Lost In The Ocean

Lost In The Ocean
Dejavu


__ADS_3

Hari ini ulang tahun sepupu Audy yaitu Miko, Miko adalah anak pertama dari Raka, kakak Agus ayahnya Audy. Raka memiliki empat anak yaitu Miko, Tara, Dewa dan Rina. Ayahnya juga punya seorang adik namanya Rai, Rai juga telah memiliki anak, yang pertama Tasya baru berumur 10 tahun, dan Nanda yang berumur 8 tahun.


Seluruh keluarga besar berkumpul untuk merayakan ulang tahun Miko, Miko juga mengundang teman temannya untuk makan malam bersama.


Setelah selesai meniup lilin semua mulai makan, setelah itu Miko minum bersama teman temannya, Sian dan Dewa juga bergabung, sedangkan yang lainnya menikmati makanan ringan sambil mengobrol. Sian, Dewa dan beberapa teman mereka bermain musik dan menyanyi untuk meramaikan suasana.


Di tengah tengah acara minum, teman Miko yang bernama Janu baru datang, dia pun langsung bergabung.


Ketika malam semakin larut, banyak teman teman Miko yang sudah pulang, beberapa di antara mereka sudah gugur dan ketiduran. Sian dan Janu sedang mengobrol, Audy sedang membawakan beberapa botol minuman untuk yang masih bertahan.


"Gimana kerja lo? Lancar?" tanya Janu.


"Lumayan," jawab Sian.


"Masih jomblo lo?"


Sian hanya tertawa, Janu pun mulai tertawa, entah bagaimana tawa Janu terkesan meledek Sian.


"Mana ada yang mau sama lo, bola aja gak punya.." kata Janu lalu tertawa jail.


"Ngomong apaan lo?" tanya Sian mulai marah.


Janu malah tertawa semakin gila, Sian yang sudah tak sabar memukul wajah Janu, semua orang kaget, Sian dan Janu mereka pun mulai berkelahi, Janu berusaha memukul Sian namun gagal, bagaimana bisa dia melawan Sian yang tubuhnya kekar perkasa. Sian tak mengampuni Janu dan terus memukulnya, semua orang berusaha memisahkan mereka. Saat mereka berhasil menghentikan Sian, Janu sudah babak belur akibat di hajar.


"Ngomong gak bisa! bener lo ngomong kayak gitu!" teriak Sian yang masih di pegangi Dewa dan ayahnya.


"Sian sabar," kata Audy berusaha menenangkan adiknya itu.


"Udah, cukup Sian..." kata Tari yang sangat ketakutan.

__ADS_1


Sian pernah menjalani operasi ketika usianya 13 tahun, saat itu salah satu batu pelirnya tanpa sengaja berputar dan terkilit, malam itu saking sakitnya wajahnya sampai membiru, keluargannya pun membawanya ke puskesmas terdekat, namun kata dokter itu hanya infeksi karena kotor, dokter itu memulangkan Sian setelah memberinya obat, dia bilang kalau masih sakit besok agar datang lagi.


Sampai di rumah, sakitnya masih tak berkurang, keluarga Audy sangat bingung dan tak mengerti harus melakukan apa, keesokan paginya mereka kembali ke puskesmas, lalu dari puskesmas Sian di rujuk ke rumah sakit umum daerah untuk ronsen dan cek lab, setelah hasilnya keluar dan dokter spesialis mengambil alih, Sian di pindahkan ke rumah sakit swasta untuk menjalani operasi, sebelum itu dia harus berpuasa dan beberapa jam setelahnya Sian pun mulai di operasi.


Salah satu batu pelirnya yang mati harus di angkat agar tidak menyebar. Kini Sian hanya memiliki satu batu *****, Tari merasa sangat khawatir tentang masa depan Sian, setelah mendapat penjelasan dokter bahwa Sian tetap bisa memiliki keturunan meski hanya memiliki satu batu *****, Tari dan Agus merasa sangat lega. Kini tinggal rasa penyesalan di hati mereka, mereka terus berpikir andai saja malam itu mereka langsung membawa Sian ke rumah sakit besar untuk mendapatkan penanganan dari dokter spesialis, kemungkinan kedua batu ***** Sian masih bisa di selamatkan.


