Love Diary Rendi

Love Diary Rendi
Menjadi Seorang Pangeran bagian 3


__ADS_3

Aku melihat Sinar didalam goa itu dan menemukan sebuah batu besar berukuran bola sepak, dan batu itu aneh bersinar redup berwarna biru, aku belum pernah melihat Batu yang seperti itu, sebenarnya aku tak niat ambil Tapi saat ku sentuh batu itu aku merasa hangat,dan niat ku berganti membawa Putry kusandarkan didekat batu itu.


Dan kita meneduh di goa dan menunggu pertolongan yang datang, karena hari sudah mulai gelap dan hujan belum Reda Pastinya kita akan bermalam digoa itu.


“Zan aku belum pernah liat Batu seindah ini?” kataku sambil memegang Batu itu


“memangnya Batu itu ajaib kah? Tapi aku merasa hangat di dekatnya Ren” jawab Ferzan


“aku juga hangat, tapi aku gak yakin ini ajaib” kataku yang tak percaya mitos.


“Berarti ini tempat terlarang yang di juhin warga, pantas tak ada warga yang lewat” kata Ferzan


“kau masih percaya soal mitos, aku gak yakin soalnya ini gak ada buktinya yang nyata Menurutku batu itu hanya tak pernah tersentuh, dia bersinar dari atas sana liat kan” kataku sambil menunjukan lobang kecil dari atap goa

__ADS_1


“Oh berarti Batu ini mendapat sinar Matahari, yang muncul dari atas karena sinar matahari yang panas, menjadi hangat ya” jawab Ferzan yang faham pendapatku tentang batu itu,


“aku terlalu percaya kata dari nenekku Ren jadi aku lupa akan ilmu alam juga hehehe” kata Ferzan Sambil Tertawa.


“Lalu kamu Cuma berfikir soal batu ini saja? gak berfikir untuk pulang? Zan” kataku bertanya kepada Ferzan


“ya ini lagi mikir gimna caranya, oh iya maaf ya Ren aku jadi buat kesalahan lagi telah buat putry pingsan lagi” kata Ferzan yang menyesal karena dia fikir itu kesalahanya,


“ya jangan gitu lah aku juga salah kan tadi dah ngelepas tanganku, jadi tak perluh lah merasa ini salah kamu yang penting kita berdua berusaha buat menjaga Putry kan” kataku sambil tersenyum,


“Iya tak apa apa, oh iya kamu masih ada golok apa bisa buat pecahin batu ini?” Kataku untuk mengalihkan permbicaraan


“golok untuk apaan Ren?” tanya Ferzan

__ADS_1


“untuk kayu bakar, kamu bisa kan membuat api dari batu ini” kataku yang berfikir untuk hidup


“ide bagus Kita sekarang teman okeh” kata Ferzan sambil menarik tanganku dan kita berjabat tangan dan berjanji untuk menjaga Putry Bersama sama.


Hujan pun reda aku dan Ferzan keluar untuk mencari kayu bakar dan membuat api unggun bersama dengan menghancurkan batu itu, kita pecah menjadi sembilan keping batu kecil dan dipakai untuk membuat percikan api.


Setelah api menyala kita bermalam disana bercerita tentang diri kita yang egois saat itu, aku yang tadinya egois menjadi luluh karena sikap baiknya Ferzan yang tulus kepada Putry, tampa Ferzan aku bukan apa apa hanya sebatas orang yang egois, dan ceroboh.


"jadi kamu juga menyukai Putry ya Ren?"Tanya Ferzan sambil mengghangatkan tubuhnya di api unggun,


"Tadinya Zan, tapi aku gak yakin dia menyukaiku, kamu lebih pantes jadi pacarnya" kataku yang mengalah kepada Ferzan,


"Aku juga gak yakin bisa jadi pacarnya Ren, tapi lebih pantas kamu Ren, dibanding aku kamu lebih beruang dari jakarta sampai kesini, harapanku juga sia sia kalo ada kamu" jawab Ferzan dengan wajah yang terlihat sedih,

__ADS_1


"Entah lah aku sudah mulai lelah, Ngantuk, aku mau tidur saja, siapa tau Putry sadar nanti, tentang Putry biarin dia saja yang memilih antara aku dan kamu, yang penting kita gak boleh menghina satu sama lain" jawab ku yang mulai terlelap lemas dan tidur.


Keesokan harinya Putry pun tersadar dari tidurnya dan ingat apa yang terjadi, Ferzan dan Putry pun mencari buah dan ikan dihutan dan sungai terdekatnya, waktu pun berlalu hinga 3 hari dua malam kita menginap di Goa, dan ide Putry membuat gunungan Sampah Daun yang kering, dan membakarnya agar membuat asap yang tebal seperti kebakaran di hutan tersebut.


__ADS_2