
Tak lama datang seorang Kakek yang waktu itu menolong putry saat dimata air, pastinya kita dibawa Kembali lagi kerumahnya kakek itu.
Dan tak lama dirumah sang kakek, datang lah ayah dan ibu Putry ke Rumah kakek untuk bertemu Putry, di sambutlah ibu dan ayah Putry dengan ramah di rumah kakek.
“Mohon maaf pak kepala desa, sedang apa bapak kepala desa mengunjungi kerumah kami ini?” tanya kakek yang menyambut kedatangan ibu dan ayah Putry didepan Rumah,
“kita kesini hanya menghampiri Putry, anak kami, dia sudah tiga hari tidak pulang ke Rumah” Jawab ayah Putry yang melihat Putry di ruang tamu sambil makan,
“anak bapak baik baik saja bapak bisa lihat anak bapak tersenyum ceria di sana” jawab kekek sambil menyuruhnya masuk keruang tamu, dan ayah ibu Putry masuk kerumah dan duduk di bangku Ruang tamu
"Kamu tak apa apa kan Putry?" tanya ayah Putry sambil mengusap kepala Putry,
"Putry tidak apa apa ayah, kakek ini baik sama Putry" jawab Putry kepada ayahnya,
“saya menemukanya dihutan terlarang, mungkin mereka terjebak hujan kemarin, dan tersesat dihutan sana” kata sang kakek
“anak bapak dan ibu itu, yang perempuan ya? seminggu yang lalu juga, anak bapak pingsan dimata air di dekat sungai, dan kami bawa kesini” kata nenek sambil mengelus kepala Putry yang ada di sampingnya,
“kita sangat berterimakasih karena telah menjaga dan merawat putra putri kami bu” kata ayah Putry,
“Tidak, berterimakasih lah kepada dua anak laki-laki ini, karena mereka yang memberitau kita, Kalo dia diam, mungkin kita juga tidak tau keberadaan mereka” jawab sang kakek sambil kearah menunjukku,
“mereka masih anak anak, belum tau yang mana bahaya dan yang tidak bahaya” kata ayah Putry,
__ADS_1
“kita tidak keberatan kok Nak, kita juga senang mereka bermain disini, kita selalu angap mereka juga cucu kami sendiri kok” kata sang nenek sambil tersenyum,
“jika tidak ada anak anak disini, mungkin kita tak bisa silahturahmi dan bertemu kalian” kata kakek.
"sebenarnya aku sedikit penasaran siapa anak laki-laki yang Bernama Rendi itu ?” tanya nenek sambil menunjukku
“oh dia, putra pertama shadhoyo, menantunya si Shiatoun” jawab ayah Putry.
“eh, oh berarti dia cucunya Dhanestha ya?” tanya kakek sambil terkejut mendengar nenekku,
“sudah besar ya, rasanya ingin sekali bertemu dengan Nestha” kata kakek itu,
“pantas saja nenek seperti menggenalinya, wajahnya sedikit mirip dengan kakeknya ya” kata nenek dengan tersenyum.
"tentu, kakek teman masa kecilnya Nestha, dan saya teman rantaunya sitoun dari madura" jawab sang nenek sambil memberikan minum kepada ibu bapak Putry,
"jadi, kalian menikah tua?" tanya ibu Putry kepada kakek dan nenek,
“iya, kakek menikah lagi dengan nenek untuk memenuhi kebutuhan, karena kakek kalian juga kami menikah, kalian juga membantu kita waktu pernikaan itu, walapun masih anak anak ?" tanya kakek,
"ooh iya, saya baru ingat lagi tentang itu, waktu itu ibu hanya menceritakan sedikit tentang kalian" jawab ibu Putry
"kalian seperti raja ya, yang membantu kita dalam kesusahan” kata kakek,
__ADS_1
“jangan seperti itu kek? Kita ini masih sama seperti kalian, waktu itu hanya ikut membantu hal kecil saja” kata ayah Putry,
“Kakek kalian itu orang baik yang selalu membanatu warganya, pantas harus dipuji baik” kata kakek yang memuji ayah Putry.
"Lalu bagaimana keadaan kakek kalian setelah kami menikah tiada kabar darinya?" tanya kakek,
"ayah sudah meninggal 3 tahun lalu" kata ayah Putry,
"kakek meninggal karena kangker yang dia punya” jawab ibu Putry
“omong kosong kakek tau, dia kan tabibnya Raja, Dia bisa menyembukan luka orang lain dalam waktu lima detik, Mana mungkin dia meninggal karena penyakit?” tanya kakek,
“musibah datang sendirinya Pak, kita tak tau kapan ajal menjemput kita” jawab ayah Putry,
“saya hanya mendegar cerita, dulu dia ingin diangkat jadi anggota Raja, Tapi Dhanestha tak mau, dia menolak dan berkata itu bukan haknya” kata kakek tersebut,
“kakek ini siapa kok bisa tau seluk beluk keluarga kami? Sedangkan kami cucuknya saja tak pernah tau tentang mereka?” Tanya ibu Putry
“saya hanya orang bisa yang dulu pernah di sembukan oleh kakek mu, Kakek hanya ingin berterimakasih oleh Dhanestha telah menyembuh kan luka saya” jawab sang kakek.
Skip cerita ahirnya mereka saling mengenal masing masing, ada sedikit cerita yang tak bisa aku ceritakan tentang kakek ku, kalo kuceritakan bisa lebih panjang kaya kereta, selesai berbincang, dan bercerita kita pamit dan pulang, aku merasa aneh mengapa ayah Putry bisa tau kita dirumah kakek itu, padahal kita sama sekali tak pernah memberitau keberadaan kita.
Keesokan harinya berkumpul dan bermain di bawah Pohon ceri, sungguh jahil si Ferzan dengan sengaja membawa 7 keping pecahan batu ajaib itu, dan mengukirnya berbagai bentuk seperti kotak, bulat, love, limas, dan masih banyak sisanya, aku tak tau dia mengambilnya kalo saja aku tau aku sudah buang jauh jauh batu itu, kata warga yang tau tentang batu di dalam goa itu, bisa membuat sial dan keberuntungan pembawanya, aku percaya tak percaya juga akan terjadi musibah, konon selain sial kita juga mendapat keberuntungan kan, namanya sial pasti ada beruntungnya tergantung kita menghadapinya.
__ADS_1
(seperti Jin saja minta tumbal -_-)