Lost In The Ocean

Lost In The Ocean
Audy being weird


__ADS_3

Mereka semua menjenguk Audy di ruang UGD, Audy belum sadarkan diri. Semuanya menangis kecuali Sian yang hanya berkaca kaca menahan tangisnya. Setelah beberapa saat Audy pun di pindahkan ke ruang rawat inap dan sesaat kemudian dia sadar.


Begitu sadar Audy merasa matanya terasa berat seperti habis menangis, dia juga merasakan sekeliling matanya basah. Keluarganya segera mendekat begitu Audy sadar.


"Dy kamu gak papa?" tanya Tari cemas.


"Papa panggilin dokter ya," kata Agus.


"Aku gak papa." jawab Audy tersenyum sambil mengusap rambutnya dengan lembut. "Tapi kalo sekali lagi kalian bertengkar kayak gitu, bukan di rumah sakit, tapi mungkin aku berakhir di kuburan..." kata Audy tenang.


Semuanya terkejut mendengar ucapan Audy, apalagi dengan ekspresi wajah tersenyum yang tampak begitu tenang. Tatapannya terlihat aneh, seolah olah bukan Audy yang sedang bicara.


"Jangan bilang gitu Dy, mama minta maaf.." kata Tari air matanya menetes.


"Gak usah minta maaf.." kata Audy.


"Papa minta maaf Dy, itu gak akan terulang lagi..." kata papa Audy juga meneteskan air mata.


"Papa juga gak perlu minta maaf, yang perlu papa lakuin adalah gak mengulanginya lagi.." jawab Audy.


Mereka semua merasa Audy bertingkah sangat aneh namun mereka tak berani menanyakannya pada Audy ataupun dokter. Mereka meninggalkan Audy sendirian di kamarnya karena Audy meminta mereka untuk makan terlebih dahulu.


Sesaat setelah kamarnya kosong, Audy menatap sebuah jam dinding yang ada di atas kusen pintu. Audy mengikuti setiap detik yang terus berjalan. Pikirannya kosong dan hampa sesaat kemudian tiba tiba muncul kejadian sebelumnya dalam pikirannya, dia pun menangis tersedu sedu, dadanya terasa sakit dan hatinya terluka. Audy terus menangis di atas ranjangnya, dia memegangi dadanya dengan kedua tangannya.


Keesokan harinya Audy pulang, tak mau sedih berlama lama dan membuat keadaan semakin canggung, dia pun memutuskan untuk bekerja. Semua tak mengijinkan Audy bekerja, tapi karena Audy keras kepala, keluarganya pun tak punya pilihan, agar Audy tidak ngambek mereka pun membiarkan Audy bekerja.


Baru sampai di tempat kerja, Audy menegaskan pada dirinya untuk bekerja keras. Dia pun mulai membuka art shop lalu bersih bersih, banyak hal yang terlintas dalam pikirannya, sesekali dia mengingat kejadian kemarin lusa. Seperti biasa dia juga berbicara dengan dirinya sendiri dalam hatinya.


Hari makin sore, Audy telah menutup art shop kemudian dia pergi untuk menutup rumah Asaka. Satu persatu Audy menutup pintu, mulai dari pintu kamar tamu, pintu kaca depan dapur, lalu dia turun ke bawah dan menutup pintu ruang tamu, kemudian kamar Asaka, yang terakhir Audy pergi untuk menutup jendela dan pintu kamar Sho.


Audy melihat sekeliling kamar Sho yang penuh buku buku di dindingnya, sesaat kemudian dia menutup jendela. Audy tak sengaja menyenggol foto Sho sehingga hampir terjatuh, Audy segera menangkapnya di waktu yang tepat. Audy memandangi foto kekasihnya itu selama sesaat.


"Aku," gumam Audy, "Aku kangen kamu Sho, mungkin ini adalah saat saat aku paling butuh kamu.. Tapi kamu gak ada. Aku harus gimana..." kata Audy menangis lalu memeluk lututnya.

__ADS_1


"Dy," kata Arya menghampiri Audy.


Audy segera menghapus air matanya lalu berdiri dan menaruh foto Sho kemudian memandang Arya yang menghampirinya.


"Lo kenapa?" tanya Arya.


Audy menggeleng pelan, "Gue gak papa,"


"Lo tau lo bisa cerita ke gue tentang apapun,"


Audy ingin menahan tangisnya, tapi entah mengapa ketika di tanya Audy semakin tak bisa menahan tangisnya. Audy kembali menangis dan Arya segera memeluk Audy untuk memenangkannya.


Arya membawakan Audy segelas sprite dingin lalu duduk di sebelahnya.


