang harap kamu bisa percaya sama Abang..!!" Bang Huda mengusap punggung Ayu.
dddrrttt..
Ada pesan untuk para perwira agar berkumpul di Batalyon.
"Abang tinggal sebentar ya, Kardi akan mengantarmu pulang..!!"
-_-_-_-_-
Bang Huda pulang menjelang malam, hari ini pikiran dan tenaganya terkuras. Ia melihat rumahnya masih gelap.
Apa Ayu belum pulang? Tapi kata Kardi.. dia sudah antar Ayu pulang.
Bang Huda membuka pintu, tak ada yang menjawab salamnya. Ia menyalakan lampu ruang tamu sampai kamar depan. Tak ada Ayu disana sampai akhirnya Ayu melangkah menuju ruang tengah.
"Astagfirullah.. Ayuuuu..!!!!! Apa-apaan kamu ini dek????" Bang Huda melihat Ayu merokok, tangan kirinya menenggak minuman setan.
__ADS_1
Pakaian Ayu sangat minim.. memakai rok jauh di atas paha dan tank top hitam, rambutnya di gerai berwarna coklat.
Bang Huda mengambil rokoknya tapi Ayu memutar pergelangan tangannya. Bang Huda merebut botol minuman itu tapi masih kalah cepat dengan Ayu.
"Kalau mau.. Ayo mabuk sama-sama. Jangan mencegah Ayu bersenang-senang..!!" kata Ayu setengah sadar.
Bang Huda mengusap dadanya, ia sangat sedih melihat keadaan Ayu seperti ini. Istrinya itu terlihat kuat tapi sebenarnya mentalnya sangat rapuh.
Tanpa disadari Ayu menegak minumannya lalu menyambar mulut Bang Huda. Tak dapat di tolaknya.. Bang Huda ikut meneguk minuman pemberian Ayu dan mengalir mulus di kerongkongannya. Tangan Ayu menjelajahi area terlarang membuat naluri Bang Huda tertantang, reflek Bang Huda pun membalas hal yang sama. Ayu melonggarkan diri, ia menghisap rokok kemudian menghembuskan asap itu ke wajahnya dan kembali menenggak minuman keras.
"Kamu mau bunuh anak ini?? Kalau mau marah.. marahlah sama Abang, jangan libatkan anak ini dek..!!"
"Ayu juga bisa seperti Nadia, Ayu juga bisa menyenangkan mu dan punya anak untukmu"
Pikiran dan batinnya berperang. Dalam hati Bang Huda mengumpat tak karuan.
Ayu menarik kerah seragam Bang Huda. "Ayu tidak marah sama masa lalumu Bang, Ayu hanya kecewa Abang tidak cerita semua" ucap Ayu sampai kemudian menangis dan meneguk minuman itu lagi. "Kenapa.. kenapa saat Ayu sudah mencintai Abang.. banyak sekali cobaan yang kita rasakan. Apa salah kalau Ayu cemburu??"
"Percuma Abang jelaskan kalau kamu nggak sadar sayang.. Pikiran Abang masih waras, Abang lahir dari seorang ibu dan Abang punya adik perempuan. Sebejatnya Abang.. tidak pernah Abang menandai perempuan.. kecuali kamu. Hanya kamu yang buat Abang kelimpungan sampai anak ini harus ada" jawab Bang Huda tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. "Cemburulah.. Abang terima kecemburuanmu"
Ayu membuka pakaian Bang Huda dan Bang Huda hanya bisa diam melihat apa yang akan di lakukan Ayu padanya. Sungguh menggoda imannya. Bang Huda membelai Ayu. "Kamu manis sekali, pantas Nadia sampai membuat ulah, suaminya saja kepincut sama kamu. Sayang sekali.. cantikmu ini sudah ada yang memiliki" Bang Huda membawa Ayu masuk ke dalam kamar. Ia pasrah menerima apapun yang di lakukan Ayu padanya. "Sak karepmu.. sing penting kowe seneng..!!"
***
Bang Huda mengeringkan rambutnya usai mandi dan tepat saat itu Ayu berjalan terhuyung menuju kamar mandi. Ayu melihat badan Bang Huda terdapat banyak jejak yang membuat hatinya meradang.
"Tidur lah, memang darimana?"
"Kenapa badan Abang ada stempel cinta. Siapa perempuan yang sudah buat Abang lupa daratan????" tanya Ayu dengan emosinya.
"Abang khan sudah bilang, jangan buat tanda. Kalau kamu lupa, Abang juga yang repot jelaskan. Lagipula Abang mau ada kegiatan. Kalau di lihat anggota bagaimana??" jawab Bang Huda.
"Itu Ayu yang buat??" Ayu masih tak percaya.
"Ayu yang mana lagi yang berani buat sampai disini..!!!!" Bang Huda membuka selipan handuknya di hadapan Ayu.
Ayu pun jadi salah tingkah di buatnya. Bang Huda menutup handuknya lagi.
"Oohh.."
"Apa Oohh??? Itu Abang juga kasih tanda di kamu, biar kamu tau siapa pemilik sah ladang satu jengkal"
Ayu menunduk melihat dirinya, ia kembali kesal karena untuk kesekian kalinya ia tidak di ajak 'berunding' dalam hal pembajakan sawah. "Kenapa Abang mulai lagi??"
"Abang nggak bermaksud begitu. Tapi kamu yang mancing perkara. Masa Abang tolak"
"Nggak mungkin" kata Ayu.
"Ayo sini..!!!" Bang Huda terpaksa mengajak Ayu kembali ke kamar dan menunjukan video dari rekaman ponselnya. "Lihat, siapa itu..!!"
__ADS_1
Ayu melotot melihat tingkahnya sendiri tapi ia tetap berusaha tenang.
"Alaah Abang juga mau."
"Ya mau lah, Abang masih normal"
"Dasar..!!!!!!" Ayu pun berlalu pergi tapi Bang Huda meraih tangan Ayu lalu menarik Ayu ke dalam pelukannya. Pelukan itu begitu erat, hampir bibirnya tak sanggup berucap.
"Abang mohon jangan bersikap seperti semalam?"
"Apa?? Abang nggak suka?? Gaya siapa yang Abang suka??" tanya Ayu ketus.
"Jangan mabuk dan merokok lagi, hati Abang sakit sekali"
Akhirnya Ayu melemah dalam pelukan Bang Huda.
"Katakan apa yang kamu rasakan, jangan di tutupi. Kita menikah untuk merasakan pahit manis bersama. Suka dan duka kita tanggung berdua." kata Bang Huda.
"Ayu tau semua masa lalu tapi....."
Bang Huda mengarahkan wajah Ayu agar menatapnya. "Dan kamu tidak perlu mencemburui yang tidak pasti karena Abang tidak pernah punya anak dari wanita lain" jawab Bang Huda.
Bang Huda mendekatkan wajahnya, cantiknya paras Ayu membuatnya selalu tergoda.
krrcckkk.. krrcckkk.. kkrrccckkk..
Perut Bang Huda berbunyi nyaring. Bang Huda menggaruk kepalanya merasa malu tak jadi beradegan romantis.
"Abang lapar?" tanya Ayu.
"Lapar lah, gara-gara meladeni inginmu itu. Tenaga Abang terkuras habis" jawab jujur Bang Huda.
"Ayu masak sebentar"
"Mau masak apa?" tanya Ayu.
"Telur"
"Sudah kamu habiskan semalam" goda Bang Huda.
"Abaaaanngg..!!!!!!!!" pekik Ayu kesal, dirinya sudah sebegitu malunya tapi Bang Huda tetap menggodanya.
.
.
.
.
__ADS_1