
"Kamu yang bodoh. Makanya laki-laki juga harus tau bumbu dapur. Kamu juga tadi sebut santan, bukan susu. Kepalamu bilang susu, refleks mu ambil santan. Pikiranmu sudah tempe geprek saja..!!" tegur Papa Juan di sambungan telepon.
"Papa khan juga nggak bisa bedakan lengkuas sana kencur" kata Mama Sasti.
"Isshh Mama.. jangan ikut nimbrung. Sana...!!" Papa Juan sedikit menjauhkan Mama Sasti dari ponselnya.
"Aahh ternyata Papa sama saja" kata Bang Huda.
"Papa masih sedikit punya bakat daripada kamu" jawab Papa Juan berkilah.
~
"Perutnya sudah baikan Bang?" tanya Ayu.
"Sudah lebih baik" jawab Bang Huda yang sesekali melirik pakaian Ayu. "Kamu nggak tidur dek?"
"Ini mau tidur"
Bang Huda semakin gelisah, wajah Ayu terlihat biasa saja soal kejadian tadi tapi ia tau pasti juga ada rasa sedikit kecewa dari istrinya karena mereka berdua tidak jadi ritual ilmu kebatinan. "Dek.. Abang minta maaf ya"
"Nggak apa-apa Bang, Ayo tidur" jawab Ayu datar sambil menaiki ranjang dan menarik satu selimut bersama Bang Huda.
Bang Huda pun menggeser tubuhnya dan mendekat pada Ayu dan memeluknya dari belakang. "Abang benar-benar rindu" katanya penuh sesal.
***
Bang Arnold membawa papan nama bertuliskan 'Syarin'.
"Cckk.. mana lagi yang namanya Syarin, sudah sepi begini. Awas saja kalau yang datang setingkat Abangnya."
"Om tunggu siapa lagi."
"Ya Tuhan.. kamu siapa??" Bang Arnold melihat seorang gadis duduk di sampingnya sejak tadi. Tubuhnya sangat indah, cantik, tak beda jauh dengan Ayu. Pakaian minimalis dramatis.
"Syarin om."
"Kenapa nggak bilang dari tadi??? Saya hampir dua jam tunggu kamu disini" gerutu Bang Huda.
"Om juga nggak tanya namanya Syarin" jawab Syarin polos.
"Halaah.. sudahlah, Abangmu sudah menunggu. Mau di antar ke Bang Saka atau Bang Huda?" tanya Bang Arnold.
"Bang Huda saja, kalau nggak kesana Abang pasti marah."
"Iya, Abangmu memang killer."
"Iihh.. berani ngeledek Bang Huda. Syarin bilangin lho" ancam Syarin.
"Eehh.. Syarin cantik jangan begitu donk. Abang cuma bercanda" jawab Bang Arnold.
"Abang?? Om aja lebih pantas"
Bang Arnold hanya membuang nafas tak mau menanggapi bocil di depannya.
...
"lama sekali?" tegur Bang Saka.
"Om Arnold nggak tanya, hanya berdiri saja di samping pagar" jawab Syarin.
"Laahh.. memangnya kamu dimana?" tanya Bang Huda. "Pakaian mu itu di atur sedikit. Badanmu bukan bahan tontonan..!!" tegur Bang Huda.
__ADS_1
Syarin tidak banyak merespon Abangnya. "Duduk di bangku, samping Om Arnold" jawab Syarin sambil sesekali melihat perut Mbak Ayu dan Mbak Syahila. "Mbak, nggak susah nafas kah perut besar begitu?" tanya Syarin ngeri.
"Nggak ada rasanya" kata Mbak Syahila.
"Cuma sedikit lebih capek aja" imbuh Mbak Ayu.
"Abang sayang nggak sih kalau istrinya hamil?" pertanyaan Syarin pada kedua Abang kembarnya.
"Sayang lah" jawab Bang Saka.
"Nggak hamil aja sayang, apalagi hamil begini. Aneh pertanyaan mu itu" Bang Huda melirik gemas pada adiknya.
"Oke, Syarin juga mau hamil biar di sayang suami"
"Huuusshhh.." Bang Saka sampai menyentil bibir adik perempuannya.
"Ta tapuuk lambemu lho, asal njeplak wae..!!!" Bang Huda sampai membentak adiknya karena terlalu lancar berbicara.
"Syarin khan nggak bilang sekarang Bang, Abang nih bawaannya curiga melulu." protes Syarin. "Besok juga bisa.. hahahahaha.." tawa Syarin benar-benar lebar sampai Bang Huda memasukan klepon ke mulut Syarin hingga gulanya melompat ke wajah Bang Arnold.
"Duuhh.. ini bocil..!!" Bang Arnold mengambil tissue dan mengusap wajahnya.
"Berhenti bertingkah aneh-aneh. Jaga nama Abang-abangmu disini..!!" ucap tegas Bang Huda.
