
...🕰ΩΩ(19-08-2004)ΩΩ🕰...
Mereka bertiga kerumah Refi untuk meminta maaf, Refi ini seumuran denganku, namun sifatnya agak sensitif dari pada orang orang lainya, mungkin karena aku belum begitu kenal dengan Refi, Refi itu tak suka bergaul bebas dengan warga sekitarnya, dia selalu rajin membantu ayahnya, yang berkerja sebagai membuat guci, lemari, meja kursi, dan kerajinan lainnya.
"asallamuallaikum (TOK TOK TOK!! )" kata Putry sambil mengetuk Pintu,
“membuka Pintu (KREK) waallaikumsallam? siapa ya??” jawab Refa si kakak Refi
"kami ingin memita maaf atas kejadian kemarin" kata Putry,
“Boleh bicara dengan Refi??” tanya Putry kepada Refa yang membuka pintunya,
“ahh silahkan masuk” jawab Refa yang baik mempersilakan mereka bertiga duduk di ruang tamu,
“terimakasih” jawab Putry sambil masuk keruang tamu.
“wah rupanya ada tamu besar saya akan buat kan minum dulu ya sebelum mengobrol” jawab ibu Refa yang melihat kearah Putry,
“ah tak perluh repot repot bu, kita hanya berkunjung sebentar saja kok” jawab Ferzan kepada ibu Refa,
“tak papa kok, jangan gitu ya, mau minum apa kalian?” jawab Refa yang baik terhadap kami,
“(kok ada yang beda dari sikapnya yang kemarin)” kataku dalam hati, yang melihat Refa, yang kufikir itu adalah Refi.
“Ref, Ada tamu untukmu, keluarlah sebentar” teriak ibu Refa dari ruang dapur, yang mempersiapkan minum untuk kita,
“siapa bu? Aku tak ada acara kunjungan hari ini?” tanya Refi yang Teriak dari atas rumahnya,
“anak pak kepala desa sebelah” teriak ibu Refi yang jawab pertanyaan Refi sambil memberikan minum kepada kami,
“hah? benarkah?” kata Refi yang penasaran dan berlari keluar dari kamar menuju ke ruang tamu.
“oh ternyata kalian kembar toh?” Sentakku sambil melihat kearah Refi, dengan wajah maluku tentunya,
"iyah mereka kembar, tapi beda 3 tahun hehe" jawab ibu Refi dan duduk dibangku sebelah Putry duduk.
“aku kira siapa? ibu membohongiku, katanya anak kepala desa? tanya Refi memarahi Refa,
“Hutss, kamu tak ingat yang perempuan itu?” tanya Refa sambil menuju kearah Refi,
“oh dia yang anaknya kepala desa sebelah yang kau ceritakan itu?” tanya Refi sambil teriak,
“kau ini, jangan keras keras, sopan sedikit sama perempuan” jawab Refa sambil berbisik dan melihat Putry.
“iyah kah? katanya dia yang sering terkena kasus didesanya,memangnya kasus apaan sih?” tanya Refi kepada Refa,
"Hei, peka dong" jawab Refa dan bebisik ke arah telinga Refi,
“ingat kan bulan lalu, ada yang ngalahin Preman dipasar kita, cowok itu yang menangkapnya” jawab Refa sambil berbisik kecil di telinga Refi,
“kudengar yang menangkap si Bintang kan, anak pak dokter itu?” tanya balik Refi kepada Refa,
__ADS_1
"iiya sih, Bintang ada di sana dan si Rendi ini yang membantu Bintang menangkap preman itu” kata Refa,
"kurasa Preman itu tak segalak yang kita fikirkan" jawab Refi dengan wajah sombongnya.
“Tapi, kamu ingat kan, cerita ayah, yang namanya Rendi itu, dia cucunya Dhanestha dan kamu ingat kan kata ayah, soal cerita kakek kakek itu?” kata Refa yang mengikngatkan Refi,
"heleh, paling cuma cerita dongeng sebelum tidur" jawab Refi, kepada Refa.
