
“BRKRAAAK!!” Robeklah Lukisan yang berharga itu,
“siapa yang lempar batu kearah panggung ini??” kata panitia lomba,
“Ini pak, Rendi, dia masih pegang sisa batunya” jawab Rja yang memfitnahku,
Panitia langsung menghampiriku dan orang orang, melihat ke arahku dan membawaku keatas panggung
“bu, bu, bukan aku pelakunya” kataku yang ingin lari, namun sia sia, banyak sekali warga disini, melihatku seperti penjahat dan aku pasrahlah aku, dibawa keatas panggung, sedih tak ada yang membelaku disana hanya Putry saja yang menjadi saksi, tapi tak cukup, karena ada bukti yang lebih nyata, aku pun benar benar pasrah, harus diberi hukuman.
Aku diikat dan dilempar batu oleh penonton atau warga sekitar, karena telah tuduh merusak karya orang lain, dan ternyata lukisan itu adalah juara pertama, yang akan dipamerkan di musium, tapi malah RJA merusaknya, dan aku di tuduh olehnya.
Tiba-tiba datang seorang anak yang menghampiriku dan menamparku dengan sekuat tenaganya.
“mengaku saja kamu!! (PRAK!!)” kata Refi sambil menamparku,
“Maafin aku ya, sebenarnya aku gak ada maksut untuk merusak Lukisan kamu” kataku sambil kesakittan habis digampar dan bertekuk lutut dihadapanya,
“kalo gak ada maksut kenapa kamu bawa batu besar itu?” tanya anak itu yang berdiri dihadapanku,
“aku di fitnah sama temanku” kataku sambil menoleh keatas melihat wajahnya yang kesal kepadaku,
“lalu siapa yang harus tanggung jawab? asal kamu tau, Lukisan itu hanya bisa dibuat satu kali” kata anak itu yang kesal terhadapku.
__ADS_1
Aku pun membela diri membentak anak itu, "kamu salah" kataku yang membela diri, anak itu terdiam sejenak,
“kata siapa? kata siapa Lukisan itu hanya bisa sekali?” jawabku dengan menantang kata kata anak itu,
“kata ku lah!! coba kau buat yang mirip dengan lukisan itu? pasti kau gak bisa!” tanya Refi sambil menjambak Rambutku, aku pun terdiam sejenak.
“aku bisa, akan ku gambar lukisan itu kembali” jawabku yang menerima tantangan anak itu,
“ini gak mudah ya, Jangan anggap gampang lukisanku, mengerti, segerah buat yang mirip” jawab Refi melepaskan tanganya dari kepalaku dan pergi meningalkanku di panggung.
Warga yang ikut lomba, bubar buyar ketempatnya masing masing dan meningalkanku sendirian diatas panggung, setelah itu Ferzan dan Putry menghampiriku, yang terikat dengan muka sedikit bonyok dihajar warga, dan mau gak mau aku harus mengganti Lukisan tersebut.
“kamu ini bagai mana sih? bisa bikin masalah diacara sebesar ini?” kata Ferzan yang membantuku melepaskan ikatan di tanganku,
“ini semua fitnah sih RJA Zan, dan salah ku udah bareng si Rendi Mulu” jawab Putry yang memberikanku Es batu untuk membasuh muka yang penuh Luka,
“tapi gak ada bukti kalo RJA itu fitnah aku” jawabku sambil sedikit kesakitan,
“menurutku, kamu harus meminta maaf dengan yang melukis itu” usul Ferzan yang memberikan pendapatnya.
“iya juga sih Zan, tapi aku gak tau dia tinggal dimana Zan” jawabku tentang pendapat Ferzan,
“tapi kamu kan yang salah juga sudah menentang pembicaraan pelukis itu kan?” tanya Putry tentang pendapat Ferzan,
__ADS_1
“benar juga sih put, Bisa antarku kerumahnya?” tanyaku mencari tau tentang anak itu,
“siapa nama Pelukis itu??” tanya Ferzan
“namanya Refi” jawab Putry yang mengetahui di ujung lukisan itu ada nama Refi
“ohh Refi aku kenal dia, yok Besok kerumahnya” jawab Ferzan sambil Mengantar Rendi kerumahnya untuk beristirahat sejenak.
Ahirnya aku benar benar mau bertanggung jawab, kesokan harinya mereka berdua menghampiriku dan menemaniku ke rumah Refi, telah sampai di rumah Refi aku mengetuk pintu rumahnya.
...🕰ΩΩ(19-08-2004)ΩΩ🕰...
"Ren, ini rumahnya kamu ketuk gih" kata Ferzan yang menuruhku,
"ehh, aku gemeteran Zan, bisa wakilin gak" kataku dengan gerogi,
"heleh pengecut kamu Ren" kata Ferzan,
"Heh bukan gitu, kalo aku yang ketuk nanti dia gak mau bukain pintunya" kataku yang beralasan.
“Asallamuallaikum (TOK TOK TOK) !! kata Putry sambil mengetuk Pintu,
“membuka pintu (KREK) waallaikumsallam? siapa ya??” jawab Refa si kakak Refi,
__ADS_1
"kita datang untuk meminta maaf, atas kejadian kemarin" kata Putry yang membalas.