"Jangan begitu sama adik sendiri Bang..!!" tegur Ayu.
"Kamu belum tau saja kelakuan dia. Satu Ayu saja aku sudah vertigo, ini masih ada Syarin lagi" kata Bang Huda tanpa sadar.
Seketika wajah Ayu mendung dan langsung berlari masuk ke dalam kamar.
"Iihh.. Abang apa-apaan sih. Mbak Ayu jadi marah tuh" Syarin membela kakak iparnya.
"Ya Allah.. kamu sih. Cckk.. mati aku kalau ngambek" Bang Huda meninggalkan semua dan menyusul Ayu masuk ke dalam kamar.
~
"Mau pulang ke rumah Papa." ancam Ayu.
"Papa masih temani Opa di Jepang. Ayu sama Abang aja ya" bujuk Bang Huda.
"Nggak mau, Abang jahat, nggak sayang sama Ayu"
"Sayang kok, Abang sayang banget sama Ayu." Bang Huda menyambar dompetnya di atas nakas. "Abang punya lima puluh lembar seratus dollar, belum Abang tukar nih. Mau nggak?" Bang Huda menyodorkan uang itu di hadapan Ayu.
Ayu melirik uang di tangan Bang Huda, uang yang sudah merusak dompet suaminya saking tebalnya lembaran uang. Tanpa banyak bicara, Ayu mengambil uang tersebut. "Ya sudah kalau Abang maksa"
Bang Huda menyimpan senyum geli melihat ekspresi Ayu. "Jangan pergi ya..!!"
"Iya.. Ayu nggak pergi."
"Pintar.. istri sholehahnya Bang Huda"
:
Syarin melirik ekspresi wajah Bang Huda. Terlihat wajah Abangnya itu tenang. "Mbak Ayu nggak marah lagi Bang?"
"Lain kali jangan ada kata atau sikap yang memancing emosi Abang. Mbak mu sedang hamil, perasaannya halus dan sensitif.. sedikit saja Abang salah bicara bisa jadi masalah"
"Iyaa.. iyaaa" Syarin menurut dan tidak lagi berdebat dengan Abangnya.
"Apa kamu tinggal saja sama Abang?" tanya Bang Saka. "Mbak Syahila juga baik lho dek"
__ADS_1
"Dia sama aku disini. Nggak ada bebas keluar masuk kompleks kalau tinggal sama kamu..!!" kata Bang Huda.
Syarin pun menunduk. "Syarin tinggal sama Bang Huda aja"
"Ya sudah lah, kalau mau tinggal sama Abang.. kamu datang aja ke rumah"
"Tapi Bang, hari ini Syarin ijin mau kerja di 'cafe bunga'." Syahila meminta ijin pada kedua Abangnya.
"Aduuhh.. Abang ada pekerjaan." kata Bang Huda.
"Ya sama." imbuh Bang Saka.
"Bagaimana ya, Arial pasti ikut denganku. Edwin dan Madya juga tidak mungkin" ucap Bang Huda kemudian arah tatapan matanya dan Bang Saka menuju Bang Arnold.
"Kamu jaga Syarin..!!" ucap Abang kembar bersamaan.
"Saya Bang??" tanya Bang Arnold bingung.
"Iya, kamu"
...
Bang Arnold bertanya-tanya dalam hatinya. Banyak yang mengelu-elukan Syarin, tapi ia tidak paham.
Tiba-tiba ada seorang pria menarik lengan Bang Arnold. "Anda siapanya Luna?"
"Saya pengawal pribadinya..!!" jawab Bang Arnold dengan tegas.
"Oohh.. baik Pak".
~
Sesuai dengan perintah atasannya, Bang Arnold benar-benar menjaga Syarin.
Ada seorang pemuda berniat mencolek dada Syarin, dengan cepat dan gesit Bang Arnold menarik Syarin ke belakang punggungnya lalu menepak tangan tersebut dengan keras. "Jaga sikapmu..!!" peringatan keras Bang Arnold.
"Siapa lu? ikut campur saja"
"Saya suaminya Luna..!!!!!!!"
...
"Iihh.. om bilang apa??? Syarin sedang naik daun"
"Bah.. saya pun tak tau kamu pernah tampil dimana. Di layar kaca, layar retak kah layar perahu" jawab Bang Arnold dengan logat khas nya.
"Makanya liat media sosial. Syarin ini artis Me_tube" kata Syarin bersungut-sungut. "Sekarang bagaimana.. rating Syarin turun gara-gara Om"
"Om lagi kau bilang. Kapan saya kawin sama tentemu????"
"Bodo amat, pokoknya Om harus tanggung jawab..!!!" Syarin memukuli dada Bang Arnold.
ckkllkk..
"Om.. itu paparazi. Gimana donk..!!!" kata Syarin panik.
"Heeehh, matikan kameranya.. atau kulipat badanmu jadi tiga..!!" ancam Bang Arnold.
.
.
__ADS_1
.
.