Sejak hari itu Sian jadi lebih minder, dia tidak percaya diri karena teman temannya terkadang meledeknya. Lama kelamaan Sian jarang keluar rumah, dia pun berhenti dari organisasi yang dia ikuti, dan setiap ada yang meledeknya dia akan marah dan kehilangan kesabaran.


"Lo keterlaluan banget sih, cuma bilang gitu aja lo emosi!" kata Janu.


"Siapa yang gak emosi kalo di hina! Lain kali mikir kalo mau ngomong! Dasar gak ada otak!" teriak Sian.


"Lo tuh yang gak ada otak!" teriak Janu. "Kalian tau kan dia yang mukulin gue duluan!"


"Gue gak akan belain adik gue! Tapi menurut lo bener gak ngejek kekurangan fisik seseorang?! Kalo lo di posisi dia emosi gak! Lo beruntung karena lo masih hidup, harusnya lo bersyukur karena gak langsung di bunuh di tempat!" kata Audy.


"Pantes aja gak ada yang mau temenan sama lo, ternyata otak lo rusak! Mungkin cuma Miko yang nampung orang orang dengan otak rusak kayak lo!" ujar Audy lalu pergi.


Janu tak bisa menjawab, dia baru berpikir kalau perkataannya memang salah. Audy dan keluarganya pergi meninggalkan acara itu.


Selama beberapa hari suasana di rumah Audy tegang. Tak ada yang mengobrol apalagi bercanda. Namun setelah Sian mulai bicara suasana membaik, perlahan semua kembali normal.


Waktu terus berlalu, kini sudah dua tahun Sho di LA, Audy mendapat kabar gembira bahwa Sho akan pulang minggu ini. Audy sangat bersemangat setiap harinya menantikan kepulangan Sho, lalu tibalah harinya.


Audy lupa bahwa hari ini dia harus mengantar ayahnya ke rumah sakit untuk kontrol bulanan. Audy pun meminta izin Asaka karena tidak bisa menjemput Sho ke bandara. Lalu Asaka sendiri yang menjemput Sho.


Pulang dari rumah sakit Audy buru buru pergi ke rumah Asaka, tadi Asaka menelepon Audy bahwa Sho sudah sampai di rumah. Audy benar benar menantikan saat saat dia akan bertemu Sho, begitu sampai di rumah Asaka dia langsung masuk.


Betapa terkejutnya dia melihat Sho sedang berciuman dengan wanita lain. Melihat kedatangan Audy mereka pun berhenti. Asaka kemudian keluar dari dapur sambil membawa dua gelas minuman.

__ADS_1


"Audy sudah kembali.." kata Asaka.


"Iya," jawab Audy nyaris tak terdengar.


"Kami juga baru saja sampai," ujar Asaka sambil menaruh gelas itu di meja.


Audy hanya tersenyum kecil sambil memandang mereka.


"Oh iya, dia adalah Audy.." kata Asaka.


"Audy? Mama sering cerita tentang kamu." kata Sho.


"Hah?" gumam Audy di benaknya. "Kayaknya bakal dejavu."


Asaka bisa melihat raut wajah Audy yang tampak terkejut. Sho berjalan ke depan Audy bersama gadis bule itu di sebelahnya.


"Saya Sho, dan ini Nancy pacar saya." kata Sho.


"Dejavu." gumam Audy.


"Ya?" tanya Sho.


Audy menggeleng berusaha tersenyum, "Saya Audy."


"Hi... I'm Nancy,"


"Hi," jawab Audy.


Mereka pun duduk bersama, Audy dengan hati gundahnya hanya duduk diam dengan penuh pertanyaan di hatinya. Begitu malam tiba, Audy pun ijin pulang, namun bukannya pulang dia malah menyetir entah kemana.Yang dia inginkan adalah pergi sejauh mungkin. Hatinya benar benar hancur bahkan lebih hancur daripada saat di hianati Yanan.

__ADS_1


__ADS_2