
"Terima kasih banyak ya Bu Dahlan, Bang Alam yang sudah mau membantu saya. Saya tidak bermaksud buruk.. ini semua saya niatkan agar Abang lebih sabar. Bukan satu atau dua kali Abang lebih mengedepankan sikap kakunya karena sifat temperamen yang begitu tinggi"
"Siap ibu. Tidak apa-apa" jawab Bu Dahlan.
"Aman bumil, tapi obat tadi jangan lupa di minum ya..!!" kata dokter Alamsyah mengingat.
Tiba-tiba Bang Huda masuk ke dalam kamar, wajahnya masih pucat, sungguh gairah hidupnya seakan hilang. "Ada apa lagi?? Apa ada bahaya lain??" tanya Bang Huda.
"Nggak ada, aku hanya menyarankan agar Ayu lebih banyak istirahat" jawab dokter Alamsyah.
Bang Huda mengangguk tanda mengerti.
***
Tak ada yang tau bagaimana perasaan Bang Huda saat ini. Ia menghabiskan malamnya dengan berserah pada Sang Pemberi Kehidupan.
"Kenapa?? Kenapa aku tidak bisa menjadi manusia yang sabar?? Kenapa selalu ini yang terjadi?? Kenapa aku tidak pernah becus menjadi laki-laki????" tangisnya pecah hingga sujud pun tak bisa melegakan perasaannya. "Papa minta maaf nak..!!"
Ayu bukannya tidak tau Bang Huda yang terus meratapi 'kehilangan' buah hatinya tapi ia juga ingin memberikan ketegasan pada suaminya itu.
-_-_-_-
"Sarapan dulu Pa..!!" kata Ayu.
Bang Huda cukup kaget mendengarnya. Jarang sekali Ayu mengatakan hal seperti itu.
Ayu merengkuh kepala Bang Huda lalu menariknya dan mendekap ke dalam peluknya. Terasa hangat, mungkin Bang Huda sedang demam karena banyak pikiran.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Bang Huda dengan suara parau.
"Hidup harus terus berjalan. Mudah mengucapkan tapi sulit melaksanakan" jawab Ayu.
Meskipun dada Bang Huda terasa sesak, akhirnya suami Ayu itu mau makan.
\=\=\=
Hari-hari berlalu, tak terasa tiga bulan lamanya Bang Huda menyepi untuk memperbaiki diri. Rindu sudah ia tahan kuat dan tak pernah lagi ia ungkapkan, yang ia rasakan hanya takut menyelimuti batin. Selama tiga bulan ini pula bobot tubuhnya semakin hilang, lebih sering sakit, selera makan hilang, tiba-tiba mual hebat dan beberapa kali sempat pingsan karena kelelahan.
"Bang, bisa minta tolong antar Ayu ke Dokter kandungan?" tanya Ayu.
"Memangnya ada apa? Haidnya nggak lancar?" Bang Huda balik bertanya.
"Ayu khan memang telat Bang, jadi nggak haid" jawab Ayu.
"Telat bagaimana nih? Sejak kapan??"
"Sejak 'kejadian itu' " Ayu menjawab ambigu pertanyaan Bang Huda kemudian mengusap perutnya yang kini sudah membesar.
Bang Huda memperhatikan perut itu, perut yang sudah lama tidak ia lihat. Tiba-tiba hatinya berdesir. Matanya kembali memerah membendung cairan di pelupuk penglihatannya.
"Kenapa bisa jadi sebesar ini? Selama ini kamu diam saja, nggak bilang sama Abang kalau ada masalah" kata Bang Huda kemudian refleks menyandarkan kepalanya di perut Ayu yang sedang berdiri di hadapannya. Ia merasa seakan-akan ada yang menendang wajahnya. Hatinya semakin sedih karena halusinasinya terlalu tinggi.
__ADS_1
"Ada apa Bang? tanya Ayu.
"Nggak apa-apa" jawab Bang Huda.
...
"Waahh Huda.. apa kabar nih? baru sambang kesini lagi sekarang. Yuk kita cek dulu istrimu..!!" sapa dokter Alamsyah antara kasihan dan geli melihat keadaan littingnya beberapa bulan ini.
Seakan kehabisan tenaga, Bang Huda hanya menjawab pertanyaan dokter Alamsyah dengan senyuman.
Perawat membantu Ayu naik ke atas ranjang lalu memakaikan selimut menutupi paha tak lupa meneteskan gel di perut Ayu.
~
"Laahh.. dapat baby boy nih" kata dokter Alamsyah.
"Oya, mana tombaknya dok??" tanya Ayu dengan antusias.
"Ini lho, mirip punya papanya." jawab dokter sambil menunjukan pada layar.
"Apa sih maksudnya??" nada suara Bang Huda terdengar meninggi karena ia merasa tidak tau apapun disini.
