Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
48. Dalam kepanikan.


__ADS_3

"Sudah baikan atau belum? Kalau masih sakit lebih baik kita ke dokter saja"


"Sudah baikan Bang" jawab Ayu melihat wajah Bang Huda yang setiap saat selalu mencemaskan dirinya. Tapi mau bagaimana lagi, melihat Bang Huda kelabakan menjadi hiburan tersendiri bagi dirinya. Ayu merasa sangat di sayangi dan di perhatikan suaminya itu seakan tak ada wanita lain yang merasuk dalam hati Bang Huda selain dirinya.


"Abang antar pulang ya, jangan terlalu di paksa."


Ayu mengangguk menurut, ia pun tak tega terus mengerjai suaminya itu.


***


Empat hari berlalu.


Panglima datang bersama dengan ibu dan rombongan.


"Dimana Para Kapten baru?" tegur Panglima.


"Siap.." Bang Huda berada di barisan penyambutan paling depan di susul kemudian Bang Leo dan Bang Saka.


"Sudah nggak buat ulah lagi Kapten?"


"Siap tidak Panglima." jawab Bang Huda.


"Bagus lah. Sudah punya istri, istri juga sedang hamil. Jangan buat masalah" kata Dan Gazha pada Bang Huda. "Ngomong-ngomong para istri nggak pernah tertukar antara Kapten Huda dan Kapten Saka khan?"


"Siap tidak pernah Panglima." Jawab Ayu dan Syahila.


"Papa ini tanya apa sih?" ibu Gazha mencubit pinggang suaminya.


...


Ayu dan yang lainnya mendampingi ibu Panglima sedangkan Bang Huda mendampingi Panglima meninjau sekitar kantor dan alutsista yang ada hingga hari telah beranjak siang.


:


"Sudah berapa bulan nih hamilnya Ayu?" tanya Ibu Panglima.


"Sudah empat bulan Bun" jawab Ayu.


"Kalau Syahila dan Geya?" Ibu Panglima juga memberi perhatiannya untuk kedua 'anaknya'.


"Syahila tiga bulan Bun"


"Geya empat bulan sama seperti Ayu" jawab Geya.


Semua menerima pertanyaan dari ibu panglima tak terkecuali istri Wadanyon.


"Di jaga ya kandungan nya. Itu adalah titipan suami. Kalian harus tau betapa para suami sangat cemas memikirkan istri yang sedang mengandung. Pikiran tidak tenang, hati tidak karuan" imbuh panglima saat mengambilkan istrinya dessert.


"Terima kasih Pa" kata ibu Gazha.


Panglima mengusap pipi istrinya sekilas lalu kembali ke mejanya.

__ADS_1


~


"Ini Ayu kenapa pucat sekali?" Om Gazha menegur Bang Huda.


"Sejak tragedi waktu itu, Ayu punya masalah dengan paru-paru, di tambah lagi dengan darah rendah. Saya nggak bisa mencegah Ayu untuk tidak ikut kegiatan karena dia juga senang sekali Tante dan Omnya mau mampir kesini" jawab Bang Gazha.


"Owalaah.. kamu juga jangan ikut stress. Ikuti saja alurnya, di awasi setiap saat. Kalau bumil lagi rewel malah kamu tanggapi.. ya sudah jadilah perang Baratayudha" kata Om Gazha.


"Iya Om. Saya belajar ngalah. Punya calon baby kembar ketar ketir om. Saya punya laki perempuan" senyum Bang Huda terkembang berat.


"Syukur Alhamdulillah.. Papa mertuamu pasti heboh sekali"


"Iya Om. Ini khan cucu dari putri bungsu"


...


"Lho dek.. wajahmu pucat sekali. Nggak seperti biasanya"


Kali ini Ayu benar-benar merasa lemas, nafasnya sesak dan perutnya kram. Sejak tadi ia menahannya tapi kali ini ia angkat tangan. "Bang.. Ayu nggak kuat." Ayu bersandar di dada bidang Bang Huda.


"Kali ini apa yang sakit sampai kamu pucat??"


"Ya ini terlalu nyeri Bang." jawab Ayu karena takut rahasianya selama ini terbongkar.


"Abang ijin Danyon dulu..!!" Bang Huda hendak pergi menemui Bang Farid tapi Ayu memegangi ujung pakaiannya.


"Aaaaahh.. Astagfirullah.. sakit Bang"


"Cckk.. yawes ayo langsung pulang saja..!!" Bang Huda membawa Ayu pulang ke rumah tanpa pamit.


...


Rasa cemas Bang Huda semakin menjadi karena mengingat dirinya aktif menyapa sang buah hati dan tadi pagi pun dirinya masih sempat temu kangen.


"Sebenarnya selama ini kamu sakit atau nggak dek?? Kenapa hari ini sampai seperti ini?" tanya Bang Huda.


