Lost In The Ocean

Lost In The Ocean
Blood


__ADS_3

"Aaahhhh!!" teriak Audy sambil menutup mulutnya.


Audy tampak sangat terkejut sambil melihat layar laptonya.


"Ini serius!?" tanya Audy, "Novel gue mau di terbitin! Ahhhhh Ohh my God!!" teriak Audy girang sendirian.


"Kenapa teriak teriak Dy?" tanya Juni menghampiri Audy.


Audy yang terlalu bersemangat langsung memegang tangan Arya dan mengajaknya melompat lompat.


"Ini ada apa sih Dy?" tanya Arya kebingungan.


"Novel gue mau terbit!! Novel gue!!" jawab Audy bersemangat.


"Beneran lo?"


"Bener!!"


"Wahh selamat!!" kata Arya senang.


"Hahhh novel gue!" teriak Audy sambil memegang tangan Juni. "Yaampun Ya gue seneng banget! Gue seneng banget!!!"


Arya tersenyum bahagia melihat Audy yang tampak sangat senang lalu dia pun memeluk Audy. Meskipun Audy merasa sedikit aneh tapi Audy pun balas memeluk Arya dengan gembira, dia pikir Arya turut bahagia dengan keberhasilan Audy.


"Ni ada apa sih pake acara peluk pelukan," gumam Arya yang baru datang dengan Panji.


"Novel gue terbit!" kata Audy senang.


"Wahh serius?" tanya Juni.


"Serius!"


Mereka pun ikut memeluk Audy dengan gembira untuk merayakan keberhasilannya. Audy menraktir mereka makan malam di restoran bbq dekat sana.


"Cheers!!" kata mereka sambil berulang.


Mereka pun makan sambil minum minum, Audy hanya minum soda sementara yang lain alkohol, itu karena Audy memang tidak minum alkohol sebelumnya.

__ADS_1


Audy mengirim pesan pada Sho sebelum merayakannya bersama teman temannya, dia baru mendapat balasan pesan dari Sho keesokan harinya. [Selamat Audy, i'm happy for you...]


Audy mengambil handuk lalu berdiri menghadap ke cermin, dia melihat dirinya sendiri di cermin lalu mengangguk penuh keyakinan.


"Ini adalah awal yang baru, lo pasti bisa Dy!" kata Audy.


Kemudian dia pun pergi ke kamar mandi untuk mencuci dan sekalian mandi.


Audy menjalani hari ini dengan semangat, dia pun pulang bekerja dengan perasaan gembira. Audy baru selesai memarkir motornya dan dia mendengar suara gelas pecah dan teriakan teriakan kedua orang tuanya yang sedang bertengkar. Audy berlari masuk ke dalam lalu melihat orang tuanya yang sedang bertengkar. Audy berusaha menghentikan mereka namun mereka tak mau dengar, Dyana menangis di depan pintu sambil melihat orang tuanya.


"Aku emang minum! Tapi bukan setiap hari! Cuma sekali sekali di bilang tiap hari! Lagian yang aku pake uang aku bukan uang kamu! Kamu gak berpenghasilan gak usah ngurus aku!" kata Agus ayah Audy.


"Iya aku tau itu uang kamu! Tapi gimana kalo sakit lagi? Gak inget kalo kamu punya sakit jantung! Udah berapa kali kamu keluar masuk rumah sakit? Gak kapok! Aku capek ngurusin kamu di rumah sakit!" kata Tari ibu Audy.


"Gak usah ngurus aku! Aku punya saudara dan keponakan yang akan jagain aku!"


"Saudara? Udah berapa kali kamu di rawat? Ada gak saudara kamu yang pernah jagain kamu sehari aja? Jangankan beberapa hari, sekali muncul cuma mampir aja! Mana ada saudara kamu jagain kamu!"


"Jangan banyak ngomong kamu!" teriak papa Audy lalu mendorong mama Audy ke dinding.


Audy berusaha menarik papanya tapi tak mampu, dia menangis sambil berusaha memisahkan mereka. Audy pun kehilangan kesabaran dan mengambil pisau.


"Berhenti!" teriak Audy lalu melukai pergelangan tangannya.


Dyana berteriak lalu orang tuanya pun melihat Audy dan kemudian berhenti bertarung.


