Love Diary Rendi

Love Diary Rendi
Janji Terahir Rendi Bagian 2


__ADS_3

Pada saat kejadan itu aku pun tak behenti meneteskan air mata, dan pergi ke kampung bersama keluargaku, untuk menggubur Jenazah putry, setelah sampai di kampung, aku menangisi di depan mayat Putry, aku mencium bibir Putry Untuk terahir kainya sebelum dia dikuburkan.


"Putry jangan pergi" kataku sambil memeluk jenazah Putry, 😭 (authornya ikut mewek)


dan selesai Jenazah dikuburkan aku mengurung diri dirumah, aku menangis tiduran di atas ranjangku dengan di tutupi selimut, aku menyesali perbuatku karena yang tak bisa menjaganya.


"andai saja aku tidak ikut ibu ke jakarta" Kata Rendi dalam hati yang menyesal,


"pasti Putry tidak akan seperti ini" teriak Rendi sambil mengurung diri di kamarnya.


"Tok! Tok! tok!" Suara pintu di ketuk,


"clak!" pintu terbuka,


"Re? Ada Tante tuh, katanya kamu ngomong sama kamu" suruh ibuku, menemui ibu putry


"bilang pada bibi, bu, Rendi gk mau keluar" jawabku kepada ibu.


Setelah itu keluar dari kamarku, aku masih melamun dan memikirkan Putry, setelah beberapa menit kemudian suara langkah kaki terdengar Lagi.


"Tok Tok Tok" suara pintu di ketuk,


"Clak!" suara pintu kamarku terbuka, aku tau ibu pasti kembali memaksa aku untuk keluar,

__ADS_1


"ada apa bu, aku tidak mau keluar!" teriakku sambil membentak,


"ini ibu re" Suara ibu Putry,


"bibi, maaf bi aku fikir Ibu yang datang" jawabku sambil terbangun dari ranjang dan bibi duduk disamping ku,


"bibi tau kamu pasti gak bisa melepaskan Putry" kata ibu Putry sambil mengelus Kepalaku, aku pun tak menjawab, dan menangis ku peluk bibi,


"Jangan sedih Re, Putry bahagia kok disana"


jawab ibu Putry,


"Re salah Bi, Harusnya Re gk ikut ibu" jawabku sambil menangis,


"bibi ke sini karena mau ngasih ini ke Rendi" jawab ibu Putry dan, membuka kotak yang ibu Putry bawa,


"ibu nemuin ini di lemari baju Putry" jawab ibu Putry, sambil mengeluarkan foto ku bersama Putry, di kotak itu terdapat batu yang diukir Ferzan, dan cincin yang aku berikan kepada Putry, dan ada sebuah surat kecil yang sedikit robek yang tertulis,


"Seharusnya aku tau, bila kamu mencitaiku dari awal, andai saja waktu bisa diulang kembali aku tak akan membiarkan kamu pergi" isi kertas itu,


"ibu pamit pamit dulu ya, dah jangan nangis lagi ya" kata ibu Putry sambil keluar kamarku dan menutup pintu, setelah itu aku menaruh kotak itu di meja belajarku, dan kembali lagi ke tempat tidurku, selang beberapa menit jendela kamar ku terbuka, karena tertiup angin kencang, dan aku bergegas menutup jendela kamar,


"Clak!" suara Pintu kamarku terbuka

__ADS_1


"aku sudah bilang bu!! aku tak mau keluar dari kamar" kataku yang teriak tapi tak melihat kearah pintu,


"dasar cengeng" kata Putry yang berada di depan pintu,


"apa!! Siapa kamu!!" teriakku yang melihat bayangan Putry di depan pintu, kamarku yang terbuka,


"ini aku Re, Putry" Kata Putry yang menuju kearahku, alangkah kagetnya diriku melihat Putry dihadapanku lagi,


"Siapa kamu!!" kagetku, dengan menunjuk ke arahnya,


"aku Putry Re, pacarmu" jawab Putry,


"tapi bagai mana kamu bisa hidup kembali"


tanyaku yang ketakutan,


"jangan takut, aku hanya bayangannya saja, dan cuma kamu yang bisa melihatku, orang lain tidak dapat melihatku" kata Putry yang menenangkan ku,


"Bagai mana bisa ada di sini?" tanya ku kepada Putry,


"Semua itu karena janjiku Re, kamu ingat kan saat aku bilang, aku akan selalu ada di sisimu" jawab Putry sambil memelukku,


"terimakasih Putry sudah menemaniku lagi Put" kataku sambil memeluknya,

__ADS_1


"kamu bisa memanggilku kapan saja di saat kamu butuhkan aku,


__ADS_2