"Maaf ya Da.. saya mohon kamu jangan marah. Ini permintaan Ayu, hitam di atas putih. Ayu memintaku merahasiakan kehamilan ini agar kamu bisa belajar lebih sabar. Kondisi saat itu memang sangat berbahaya, rahim masih basah juga dua bayimu sangat butuh perhatian ekstra ketat. Jadi dengan berbagai pertimbangan.. kami memutuskan hal seperti ini." dokter Alamsyah mulai membuka keadaan yang sebenarnya.
"Astagfirullah hal adzim.. Lailaha Illallah.. Kamu dek......." Bang Huda mengusap dadanya yang terasa tak karuan, bibirnya terasa terkunci. Jengkel, marah dan bahagia bercampur menjadi satu. Bang Huda kemudian memeluk Ayu dan mengusap perut yang kini sudah berusia delapan belas minggu. "Kalian semua keterlaluan..!!" Bang Huda menciumi wajah Ayu dengan sayangnya.
"Maaf ya Bang"
"Maafin Abang juga. Hukuman ini sudah buat Abang kapok sekapok kapoknya" jawab Bang Huda. Wajahnya berseri meskipun masih di liputi rasa takut.
Bang Huda tersenyum nakal. "Enak saja ngincipin. Langsung gas makan malam. Abang sudah benar-benar kelaparan" Bang Huda pun membisikan rasa rindunya pada Ayu.
Dokter Alamsyah menyenggol pinggang Bang Huda. "Kangen ya kangen, tapi hati-hati meskipun sudah aman"
Bang Huda menaikan alisnya, entah sejak kapan semangat Kapten Huda kembali lagi, ceria dan penuh rona bahagia.
"Yang penting aman khan bro?"
"Amaan" jawab dokter Alamsyah.
"Terobos aja lah" canda Bang Huda.
"Angel sama Angelo bagaimana Bang??"
"Titip ke tantenya. Biar Arial dan Syarin belajar ngasuh baby" kata Bang Huda.
...
Syarin duduk perlahan, perutnya sudah terlihat besar sama seperti perut Ayu.
"Minum dulu susunya..!!" Bang Arial membuatkan susu untuk Syarin dan menyodorkan di hadapan istrinya.
__ADS_1
"Ya ampun Bang, Syarin eneg minum susu terus. Lama-lama Syarin bisa gemuk, Abang kasih makanan terus" protes Syarin.
"Siapa berani bilang gemuk?? Yang makan anak Abang juga kok" jawab Bang Arial.
Senyum Syarin nyaris pudar setiap kali Bang Arial menyebut bahwa yang ada dalam kandungannya adalah anaknya.
"Bang..!! Abang bilang kalau sampai anak ini lahir, tapi Syarin tetap belum bisa mencintai Abang.. maka Syarin boleh meninggalkan Abang khan?" tanya Syarin.
Dengan menahan rasa hati yang cemas menggulung perasaan, Bang Arial harus berbesar hati menjawab sesuai janjinya dulu. "Iya dek, lalu apakah belum sedikitpun hatimu tergerak?"
Syarin menunduk tak berani menatap wajah Syarin. "Maaf Bang, Syarin........."
"Aarrr..!!!!!!!!"
tok.. tok.. tok..
Ada suara ketukan pintu di depan rumah Bang Arial.
"Siap Bang..!! Arahan???" Bang Arial meninggalkan Syarin meskipun dalam hatinya setengah mati penasaran.
"Titip Galar sama Ghania donk..!!" pinta Bang Huda menitipkan dua bayi super montok pada Bang Arial.
"Lho Bang, ada apa nih? tumben?" tanya Bang Arial bingung.
"Titip dua jam saja Ar, Abang ada tugas khusus" jawab Bang Huda.
"Seingat saya nggak ada tugas Bang. Apa saya kurang monitor?" Bang Arial mulai waspada.
"Ini misi rahasia. Markas pusat yang minta, karena Abang tiga bulan belum lapor hadir" kata Bang Huda.
Bang Arial terdiam sejenak kemudian memperhatikan raut wajah Bang Huda. "Ajuuuuur tenan Abaaang, Memangnya urgent banget ya?"
"Ya kalau masalah yang ini pasti lah. Lagi pula pertanyaan mu juga aneh. Jangan-jangan kamu belum apel tertib ya?"
"Jangankan apel tertib Bang. Lapor datang saja belum" jawab Bang Arial dengan wajah memelas.
"Payah lu Ar.." ledek Bang Huda karena memang sudah tau keadaan dan posisi juniornya menikahi Syarin.
"Langgar palang piye Bang?" Bang Arial mulai gelisah. Jiwa setan dan jiwa malaikatnya berperang hebat.
"Abang nggak bisa jawab. Hitam dan putih tanggung jawabmu. Tapi saran Abang tabrak saja..!!"
"Siap Bang, Abang benar-benar setan sejati"
"Abang nggak munafik. Iman Abang tipis sekali kalau dekat istri" jawab jujur Bang Huda.
"Astagfirullah Bang.. Ya sudah saya ikut Abang"
.
.
__ADS_1
.
.