"Ya sakit, tapi kali ini yang paling sakit" jawab Ayu.


"Kamu jangan macam-macam buat kehamilan ini jadi mainan ya dek. Abang marah betul kalau kamu buat ulah"


"Nggak Bang, Abang jangan marah. Sakit sekali nih Bang. Ayu mau pingsan" Ayu masih saja usil menggunakan kehamilannya untuk menghindari kemarahan Bang Huda.


Melihat Ayu kesakitan, Bang Huda pun tidak tega. Ia berjongkok menciumi perut Ayu. "Dedek berdua kenapa sih? Jangan buat Papa cemas. Papa sedih betul ini mikir kalian bertiga" kata Bang Huda sampai tak sadar setitik air matanya lolos. "Lima bulan lagi kita ketemu, kalian semua sehat-sehat. Maaf kalau rindunya Papa menyakiti kalian" sekali lagi Bang Huda mencium perut Ayu kemudian duduk lemas memeluk perut Ayu yang sudah membesar.


Tepat saat itu Bang Huda merasakan kedutan kecil menendang wajahnya. Air matanya kembali menetes, sungguh ia sangat mencintai putra putrinya. Memang dirinya tidak mengandung, tapi setiap hari keringatnya ikut berjuang memberikan seluruh jiwanya hanya untuk istri dan calon anaknya. "Tolong Papa nak, sehatlah kalian di dalam sana." bisiknya sampai perlahan perut Ayu tak sesakit tadi.


...


"Kamu dimana Da? Om Gazha cari kamu" tanya Bang Farid.


"Ayu kurang sehat Bang, saya membawanya pulang" jawab Bang Huda lemas.

__ADS_1


"Kamu sakit??"


"Nggak Bang" jawab Bang Huda tapi kemudian ia merosot ambruk. Ponselnya sampai terbanting.


"Abaaaanngg..!!!" teriakan Ayu membuat Bang Farid panik.


:


Beberapa orang anggota mengangkat Bang Huda ke dalam mobil. Tubuh Danki demam tinggi, wajahnya luar biasa pucat. Ayu menangis histeris melihat suaminya tiba-tiba drop di depan matanya.


"Baaang.. sadar Bang..!!! Ayu nangis kejer itu" Bang Saka berusaha menyadarkan Bang Huda di dalam mobil. Ayu tidak bisa ikut satu mobil agar para pria mudah membantu Bang Huda.


...


"Ini malaria dan beberapa komplikasi. Harus di rawat inap" kata dokter.


"Kok bisa dok??" Bang Saka bingung karena Malaria tidak menyerang di daerah tersebut.


"Dulu saat satgas di daerah timur, Huda pernah terserang malaria.. tapi saat itu nggak begitu parah" jawab Bang Leo.


"Masalahnya sekarang kenapa bisa separah ini?" tanya Bang Saka.


"Pertama Huda sudah sangat kelelahan dengan berbagai tugas, banyak pikiran dan mungkin ada beberapa hal yang sengaja tidak di rasa.. jadinya kambuh seperti ini" jawab dokter.


"Tolong beri perawatan yang benar-benar baik Bang, kasihan istrinya juga sepertinya tidak sehat" kata Bang Saka.


"Sabar ndhuk, kita tunggu observasi dokter" bujuk Om Gazha melihat Ayu bersedih.


...


Ayu masih terus menangis apalagi Bang Huda tak kunjung sadar. Ia meremas perutnya yang semakin nyeri.


"Ayu pulang ya, Abang antar..!! Tidur di rumah sama Syahila saja." bujuk Bang Saka tak tega melihat Ayu.


"Ayu mau disini saja temani Bang Huda. Mana dokternya Bang??? Minta dokter sadarkan Abang..!!" Ayu sampai beringsut memohon di kaki Bang Saka.


"Ayu.. kita berdo'a ya, Mudah-mudahan Bang Huda segera sadar" hanya itu saja saran yang bisa di berikan Bang Saka pada Ayu.


"Lho.. kok alatnya mati?" Bang Leo mengintip alat medis yang menempel di tubuh Bang Huda.


Ayu terduduk lemas melihat alat tersebut benar-benar mati. "Abaaaanngg.. Abaaaaaaaaaang..!!!!" Ayu kembali berteriak histeris hingga akhirnya tak sadarkan diri membuat satu ruangan panik.


"Ayuu.. Ya Allah..!!" Om Gazha mengangkat Ayu ke tempat yang lebih lega.


"B*****t.. j****k, dungu nggak kira-kira Leooo..!!! itu selang oksigen sama kabel disitu kamu injaaaakk...!!!!!!!" pekik Bang Saka berang.


"Oiya.. sorry bro" Bang Leo nyengir menggeser kakinya sudah membuat keonaran yang begitu besar.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2