Lost In The Ocean

Lost In The Ocean
Daisuki


__ADS_3

"Audy, kamu sakit?" tanya Sho menghampiri Audy.


"Hah.. Hmm iya leher saya sakit," jawab Audy.


Sho memegang leher Audy lalu memijatnya perlahan, Audy merasa sedikit canggung tapi lehernya terasa lebih baik ketika di pijat.


"Audy..." kata Sho seraya memijat leher Audy.


"Iya?"


"Saya mau kita bicara santai, pakai bahasa yang biasa kamu gunakan dengan teman,"


"Maksud Sho, aku kamu?" tanya Audy.


"Iya, itu terasa lebih nyaman, mulai sekarang kita teman,"


Audy sedikit terkejut tapi dia merasa senang, "Ohh oke," jawab Audy tersenyum.


"Hari ini hari terakhir ujian kan!" kata Audy ketika sampai di sekolah.


"Iya," jawab Sho mengangguk.


"Semangat ya.." kata Audy mengepalkan tangan.


"Iya makasih," jawab Sho tersenyum lalu keluar dari mobil.


Audy segera pergi setelah Sho lenyap dari pandangan, dalam perjalanan pulang tiba tiba ada yang mengetuk kaca mobil Audy saat sedang berhenti di lampu merah. Audy membuka kaca mobilnya dan melihat Davin berdiri sambil tersenyum mengenakan seragam sekolahnya.


"Davin," ujar Audy.


"Hi Audy," ujar Davin.


"Kamu jalan kaki ke sekolah, mau aku anterin?"


"Gak, rumah aku deket kok, emang sengaja jalan,"


"Ohh gitu..."


"Aku duluan ya udah telat," ujar Davin lalu pergi setelah Audy mengangguk.


"Daripada introvert dia lebih mirip extrovert." gumam Audy tertawa kecil lalu segera pergi begitu lampu hijau.


Ujian Sho telah berakhir, kini liburannya sudah di mulai sebelum kelulusan. Sho selalu tinggal di kamarnya dan kadang meminta Audy menemaninya bermain bulu tangkis. Satu minggu setelah Sho libur, sepupu Audy datang mampir ke artshop. Dia membawakan Audy beberapa makanan kesukaan Audy yaitu es krim, roti dan cookies. Sambil makan mereka mengobrol, tanpa sengaja Sho mendengar obrolan mereka saat sedang menyiram tanaman.


"Jadi gimana?" tanya Rina.


"Apanya?" tanya Audy seraya memakan roti lapis es krim buatannya.


"Jadi kerja ke Jepang?"


"Hhhhh... Gue masih dilema, 50 50."


Sho yang mendengar hal itu merasa kaget. Kupingnya terasa panas dan wajahnya memerah, selama dua detik rasanya jantungnya berhenti berdetak. Dia pun berhenti menyiram tanaman lalu pergi ke kamarnya setelah mematikan keran air.


"Maksudnya?"


"50% gue pengen ke Jepang, 50% gue juga suka kerja disini..."

__ADS_1


"Jadi gimana dong?"


"Itu pertanyaan gue, jadi gimana dong."


"Ya lo pikirin aja dulu, apa yang bener bener lo mau? Cepet dapet duit atau pelan pelan tapi pasti."


"Hmmm kalo disini terus mungkin butuh waktu lama, kalo ke Jepang mungkin lebih cepet tapi kerjanya juga berat."


"Yahh dilema lo susah banget sih!" kata Rina.


Audy menyiapkan makan malam, Sho baru saja pulang dari jalan jalan. Seperti biasa Audy dengan ramah menyambut Sho dan memintanya makan malam, Sho tak menjawab dan langsung pergi ke kamarnya. Audy pikir mungkin Sho tak mendengarnya, tapi ada yang salah dengan Sho, tak biasanya wajahnya cemberut seperti itu. Audy menyiapkan makanan Sho lalu menaruhnya di nampan, dia juga menaruh segelas air. Audy segera membawa nampan itu ke kamar Sho.


"Sho..." ujar Audy mengetuk pintu kemudian masuk.


Sho duduk di depan komputer sambil membaca buku. Audy menghampirinya kemudian menaruh nampan itu di meja.


"Ini makan malam kamu, makan dulu selagi hangat." kata Audy.


"Audy." kata Sho setelah beberapa saat.


"Kenapa,"


"Kamu suka kerja disini,?" tanya Sho.


"Iya," jawab Audy meskipun sedikit kebingungan.


"Jangan bohong,"


"Aku gak bohong,"


"Keluar."


"Aku minta kamu keluar! Sebelum kamu jujur gak usah temuin aku!"


Audy sedikit terkejut, ini pertama kalinya Sho bicara dengan nada seperti ini, biasanya dia sangat baik dan sabar entah bagaimana bisa berubah. Audy tak ingin keadaan semakin buruk dia pun segera keluar dari kamar Sho.


Hari semakin malam, Audy tak bisa tidur karena memikirkan perkataan Sho, Audy berpikir apa yang Sho maksud dengan berkata jujur karena dia merasa bahwa dia telah jujur.