"Kenapa lo belum pulang?" tanya Audy usai minum seteguk sprite.


"Awalnya gue mau nebeng pulang sama lo, gue gak bawa motor. Pas gue nyari lo gue lihat lo lagi nangis." jawab Arya.


"Lo kenapa?"


Audy melihat Arya lalu berkata, "Gue hampir bunuh diri."


Arya langsung terkejut setelah mendengarnya, "Apa? Kenapa!" teriak Arya lalu memeluk Audy.


"Tenang, Gue gak akan mati semudah itu.."


"Kenapa lo ngelakuin itu?" tanya Arya sambil melepaskan pelukannya.


"Mama sama papa bertengkar, ini yang kedua kalinya mereka bertengkar sampe kayak gitu, dulu gue gak bisa apa apa, berusaha misahin mereka tapi gak berhasil. Saat itu gue pengen motong tangan gue tapi yang gue lakuin cuma teriak. Dan sekarang gue bener bener motong tangan gue," kata Audy lalu di akhiri senyum.


Arya langsung memeriksa tangan Audy yang di balut dengan perban. Audy kemudian menghapus air matanya lalu menarik nafas panjang, detik selanjutnya Audy langsung tersenyum seperti biasa. Arya merasa semakin khawatir begitu melihat Audy tersenyum tenang tanpa sedikitpun kecemasan dan rasa sedih.


"Jadi ikut? Yuk pulang sekarang," kata Audy.

__ADS_1


Arya mengangguk lalu menyusul Audy.


Mereka pun pulang, dalam perjalanan sambil mengemudi Arya terus memikirkan Audy. Dia mungkin bukan teman Audy sejak kecil tapi 2 tahun adalah waktu yang cukup untuk Arya memahami Audy. Mereka pertama kali bertemu di sebuah pusat perbelanjaan ketika tas belanjaan mereka tertukar. Setelah itu mereka bertemu lagi ketika Arya melamar pekerjaan di restoran Asaka. Sejak saat itu mereka berteman. Di banding dengan Panji dan Juni, Audy paling dekat dengan Arya. Arya adalah orang yang dingin karena itu dia jarang bercanda dengan Panji dan Juni. Audy pikir Arya mungkin kesepian jadi Audy sering mengajaknya mengobrol.


"Makasi ya, lo jadi bolak balik," kata Arya.


Audy menggeleng tersenyum, " Gak papa, santai aja lagi," jawab Audy. "Yaudah gue pulang ya,"


"Hati hati.."


Audy mengangguk tersenyum lalu pergi.


"Lo pasti sedih banget, harusnya lo gak usah senyum Dy." gumam Arya seraya masuk.


"Sho,,," gumam Audy sambil memeluk bantal gulingnya dengan erat.


Audy benar benar sangat merindukan Sho, dia ingin sekali meneleponnya tapi tak bisa memikirkan alasan yang jelas. Dia tau Sho mungkin tidak suka basa basi, selain itu dia takut jika dia akan mengganggu Sho.


Beberapa bulan berlalu, Asaka datang bersama Mika yaitu anak pertama Haruka. Mika akan tinggal bersama Asaka di sini, dia juga akan bersekolah di sini. Mika sangat suka bermain, wajar saja karena dia masih kecil, Audy sering menemaninya bermain karena Asaka cepat kelelahan di umurnya yang sudah berkepala lima.


Hari ini Audy dan Arya membawa Mika ke sungai, dia sangat ingin berenang di sungai. Meskipun kecil tapi Mika sangat bagus dalam berenang. Audy dan Arya membawanya ke hulu sungai karena di sana airnya lebih tenang dan hanya ada sedikit bebatuan.


Mika berenang dengan gembiranya, dia beberapa kali menyiratkan air pada Audy dan Arya.


"Kak Audy Kak Arya ayo ikut belenang," kata Mika cepat.


"Kak Audy gak bawa baju ganti, Mika aja ya..." jawab Audy.


"No! Halus ikut!" kata Mika dengan nada marah sambil melipat kedua tangannya ke dada.


Meskipun marah wajah Mika terlihat semakin imut, Audy dan Arya tak akan bisa menolak Mika yang sangat menggemaskan.


Audy dan Arya saling pandang kebingungan lalu Mika kembali menyiratkan air pada mereka. Audy dan Arya tertawa lalu Audy menyusul Mika masuk ke dalam air, Arya melepas kemeja kotak kotaknya terlebih dahulu lalu menyusul mereka. Mereka berdua ikut bermain di air bersama Mika.

__ADS_1


__ADS_2