Audy memandang mereka penuh kemarahan dan masih memegang pisau berdarah itu. Tangan Audy mengepal dan darahnya mengalir deras. Mama dan papanya berlomba menghampiri Audy.


"Harus gini ya biar kalian bisa berhenti?" tanya Audy.


Mama dan papanya menggeleng sambil menangis. Lalu mamanya mengambil tangan Audy.


"Pa! Berhenti bilang mama gak berpenghasilan! Meskipun selama ini papa lebih banyak ngasilin uang, tapi mama juga kerja, apa menganyam bukan termasuk pekerjaan? Hanya karena lebih lama dan lebih sedikit ngasilin uang itu bukan berarti mama gak berpenghasilan! Hidup mama sehari harinya ngurusin kita, papa pernah gak masak? nyuci baju atau bersih bersih? Waktu mama habis untuk ngelakuin semua itu! Kalo.mau mama juga bisa kerja, tapi apa papa mau masak sendiri dan ngelakuin pekerjaan rumah?" Gak kan! " kata Audy.."Selama ini yang ngelakuin pekerjaan rumah juga mama, papa bisa gak sih? Hargain sedikit perjuangan mama."


"Iya iya papa minta maaf..." kata Agus tak kuasa menahan tangis sambil melihat lengan anaknya yang berdarah. "Kita ke rumah sakit dulu ya,"


"Papa juga, gak kapok masuk rumah sakit? Dokter udah bilang gak boleh merokok dan minum alkohol, ini bukan yang pertama kalinya papa melanggar dan kami maklum, tapi ini udah keseringan! Papa pikir kalo masuk rumah sakit lagi saudara papa yang akan jagain? Atau keponakan keponakan papa? Udah berapa kali papa masuk rumah sakit, pernah gak mereka jagain papa! Aku capek pa, jujur aku dan mama capek berususan di rumah sakit,"

__ADS_1


Agus menangis sambil memandang anak anak dan istrinya.


"Papa beruntung karena masih hidup sampai saat ini, tapi gak ada yang selalu beruntung, gimana kalo terjadi sesuatu sama papa? Gimana kami hidup? Kami gak siap kehilangan papa!"


"Maafin papa.... Papa minta maaf, papa gak akan gitu lagi, tapi sekarang ayo ke rumah sakit, kita obatin luka kamu," kata papa Audy.


"Gak usah, biar sekalian aja langsung mati!" kata Audy lalu pergi.


Kepalanya sudah pusing sejak tadi dan bibirnya mulai pucat. Baru berjalan beberapa langkah Audy pun pingsan.


Mereka melarikan Audy ke rumah sakit untuk di obati. Mama Audy sambil menangis memangku Audy di pangkuanya.


Setelah sampai di rumah sakit, Audy langsung di tangani oleh dokter.


Pendarahannya cukup parah namun untungnya dokter dapat mengatasi hal tersebut, Dyana, mama dan papa Audy bersama Dyana menunggu di luar, mereka sangat khawatir memikirkan keadaan Audy. Kemudian Sian yang baru pulang bekerja langsung menghampiri mereka ke rumah sakit.


"Selalu aja bertengkar! Puas sekarang Audy jadi kayak gini!" kata Sian marah.


Mama Audy hanya bisa menangis mendengar teguran Sian tapi hatinya penuh dengan kekhawatiran tentang Audy.


Setelah beberapa saat dokter pun keluar dari ruangan UGD, mereka pun menghampiri dokter untuk menanyakan keadaan Audy.


"Dok bagaimana anak saya?" tanya mama Audy cemas.


"Sekarang sudah tidak apa apa, pendarahannya sudah berhenti dan kami sudah menjahit lukanya." jawab dokter.


Mereka semua menghela nafas lega.


"Boleh kami masuk dok?"


"Boleh, untuk perawatan kami sarankan pasien menginap semalam di rumah sakit, agar kami bisa langsung mengawasi jika terjadi pendarahan atau hal lainnya."


"Ohh baik dok, tolong lakukan yang terbaik." kata papa Audy.


"Baik, kalau begitu sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke kamar, tolong urus administrasinya terlebih dahulu, kami butuh data pasien."


"Baik dok,"

__ADS_1


__ADS_2