"kalo itu benar terjadi, kita bakal dapat masalah besar loh" kata Refa kepada Refi,
“ohhh iyah ya, jadi kenapa aku terlibat sama mereka sih?” kata Refi yang memahami maksut dari Refa,
“nah makanya, lain kali berbaik hatilah kepada orang lain, jangan asal cari masalah, apa lagi dengan keluarga sendiri” kata Refa.
“Hem!, kita ingin selesaikan masalah, bukan melihat wanyang kembar ngegosip ya ( -_- )” kata Ferzan yang sedikit kesal pada Mereka berdua,
“maaf yaa, ibu mau pergi sejenak membeli belanjaan kalian ngobrol dulu yang akur ya” jawab ibu Refa sambil Pergi keluar rumah.
Pada ahirnya aku pun berbaikan, aku meminta maaf kepada Refi, dan menceritakan kejadian kemarin itu, mereka berdua percaya padaku, aku pun tertarik pada lukisan yang Refi buat, tentunya kita belajar Bersama sama, aku belajar melukis bersama Refi.
Refa Dan Refi ini adalah adik kakak kembar tapi berbeda umurnya, Refa lebih tua 3 tahun dari Refi, tapi muka dan wajahnya mirip sekali, susah di bedakan, adiknya Sd dan kakaknya smp dan keluarga mereka berjualan seebuah karya seni, bisa dibilang memahat membuat meja kursi lemari dan juga mangkuk dan cowek dari tanah liat dan rumahnya pun penuh dengan karya seni keluarganya.
menurutku karya seni itu butuh ketenangan dan hiburan tentunya, keluarga mereka sangat humoris dan harmonis yang suka bercanda, namun Refi saja yang lebih sering emosi, dan sedikit sensitif kepada orang yang baru dia kenal.
...🕰ΩΩ(30-08-2004)ΩΩ🕰...
"Ahirnya lukisanya jadi" kataku yang telah selesai membuat replika lukisan dari Refi,
"ahh, aku kecewa tidak mirip" kataku yang mengeluh dengan lukisanku,
"tapi itu lebih bagus dari lukisanku ini Ren, bagai mana menurutmu Fi" kata Ferzan yang memuji lukisanku,
"Ehh, ini malah lebih terlihat tiga dimensi" kata Refi sambil melihat lukisanku,
"kamu berbakat juga ternyata" jawab Refa yang memujiku,
"Kamu hebat nak" kata ayah Refi yang tiba tiba muncul di belakangku.
"bakat sepertimu harus di lestarikan, jangan di sia siakan" kata Refa dan mengelus elus kepalaku,
"tapi kenapa hatiku kaya belum puas paman?" tanyaku kepada ayah Refa,
"Ohh kalo itu kamu ikut paman kebelakang rumah" jawab ayah Refa.
kita pun ikut ayah Refa ke tempat pekerjaannya, entah kenapa aku jadi ingin membuat kerajinan tangan,
"wah, ini tempat kerja paman?" kataku yang kagum melihat proses pembuatan guci,
"iya benar, kalian mau mencoba membuat guci?" tanya ayah Refi.
Singat cerita kita belajar membuat guci bersama ayah Refi, sungguh hari yang melelahkan, tapi seru juga belajar bersama ayah Refa, aku merasa bahagia dan tenang setelah membuat guci itu, Putry, Rendi dan Ferzan pun pulang kerumah, masing masing entah aku merasa ketagihan dan ingin membuat karya karya yang lainya.