Keesokan paginya, Audy telah menyiapkan sarapan tapi Sho tidak memakannya, saat Audy membersihkan kamar Sho, makanan yang kemarin juga tidak di makan, saat jam makan siang tiba Audy berusaha mengajak Sho bicara tapi Sho tak pulang, baru setelah malam tiba Sho kembali ke rumah. Audy seharian merasa khawatir memikirkan Sho. Setelah masuk ke kamarnya, Audy segera menghampiri Sho.


"Sho kamu kenapa! Dari kemarin kamu gak makan, gimana kalo kamu sakit." kata Audy.


"Keluar," kata Sho dingin.


"Salah aku apa sampe kamu gak mau bicara sama aku?"


"Kamu bohong."


"Aku bohong soal apa? Kalo kamu gak kasi tau aku gak akan pernah tau."


"Kamu bohong. Kamu bilang suka kerja disini tapi kamu mau kerja ke Jepang."


"Kamu," gumam Audy pelan.


"Aku denger kemarin kamu ngobrol."


"Sho, aku emang pengen. Tapi aku milih tetep kerja disini. Kalo aku milih pergi ke Jepang mungkin aku udah pergi sejak dulu. Tapi nyatanya aku masih disini, karena aku suka kerja disini, punya bos yang super baik kayak kamu dan Asaka."

__ADS_1


Sho terdiam memandang mata Audy.


"Lagipula kalo aku pergi kenapa, masih banyak kan orang yang mau kerja disini." gumam Audy.


Sho langsung beranjak dari kursinya dengan cepat kemudian mencium Audy.


"Daisuki." kata Sho setelah itu.


Audy termenung, dia tau apa arti ucapan Sho tapi tak mengerti mengapa Sho mengucapkannya. Dan ciuman itu...


"Aku suka kamu."


"Sho,"


"Aku gak mau kamu pergi, karena aku suka kamu."


"Kamu serius," tanya Audy.


Sho kemudian mendekat, lalu Sho memegang pipi Audy dengan lembut, Audy memandang tangan Sho yang memegangi pipinya kemudian menatap mata Sho. Dengan perlahan Sho mendekatkan wajahnya sambil memandang mata Audy, kemudian perlahan Sho mencium Audy. Bibir mereka bersentuhan dengan lembut, makin lama makin hangat, mereka hanyut dalam ciuman itu, nafas mereka hampir habis tapi mereka tak mau berhenti.


"It's you," kata Sho.


"Hm?" tanya Audy mengangkat alis.


"My first kiss,"


Audy tersenyum lega.


"Tuh kan bener Sho suka gue, oh my god... gak nyangka gue bisa pacaran sama Sho..." gumam Audy senang di benaknya.


Mereka mulai pacaran sejak hari itu. Meskipun awalnya sedikit canggung tapi mereka berusaha bersikap seperti biasanya.


Kemudian hari kelulusan Sho tiba, hanya siswa yang boleh menghadiri acara kelulusan itu, jadi tak ada orang tua atau pendamping. Audy menyiapkan setelan jas hitam untuk Sho. Setelah dipakai Sho terlihat lebih tampan dan berwibawa.


"Bagaimana?" tanya Sho.


"Tampan," kata Audy mengangguk senang.


Sho merapikan leher jasnya, Audy melihat salah satu kancing di tangan Sho belum terpasang, Audy segera mengambil tangan Sho lalu mulai memasangnya. Sho memandangAudy sambil tersenyum.


"Perfect!" (Sempurna) kata Audy. "Ready to go?" (Siap untuk pergi)


"Yeah," jawab Sho.


Audy pun berangkat mengantar Sho ke sekolah untuk kelulusannya. Setelah Sho masuk ke dalam Audy pergi membeli bunga dan hadiah untuk Sho.


Ketika kelulusan di mulai, Sho menghubungi Audy untu melakukan video call supaya Audy bisa melihat situasi di dalam. Audy hanya duduk di mobil sambil melihat suasana kelulusan hari itu.


Begitu pengumuman juara di mulai Audy merasa sedikit lebih khawatir daripada Sho. Juara 2 dan 3 telah di umumkan, sekarang tinggal juara petama, makin lama makin tegang, sang mc pun bersiap meneriakan juara 1.


"Kyosuke Sho." teriak sang mc.


Tepuk tangan meriah pun bergelora di seluruh ruangan, terdengar beberapa anak bersorak.


"Juara pertama kita selama 3 tahun berturut turut, selamat pada Kyosuke Sho, silakan naik ke atas panggung." kata mc.


Sho pun naik ke atas panggung dan menyampaikan sepatah dua patah kata juga memberikan semangat pada adik adik kelas.

__ADS_1


Audy merasa bangga melihat Sho berdiri di atas podium sambil memberi beberapa kata penyemangat. Setelah itu Sho di pakaikan mendali dan selempang dengan tulisan "Best of the year", kemudian bersalaman dengan kepala sekolah setelah di berikan bunga dan trofi.


__ADS_2