__ADS_1
Cerita selanjutnya setelah satu bulan kemudian dihari libur, Rendi pun sering menggunjungi rumah Refa dan Refi untuk menambah ilmunya lagi, sering membantu menyelesaikan karya seninya ayah Reva dan Revi, dan karya seni yang diperlombaan itu pun dipamerkan di musium Surabaya, aku sangat bahagia karena sudah membuat kebaikan dan aku pun senang juga karena sudah mendapat banyak ilmu yang ku dapat, aku senang karena tugasku sudah selesai, Lukisan itu telahku selesaikan, namun aku masih ingin belajar membuat sesuatu yang lebih menarik lagi (menambah ilmuku ditempatnya Refi).
...🕰ΩΩ(12-09-2004)ΩΩ🕰...
“Rendi, kamu sering datang ke rumah ini padahal kamu udah selesai loh tugasnya” kata Refi yang sedang melihatku yang masih membantu pekerjaan ayahnya Refi,
“sebenarnya aku juga tau kalo sudah hampir sebulan lebih, memangnya ada apa? Aku tidak boleh kah membantu ayah mu disini?” tanyaku kepada Refi,
“kalo begitu, aku akan membayar untukmu nanti” jawab Refi,
“Tidak!! Aku hanya ingin belajar sesuatu dan niatku hanya membantu saja, tak ingin uang itu” kataku yang menolak diberikan uang kepadaku,
“lalu untuk apa kamu gak digaji tapi malah membuat barang barang ini?” kata Refi
“kamu tau gak barang ini bisa menuju masa depan, aku khawatir masa depanku akan Rusak dan tak ada penerus lagi, dari pada aku memilih uang, lebih baik kau beri aku benda ini, aku lebih suka karena disini ada sedikit keringatku yang kering” kataku sambil tersenyum,
“kalo begitu kita buat lagi untukmu” jawab Refi yang membantuku membuat sebuah guci,
“maaf ya waktu itu aku kasar sama kamu,, aku hanya emosi waktu itu” kata Refi yang menyesali perbuatanya dipangung waktu itu
“itu kan hukuman ku, banyak dapat pelajaran baru disini dan tak seperti orang lain yang suka kelayaban gak jelas itu” jawabku sambil menerima maaf dari Refi
“ternyata kamu orang yang baik, pasti banyak teman kamu ya?” tanya Refi.
“Mmm sebenarnya, aku hanya sendiri dirumah membantu nenek saja” jawabku sambil menyelesaikan guci,
“lalu kenapa kamu tidak keluar rumah? dan bermain dengan yang lain” tanya Refi kepadaku,
“tidak aku lebih suka menyendiri, karena tak ada yang mau berteman denganku, lalu kamu kenapa tidak keluar rumah?” jawabku yang berbalik bertanya kepada Refi, Refi pun terdiam sejenak dan merenung.
“Orang sepertiku mana mungkin keluar rumah dan nongkrong kesana kesini” kata Refi yang merenung sedikit sedih tapi tak keluar air mata,
“iyah banyak orang jahat yang egois hanya memikirkan dirinya sendiri, dari pada aku gak berguna, lebih baik aku cari kesibukan di sini, Benar kan Refi?” kataku kepada Refi,
“hahah kau benar Ren, ternyata asik juga ya punya teman sepertimu, aku tak pernah punya teman selain kakaku
“tentu senang rasanya bisa berbagi pengalaman bersamamu, tapi tetaplah keluar dan buktikan kalo kreasimu itu adalah luar biasa” kataku sambil menunjukan keatas
“eh kok?” jawab Refi yang terlihat kaget mendengar kata kataku
“ada apa Refi ??” tanyaku kepada Refi
“ah tidak apa apa Ren, hanya mengingat kakek ku” jawab Refi dan semangat Kembali berkerja sama.
...🕰ΩΩ(12-09-2004)ΩΩ🕰
...
Kita pun akrap dan tak pernah bertengkar lagi, saling mengerti kebutuhan masing masing, kita berhasil membuat guci tersebut dengan bagus dan menyimpanya sebagai tanda persahabatan antara aku dan Refi.
__ADS_1